
Tiba di bandara setempat, New York Amerika, rombongan keluarga Adam langsung menuju ke rumah sakit di mana Syakira saat ini sedang dirawat. Namun hanya Adam yang diperbolehkan oleh dokter untuk menemui Syakira saat ini.
Rupanya di ruang ICU itu hanya Chery yang tidak beranjak dari sisi Syakira. Melihat kedatangan Adam, kucing ini seakan mengadu pada Adam bahwa keadaan Syakira makin parah saat ini dengan caranya mengeong kepada Adam dengan suara yang lirih.
"Kenapa kamu baru datang tampan setelah semuanya sudah terlambat?" tanya Cherry menatap wajah Adam yang terlihat sembab karena terlalu banyak menangis sepanjang perjalanan.
Mata bengkak dengan hidung yang masih berair dan sesekali di tarik dengan tangis yang kembali terdengar sesenggukan. Adam menatap wajah Syakira yang nampak tirus lagi pucat.
Nafas itu terlihat tersendat dengan selang inkubasi yang masih tertancap di dalam mulutnya. Walaupun begitu sahabatnya Gress selalu membersihkan tubuh Syakira dan tetap mengoleskan krim wajah untuk menjaga kelembaban kulit Syakira hingga tetap terlihat segar dan cantik.
"Syakira....!" panggilan nama itu menjadi sangat kelu untuk disebutkan Adam.
Rasa bersalah yang mendalam seakan menghukumnya saat ini karena mengabaikan perasaan gadis yang terlihat tegar namun sebenarnya sangat rapuh.
"Sayang...!" bisik Adam tepat ditelinga wanitanya yang seakan membatu saat ini.
"Aku...aku...aku...!" Kata maaf menjadi kata yang tersulit untuk diucapkan oleh Adam karena hati Syakira telah luluh lantak seakan sulit untuk menyatu lagi karena ajalnya sudah di ujung tanduk.
Nafas itu kian melemah dengan saturasi yang makin menurun. Belum lagi diagram jantung yang tidak lagi bergerak normal makin membuat kewaspadaan Adam terkoyak karena kedatangannya seperti ditunggu Syakira untuk pamit pada pria tampan itu.
Dokter yang membaca setiap hasil laporan dari berbagai alat medis yang menempel di tubuh Syakira memberikan respon yang tidak baik.
"Maaf tuan ....! Sepertinya nona Syakira tidak lagi bisa bertahan. Tolong keluarlah!" pinta dokter Albert yang sedang menangani Syakira.
Dua orang perawat pria menarik tubuh Adam untuk menjauhi Syakira. Adam tidak bisa menurut begitu saja permintaan dokter maupun perawat. Ia mendorong tubuh kedua perawat itu dan berlari lagi menghampiri Syakira.
"Lepaskan aku bodoh!" pekik Adam dengan cepat meninju wajah perawat pria yang menariknya menjauhi Syakira
Bukkkk..,..Dua perawat pria itu jatuh tersungkur dengan bibir pecah dan darah mengalir.
"Tuan....! mohon kerjasamanya tuan...nona Syakira....!" Bentak dokter Albert membuat wajah iblis seorang agen rahasia CIA ini meradang.
"Jika wanitaku mati, biarlah dia mati dalam pelukanku...! Kau bahkan tidak berguna sama sekali di dalam sini. Keluarrr...!" teriakan menggelegar itu mampu membuat dokter Albert gugup dan gemetar hingga tidak ingin lagi menghalangi Adam yang terlihat bukan dirinya lagi.
Adam memeluk tubuh kurus Syakira sambil meraung. Hatinya tidak kuat lagi menahan beban yang sedari tadi ia tahan. Akal sehatnya seakan sudah lumpuh hingga ia berani mencium pipi dan kening Syakira secara bertubi-tubi.
"Come back, baby!" pinta Adam terisak kencang hingga dadanya bergemuruh melepaskan sesak karena sangat takut kehilangan Syakira.
"Buka matamu, sayang...! Lihatlah aku...! Aku akan menikahimu. Aku minta maaf karena terlalu lama menemuimu. Apakah aku terlambat mewujudkan impianmu...hmmm?!"
Kata-kata Adam hanya direspon oleh Syakira dengan lelehan air mata disudut kelopak mata indahnya.
"Syakira. Aku mencintaimu, Apakah kamu tidak ingin melihatku, baby? Apakah kamu tidak ingin menikah denganku, Syakiraaaa....!" Adam mengguncang tubuh Syakira yang sudah seperti mayat hidup itu.
Nabilla dan Amran segera masuk untuk melihat keadaan putranya di ruang ICU itu. Beruntunglah, ruang ICU itu hanya untuk Syakira seorang hingga tidak menganggu pasien yang lain.
"Adam...! Kendalikan dirimu, nak!" cegah Amran menarik tubuh putranya dari Syakira yang tidak lagi meresponnya.
"Dia tidak boleh mati Daddy...! Dia tidak boleh matiii....hiks...hiks...!" tangisan pilu Adam yang terlihat menyedihkan membuat saudaranya yang di luar sana ikut menitikkan air mata mereka.
Mereka hanya bisa menatap dari pintu kaca bagaimana kakak tertua mereka yang selama ini terlihat kalem dan tidak pernah serapuh itu kini nampak tak berdaya menangisi wanitanya.
"Mommy....aku tidak mau kehilangan Syakira. Bangun Syakira...! Bangunnnn....! Daddy... Aku hanya mau Syakira. Aku hanya mau dengannya. Aaaaakk...!" teriakan putus asa Adam menggema di ruangan itu.
Bahkan suara rekam jantung Syakira itu kini makin berjalan lemah membuat Adam ingin menghancurkan alat itu karena hanya membuat jantungnya seakan ikut berhenti.
"Adam...sayang..! Kendalikan dirimu..! Istrigfar..!" Amran memeluk putranya itu.
"Syakira, Daddy..! Adam mau Syakira..! Adam... mau...!"
Brukkk...! Adam ikut pingsan karena tidak bisa lagi mengendalikan kesedihannya saat ini.
"Adam....!" teriak Amran membuat Daffa segera menerobos masuk ke dalam untuk membantu ayah mertuanya mengangkat tubuh Adam.
Nabilla terlihat kelimpungan antara melihat putranya atau menemani Syakira. Ia merasa dirinyalah yang harus bertanggungjawab atas kekacauan yang ia ciptakan.
Sifat keras kepala dan sedikit diktator menyengsarakan kehidupan cinta anak-anaknya. Di saat seperti ini ia ikut menangis juga menyesali atas kebodohannya.
Nabilla kembali menghampiri Syakira yang nampak kritis bahkan sedang menjemput ajalnya.
"Nak. Aku datang padamu bukan sebagai calon mertuamu. Tapi aku datang padamu sebagai sosok ibu yang selalu kamu rindukan. Aku memintamu untuk kembali kepadaku, sayangku.
Sebagai ibu aku tidak melihat kamu wanita yang membutuhkan perhatian seorang pria karena saat itu aku hanya tampil sebagai ibu untukmu.
Sekarang lepaskan semua apa yang kamu miliki di dunia ini. Kembalikan jiwamu kepada Tuhanmu, Allah. Jika Dia ridho padamu, maka mommy akan melepaskanmu pergi. Tapi jika kamu tidak ingin melihat mommy menderita karena kehilanganmu, maka kembalilah pada mommy, putriku Syakira..!"
Nabilla terisak di sisi Syakira. Ia melafazkan kalimat tahlil di kuping Syakira. La-ilāha illa l-Lāh..!" Nabilla menuntun kalimat itu berulang-ulang agar Syakira ikut melafazkan di alam bawah sadarnya.
Sementara di luar sana Adam sudah ditangani oleh dokter Nada, adiknya sendiri. Pria tampan itu langsung membalikkan tubuhnya dan ingin sendirian di ruang tunggu keluarga itu.
"Adam. Apakah kamu tidak ingin menikah dengan Syakira?" tanya Daffa yang pernah mengalami perasaan yang sama seperti Adam saat ini.
Adam lupa akan niat awalnya untuk menikahi Syakira karena mereka juga mengajak bapak penghulu yang merupakan imam besar di mesjid yang ada di Amerika itu.
"Aku mau...! Lakukan sekarang. Lalu siapa wali nikahnya Syakira?" tanya Adam ling lung sendiri.
"Tentu saja pak penghulu sebagai wali nikahnya Syakira karena pamannya Syakira seorang atheis tidak mungkin menikahkan Syakira," ucap Daffa.
"Oh iya. Aku sampai lupa. Terus, siapa nama lengkap Syakira saat dia menjadi seorang mualaf?" tanya Adam.
"Khadijah Syakira," ucap Bunga yang sudah mendapatkan informasi nama Islamnya Syakira dari Gress yang mengantar sahabatnya itu memeluk Islam.
Dalam 10 menit pernikahan itu siap dilaksanakan oleh Adam dengan kedua saksi yaitu Arsen dan Ghaishan. Pernikahan itu berlangsung dengan singkat karena hanya mengucapkan ijab qobul yang di hadiri oleh keluarga Adam dan tim manajemennya Syakira yang ikut menyaksikan pernikahan itu. Baru saja pernikahan itu usai di lakukan di depan ruang ICU Syakira, tiba-tiba Gress datang menghampiri kelurga itu.
"Adam...! Syakiraa....!" gugup Gress membuat semuanya spontan berdiri.
"Syakiraaaa....! Ada apa dengan istriku Syakira..?" pekik Adam berlari masuk ke ruang ICU di mana istrinya dirawat.
"Syakira...!"
......................
Vote dan likenya cinta please!