
Nada menghembuskan nafasnya kasar. Ia hanya bisa istighfar atas keselamatan kekasihnya. Tapi, Nada tidak berani curhat kepada kedua orangtuanya yang saat ini masih dalam masa berkabung. Ia menyimpan dukanya sendiri.
"Ya Robb. Aku serahkan urusan kekasihku kepada Engkau maha penjaga dan pelindungNya. Dia sedang berusaha menyelamatkan kehidupan bumi yang bergantung kepada teknologi canggih buatan manusia dan kepintaran manusia semuanya berasal dariMu.
Kembalikan dia padaku dalam keadaan hidup tanpa terluka. Sesungguhnya dia adalah pasangan hatiku yang Engkau ijinkan untuk kami bertemu," pinta Nada dalam doanya.
Setelah tiga hari berada di Turki, kelurga besar itu pamit kepada Mariam untuk kembali ke Indonesia. Wajah murung mereka masih terlihat jelas saat ini.
"Kak Mariam. Kami tidak bisa menunggu lama di sini karena banyak pekerjaan yang menunggu di Jakarta," ucap Nabilla pada saudara sepupunya itu.
"Aku mohon pada kalian semua, sering-seringlah berkunjung ke sini walaupun sudah tidak ada kakek Salim," ucap Mariam.
"Aku ingin melamar Kirana setelah ia wisuda nanti," timpal Segaf di hadapan keluarga besarnya membuat mata Wira langsung melebar.
"Putriku masih terlalu kecil untuk menikah," ucap Wira memberi alasan.
"Cih...! kamu menikahi adikku Lira saat usianya masih 19 tahun dalam keadaan masih kuliah. Kalau putrimu sudah siap menikah, apa susahnya," protes Amran pada besannya itu.
"Daddy. Kak Segaf tidak bilang mau lamar Kiran sekarang tapi nanti kalau Kiran sudah wisuda? kenapa daddy sama ayah Wira saling adu mulut?" geram Cinta sebagai kakak iparnya Kiran.
"Iya juga ya," ucap Wira membuat Arland hanya memutar mata malas.
"Sudah jadi besanan masih saja berdebat. Emang nggak malu nanti sama cucunya?" ucap Bunga.
"Emang kamu sudah hamil Bunga?" tanya Dokter Mariska berbinar.
"Belum tahu eyang," ujar Bunga.
"Sudah telat haid belum?" tanya Mariam yang ikut senang mendengar keponakannya hamil.
"Sepertinya sudah sebulan ini aku tidak mendapatkan haid," jelas Bunga.
"Baiklah. Kalau begitu kalian berdua harus diperiksa sama eyang," ujar dokter Mariska.
"Biar aku yang beli testpack," ucap Arsen antusias.
"Biar aku temanin kak," ucap Segaf.
"Cie...cie ..cie..! yang pingin jadi adik ipar," ledek El dan Nathan.
Wajah Kiran terlihat memerah karena menahan malu. Segaf terlihat cuek berjalan beriringan dengan Arsen. Sementara Bunga dan Cinta sudah ada di salah satu kamar dengan dokter Mariska dan Lira.
Tidak lama kemudian Arsen dan Segaf sudah datang membawa testpack untuk dua gadis di dalam sana. Keduanya mengisi urine mereka di wadah. Tes di mulai dan menunggu selama 5 menit.
Keduanya menunjukkan hasil tes mereka pada eyang Mariska yang langsung memeluk keduanya.
"Alhamdulillah. Lira kamu dan Nabilla akan segera mendapatkan cucu dan eyang akan mendapatkan cicit," ucap dokter Mariska.
"Jadi kami berdua hamil eyang?" tanya Bunga tidak percaya.
"Alhamdulillah. Allah maha baik menghibur kita di tengah duka seperti ini," timpal Mariam.
Kabar itu langsung di dengar oleh keluarga besar itu dan merayakannya dengan makan siang bersama di restoran mewah di pusat kota Istanbul. Sementara kelurga besar itu menyambut kedatangan calon penghuni baru di keluarga Amran dan Wira namun tidak dengan Nada yang masih memikirkan keadaan Ghaishan yang belum memberikan kabar apapun.
"Kalian harus menjaga cucu Daddy dengan baik!" pinta Amran di sela makan siang mereka sebelum berangkat ke bandara.
"Insya Allah daddy," ucap Cintami.
"Kalau mau makanan yang kalian sukai, bilang saja pada ayah, paman dan kakek, nanti dibelikan," ucap tuan Rusli pada kedua cucunya itu.
"Wah. Aku nanti sudah siap dipanggil om sama ponakan unyu-unyu," ledek Nathan dan Athan.
Sementara Nada sedang melamun sambil terus menatap ponselnya dimana foto sang kekasih di jadikan wallpaper layar depan ponsel miliknya.
Sekitar pukul 7 malam kelurga besar itu sudah meninggalkan kota Istanbul kembali ke Jakarta.
...----------------...
Sudah dua bulan ini Nada masih menantikan kabar kekasihnya namun belum saja ada perkembangan apapun. Ia menghubungi bos dari sang kekasih yang berada di ruang misi antariksa.
Bukan hanya Nada yang gusar menunggu kabar dari Ghaishan namun bosnya Ghaishan juga belum tenang karena tidak ada laporan sama sekali dari Ghaishan kecuali dari teman-temannya yang berada di pesawat itu.
Mereka melakukan tugas mereka masing-masing sambil menunggu kabar dari Ghaishan yang terpisah dengan mereka karena terpisah tabung dari badan pesawat itu.
Keadaan Ghaishan yang saat ini harus berurusan dengan sejumlah alat satelit yang rusak yang sedang ia perbaiki satu persatu. Ia juga tidak bisa menghubungi teman-temannya di pesawat utama karena komunikasi mereka yang saat ini terputus sementara jarak mereka sangat jauh.
Jadilah Ghaishan seorang diri di tabung itu untuk menyelesaikan tugasnya. Satu hal yang ingin ia lakukan saat ini yaitu menghubungi sang kekasih bahwa dirinya sedang baik-baik saja. Stok makanan dan minuman cukup bertahan untuk satu tahun ke depan.
Untuk membuang rasa jenuhnya, Nada yang bekerja di rumah sakit selain bergabung di perusahaan milik Bunga yang bergerak di bidang kosmetik dan parfum, Nada selalu mendatangi panti asuhan yang didirikan oleh ibunya Nabilla. Nada mengurus bayi-bayi yatim piatu di sana setiap memasuki weekend.
Sedangkan yang lagi happy saat ini sedang bermanja ria dengan suami mereka karena kandungan mereka sudah memasuki 3 bulan.
"Aku mau makan ikan bakar Manado, baby!" pinta Bunga yang ternyata sedang hamil kembar.
"Baiklah. Kita ke restoran Manado saja," ucap Daffa.
"Tapi mau makannya di pinggir pantai sambil melihat matahari terbenam," pinta Bunga lagi.
"Kalau begitu makan di restoran seafood di Ancol saja kalau ingin makan di pinggir pantai," jelas Daffa.
"Tidak mau. Rasanya beda. Mau makanan Manado dan kita makan di pinggir pantai," rengek Bunga.
"Baiklah. Tunggu di sini sebentar ya sayang. Aku beli ikan bakar Manado dan kita makan di pinggir pantai," ucap Daffa yang bakal tahu, kalau istrinya tidak akan memakannya.
Bunga sengaja mengerjainya karena si kembar di dalam perutnya yang nuntut ini itu pada ayah mereka. Jika Bunga sedang mengerjai suaminya, lain halnya dengan Arsen yang tidak ingin jauh dari Cinta.
Gadis ini memang tidak hamil kembar namun kelimpungan dengan ulah Arsen yang sangat manja pada Cinta. Pria tampan ini ingin disuapi Cinta setiap kali dia ingin makan. Alhasil, Cinta harus bolak balik ke perusahaan suaminya membawa makan siang yang dimasaknya sendiri.
Hanya saja kedatangan Cinta yang saat itu tidak pada jam istirahat dan langsung masuk ke ruang kerja suaminya saat ini membuat dirinya menjadi tontonan kliennya Arsen yang menatap wajah cantik Cinta penuh kekaguman.
"Sayang ...!" Arsen langsung bangkit dari duduknya menyambut sang istri.
"Maaf kak. Biar saya tunggu di luar saja!" ucap Cintami yang tidak nyaman di perhatikan oleh kedua pria tampan itu.