Dikira Pembantu, Ternyata Istri Mafia

Dikira Pembantu, Ternyata Istri Mafia
301. Pulang Kampung


Keluarga besar Amran melakukan umroh bersama-sama. Walaupun tidak lagi menjadi seorang kepala negara namun raja Arab Saudi, memberikan kesempatan kepada Amran dan keluarganya untuk masuk ke dalam Ka'bah.


Keluarga itu begitu antusias mendapatkan perlakuan istimewa itu. Sesuatu yang tidak mungkin mereka rasakan besarnya nikmat saat bisa masuk ke dalam Ka'bah.


Rumah pertama yang dibangun langsung oleh Allah di muka bumi ini sebelum Adam dan Hawa di usir dari surga untuk menempati bumi.


Walaupun Ka'bah itu pernah hancur dilanda air bah di masa jamannya nabi Nuh, tapi fondasinya masih tetap ada dan Allah memerintahkan kepada nabi Ibrahim untuk meninggikan kembali Ka'bah itu yang dibantu oleh putranya Ismail dan untuk memudahkan peninggian ka'bah, nabi Ibrahim disiapkan Maqom sebagai pijakannya yang sampai saat ini tapak kaki beliau tercetak jelas dan diletakkan Maqom itu di samping Ka'bah.


Kejadian lucu di mulai di sini, di mana Audrey yang tidak sengaja menabrak seorang pria tampan saat mereka sedang mengambil air zam-zam untuk diminum usai melakukan sa'i.


Brakkk...


"Hei...! Apakah kamu kira tempat ini di dalam rumahmu? Kenapa berbalik tidak lihat-lihat dulu dan langsung berbalik," omel pria tampan itu padanya dengan menggunakan bahasa Inggris.


"Hussstt..! Pelan kan suaramu..! Maaf aku tidak sengaja. Lagi pula kenapa kamu berdiri di belakangku? Tubuhmu saja terlalu besar dan aku mengira barusan aku tabrak tembok ," ledek Audrey menahan tawa.


"Hei ..gadis jelek! Pasti tampangmu jelekkan menutupi wajahmu dengan mengenakan cadar itu. Sudah tahu salah, masih sempat ngatain orang," omel sang pria.


"Apakah kamu tidak malu mengatai aku seperti itu di area Ka'bah usai melakukan ibadah umroh. Pahala umroh mu bakalan hilang seketika dengan kamu marah-marah seperti itu.


Aku sumpahin kamu bakalan memikirkan aku terus menerus di manapun kamu berada," ucap Audrey segera berlalu pergi menghampiri kelurganya yang lain.


"Kau...!"


"Ada apa Delvin...?" tanya sang ayah Ezra.


"Itu ayah. Gadis itu sudah membuat pakaian umroh ku basah," ucap sang putra pada ayahnya yang melihat Audrey sedang menghampiri seorang wanita yang membuatnya kaget.


"Bunga...? Bukankah itu Bunga? Teman kecilku di sekolah internasional dulu?" gumam Ezra.


"Apakah ayah mengenal ibunya gadis itu?" tanya Delvin.


"Sudahlah. Jangan cari perkara dengan keluarga itu!" ucap Ezra menenangkan putranya.


"Emang siapa gadis itu ayah? Apakah ayah sangat mengenal Ibunya gadis itu?" tanya Ezra.


"Tentu saja. Ayah sangat mengenal kelurga gadis itu karena gadis yang baru saja kamu omelin itu adalah cucu kandungnya mantan presiden Amran," ucap Ezra.


Deggggg.....


"Aduhh...mampus aku...!" menepuk jidatnya sendiri.


Usai melakukan umroh, Amran beserta keluarga mampir di negara Bahrain. Raja Farouk ingin menjamu besannya itu apa lagi El-Rummi lebih banyak menghabiskan waktunya mengurus negara itu karena sebentar lagi Tamara akan di angkat sebagai Ratu Bahrain untuk menggantikan sang ayah.


Beruntungnya, Zainab tidak lagi berada di kediaman Istana setelah diketahui dirinya adalah dalang dari penculikan princess Tamara beberapa tahun yang lalu. Ketiga anaknya El-Rummi saat ini sudah berusia enam tahun.


Si kembar dari Bunga berusia 22 tahun. Si kembar empat dari Cintami 20 tahun. Si kembar dari Nada 13 tahun. Kembar 3 Adam 7 tahun.


Bertolak dari Bahrain, kini cucu-cucunya Amran ingin menikmati liburan mereka dengan melakukan ski di atas puncak bukit di Turki di mana villa kakek Salim berada. Villa itu sudah dipugar karena disesuaikan dengan kebutuhan jaman.


Seperti mengulangi masa lalu petualangan orangtua mereka, ke 15 cucu Amran ini menggunakan helikopter untuk melompat dari puncak bukit itu. Karena mereka sudah terlatih, jadi lebih mudah bagi mereka melakukannya.


"Saat melompat nanti, jangan ada yang menyusahkan orang lain. Ikuti aturan mainnya, kalian mengerti?!" tegas Raffi pada saudara sepupunya yang mengangguk paham.


"Cih....! Kenapa dia pemarah sekali. Selalu saja mengatur orang lain. Apakah ada wanita yang menyukainya dengan tampang judesnya seperti itu?" geram Audrey pada sepupunya itu.


"Tenanglah Audrey! Suatu saat nanti bang Raffi akan kena getahnya saat bertemu dengan perempuan yang lebih galak dari dia," hibur Dinar.


Tiga helikopter itu sudah siap menurunkan cucu-cucunya Amran dari atas puncak bukit. Lompatan demi lompatan di ikuti gaya selancar mereka di atas serbuk putih itu meliuk dengan indahnya.


Sementara orangtua mereka dan juga Oma Nabilla dan opa Amran sudah menunggu di villanya kakek Salim. Masing-masing diantara mereka harus mengawasi saudara mereka yang lebih kecil yang ikut dalam rombongan itu.


"Aku yang akan memenangkan pertandingan ini," ucap Ghaida yang terlihat sangat lincah daripada yang lain.


"Jelas saja kamu yang akan memenangkan pertandingan ini karena kamu memiliki kekuatan," geram Dinar.


Semakin menuruni puncak bukit itu, semakin tertantang mereka pada saat menemukan bukit-bukit curam yang ada di hadapan mereka.


Sementara Hanin dan Hanan yang sedang menjaga princess dan prince Bahrain itu membuat mereka selalu merasa tegang karena ketiganya tidak begitu memperhatikan keadaan disekitarnya.


"Dasar bocah..! Kalau tidak memikirkan kalian keturunan raja, sudah aku jitak kepala kalian," geram Hanan.


"Sudahlah. Bersabar saja Hanan, siapa tahu kamu bakal mendapatkan princess juga sama seperti uncle El rummi," ledek Hanin melalui alat penghubungnya.


"Cih...! Membosankan berhadapan dengan manusia yang selalu di kerumunin banyak orang," elak Hanan.


Rupanya di bukit salju itu, bukan keluarga mereka saja yang bermain ski. Sudah ada rombongan lain juga yang membaur bersama mereka.


Karena terlalu banyak orang, rombongan cucu Amran akhirnya terpisah satu sama lain. Namun mereka menggunakan penghubung, jadi bisa saling berkomunikasi.


"Sudah. Masing-masing kita sudah mendapatkan lokasi villa kakek Salim," ucap Ghazali yang hampir sampai duluan.


"Baiklah. Kalau begitu kita bertemu di villa kakek Salim," ucap mereka yang tidak mau ribet menyebutkan pangkat lain dari mendiang kakek Salim sesuai tingkat generasi mereka.


Ternyata Dinar yang sempat istirahat karena ingin minum, tertinggal oleh rombongan. Ia tidak mempermasalahkannya karena saat ini banyak orang yang hilir mudik di depannya bermain ski di atas salju itu.


Dinar yang bersama tiga saudaranya adalah anggota CIA begitu pula dengan si kembar Raffa dan Raffi yang bergabung dengan FBI. Mereka memang sudah dilantik menjadi agen rahasia untuk Amerika.


Rombongan anak-anak yang sudah tiba duluan bersama dengan Hanan dan Hanin yaitu anak-anaknya Nada, Adam dan El-Rummi. Tinggal empat orang lainnya belum muncul.


"Mana yang lain, sayang?" tanya Bunga saat tidak melihat si kembar.


"Masih di belakang. Mungkin tadi sempat istirahat," ucap Hanan.


"Baiklah. Kalian makan dulu...!" ucap Bunga yang hendak mengambil ponselnya untuk melihat keberadaan anak-anak yang lain namun di cegah oleh Daffa.


"Jangan terlalu berlebihan begitu, baby! Biarkan mereka menikmati petualangan mereka sebagai manusia bebas...!" cegah Daffa karena putra kembarnya sudah dewasa kini.


"Tapi aku takut mereka tersesat atau terjadi sesuatu kepada mereka," cemas Bunga.


"Sudahlah sayang...! Kita juga pernah berada di posisi mereka. Mengenal cinta dan jatuh cinta dan itu sangat manusiawi. Lagi pula mereka sudah berada di bukit salju tidak jauh dengan villa kakek Salim," ucap Daffa.


"Apakah kamu ingin cepat punya menantu dan cucu?" geram Bunga dengan ekspresi kesal.


"Apakah kamu takut punya status baru jadi Oma...? Itukan hanya status. Aslinya, hmmm....?"


"Jangan coba-coba menggodaku. Aku tidak mau jadi nenek-nenek di usia muda," ketus Bunga.


Daffa hanya tersenyum melihat tingkah istrinya yang tidak ingin terlihat tua di hadapannya.


Sementara itu, Dinar kembali berselancar di atas salju itu menuruni ke arah lembah yang cukup curam di mana dirinya menyusuri tebing terjal yang hampir membuat nyalinya ciut.


Karena merasa ia sendirian di tempat itu membuat Dinar buru-buru turun ke bawah puncak agar bisa bertemu dengan kelurganya. Namun baru saja berselancar dengan lincahnya, tiba-tiba saja terdengar suara orang yang meminta tolong di pinggir jurang itu. Dinar berhenti sesaat untuk memastikan kupingnya yang mendengar sesuatu.


"Tolong....! Tolong aku....!" pekik orang itu seakan sudah kehabisan tenaga untuk berteriak hingga terdengar seperti lolongan.


"Apakah itu suara manusia atau suara jin?" gugup Dinar.


"Apakah ada orang di sini?" teriak Dinar di tengah keheningan tebing curam itu.


"Iya...aku disini... tolong aku ..!" pekik orang itu membuat Dinar harus mencari sumber suara.


Dinar menemukan juga orang itu yang saat ini sedang berpegangan pada sebuah cabang pohon yang sudah hampir mau patah karena tidak kuat menahan bobot badannya.


"Astaghfirullah halaziiim...! Tunggu sebentar...! Aku akan menyelamatkan kamu, ok!" teriak Dinar dari atas tebing.


"Cepatlah nona! Aku hampir jatuh!" lirih pria itu karena suaranya sudah hampir hilang.


Dinar mengeluarkan peralatan penyelamatan yang selalu ia siapkan untuk berjaga-jaga bila terjadi sesuatu pada mereka. Setelah mengikat tali pengaman di sebuah pohon, Dinar turun perlahan agar bisa menolong pria malang itu.


Setelah cukup sulit melewati lembah curam itu, Dinar akhirnya mendekati pria itu yang terlihat sangat pucat.


"Alhamdulillah. Aku bisa bersamamu. Aku harap kamu tidak banyak bergerak saat aku mengenakan alat pengaman ini di tubuhmu!" pinta Dinar seraya memasang alat pengaman di tubuh pria malang itu. Tepat di saat itu, cabang pohon itu patah dan Dinar reflek memeluk pria itu yang juga memeluknya.


Dan keduanya sama-sama melihat batang pohon itu jatuh ke bawah dasar tebing.


"Kamu sudah aman bersamaku. Jangan takut! Aku cukup profesional dalam menyelamatkan orang. Siapa namamu?" tanya Dinar untuk mengalihkan ketakutan pria ini.


"Evren."


"Berapa usiamu?"


"24 tahun."


Sambil bicara, Dinar menekan alat penarik tali untuk membawa mereka ke atas tanpa bantuan orang lain.


"Apakah ada bagian tubuhmu yang terluka?" tanya Dinar untuk memastikan pria ini bisa di tangani dengan cepat.


"Paha kiriku yang terluka," ucap pria tampan itu menahan sakit yang amat sangat pada lukanya.


"Baiklah. Kita akan segera ke rumah sakit. Tolong jangan pingsan karena kita hanya berdua di sini," ucap Dinar yang saat ini sudah berada di atas ujung tebing.


Baru saja tiba di atas tebing dengan susah payah, tiba-tiba ada sekelompok orang tidak di kenal menghadang mereka.


"Siapa kalian?" sentak Dinar.