
Nada tersenyum dengan air mata berderai. Ia kembali melanjutkan membaca kalimat indah itu.
"Nada. Aku baru tahu arti dari namamu. Nada sebuah nama yang sangat bermakna karena setiap bait lagu harus diiringi dengan nada. Jika tidak ada nada lagu itu tidak akan ada artinya dan hanya barisan puisi ungkapan jiwa.
Karena ada nada maka, kata- kata indah itu yang akan melahirkan harmoni indah dalam setiap sentuhan lagu membawakan sebuah rasa. Sedih, kecewa, marah dan bahagia. Tertuang bersama nada sesuai yang diinginkan penciptanya.
Baiklah sayangku, Nada. Aku ingin serius membahas tentang kita di surat ini. Awal kedatanganku ke tempatmu bukan karena undangan istimewa pesta pernikahan kedua kakakmu.
Aku datang ingin mempertanggungjawabkan perbuatanku padamu yang telah mencium mu. Walaupun aku menikmati lembutnya bibirmu tapi rasa bersalahku menghantuiku.
Namun sayangnya sikap cuekmu malah membuatku nekat menjahilimu lagi. Sepertinya aku jadi senang menggodamu. Memang kamu pantas untuk digoda, baby.
Kadang aku cemburu dengan apa yang kamu pakai dan kamu gunakan. Seperti gelas minum yang menempel dibibirmu. Baju yang kau kenakan melekat di tubuhmu. Bahkan selimut yang membalut tubuhmu yang menghabiskan waktu bersamamu di sepanjang malammu.
Aku cemburu pada air yang bisa membasahi tubuhmu dan terpaan angin pantai membelai pipimu. Aku bisa seposesif itu padamu, maka jagalah jarak dengan pria yang bukan muhrimmu jika kamu mencintaiku.
Andai saja kamu ada disini menyaksikan aku pergi, rasanya itu adalah hadiah yang terindah untukku. Sayangnya, kamu tidak menginginkan aku. Sudahlah. Aku tidak mungkin menjadi bagian dari hidupmu. Semoga kamu bahagia dengan pria pilihanmu, Nada.
Selamat tinggal sayang! tidak apakan aku panggil kamu sayang. Cepatlah menikah! sebelum aku kembali untuk memaksamu menikah denganku. Wassalamualaikum...!"
"I love you, so much baby!"
Ghaishan Quintano Luciano.
Baris kalimat curhatan seorang Ghaishan beberapa jam sebelum kedatangan Nada menemuinya di tempat itu yaitu Florida.
Nada mencium kertas putih yang berisikan ungkapan hati kekasihnya. Rasa bangga bercampur sedih atas kehilangan menyatu jadi satu dihatinya.
Nada meraih ponsel milik Ghaishan yang masih tersegel. Nada membuka kotak ponsel itu. Ia teringat dengan ponselnya sendiri. Mungkin ada pesan dari Ghaishan yang belum ia baca. Nada membuka notifikasi pesan masuk dari Ghaishan yang begitu banyak. Nada membaca salah satunya.
"Nada. Aku menitipkan barang berharga untuk dikirimkan kepadamu. Semoga bisa sampai ditanganmu lebih cepat. Jika kamu mencintaiku, tolong buka kotak itu. Kalau hatimu enggan padaku, simpanlah kotak itu sampai aku datang untuk mengambilnya lagi.
Tapi, jika kamu menemukan ponsel pemberianku, tolong gunakan ponsel itu saat kita berkomunikasi. Karena aku bisa menghubungi kamu dari ruang angkasa. Ponsel itu aku ciptakan khusus untuk kamu.
Edisi khusus untuk kamu, baby! aku tidak pernah segila ini pada wanita. Semoga kamu yang pertama dan terakhir yang menempati di dalam singgasana hatiku," tulis Ghaishan dengan emoticon hati.
"Ghaishan. Aku tidak tahu harus ucapkan apa padamu. Semuanya mengalir begitu saja. Kau datang dalam hidupku dengan cara yang aneh dan sekarang kamu pergi meninggalkanku juga dengan cara yang aneh.
Segala kebencianku padamu tentang kelakuanmu berubah menjadi indah untuk aku kenang. Sepertinya aku sudah dibuat mabuk lebih dulu sebelum mengenal cinta yang lebih dalam padamu. Cepat kembali baby. Aku terima cintamu dan aku gunakan semua apa yang kamu berikan kepadaku. Aku sudah merindukanmu. Kamu sudah sampai mana sekarang?" pertanyaan bodoh Nada yang terlontar begitu saja dari mulutnya.
Drettttttt....
Nada buru-buru menerima panggilan video call dari nomor yang tidak dikenal. Ternyata itu dari sang kekasih yang sudah ada di layar ponsel pemberian Ghaishan.
Saking girangnya, Nada lupa mengenakan hijabnya membuat Ghaishan terpaku menatap wajah Nada dengan rambut terurai.
"Masya Allah. Cantiknya kamu sayang!" puji Ghaishan seakan mendapatkan rejeki nomplok.
Nada masih belum sadar dengan pujian sang kekasih. Ia tersenyum sambil melambaikan tangannya menyapa prianya.
"Assalamualaikum...!" ucap Nada.
"Waalaikumuslam...!" sambut Ghaishan.
"Aku sudah membaca suratnya dan juga memakai jaketmu. Jaketnya harum," ucap Nada.
"Apakah kamu menyukainya?" tanya Ghaishan.
"Aku lebih menyukai pemiliknya," balas Nada.
"Hmm! sudah pintar merayu sekarang," ledek Ghaishan.
"Karena belajar pada ahlinya. Tuh...! yang lagi ngeledek aku," sungut Nada membuat Ghaishan terkekeh.
"Penerbangannya sudah sampai mana, sayang?" tanya Ghaishan.
"Gadis pintar. Apakah kamu kembali lagi ke Denpasar?"
"Iya. Masih ada kakek Salim di sana. Beliau mau ke makam nenek uyut dan kakek Amir yang ada di Batu Malang. Berapa jam lagi yang kamu butuhkan agar bisa tiba di bulan?" tanya Nada.
"Insya Allah. Kali ini waktu tempuhnya hanya butuh 8 jam karena kami hanya menjangkau di planet Pluto. Setiap pesawat memiliki waktu tempuh untuk mencapai bulan berbeda-beda. Dengan perkembangan teknologi, pesawat NASA mampu mencapai waktu tempuh untuk sampai ke bulan tidak kurang dari 12 jam," ujar Ghaishan.
"Berarti aku tiba di Indonesia dan kamu baru tiba di bulan?" tanya Nada.
"Iya sayang. Kamu tahu sendiri berapa jarak antara bumi dan bulan bukan? coba aku mau tes kekasihku ini. Berapa jarak antara bumi dan bulan?" tanya Ghaishan menguji kejeniusan Nada.
"Insya Allah , aku tahu. Jarak antara Bumi dan Bulan berkisar antara 360.000 kilometer.
Yaitu Jarak terdekatnya disebut dengan perigee yaitu 363.104 km, sedangkan jarak terjauhnya yaitu apogee sejauh 405.696 km. Bagaimana? benarkan jawabanku?" tanya Nada.
"Hebatnya calon istriku. Nanti kalau nikah aku pingin punya anak sepuluh. Supaya di bumi kita ada banyak orang jenius biar tidak di kerjain sama orang pintar.
Karena dunia sudah kebanyakan orang pintar hingga melahirkan banyak orang setress berkedok pejabat publik bermodalkan orasi untuk menyesatkan kaum lemah dengan janji manisnya untuk bisa memperkaya diri," ucap Ghaishan.
"Itu mah negara saya banget, akang kasep," ucap Nada sambil cekikikan.
"Apa itu akang kasep, Nada?" tanya Ghaishan.
"Kakak tampan. Itu salah satu bahasa daerah di pulau Jawa. Panggilan seorang wanita untuk pria yang lebih tua darinya," jawab Nada malu-malu.
"Kalau gadis yang masih perawan pasti selalu tersipu malu kalau dipuji kekasihnya," ucap Ghaishan.
"Berarti kalau sudah nikah lebih agresif ya?" tanya Nada membuat Ghaishan tergelak.
"Tetaplah seperti Nadaku saat ini, nanti dan selamanya. Kau hanya boleh agresif nanti setelah aku menikahimu. Tetaplah terlihat garang dan super woman pada orang lain tapi tampil pemalu dihadapan calon suaminya dan isya Allah aku akan menjadi suamimu," ucap Ghaishan.
"Ghaishan."
"Hmm."
"Apakah aku boleh minta sesuatu?"
"Silahkan sayang..!"
"Maukah kamu melakukan video call saat kamu rehat dari tugasmu?" pinta Nada.
"Insya Allah. Aku akan usahakan. Sekarang aku pamit dulu. Terimakasih sudah memperlihatkan kecantikanmu padaku. Rambutmu sangat indah!" puji Ghaishan seraya memberikan kecupan dari jarak jauh.
"What ..?!" Nada mengusap kepalanya dan benar saja ia baru sadar tidak mengenakan hijab saat bicara dengan Ghaishan. Di tambah lagi ponsel ciptaan Ghaishan tidak tampil di layar untuk si penerima telepon.
"Assalamualaikum, baby!" Ghaishan mengerlingkan matanya lalu mematikan sambungan secara sepihak sebelum Nada mengamuk padanya.
"Dasar licik!" gerutu Nada yang sudah terjebak dalam keisengan Ghaishan.
"Semoga saja kamu menikahiku atau aku akan ke bulan untuk menjemputmu," seringai Nada ingin ikut pendidikan dunia astronot.
...----------------...
Vote dan like nya cinta please!
Visual Nada
visual Ghaishan