
Karena terlalu asyik mengobrol sepanjang jalan, Nada lupa mengarahkan Molly untuk membawa mereka ke kemahnya. Molly hanya tahu jalan pulang menuju ke villa tuannya. Alhasil, Nada baru ingat jalan yang mereka lalui bukan jalan menuju kemahnya.
"Dillon. Sepertinya aku tadi tidak melintasi daerah ini," ujar Nada.
"Astaga." Dillon menepuk jidatnya karena peliharaannya itu hanya tahu perintahnya saja.
"Molly....berhenti!" pinta Dillon yang langsung direspon oleh Molly yang berdiri bengong menatap wajah keduanya.
"Kenapa kamu membawa kami ke rumah kita? kita harus mengantarkan nona Nada ke kemahnya bukan ke rumah kita," omel Dillon pada Molly yang hanya bisa menatap nanar pada Nada seakan mau mengatakan maaf.
"Tidak apa Molly...! aku yang salah karena keasyikan ngobrol," ucap Nada lalu turun dari motornya dan memeluk lengan Molly.
Molly membelai rambut Nada dengan lembut seakan mengatakan terimakasih pada gadis itu karena tidak ikut memarahinya. Dillon kesal juga lihat Molly dipeluk oleh Nada.
"Cih....! kenapa dia peluk Molly padahal aku sudah membelanya," sungut Dillon.
"Baiklah. Karena kita sudah hampir tiba di villa kamu, apakah aku boleh main di villa kamu, Dillon?" tanya Nada.
Dillon bersorak dalam hatinya. Ia tersenyum walaupun tidak terlihat oleh Nada." Dengan senang hati Nada," ucap Dillon.
Mendengar Nada ingin ke rumah tuannya, Molly menggendong Nada membawa gadis itu ke villa yang hanya berjarak 200 meter lagi dari tempat mereka berdiri. Awalnya Nada tersentak namun merasa senang juga dengan kebaikan Molly. Ia juga merasa nyaman dalam pelukan Molly.
"Hei... Molly! kenapa kalian meninggalkan aku sendirian?" teriak Dillon kesal bercampur cemburu pada beruang jantan itu yang bisa menaklukkan hati wanita secantik Nada.
Tiba di depan villa yang sekitar dindingnya terbuat dari kaca tebal tembus pandang. Villa mewah di tengah padang salju itu membuat Nada berdecak kagum. Melihat villa mewah itu Nada bisa menebak status sosial Dillon bukan orang biasa.
Nada berdiri sambil menyandarkan tubuhnya pada Molly yang terasa hangat. Mereka sedang menunggu Dillon yang jalan tergopoh-gopoh menghampiri dua mahluk berbeda spesies itu.
Dillon mengatur nafasnya yang tersengal sambil membungkukkan tubuhnya dengan memegang kedua lututnya. Kalau tidak ingat Nada, ia hampir meledakkan amarahnya pada Molly.
"Molly! ambil minum untuk kami dan makanan ringan lainnya juga buah segar untuk kami!" titah Dillon.
Molly menuruti permintaan tuannya karena ia sudah terlatih melakukan tugas manusia agar bisa menjadi pelayan untuk tuannya sekaligus menjaga tuannya dari marah bahaya. Usia Molly dan Dillon sama hanya beda bulan saja. Molly lebih dulu lahir baru Dillon.
Molly tidak diijinkan kawin dengan beruang lain sebelum Dillon menikah. Jadi, Molly menyibukkan dirinya dan tidak pernah melirik beruang liar yang ada di kawasan hutan bersalju itu.
"Masuklah Nada. Kamu bisa menghangatkan tubuhmu di perapian. Dan kita bisa makan sesuatu di rumahku," ucap Dillon.
Molly menghidangkan susu coklat hangat untuk pasangan itu. Dan menghidangkan roti, kue dan buah untuk keduanya. Dillon menuangkan air putih untuk Nada.
"Apakah hanya kamu sendirian berada di villa ini?" tanya Nada.
"Iya. Aku sedang cuti. Kedua orangtuaku dan adikku sedang berlibur di Amerika," ucap Dillon.
"Apa pekerjaanmu?" tanya Nada sambil meminum jusnya.
"Manajer sebuah perusahaan," bohong Dillon.
"Ooh..! Nada mengangguk walaupun ia tahu Dillon bohong.
Dillon adalah agen rahasia yang sedang mencaritahu keberadaan penculikan mahasiswa yang dilakukan oleh Vadim. Namun sayang sekali langkahnya sudah lebih dulu ditindaklanjuti oleh agen CIA.
Demi sama-sama menyembunyikan identitas mereka, Nada juga ikut berbohong pada Dillon saat ditanya tentang dirinya dan kelurga. Nada berbohong jika ia baru lulus SMA dan baru ingin kuliah di universitas di Rusia.
Lagi pula ia tidak segan untuk berbohong karena data pribadi mereka tidak bisa ditelusuri oleh agen rahasia manapun karena semuanya sudah diblokir oleh Nabilla. Mungkin Dillon bisa diketahui pekerjaannya jika Nada bisa meminta bantuan ibunya, Nabilla menelusuri identitas pria tampan itu.
Molly menikmati makanannya sendiri di dapur sana setelah melayani pasangan itu.
"Jadi, kamu mau kuliah di Moscow?" tanya Dillon.
"Iya!"
"Berarti kita bisa bertemu tiap saat," timpal Dillon.
"Tapi, belum pasti juga karena Daddy aku ingin aku kuliah di Amerika," ucap Nada.
Dillon percaya saja ucapannya Nada. Ia lalu ijin sebentar pada Nada masuk ke kamarnya." Kalau kamu mau gunakan toilet, adanya sebelah sana. Kalau mau ganti mantel ada di ruang ganti di kamar utama itu," tunjuk Dillon.
Sementara Dillon memeriksa data tentang Nada dan mencocokkan pengakuan gadis itu dan ternyata benar adanya. Jika di telusuri lebih jauh status sosial Nada, di situ hanya terbaca tentang ayahnya Amran sebagai pengusaha hebat. Dillon terlihat tenang setelah mengetahui identitas Nada yang sudah direkayasa oleh ibunya, Nabilla. Jika Dillon tahu betapa jeniusnya Nada yang sebentar lagi akan direkrut oleh FBI, mungkin dia berpikir dua kali untuk bisa mendapatkan gadis itu. Karena sejatinya dari dulu Amerika dan Rusia jarang kompak. Bahkan sangat sulit untuk kompak.
Molly memutar musik untuk mengusir sepi. Musik yang berirama sedikit cepat itu membuat Nada spontan menari dengan gerakan dance ala Kipop Korea. Molly memperhatikan gerakan tubuh Nada penuh kagum. Dillon yang baru keluar dari kamarnya memperhatikan Nada yang sedang dance dari atas anak tangga. Nada yang tidak tahu kehadiran Dillon tetap saja cuek dance di depan Molly yang sangat terhibur.
Nada baru berhenti saat tubuhnya berputar dan melihat wajah Dillon sudah berada di belakangnya membuat Nada sangat malu.
"Mau berdansa denganku?" tawar Dillon sambil menadahkan tangannya mengajak Nada.
"Kita bukan muhrim. Tolong jangan salah paham. Oh iya apakah kamu punya ponsel? aku ingin menghubungi saudaraku yang saat ini pasti sedang panik mencariku," ucap Nada.
"Ada. Sebentar..!" Dillon mengambil ponselnya memberikan kepada Nada.
Ia mengirim pesan singkat pada Cinta mengabarkan keberadaannya saat ini.
"Jangan cemaskan aku. Aku sedang rehat sebentar. Motorku kehabisan bensin. Aku akan minta tolong kepada orang yang aku temui di jalan tadi untuk mengantarku pulang ke kemah. Tolong jangan balas karena ini ponsel orang," tulis Nada. Nada mengembalikan ponselnya Dillon.
"Apakah kamu mau mengantar aku ke kemahku?" tanya Nada.
"Tentu saja. Ayo kita berangkat. Molly...! ikutlah dengan kami!" pinta Dillon.
"Oh iya. Aku pinjam mantelmu. Nanti aku kembalikan lagi padamu setelah sampai kemah," ucap Nada.
"Tidak usah. Pakai saja. Itu untukmu. Ibuku seorang desainer mantel. Jadi, itu koleksi mantel terbaru darinya. Ayahku juga seorang pengusaha mobil," ucap Dillon.
"Kalau begitu terimakasih. Sampaikan salam hormatku pada kedua orangtuamu," santun Nada.
Keduanya sudah berangkat ke kemah Nada dengan motor milik Dillon. Molly berlari mengimbangi kecepatan motor tuannya hingga mereka tiba di kemahnya kelurga Nada.
Bau aroma masakan makan siang itu tercium dari kejauhan. Kedua kakak Nada yaitu Adam dan El sedang membantu Daffa dan Arsen menguliti Rusa.
Melihat Nada datang bersama orang lain membuat keempatnya langsung sigap menatap wajah Dillon yang berparas bule itu dengan mata berwarna hijau. Mereka tidak melihat adanya keganjilan dari Dillon hingga mereka berusaha tersenyum menyambut Nada dan Dillon. Molly terlihat malu-malu dan tetap berdiri menjaga motor tuannya.
"Kakak-kakakku yang tampan. Maaf aku tadi tersesat dan motorku kehabisan bensin. Untung aku ketemu pemuda ini yang menolongku," ucap Nada.
"Syukurlah. Kamu bertemu dengan orang baik," ucap Arsen.
"Oh iya kenalkan teman baruku. Ini Dillon dan ini Molly, hewan peliharaan Dillon. Ia sangat jinak. Dillon ini kakakku Adam dan saudara kembar aku El. Dan kedua pria tampan ini adalah kakak iparku yang sangat baik hati," ucap Nada memperkenalkan keluarganya pada Dilon dan Molly.
Cinta dan Bunga ikut keluar dari kemah. Dilon kaget juga melihat wajah cantik Cintami dan Bunga tidak kalah cantiknya dengan Nada.
"Ya Allah. Nada kami sangat kuatir dengan kamu apa lagi kamu lupa bawa ponsel kamu," ucap Bunga sambil memeluk tubuh adik bungsunya.
Bunga memperkenalkan teman barunya pada Bunga dan Cinta. Karena sudah tahu tidak akan dijabat tangannya, Dillon hanya menyebutkan namanya dan juga memperkenalkan Molly yang mau bersalaman dengan Bunga dan Cinta.
"Tidak usah GR Molly! mereka tidak akan naksir kamu karena kami berbeda spesies denganmu," ucap Dillon.
"Ayo. Masuklah...! kita makan siang bersama di sini," tawar Daffa pada Dillon.
Dilon menatap Nada dan gadis ini meyakinkannya untuk menerima undangan makan siang dari keluarganya.
Baru saja mereka ingin masuk ke dalam kemah, terdengar helikopter datang dan siap mendarat di atas permukaan salju tidak jauh dari tenda mereka. Tidak lama kemudian Nabilla dan Amran sudah turun dari helikopter.
Nabilla dan Amran berlari ke arah anak dan menantunya yang sedang berdiri menunggu mereka. Nada yang lebih dulu lari memeluk ayahnya lalu dikuti El memeluk Nabilla.
"Itu kedua orangtuaku Dillon! mereka ada urusan di kota tadi," ucap Adam menceritakan kepada Dillon.
"Kelurga kalian sangat keren. Hanya untuk mengisi liburan hingga bela-belain mendirikan tenda di sini. Sementara banyak binatang buas ada di kawasan ini," sarkas Dillon yang agak curiga pada kelurga Nada.
"Kami memang senang berpetualang di tempat-tempat yang menantang Dillon. Salah satunya tempat ini yang kami pilih," ucap Adam bersikap wajar.
Vote dan likenya Cinta, please!"
Villa Milik Dillon