Dikira Pembantu, Ternyata Istri Mafia

Dikira Pembantu, Ternyata Istri Mafia
241. Tidak Semudah Itu Kau Mati!


Kedua tangan Tamara yang diborgol hanya bisa memegang erat seat belt agar tidak terjatuh karena kepalanya sudah turun melewati sisi jok mobil.


Ditambah lagi Zainab menduduki kedua tangannya dengan kaki mengangk*Ng di atas dadanya membuat dirinya sulit untuk bergerak. Wajahnya sudah terlihat merah dengan cadarnya yang melayang keatas hingga dirinya tidak bisa lagi melihat wajah mata Zainab yang saat ini sudah dikuasai oleh setan.


Lehernya tercekik dalam genggaman kedua tangannya Zainab membuat Tamara berusaha untuk melawan sebisanya agar tidak mati ditangan wanita iblis ini.


Sementara itu dari atas helikopter, Nabilla membidikkan tembakannya ke arah pengawal yang mencoba menembak El yang sedang berpegangan pada tiang mobil penyeka hujan untuk menghindari tembakan penjahat hingga tubuhnya telentang ke samping.


Dorrr....


Satu butir peluru menembus kepala penjahat yang memuncaratkan darahnya dengan tubuh setengah melayang keluar. Sementara dua mobil di depan mobil Zaenab berusaha menghindari tembakan Amran dari atas helikopter.


Bersamaan dengan itu Tamara menghentakkan dengkulnya ke punggung Zainab hingga wanita berusia 30 tahun itu terpental keluar dari mobil yang langsung di sambut oleh Bunga yang mendarat dari atas helikopter dengan posisi tubuh yang melayang karena tali pengaman yang mengikat kuat pinggangnya yang membuat dirinya sudah seperti Spiderman yang sedang menyelamatkan korban.


Jika Bunga tidak menyelamatkan Zainab, maka tubuh wanita itu akan cacat. Sementara itu Tamara langsung duduk sambil mengendalikan nafasnya yang tersengal di sertai batuk. Lehernya terasa begitu sakit hingga dirinya kesulitan untuk bergerak.


Mobil yang ditumpanginya makin kencang melaju. El berusaha untuk menarik tubuh penjahat yang sudah mati keluar dari mobil itu. Sang sopir gelagapan sendiri sambil mengarahkan pistolnya ke arah Tamara dan El yang berusaha masuk ke mobil itu dengan satu tangannya dan tangan yang lainnya memegang kemudi.


Tamara tidak sanggup lagi bergerak karena tulang lehernya yang cedera. Di atas sana, Amran melakukan perannya sebagai ayahnya El, di mana ia melompat di atas atap mobil yang ditumpangi Tamara untuk menghajar sang sopir yang berusaha menembak El. Amran tiarap di atas atap mobil itu sambil mengimbangi tubuhnya agar tidak mudah jatuh saat sopir tiba-tiba menginjak rem.


Kebetulan pintu jendela di bagian sopir yang terbuka memudahkan Amran untuk meninju wajah sang sopir dari samping. Sang sopir yang sempat kaget karena fokus ingin menembak El yang berusaha masuk ke dalam mobil lewat jendela pintu mobil yang terbuka.


Karena pemukulan itu, sopir tidak bisa mengendalikan mobilnya membuat mobil itu berjalan oleng ke sana kemari membuat El yang masih berada di cup mobil hampir saja terjatuh. Begitu juga Tamara di dalam sana ikut terombang ambing mengikuti liukan mobil yang bergerak tak terarah.


Melihat ayahnya yang sedang menghajar sang sopir, El perlahan-lahan masuk ke mobil itu untuk mengendalikan kemudi mobil.


Sementara di atas sana, Bunga sedang mengamankan Zainab dengan memborgol tangan istri pertamanya pangeran Ammar ini. Ia juga melakban mulut wanita itu agar tidak banyak bicara membuat Zainab bergumam tidak jelas.


Kedua kakinya juga diikat oleh Bunga yang begitu geram dengan Zainab. Daffa yang membawa helikopter sendiri begitu pula dengan Ghaishan membawa helikopter sendiri. Ghaishan bersama dengan El dan Nabilla.


Sementara helikopter yang satunya dibawa oleh Daffa bersama dengan Bunga dan Amran.


"Tidak semudah itu kau mati wanita iblis. Kau harus mempertanggung jawabkan perbuatanmu di depan mertuamu raja Malik. Biar dia tahu perbuatan menantu kesayangannya ini," umpat Bunga lalu menampar wajah Zainab yang terus bergumam memaki dirinya walaupun tidak jelas, tapi Bunga tahu itu adalah makian Zainab padanya yang tertahan dalam rongga mulutnya.


"Kalau kau masih memaki aku, akan aku buang kau di atas gurun pasir yang panas itu. Itukan yang kamu ingin lakukan pada princess Tamara? dasar perempuan menjijikkan.


Harusnya yang kau hukum itu suamimu, bukan Tamara. Kalau bisa, kau potong saja burung perkutut nya itu supaya tidak mencari sarang lain dengan dalih pingin memiliki anak laki-laki," ujar Bunga dengan buas.


Zainab menggelengkan kepalanya sambil berontak." Bisa diam tidak? Atau kamu mau aku iris wajahmu?" ancam Bunga sadis.


Helikopter itu masih mengikuti mobil di bawah sana. Nabilla masih sibuk menyingkirkan dua mobil lawan yang mengawal mobil milik Zainab lagi. Hanya mobil milik Zainab anti peluru sementara mobil pengawalnya tidak.


Amran berhasil menarik tubuh penjahat keluar dari mobil itu hingga terlempar ke samping mobil mendarat di atas aspal. Amran masuk ke mobil itu untuk memegang stir mobil agar kembali stabil. El segera pindah ke belakang dan langsung memeluk Tamara yang terlihat tidak berdaya.


"Ahhhhkkkkkk...sakif!" jerit Tamara.


"Maaf sayang. Apa yang sakit, hhm?" tanya El tidak kuat mendengar Tamara menjerit kesakitan.


"Pelan-pelan El..! Leherku sangat sakit."


Amran menepikan mobil itu agar El bisa memeriksa keadaan Tamara. El membuka borgol di tangan Tamara dengan alat seadanya membuat Tamara merasa lega.


Di luar sana, Nabilla berhasil menembak kedua mobil penjahat yang sedang melaju kencang menghindari tembakan Nabilla. Kedua mobil itu terpental hingga terguling beberapa kali dan akhirnya meledak seketika dan mengeluarkan api serta asap bersamaan lalu mengepul di udara. Kedua helikopter mendarat di atas jalanan aspal itu di mana mobil Zainab diparkir oleh Amran.


Nabilla turun dengan membawa tas yang berisi peralatan medis untuk menolong Tamara. El langsung membuka pintu agar ibunya masuk untuk menolong Tamara.


"Keluar dulu kamu El..! Mommy mau menolong gadis ini," pinta Nabilla pada putranya agar ia bisa membuka jilbabnya Tamara untuk memeriksa keadaan Tamara.


"Iya mommy! El keluar dari mobil bersama dengan ayahnya menunggu di luar. Sementara tidak jauh dari mereka berdiri, terdengar suara ambulans dan mobil polisi menuju ke tempat lokasi kejadian saat ini.


"Apa yang kamu rasa saat ini, sayang?" tanya Nabilla lembut pada Tamara yang sulit bergerak.


"Leherku sangat sakit Tante," jawab Tamara terlihat lemah.


Nabilla mengusap leher Tamara yang ternyata hanya terkilir dan tidak patah. Ia mengoleskan minyak zaitun pada leher Tamara dan mengurutnya di bagian terkilir lalu mengangkat dagu dan menahan kepala Tamara.


Nabilla memutarnya sedikit hingga menimbulkan bunyi krek membuat Tamara teriak kesakitan.


Aaaaakkkk..


Setelah itu, ia merasakan lehernya kembali lentur dan tidak sakit lagi. Ia menggerak-gerakkan lehernya ke kanan dan ke kiri dan benar-benar tidak sakit lagi.


"Alhamdulillah ya Allah. Leher Tamara sudah tidak sakit lagi Tante," ucap Tamara yang langsung memeluk Nabilla penuh rasa haru dan terimakasih.


Nabilla juga merasakan pelukan tulus princess Tamara padanya. Ia juga membalas dengan memeluk gadis itu. Ia mengusap-usap punggung Tamara. Tamara menguraikan pelukannya. Nabilla mengecup kening Tamara penuh rasa sayang.


Dada Tamara terasa sangat sesak mendapatkan perlakuan Nabilla yang begitu keibuan padanya. Bulir bening itu jatuh begitu saja dari pipinya.


"Ya Allah. Belum ketemu ibu kandungku saja sudah terasa dipeluk sama ibu sendiri. Kenapa pelukan dan ciuman ini begitu ajaib dan menenangkan? Rasanya sangat sejuk dan nyaman.


"Mau kembali lagi ke Bahrain?" tanya Nabilla sambil tersenyum pada Tamara seraya mengenakan lagi jilbab dan cadar gadis itu.


"Aku ingin pulang ke Indonesia, Tante. Aku pingin menjadi menantu tante," jujur Tamara antusias.


"Sayang. Kami harus melamarmu dulu kepada ayahmu raja Farouk. Karena kamu bukan gadis sembarangan. Semua harus ikut aturan hukum yang berlaku di kedua negara kita," ucap Nabilla memberi pengertian kepada Tamara yang mengangguknya patuh.


Sementara di luar sana polisi setempat bersama dengan polisi dari kota Riyadh sudah mengamankan para penjahat yang masih hidup walaupun terluka parah. Dan mengevakuasi beberapa jenazah penjahat ke dalam kantong kantong jenazah yang langsung dibawa oleh mobil ambulans.


Amran tidak mau menyerahkan Zainab ke tangan polisi karena mereka akan menuju ke istana raja Malik untuk menyerahkan menantu biadabnya kerajaan itu.


Nabilla membawa Tamara bersamanya ditemani oleh Bunga dan Daffa. Sementara El tidak diperkenankan mendekati Tamara sebelum ada acara pernikahan resmi untuk mencegah fitnah karena Tamara adalah seorang putri kerajaan yang terpandang di kancah internasional.


Zainab di jaga ketat oleh Amran dan El-Rummi bersama dengan Ghaishan yang mengemudi helikopter itu.


Kedua helikopter itu kembali mengudara menyusuri setiap gurun batu menuju kota Riyadh. Kabar kejahatan Zainab sudah terdengar seantero negeri Arab. Raja Farouk begitu murka mengetahui penculik putrinya adalah istri pertama dari pangeran Ammar.


"Kurangajar...! Beruntunglah putriku belum menikah dengan pangeran Ammar. Kalau tidak, putriku akan mati sia-sia didalam kerajaan itu entah dengan cara apa," ucap raja Farouk menahan geram dan sangat menyesali perbuatannya karena telah menjodohkan putrinya dengan pangeran Ammar.