
Seiring waktu, sikapnya Amran mulai berubah pada Nabilla. Ibu hamil yang sedang sensitif perasaannya ini mulai gerah dengan ulah suaminya yang mendiamkannya padahal ia sudah beberapa kali minta maaf pada Amran.
Keduanya yang masih tinggal di apartemen itu menjadi sibuk sendiri satu sama lain dengan pekerjaan mereka. Amran yang awalnya sudah melarang Nabilla agar tidak melakukan aktivitas berat di dalam rumah mengingat dia saat ini sedang hamil kembar tiga, namun Nabilla tidak menanggapi permintaan suaminya.
Sebenarnya Nabilla begitu senang dengan perhatian suaminya untuk melarangnya bekerja di saat sedang hamil walaupun itu hanya memasak. Tapi tingkah dingin Amran yang terus menerus mengabaikannya yang membuat Nabilla merasa perhatian itu terkesan biasa saja.
"Mengapa kamu masih saja keras kepala mengerjakan semuanya sendiri? bukankah kamu harus menjaga kandunganmu agar tetap sehat?" sinis Amran.
"Jadi, kamu hanya kuatir pada bayi kembarmu saja?" tanya Nabilla dingin.
"Yah, bukan begitu. Tentunya memikirkan keadaan kamu juga," balas Amran yang tidak lagi menyematkan kata sayang atau baby saat bicara dengan istrinya.
"Sudahlah. Aku tidak butuh pembantu. Aku masih kuat melakukannya sendiri. Lagi pula aku juga mantan pembantu. Pekerjaan yang hanya mengurus satu orang bukan masalah berat bagiku," ucap Nabilla makin mengibarkan perang dingin antara mereka.
"Terserah padamu saja. Aku sudah mengingatkan padamu. Jika kamu bermasalah dengan tubuhmu, bukankah kamu sendiri yang akan merasakan sakitnya?" cicit Amran.
Hati Nabilla merasa sangat sakit. Di saat ia sedang hamil dan butuh kasih sayang dan perhatian suaminya, justru Amran bersikap dingin padanya. Segala upaya untuk membuat suaminya memaafkannya, tetap saja tidak menyentuh hati Amran sedikitpun.
"Emangnya kalau aku lebih pintar darinya adalah sebuah kesalahan atau dosa? ko jadi laki egois banget ya. Apa salahnya menjaga keamanan sebelum semuanya terlambat, kenapa bukannya dia harusnya berterimakasih kepadaku, kok malah memusuhiku?" gerutu Nabilla.
Minggu berlalu, bulan berganti, sikap Amran yang masih dingin pada istrinya, membuat tingkat kesabaran Nabilla sudah setipis tisu. Ia yang tidak lagi menyentuh istrinya bahkan perut Nabilla tidak lagi dia usap. Nabilla memutuskan untuk pergi ke rumah sakit sendiri untuk melihat perkembangan janinnya.
Nabilla yang buru-buru pergi, lupa membawa ponselnya yang tadi ia cash di atas meja nakas tempat tidurnya. Karena berangkatnya sore hari, Nabilla menumpang taksi online untuk mengantarnya ke rumah sakit. Rasa kesalnya Nabilla pada Amran membuat dirinya mengunjungi rumah sakit lain bukan rumah sakit langganan keluarganya.
"Apakah ini anak pertama anda nona?" tanya dokter Sherin.
"Iya dokter," ujar Nabilla.
"Kenapa tidak datang bersama dengan suami, supaya bisa melihat perkembangan janinnya. Apalagi sudah memasuki usia enam bulan, pasti suaminya juga ikut penasaran melihat keturunannya," ucap dokter Sherin.
"Suami saya lagi dinas ke luar negeri bulan depan baru kembali. Kalau saya menunggunya, berarti saya melewati momen berharga untuk melihat perkembangan janin kembar saya," Ujar Nabilla.
"Sebelumnya periksa di mana?" tanya dokter Sherin.
"Rumah sakit Singapura," ucap Nabilla asal.
"Perkembangan bayinya sangat baik dan ketiganya sangat aktif. Tapi sayang jenis kelamin mereka tidak bisa terlihat," ucap dokter tersebut.
"Tidak apa. Yang penting mereka sehat. Saya tidak mempermasalahkan jenis kelamin mereka dokter," ucap Nabilla.
Dokter Shiren memberikan copy resep pada Nabilla. Gadis ini pamit dan mengambil resepnya di farmasi. Saat ingin pulang, ia hendak mengambil ponselnya untuk memesan taksi. Ia mencari beberapa saat dan baru ingat, ponselnya lupa ia bawa usai memesan taksi tadi saat mau berangkat ke rumah sakit.
"Astaghfirullah. Ya Allah. Kenapa aku bisa lupa dengan ponselku?" keluh Nabilla.
Nabilla akhirnya menumpang taksi biasa. Di saat yang sama hujan mulai turun deras. Jalanan mulai macet. Sang sopir mengambil jalan alternatif menghindari macet. Sayang sekali, nasib sial menghadang Nabilla.
Rupanya sopir taksi itu menepikan mobilnya di tempat yang sepi lalu mengeluarkan pisaunya mengarah pada Nabilla." Serahkan tas itu nyonya!" ancamnya membuat Nabilla ketakutan dan menyerahkannya.
"Turun!" bentak sopir itu dan Nabilla buru-buru turun dari mobil itu. Belum saja kakinya berpijak dengan benar di aspal, sopir mobil taksi itu langsung menekan pedal gas mobilnya dengan tiba-tiba membuat tubuh Nabilla terjatuh.
"Akhhhhkkk!" Pekik Nabilla menahan sakit dipinggangnya . Darah segar sudah keluar dari celah intinya. Sakit yang luar biasa pada perutnya tidak bisa ia tahan membuat Nabilla hilang kesadarannya.
Sementara itu, di apartemen, Amran mencari Istrinya yang sedari tadi tidak kunjung pulang. Ia juga bingung melacak Nabilla yang tidak membawa ponselnya..Amran mencari sepatu dan tas yang hilang dari rak sepatu dan tas itu. Ia baru menyadari kalau Nabilla pergi.
"Apakah dia ke rumah sakit?" tanya Amran sambil menekan nomor telepon milik dokter Indri.
"Maaf tuan Amran. Nabilla tidak mengunjungi rumah sakit dan dia tidak melakukan pendaftaran secara online sebelumnya," ucap dokter Indri.
Tanpa banyak tanya Amran langsung mematikan ponselnya. Ia berharap kalau Nabilla tidak kabur lagi seperti sebelumnya." Ya Allah. Jangan sampai Istriku kabur lagi," sesal Amran dalam harapnya.
Sementara itu, hujan di luar sana makin deras dan enggan untuk berhenti. Pikiran Amran menjadi buntu untuk mencari istrinya. Ponsel Nabilla yang menggunakan sandi lensa matanya sendiri membuat Amran tidak bisa memeriksa petunjuk dari ponsel itu. Padahal sebelumnya, Nabilla tidak pernah memberi sandi pada ponselnya. Karena kesalnya pada suaminya, Nabilla menjadi melakukan hal-hal bodoh.
Ia beralih meretas CCTV apartemen di depan lobby untuk memeriksa Nabilla menumpang salah satu mobil dan ternyata benar Nabilla menggunakan taksi online. Amran menghubungi nomor telepon ponsel online tersebut.
"Hallo. Apakah hari ini anda yang menjemput seorang wanita bercadar di apartemen Hawai Dream ?" tanya Amran.
"Oh, ibu Nabilla?" tanya sopir yang masih ingat dengan pelanggannya itu karena Nabilla melebihkan pembayaran ongkos taksinya tadi.
"Benar," ujar Amran.
"Saya antar nyonya ke rumah sakit internasional," ucap sopir tersebut.
"Terimakasih. Tolong kirim nomor rekeningmu aku akan transfer uang padamu sebagai ucapan terimakasihku," ucap Amran.
"Tidak usah Tuan. Ini adalah bagian tanggungjawab saya. Semoga tuan bisa menemukan istri Tuan," ucap sopir itu mematikan ponselnya setelah mendengar alasan Amran yang tidak tahu ke mana perginya Nabilla.
Amran buru-buru ke rumah sakit yang didatangi Nabilla. Dokter Sherin menjelaskan kepada Amran apa adanya. Amran meretas lagi CCTV rumah sakit dan mencaritahu istrinya menumpang mobil apa.
Akhirnya istrinya ditemukan dengan menggunakan taksi biasa. Sialnya, sang sopir yang membawa Nabilla itu adalah sopir taksi tembak atau sopir pengganti bukan sopir tetap. Amran meminta pemilik taksi itu untuk menemukan sopir gadungan itu atau saham dari pengusaha taksi itu akan ia jatuhkan dipasaran besok.
Arland yang ikut andil dalam pencarian itu akhirnya menemukan sopir gadungan itu dan ia mengintrogasi sendiri sopir itu.
"Di mana wanita itu kamu turunkan, hah?" hardik Arlan sambil mencambuk tubuh pria paruh baya itu dengan gesper.
"Di jalanan sepi dan gelap," ucap pria itu ketakutan sambil menahan sakit pada tubuhnya yang sudah bonyok dihantam Arland yang terlihat sangat marah pada pria itu.
"Dimana otakmu hingga kamu menurunkan wanita hamil itu setelah merampok tasnya. Jika kau ambil tasnya saja dan menurunkan ditempat yang layak, tidak akan membuatnya miskin. Kau sudah salah berhadapan dengan seorang istri mafia. Bersiaplah! sebentar lagi kepalamu akan dikuliti oleh suaminya. Sebutkan alamatnya yang tadi kamu tinggalkan gadis itu!" titah Arland.
Amran yang mendatangi tempat yang dimaksud oleh sopir tadi sama sekali tidak menemukan Nabilla. Perasaan Amran sudah tidak mulai tenang.
"Nabilla. Di mana kamu sayang? maafkan aku! kenapa aku harus kehilanganmu dulu baru menyadari kebodohanku. Nabillaaaaaa....!" pekik Amran di dalam mobil sambil memukul setir mobilnya berkali-kali.