
Tepat azan Magrib, Adam dan El sudah berada di mansion yang langsung di sambut istri-istri mereka dengan wajah binar ceria. Keduanya mengambil tempat di sebelah istri mereka.
Kebetulan ada Cintami dan Arsen yang sudah ikut bergabung di meja makan itu bersama dengan si kembar 4. Berbuka puasa bersama dengan anak, menantu dan cucu, nuansanya sangat berbeda saat ini. Kebahagiaan yang menyelimuti keluarga itu yang menjadi daya tarik tersendiri. Seakan kesempurnaan hidup ada di dalam kelurga Amran.
Amran dan Nabilla sibuk dengan cucu-cucu mereka yang menginginkan makanan ini dan itu yang ada di atas meja. Karena waktu buka puasa yang terlalu singkat, Adam dan El-Rummi mengurungkan niat mereka untuk membahas apa yang terjadi pada mereka sebelumnya pada kedua orangtuanya.
Mereka harus berangkat ke mesjid yang dekat dengan mansion. Hanya saja Syakira yang tidak bisa menahan diri untuk bertanya pada Adam dan El-Rummi.
"Apakah kalian sudah menyelidiki orang yang telah membututi mobil kita tadi?" tanya Syakira pada Adam yang sedang menghabiskan es buahnya.
"Bagaimana kamu bisa mengetahuinya baby?" tanya Adam syok.
"Aku tidak ingin membuat kamu panik dan itulah sebabnya aku memilih diam seakan tak mengerti apa yang terjadi saat kita jalan-jalan tadi," ujar Syakira.
"Apa yang terjadi? Apa yang sedang kalian bicarakan?" tanya Amran yang ikut mendengar.
"Nanti kita akan membahasnya daddy usai menunaikan sholat magrib," ucap Adam segera bangkit dari duduknya dan mengambil wudhu.
"Ok."
Semua pria yang ada di kediaman Amran berangkat ke mesjid. Sementara wanitanya memilih sholat di mushola yang ada di mansion itu.
Sekitar 10 menit kemudian, mereka sudah berkumpul lagi di ruang keluarga sambil membawa beberapa cemilan. El mulai duluan karena ia sempat bertemu dengan seorang penjahat wanita yang tidak lain adalah pembunuh bayaran.
"Apakah dia menyebutkan nama bosnya, El?" tanya Nabilla.
"Tadi El gagal mengamankan wanita itu karena memikirkan keselamatan Tamara mommy," jawab El-Rummi.
"Lantas. Bagaimana dia bisa terlepas darimu?"
"Karena dia mengancam kalau tidak melepaskannya, Tamara akan diculik oleh mereka. Itulah sebabnya El sulit untuk memilih karena posisi kami terpisah.
Nabilla dan Ghaishan mengambil ponsel mereka. Keduanya melacak lagi area tempat kuliner di mana El dan Tamara bisa bertemu dengan Veronica.
"Pria yang bicara dengan Tamara adalah seorang pembunuh bayaran juga dan dia bisa menguasai 4 bahasa dalam setiap aksinya. Dia juga asli negara ini. Namanya Sandi Wijaya. Dan Veronika benar istrinya," ucap Ghaishan yang mampu melacak identitas penjahat yang mencoba menculik Tamara.
"Sepertinya mereka menginginkan kalian sebagai sandera saja bukan bermaksud untuk membunuh kalian," ucap Nabilla.
"Apakah maksud kamu, yang mereka incar adalah kita?" tanya Amran.
"Iya sayang. Untuk sementara waktu, ke-enam cucu kita yang saat ini masih aktif sekolah harus di amankan. Karena cucu-cucu kita menjadi yang menjadi target utama mereka," balas Nabilla.
"Apa yang mereka inginkan dari kita?" tanya Amran tidak mengerti.
"Senjata kimia yang menjadi wasiat terakhir kakek," ucap Nabilla.
"Apaaa....?" maksudnya kakek uyut memiliki sejenis senjata kimia pemusnah massal yang menjadi rebutan mafia internasional?" tanya Bunga yang pernah membaca sejarah hilangnya senjata kimia itu.
"Senjata kimia itu memiliki sandi yang tidak bisa ditebak oleh siapapun. Jadi, walaupun dimilki oleh pihak lain, senjata kimia itu tidak berfungsi sama sekali tanpa sandi untuk membukanya.
Lagi pula jika bisa ditemukan kata sandinya, kita harus menyuntikkan obat penawar ke dalam cairan kimia itu agar tidak bisa lagi meledak. Dia akan menjadi cairan yang biasa saja," ucap Nabilla.
"Kira-kira, siapa yang mengetahui kita memiliki senjata kimia itu, mommy?" tanya Daffa.
"Seseorang yang seharusnya sudah mati. Tapi kita harus menyelidiki keberadaannya terlebih dahulu karena dia melibatkan beberapa pembunuh bayaran profesional hingga amatir demi untuk mendapatkan senjata kimia pemusnah massal itu," jawab Nabilla.
"Apakah pengacara Dito masih hidup sayang?" tanya Amran pada istrinya yang fokus pada ponselnya.
"Maksudnya daddy, Dito ayah kandungnya Alif, Daddy?" tanya Arsen yang sangat mengenal Alif.
"Karena aku lahir dan besar lebih dulu daripada kalian yang saat itu masih unyu-unyu," ledek Arsen pada istrinya.
"Cih....!" kesal Cintami mencebikkan bibirnya.
"Lantas kita harus bagaimana daddy?" tanya Bunga.
"Menemukan formula untuk menetralisir senjata pemusnahan massal itu," tutur Nabilla.
"Apakah aku bisa melihat senjata pemusnah massal itu, daddy?" tanya Nada yang merupakan ahli dalam menyusun kimia untuk tujuan tertentu.
"Sampai saat ini, kami bahkan belum menemukan senjata kimia itu karena sangat takut untuk menyentuhnya," ucap Amran.
"Di mana tempat penyimpanannya?" cecar El-Rummi.
"Yang penting di tempat yang aman dan kalian belum saatnya tahu. Sebaiknya kita cari formula penawarnya dulu," ucap Nabilla.
"Bagaimana mau cari tahu penawarnya jika barangnya saja kita belum lihat mommy?" protes Nada.
"Apakah kamu bisa mengetahui obat penawarnya jika kamu melihat benda itu?" tanya Ghaishan.
"Aku punya alat pendeteksi obat kimia dengan membaca setiap komposisi yang terkandung di cairan itu walaupun berlapis kaca tanpa harus mengambil cairannya," ucap Nada dengan alat ciptaan barunya.
Amran dan Nabilla takjub dengan kehebatan putri bungsunya yang tidak berhenti belajar untuk mengembangkan ilmu teknologi melalui metode rumit untuk mengatur setiap senyawa kimia yang tersusun sesuai dengan fungsinya.
"Bagaimana kamu bisa melakukannya sayang?" tanya Ghaishan.
"Tentu saja melalui beberapa uji penelitian. Aku sudah menciptakan aplikasi tersendiri untuk menguji kepekatan kimia ringan sampai berat melalui makanan dan minuman kemasan yang kita konsumsi sehari-hari.
Apakah itu baik untuk tubuh kita atau tidak. Dan wadah yang digunakan itu akan bertahan sesuai tidak dengan tanggal kadaluarsanya.
Jadi simpelnya, aku mulai dengan hal yang terkecil lebih dulu yang dimulai dari makanan dan minuman yang kita konsumsi untuk mengetahui aman atau tidaknya bagi tubuh kita sesuai dengan tingkat usia," jelas Nada.
"Jadi, kamu tidak percaya dengan badan POM yang sudah melakukan uji penelitian pada produk kemasan makanan yang akan disalurkan ke konsumen?" tanya Bunga.
"Bukan tidak percaya, namun hanya untuk memastikannya lagi kinerja mereka saat mengijinkan produk itu lulus uji. Kita memiliki anak-anak usia muda yang tidak begitu menyukai buah segar untuk di makan langsung. Sementara mereka lebih senang dengan minuman kemasan melalui proses yang akan dikemas melalui minuman kaleng atau dus.
Sebagai orangtua yang harus teliti atas apa yang akan dikonsumsi keluarganya aku harus mengujinya terlebih dahulu dengan alat pendeteksi kimia ringan dalam setiap makanan kemasan," papar Nada.
"Apakah mommy boleh melihat alat itu sayang?" tanya Nabilla.
"Baiklah. Kita akan coba dari minuman ringan yang mengandung soda," ucap Nada yang langsung menuju kulkas di mana minuman ringan di simpan.
Nada membuka aplikasi pendeteksi kimia dari ponselnya dan menempelkan ke kaleng itu tanpa membukanya.
Dalam satu menit muncul semua beberapa susunan kimia yang terkandung di dalam minuman itu yang digunakan oleh pabrik minuman itu dengan jumlah yang tidak sesuai dengan apa yang tertera di kaleng kemasan itu bahkan komposisinya tidak semua dituliskan di kaleng kemasannya.
"Wehhh....! Kamu sangat keren Nada..!" puji Cintami pada adik bungsunya itu.
Amran dan Nabilla saling menatap dan memutuskan untuk mencari tahu keberadaan senjata kimia pemusnah massal itu di tempat yang pernah dikatakan kakek Abdullah pada mereka beberapa tahun yang lalu agar mereka bisa mengetahui seberapa bahaya kimia itu yang digunakan di dalam pembuatan senjata kimia itu.
"Nanti habis lebaran saja kita fokus dengan senjata kimia itu. Untuk saat ini kita pentingkan ibadah sambil memohon pertolongan Allah agar kita bisa menangkap penjahat itu," ucap Nabilla.
"Ok mommy. Kami siap membantu," ucap yang lainnya kompak.
Tidak lama kemudian terdengar suara azan isya. Mereka bersiap-siap untuk menunaikan sholat isya sekaligus taraweh yang di lakukan di musholla kelurga secara berjamaah bersama pelayan yang ada di mansion mewah itu.