Dikira Pembantu, Ternyata Istri Mafia

Dikira Pembantu, Ternyata Istri Mafia
200. Berbohong


Adam kembali fokus pada niat awalnya untuk mengantarkan saudara kembarnya belanja. Untuk urusan Syakira, ia bisa melakukannya nanti. Yang jelas ia tidak mau gegabah dalam mengambil sikap.


"Apakah tadi dia melihatku? Jika benar, pasti dia akan menghampiriku. Sudahlah..! Aku bisa menemuinya nanti. Apa kabar gadis itu saat ini! Aku harap dia baik-baik saja," batin Adam mengabaikan Syakira yang saat ini sedang terluka.


Cintami memilih beberapa jaket untuk keempat anaknya dan juga kedua keponakannya yang saat ini sudah tumbuh besar. Jaket untuk musim salju tahun kemarin sudah tidak ada yang muat di tubuh anak-anaknya maupun keponakannya.


Selesai dengan urusannya, Cintami mengajak pulang Adam untuk melanjutkan lagi perjalanan mereka ke kediaman Nada. Di rumah Nada sudah terlihat ramai saat ini. Nada yang mulai memperlihatkan sikap manjanya saat hamil begitu bahagia melihat beberapa makanan khas Indonesia yang dibawa ibunya.


"Mommy tahu saja Nada pingin makan empek-empek Palembang," ucap Nada sambil menyuapi makanan khas palembang itu ke mulutnya.


Nabilla yang sibuk membuat adonan buat gorengan hanya tersenyum bahagia melihat selera makan Nada di saat hamil muda tidak begitu mengalami mual. Tapi lain halnya dengan Ghaishan yang sudah beberapa kali bolak-balik ke kamar mandi karena muntah. Ghaishan yang sudah mengetahui jika dirinya saat ini mengalami kehamilan simpatik nampak menikmati rasa mual itu.


"Tidak apa aku yang mengalaminya asal tidak dengan istriku. Dengan mengalami ini aku lebih hormat pada ibuku karena tidak mudah mengandungku. Mommy...! Apa kabar mommyku..! Aku harus mengabari berita besar ini," lirih Ghaishan meraih ponselnya.


"Sayang. Kamu mau apa lagi? Biar mommy masakin untukmu," tanya Nabilla pada putrinya.


"Besok saja mommy. Mommy saja baru nyampe langsung buatin gorengan buat aku. Istirahat dulu saja mommy. Kita ngobrol-ngobrol," ucap Nada.


"Oma. Kita lagi panen wortel, kentang dan sayuran milik aunty Nada," girang Raffa.


"Jangan di ambil semuanya, Raffa. Kita bukan mau jualan, sayang," gemas Nada yang melihat kebunnya sudah dikeroyok oleh keponakannya.


"Di suruh Opa, aunty. Katanya aunty lagi pingin makan gorengan jadi harus cabut wortel dan kubis. Aku juga petik cabe dan daun bawang," ucap Dinar girang.


"Yang kalian ambil itu terlalu banyak. Bisa kasih makan buat orang sekampung," protes Nada.


"Yah, tinggal dibagikan saja aunty..Kan dapat pahala. Begitu kata mama aku," balas Audrey.


"Astaghfirullah. Ini bocah. Dikasih tahu malah diceramahi. Kelewat jenius jadi ngatur orangtua," gerutu Nada.


"Sudahlah sayang...! mereka lagi happy karena berkebun. Lagi pula sebentar lagi mau turun salju. Lebih sulit nanti saat panen. Bayangin nanti kalau punya anak sendiri pasti tingkah mereka lebih parah dari keponakan kita," timpal Ghaishan yang mencomot gorengan lalu mengajak keponakannya bermain.


"Sekarang, kalian semuanya mandi setelah itu kita main game bersama. Siapa yang menang gamenya, uncle akan beri hadiah ponsel baru buatan uncle," ucap Ghaishan membuat keponakannya bersorak kegirangan.


Mereka sudah tahu ponsel ciptaan paman mereka adalah yang terbaik dan sulit dimiliki oleh orang lain karena digunakan oleh keluarga mereka saja.


Tidak lama Cinta dan Adam sudah datang. Keduanya memeluk ibu mil ini penuh kehangatan.


"Apakah juga kembar?" tanya Cintami pada Nada.


"Belum tahu karena belum melakukan USG. Katanya tunggu 12 Minggu kalau mau tahu kembar atau tidak," ucap Nada.


"Aku sudah membuat asinan untukmu. Ada asinan sayur dan juga buah. Apakah kamu sudah menyicipinya?" tanya Cintami.


"Nanti saja kak. Perutku sudah kenyang. Oh iya. Kak Adam jadi menikah dengan gadis pilihan mommy?" tanya Nada membuat Adam tersentak.


"Entahlah. Aku belum bisa memutuskan tentang itu," ucap Adam.


"Kenapa terlihat gugup? Apakah kakak sedang memikirkan gadis lain?" selidik Nada.


"Tidak. Sudahlah. Aku mau istirahat dulu," pamit Adam yang masih memikirkan Syakira.


...----------------...


Pagi itu Adam yang terlihat sangat tampan bersiap untuk menemui Syakira. Dia sengaja mengunjungi gadis itu karena semalaman tidak bisa tidur hanya memikirkan Syakira. Untuk memuaskan hatinya, ia ingin menemui Syakira sebelum menikah dengan Nadia.


"Mommy. Aku mau mengunjungi teman lama!" pamit Adam pada Nabilla tanpa menyebutkan secara spesifik teman siapa.


"Hati-hati sayang..! Apakah kamu mau membawakan oleh-oleh untuk temanmu itu?" tanya Nabilla.


"Boleh mommy kalau masih banyak," sahut Adam senang.


Nabilla mengambilnya beberapa makanan kuliner Indonesia yang pasti banyak diminati oleh orang luar negeri.


"Ini untuk temanmu. Titip salam untuknya. Semoga dia menyukainya. Sudah mommy hangatkan. Tinggal di makan saja!" ucap Nabilla.


"Baik mommy. Assalamualaikum!" Pamit Adam lalu mencium pipi ibunya.


Di perusahaan Syakira nampak serius memeriksa beberapa berkas laporan saham perusahaan miliknya.


Tidak lama, sekertarisnya menghubungi Syakira kalau ada tamu.


"Suruh saja tamunya ke ruanganku!" titah Syakira tanpa ingin menanyakan tamu siapa.


"Baik nona!" sekertaris mengantarkan Adam ke ruangan Syakira.


"Silahkan tuan!"


"Terimakasih!" Adam masuk ke ruangan itu dan nampak kaget melihat penampilan baru Syakira yang sudah berhijab.


Wajah itu mengeluarkan cahaya yang terpancar dari kejernihan hati seorang wanita yang sedang menguatkan iman Islamnya.


"Masya Allah. Sungguh cantik ciptaanMu ya Robby!" puji Adam lalu mengucapkan salam kepada Syakira yang sedang menerima telepon dari seseorang tanpa melihat ke arah Adam.


"Assalamualaikum..!" sapa Adam pada Syakira.


Awalnya Syakira nampak biasa saja karena belum berapa menyadari sosok tamu yang ingin menemuinya. Setelah dipastikan lagi tamunya, Syakira seketika menghentikan obrolannya secara sepihak lalu bangkit dari tempat duduknya.


"Adam...!" senyum Syakira terlihat canggung namun juga merasa salah tingkah sendiri dengan kehadiran Adam yang tidak ia sangka-sangka.


"Waalaikumuslam. Silahkan duduk Adam!" mencoba untuk bersikap normal.


"Maaf. Aku sengaja tidak mengabarimu!" ucap Adam.


"Angin apa yang membawamu kemari, Adam?" basa-basi Syakira terdengar hambar karena perasaannya campur aduk saat ini.


"Hanya kangen sama teman lama. Oh iya, ini ada oleh-oleh dari Indonesia. Ibuku menitipkannya untukmu," ucap Adam seraya menyerahkan titipan ibunya untuk Syakira.


"Alhamdulillah, wasyukurillah, barakallahu fiqum untuk ibumu dan keluargamu, Adam. Apakah aku boleh melihatnya?" tanya Syakira merasa bahagia karena diperhatikan.


"Kapan kamu tiba di Amerika, Adam? Apakah kamu datang ke sini untuk bulan madu?" pancing Syakira berusaha tegar.


Adam terhenyak mendengar pertanyaan Syakira. Syakira menyiapkan makanan itu di piring.


"Apakah aku boleh memakannya?" tanya Syakira.


"Silahkan..!"


Syakira mulai menikmati setiap gigitan rendang empuk yang dicobanya lebih dulu daripada makanan lainnya.


"Ini sangat enak Adam. Oh iya, kenapa kamu datang sendiri ke sini? Kenapa tidak membawa istrimu juga?" tanya Syakira .


"Istri? istri siapa? Siapa yang bilang padamu aku sudah menikah?" tanya Adam bingung.


"Itu...itu. Maaf Adam aku hanya menebak saja...!" gugup Syakira.


"Aku belum menikah Syakira. Aku masih lajang," ucap Adam membuat wajah Syakira berbinar cerah.


"Alhamdulillah...!" ucap Syakira penuh syukur dalam hatinya. Dia memakan lagi rendang itu tanpa nasi dengan lahapnya karena saking senangnya kalau dia salah paham dengan Adam kemarin.


"Mungkin kemarin yang aku lihat itu saudaranya. Kenapa aku bodoh sekali," batin Syakira tersenyum sendiri.


"Saat ini aku dan kelurgaku sedang mengunjungi adik bungsuku yang saat ini sedang hamil. Kami yang harus ke sini karena adikku masih hamil muda dan tidak diperkenankan untuk menempuh perjalanan jauh oleh dokter. Mungkin kalau usia kandungannya sudah cukup untuk pulang ke Indonesia sekalian untuk menghadiri pernikahanku yang akan digelar 3 bulan lagi," ucap Adam membuat Syakira langsung tersedak.


Uhuk ....uhukkk...uhukkkk...


......................


Vote dan likenya cinta please!