Dikira Pembantu, Ternyata Istri Mafia

Dikira Pembantu, Ternyata Istri Mafia
157. Memaafkan


Daffa dan Bunga sudah berada di rumah sakit di mana nyonya Cyra saat ini sedang dirawat. Pasangan itu masuk ke dalam kamar inap nyonya Cyra di mana tuan Darwish sedang menjaga istrinya itu.


Nyonya Cyra sedang duduk menghadap ke jendela sambil menatap nanar ke jendela yang hanya memberikan pemandangan gedung-gedung tinggi di kawasan rumah sakit itu.


"Pagi papa...!" sapa Daffa seraya memeluk ayah kandungnya itu. Darwish mengeratkan pelukannya pada sang putra lebih lama karena ia sudah mendapatkan julukan baru dari putranya dengan sebutan papa.


"Terimakasih, nak. Aku menjadi manusia yang lebih berarti mulai saat ini karena panggilan mu itu," ucap Darwish sambil menepuk-nepuk punggung putranya penuh bahagia.


"Maafkan Daffa papa karena sudah bersikap seperti anak kecil dan meninggalkan papa dan mama begitu saja tanpa ingin mendengarkan alasan kalian dengan posisi kalian yang sangat sulit saat itu," ucap Daffa penuh sesal.


"Itu manusiawi Daffa. Papa tidak menyalahkan atas tindakan kamu, nak. Kamu berhak marah dan kecewa dengan apa yang terjadi karena keadaan kami yang tidak bisa membesarkan kamu secara wajar layaknya orangtua lain pada anak kandungnya.


Kami tidak bisa mengikuti perkembanganmu setiap saat hingga kamu dewasa. Keberadaan kamu saja kami tidak tahu. Jadi, bagaimana papa bisa menjemputmu. Bertemu dengan ibumu saja baru beberapa minggu ini, apa yang bisa papa upayakan cinta papa pada kalian berdua?" keluh tuan Darwis sendu.


"Papa. Daffa sudah memaafkan papa dan mama. Insya Allah Daffa sudah merasa tidak terbebani lagi dengan status Daffa karena Daffa lahir dari ikatan pernikahan suci kalian bukan terlahir sebagai anak haram kalian," ucap Daffa yang masih punya kehormatan di hadapan kelurga istrinya.


"Jika kamu bisa memaafkan kami, tapi sayang sekali, mama kamu tidak bisa memaafkan dirinya sendiri. Terlalu banyak luka dalam hidupnya menjadi mata-mata intelijen Amerika.


Aku yang telah melibatkannya dalam pekerjaanku hingga akhirnya kami jatuh cinta dan menikah diam-diam. Dan pada akhirnya, tuan Murrad membawa kabur mamamu dengan mengganti identitas mamamu, Cyra usai melahirkan kamu nak tanpa sepengetahuan diriku," ucap Darwish sedih.


"Jadi mommy merasa telah mengkhianati papa karena menjadi simpanan bajingan sialan itu?" tanya Daffa sambil mengepalkan kedua tangannya.


"Mamamu merasa bersalah karena membuangmu dan menutupi kejahatan Murrad selama bertahun-tahun. Itulah sebabnya ia sulit memaafkan dirinya karena menjadi ibu yang sangat pengecut," ungkap Darwish sedih.


"Baik papa. Daffa akan mencoba meyakinkan mama kalau Daffa sudah memaafkan perbuatan mama pada Daffa," ucap Daffa.


"Baiklah. Papa mengajak akan istrimu ke cafe rumah sakit. Biar kalian bisa ngobrol berdua," ucap Darwish mengajak Bunga yang sedari tadi jadi pendengar setia diantara keduanya.


Sepeninggalnya istri dan ayahnya ke cafe rumah sakit, Daffa mendekati mamanya sambil merangkul pundak mamanya yang diam seakan pikirannya melayang entah ke mana.


"Mama...! Daffa datang lagi menemui mama. Apakah Mama masih ingat putra mama yang paling tampan ini?" Daffa mencoba mengakrabkan dirinya dengan sang ibu yang tidak mau menatap wajahnya sama sekali.


Daffa menangkup kedua pipi ibunya mengarah ke arahnya. Ia ingin menatap lebih dalam mata ibunya yang seketika baru sadar akan keberadaan Daffa.


"Kau....! pergi....pergi dari sini..! aku membencimu Darwish. Kau ...kau ... gara-gara kau hidupku jadi hancur. Aku telah meninggalkan putraku pada orang lain. Untuk apa kamu ke sini? pergiiii...!" teriak Cyra histeris membuat hati Daffa tercabik-cabik saat melihat ketidakberdayaan ibunya.


"Mama ..! ini Daffa. Bayi mama yang dulu mama berikan pada orang lain sudah besar saat ini," ucap Daffa sambil merayu ibunya layaknya seorang anak kecil yang sedang merajuk.


Daffa memeluk ibunya yang masih menangis. Hangatnya pelukan Daffa membuat tubuh ibunya melemah hingga membenamkan wajahnya ke dalam dada bidang putranya yang ikut menangis.


"Daffa sudah memaafkan mama. Kami datang ingin menjemput mama. Apakah Mama tidak mau tinggal bersama papa? Apakah Mama masih ingin hidup berjauhan sama papa?" tanya Daffa namun tetap tidak mendapatkan respon dari sang ibu yang masih terjebak dalam alam pikirannya di masa lalu.


Tubuh dan batinnya terlihat lelah. Cyra akhirnya tertidur dalam pelukan sang putra setelah lelah menangis. Rasanya ia telah melepaskan bebannya karena bisa meluapkan perasaannya. Merasa jijik pada dirinya sendiri. Merasa istri yang tidak mampu menjaga kehormatannya karena di kendalikan oleh pria lain.


Dalam pelukannya, Daffa bisa merasakan luka batin ibunya." Ya Allah. Anak seperti apa aku ini? ibuku menderita separuh hidupnya karena takdir dan aku seenaknya menghakiminya tanpa ingin mendengarkan keluh kesahnya," batin Daffa lalu membaringkan tubuh ibunya di kasur.


Menarik selimut tebal itu lalu menutupi tubuh ibunya. Daffa mengecup kening nyonya Cyra penuh kelembutan. Wajah cantik itu masih mengguratkan kesedihan yang mendalam.


Jika hidup manusia sulit untuk memaafkan dirinya, bersiaplah untuk memberikannya cinta yang kita punya untuk menyembuhkan luka itu. Hanya cinta yang bisa menghapus segala kepedihan dalam hidup ini.


"Apakah papa ingin memboyong mama ke Amerika?" tanya Daffa.


"Iya sayang. Kami akan menikah lagi setelah ibumu sembuh. Kalau masih di sini, kenangan buruk itu akan mengikatnya," ucap tuan Darwish.


"Tapi, apakah mama sudah bisa dibawa ke Amerika?" tanya Bunga.


"Kasusnya sudah di tutup. Di Amerika, Cyra akan bertemu banyak dokter ahli untuk bisa mengobati jiwanya. Lagian pemahaman agama kami yang sama-sama katolik jadi mudah bagi kami menemukan guru spiritual untuk menenangkan jiwa Cyra," lanjut tuan Darwis.


"Baiklah. Kabari kami kalau papa dan mama akan pulang ke Amerika!" pinta Daffa.


"Papa. Kami ijin pulang dulu. Besok Bunga akan membawa kelurga Bunga untuk berkenalan dengan papa dan mama," ucap Bunga.


"Terimakasih Bunga. Sampaikan salam hormatku kepada keluargamu. Maaf tidak bisa berkunjung ke rumah keluargamu dan terimakasih sudah menjadi menantuku. Daffa beruntung memilikimu, nak," ucap tuan Darwish tulus.


"Dengan senang hati papa. Aku sangat mencintai putramu, Daffa. Sampai jumpa lagi papa," ucap Bunga lalu mencium punggung tangan ayah mertuanya yang sedikit heran dengan tradisi muslim Indonesia ini.


Bunga juga mencium kening Cyra lembut." Siapa yang menyangka kita bertemu lagi menjadi suatu keluarga, mama Cyra. Takdir begitu sulit di tebak. Namun Aku tidak pernah menyalahkan takdir karena putramu adalah pilihan Tuhanku Allah untuk menemaniku sampai aku menutup mata," bisik Bunga.


Pasangan itu meninggalkan rumah sakit. Sepanjang perjalanan, Daffa menggenggam tangan istrinya sambil menyetir mobilnya. Menemui keluarganya dengan sang istri yang selalu mendukungnya membuat Daffa merasa tidak lagi sendiri di dunia ini karena selalu mendapat wejangan dari Bunga setiap kali Daffa hampir jatuh dalam jebakan setan.


Di mansion kakek Salim, Adam menceritakan apa yang terjadi pada mereka dari awal mereka tiba di puncak villa yang di sambut oleh tembakan dari musuh untuk melenyapkan mereka.


Mengetahui cicit-cicitnya di serang musuh membuat wajah kakek Salim mengeras. Dengan suara bergetar menahan marah ia mengambil ponselnya ingin melabrak cucu keponakannya itu.


"Tenang saja. Kakek akan mengurus bajingan itu. Selama ini kakek tidak pernah mau tahu urusan mereka dengan pembangunan proyek ilegal itu. Tapi, mereka berani sekali mau melukai cicit-cicitku," geram kakek Salim.


"Oh iya. Di mana Nada? apakah dia ikut bersama Daffa dan Bunga ke rumah sakit?" tanya Amran yang tidak menjumpai Nada di antara anak dan menantunya.


"Assalamualaikum...!" Sapa Bunga dan Daffa bersamaan.


"Waalaikumuslam," sambut penghuni rumah itu kompak.


"Di mana adikmu Nada, Bunga?" tanya Amran lagi.


"Lho..! tadi pamitnya mau ke restoran. Emangnya belum pulang?" tutur Bunga.


Semuanya menggelengkan kepala mereka." Ya Allah. Di mana putriku?" cemas Nabilla meraih ponselnya yang ada di meja untuk menghubungi putrinya itu.


Tidak ada jawaban dari setiap panggilan yang dilakukan Nabilla." Periksa saja GPS ponselnya. Dengan begitu kita bisa tenang, mommy," ucap Arsen.


"Di manakah Nada...?"


Bersambung...


......................


Vote dan likenya Cinta please!