
Saat komandan Aditya melepaskan tembakan membabi-buta ke arah keluarga Amran, Nabilla tiba-tiba mengeluarkan kekuatannya hingga komandan Aditya terpental ke arah para anak buahnya hingga tubuh mereka jatuh bersamaan.
"Pergi dari kediamanku atau aku akan menyuruh massa untuk mengeroyok kalian...!" hardik Nabilla.
"Kau berani mengancam aparat pemerintah nyonya?" omel komandan Brimob Aditya.
"Kalian datang ke rumahku bukan sebagai aparat negara tapi tidak lebih sebagai perampok," balas Nabila.
"Ini perintah presiden sendiri bukan kemauan kami," dalih komandan Aditya.
"Aku tidak peduli atas perintah siapa. Karena tuduhan kalian tidak mendasar. Tidak ada yang kami ambil dari negara ini. Mungkin oknum pejabat seperti kalian yang mampu mencuri milik negara. Sementara aku dan keluargaku yang melindungi negara ini dan juga negara lain jika tenaga kami di butuhkan," ucap Amran.
"Kami akan mendatangi lagi kediaman ini dengan membawa pasukan yang lebih besar daripada ini untuk melakukan penggeledahan lagi agar bisa memastikan sendiri apa yang kalian ambil dari negara," ucap komandan Aditya.
"Bagaimana kalau kalian tidak mendapatkan apapun yang kalian inginkan yang ada di dalam rumah ini? Aku tidak akan segan menuntut kalian!" ancam Amran.
"Jangan lupa kalian sedang berhadapan dengan penguasa negeri ini yang bisa memerintahkan apa saja pada pejabat terkait untuk menjatuhkan kalian!" ancam komandan Aditya tidak kalah garang.
"Berarti presiden telah melakukan konspirasi bersama pejabat terkait untuk menjebak keluargaku. Baiklah. Katakan kepadanya aku akan berhadapan langsung dengannya sebagai rakyat biasa bukan lagi sebagai rakyat yang akan memerangi pemerintah karena dia bukan lagi seorang penguasa negeri ini bagiku dan kelurgaku. Mari kita bertarung, siapa yang akan memenangkan permainan bodoh ini! tantang Nabilla.
"Ayo kita pergi dari sini!" titah komandan Aditya kepada anak buahnya sambil menggerutu tidak jelas.
"Tunggu. Sampaikan salamku kepada tuan presiden...! Bersiap-siaplah untuk mendapatkan murka dari rakyat dengan apa yang aku lakukan untuk penguasa tidak becus itu...!" ancam Nabilla yang ingin membuka aib presiden.
"Jangan terlalu percaya diri nyonya Nabilla. Wartawan Indonesia dibawah kendali presiden," tutur komandan Aditya.
"Apakah dia juga mampu mengendalikan wartawan asing?" remeh Nabilla.
Deggg....
"Sialaaannn...! Aku lupa wanita ini memiliki banyak koneksi dengan penguasa internasional," gerutu lirih komandan Aditya.
Semuanya telah meninggalkan kediaman Amran dengan menahan malu karena mereka tidak bisa melakukan tugas penggeledahan di kediaman Amran. Entah mengapa, tubuh mereka seakan ada yang menahan. Seakan ada lingkaran besar berupa tabir yang tidak terlihat secara kasat mata.
"Mereka seakan sedang memelihara jin di rumah itu," lirih komandan Aditya memasuki mobilnya.
Pasukan Brimob itu meninggalkan kediaman Amran dengan mobil bis khusus Brimob. Amran dan keluarganya bernafas lega setelah memukul mundur pasukan komandan Aditiya dengan kekuatan yang dimiliki oleh Nabilla yang telah ditransfer oleh cucunya Ghaida saat mereka berpisah beberapa bulan yang lalu.
Amran dan Nabilla memeluk anak dan menantunya. Namun mereka juga memikirkan karir Daffa di angkatan udara terancam di pecat atas perintah presiden.
"Tenanglah Daffa..! Dia tidak akan berani menyentuhmu karena mommy akan membuat perhitungan dengan dia," ucap Nabilla menghibur menantunya Daffa.
"Terimakasih mommy. Aku tidak akan menyerah pada ketidakadilan ini mommy. Kesatuan ku pasti memihak kepada yang benar," timpal Daffa.
"Bagus suamiku. Yakinlah kepada kebesaran Allah," hibur Bunga.
"Rasanya aku ingin menguliti kepala presiden idiot itu," gerutu Amran kembali lagi pada masa kelamnya yang mana menyelesaikan sesuatu dengan caranya sendiri saat menghabisi musuhnya.
Dreettt...
Ponsel Nabilla berdering. Nabilla tersenyum sesaat sebelum menerima panggilan dari putra pertamanya Adam.
"Hallo sayang!" sapa Nabilla.
"Alhamdulillah..ya Allah. Terimakasih sayang sudah memberikan cucu lagi untuk mommy dan Daddy. Kami akan kembali ke rumah sakit," ucap Nabila semangat.
"Tunggu mommy! apa yang terjadi sebenarnya?" selidik Adam.
"Semuanya baik-baik saja. Tidak ada yang perlu dikuatirkan. Semuanya yang terjadi malam ini hanya salah paham saja. Mommy dan Daddy sudah mengatasi semuanya. Kamu cukup fokus pada keluarga kecilmu. Titip peluk cium untuk Syakira dari mommy sayang," ucap Nabilla tersipu.
"Alhamdulillah. Akhirnya pasukan berani mati daddy makin bertambah banyak. Ayo kita ke rumah sakit sekarang!" seru Bunga dan mereka saling berpelukan untuk meluapkan kegembiraan di tengah ketegangan yang terjadi barusan.
Jika Nabilla tidak punya kekuatan, mungkin malam ini mereka akan bertempur dengan pasukan Brimob yang ingin mengobrak-abrik isi rumah milik Amran.
...----------------...
Keesokan paginya, masyarakat dikejutkan dengan tayangan yang disiarkan oleh YouTube dan juga televisi swasta di mana adegan menegangkan yang terjadi di kediaman Amran yang didatangi oleh pasukan Brimob dengan melakukan perbuatan anarkis pada keluarga Amran.
Yang lebih mengherankan lagi semua itu atas perintah presiden. Wartawan dari media lain menjadi penasaran kepada kelurga Amran dan mereka ingin melakukan konfirmasi secara konkret.
"Kenapa presiden melakukan tindakan sewenang-wenang kepada keluarga dermawan itu? Bagaimana mungkin kelurga sebaik itu dituduh mencuri milik negara?"
"Benar juga. Selama ini kita sudah banyak dibantu oleh kelurga tuan Amran hingga kita bisa hidup layak."
"Yang lebih aneh lagi, orang baik dan dermawan serta tidak pernah pamer saat membantu orang susah seperti kita dituduh mencuri? Wah.. presiden sedang mengajak perang rakyatnya sendiri. Kita harus tegakkan keadilan di negara ini. Jangan sampai kekuatan hukum negara ini hanya berpihak pada orang-orang tertentu saja."
Desas-desus antara rakyat Indonesia yang sebagian besar pernah merasakan rejeki dari keluarga Amran tidak tinggal diam begitu saja. Mereka ingin menghancurkan istana jika itu diperlukan untuk menurunkan presiden secara langsung.
"Jika presiden saja sudah berani bertindak sewenang-wenang kepada keluarga tuan Amran yang punya kekuatan secara finansial, apa lagi kita hanya rakyat kecil."
"Kita harus berkoordinasi dengan mengajak massa untuk melakukan demo besar-besaran di istana."
"Siap."
Di istana negara, polisi dan TNI AU bersinergi menjaga pertahanan di sepanjang jalan utama seputar Monas untuk menghalau para pendemo yang membawa beberapa spanduk untuk meminta presiden turun.
Presiden terlihat panik dengan ulahnya sendiri yang mencari gara-gara dengan keluarga Amran.
"Sontoloyo...! Rupanya istrinya benar-benar membuktikan ancamannya. Bagaimana semua borok aku dibuka oleh wanita itu? Bisa-bisa aku di adili oleh MPR karena kasus rekayasa pemilu lima tahun yang lalu," keluh presiden terlihat panas dingin sendiri.
"Bapak presiden! Massa ingin merangsak masuk ke istana untuk menurunkan kekuasaan bapak. Apa yang harus kita lakukan?" tanya sang ajudan.
"Tembak mereka semua jika mereka berani melawan aparat keamanan untuk presiden..!" titah sang presiden membuat wajah ajudan terlihat syok.
"Tidak mungkin kita melawan rakyat sendiri jika mereka mau menurunkan kekuasaan bapak. Itu akan makin mengundang amarah rakyat lebih luas lagi," protes sang ajudan.
"Terus. Saya harus bagaimana untuk mengatasi situasi seperti ini?" kesal presiden.
"Harusnya bapak presiden memikirkan baik buruknya saat ingin melakukan penyerangan pada keluarga tuan Amran. Banyak saingan politik bapak yang mendukung tuan Amran karena kesewenangan bapak presiden," ucap sang ajudan.
Deggggg...
......................
Terimakasih atas doa untuk author dari kalian semua. HB author turun drastis karena pendarahan akibat penebalan dinding rahim. Itulah sebabnya author di rawat.