Dikira Pembantu, Ternyata Istri Mafia

Dikira Pembantu, Ternyata Istri Mafia
232. Ketahuan


Sekitar pukul 4 sore, sesuai janjinya, El menjemput princess Tamara yang terlihat sudah rapi dengan pakaian kebesarannya yang tidak lain adalah hitam. Walaupun abaya hitam itu menjadi pakaian khas wanita Bahrain, tetap saja bahan abaya itu terlihat sangat mewah.


El sudah meminta ijin pada raja Farouk sebelumnya karena El sudah menceritakan tentang keluhan Tamara yang ingin merasakan kebebasan di luar sana tanpa pengawal yang akan membuat Tamara memiliki kehidupannya sendiri sebagai wanita lajang pada umumnya.


Raja Farouk setuju karena putrinya sebentar lagi akan menikah jadi tidak dipermasalahkan karena sudah mempercayakan El yang akan mengawasinya langsung putrinya.


Dan El memanfaatkan kepercayaan raja Farouk agar bisa lebih dekat dengan Tamara. Dengan begitu ia ingin mengetahui siapa pria yang saat ini dekat dengan Tamara.


"Apakah sudah siap menjadi rakyat biasa, princess?" tanya El pada Tamara saat gadis itu masuk ke dalam mobilnya.


"Sangat siap tuan El. Bagaimana caramu bisa melunakkan hati ayahku bak besi?" puji Tamara.


"Tinggal minta sama Allah. Apa susahnya," jawab El santai membuat Tamara tersenyum geli.


"Ajari aku doanya dengan begitu aku bisa bebas berkeliaran seperti gadis biasa," ucap Tamara serius.


"Mintalah dengan tulus pada Allah dan bersabar jika tidak diijinkan oleh ayahmu. Kalau diijinkan berarti Allah ridho padamu saat kamu keluar dari istana.


"Akan aku coba. Oh iya, apa yang akan kita lakukan nanti di Mall?" tanya Tamara tanpa ingin menatap wajah El.


"Lihat saja nanti! Yang penting aku sudah membawamu keluar dari istana untuk bersenang-senang. Tapi, aku juga ingin membantu kamu bertemu dengan kekasihmu yang memiliki istana dihatinya itu. Apa kamu ingin aku menghubunginya?" pancing El membuat Tamara tersentak.


"Kekasih...? kekasih yang mana?" tanya Tamara yang sudah lupa dengan curhatannya kemarin pada El.


"Bukankah kamu sedang jatuh cinta pada pria biasa yang tidak punya istana?" tanya El sedikit menekankan kalimatnya.


Tamara menepuk jidatnya sendiri seraya beristighfar. Rasanya saat ini dia ingin ngakak namun dia tidak enak pada El yang terlihat penasaran pada pria yang tidak lain adalah El sendiri.


"Sudahlah. Lupakan saja! Dia hanya kekasih khayalan aku saja. Tidak usah dianggap serius. Kemarin aku hanya menceritakan kekasih impian yang tidak punya ikatan. Pikirannya masih bersih dan jernih untuk urusan asmara seperti seorang gadis perawan," ucap Tamara.


Mendengar pengakuan Tamara, tanpa sengaja El menginjak rem mobilnya hingga menciptakan suara berderit dengan aspal.


"Ada apa El? Kenapa kamu mendadak menginjak rem mobil?" kesal Tamara.


"Tidak apa-apa. Hanya senang saja kamu tidak memiliki kekasih benaran," ucap El.


"Kenapa kamu terlihat senang saat aku tidak memiliki kekasih?" tanya Tamara.


"Berarti aku tidak perlu takut ada yang cemburu dan mengirim pembunuh bayaran untuk menghabisi aku saat jalan berdua denganmu," ucap El asal.


"Apakah kamu menyukai aku, El?" batin Tamara penuh harap pada El untuk menyatakan perasaan cintanya.


"Begitukah?" kecewa Tamara yang tidak puas dengan jawaban El.


"Menurutmu bagaimana?" tanya El.


"Tidak apa-apa," jengah Tamara.


"Seperti apa pria impianmu itu, Tamara?" tanya El lagi.


"Rahasia. Cukup aku yang tahu bagaimana aku sangat mencintai pria impianku itu," jawab Tamara sengaja membuat El kesal padanya.


"Apa yang harus aku lakukan agar gadis ini menyatakan perasaan cintanya kepadaku. Andai saja dia mau jujur atau memang dia hanya menganggap aku ini hanya temannya?" batin El yang merasa cintanya bertepuk sebelah tangan.


Tiba di Mall, keduanya mengunjungi beberapa tempat yang memajang perlengkapan kebutuhan wanita. El ingin membelikan sesuatu untuk Tamara. Tapi takutnya Tamara menolaknya. Tapi dia juga ingin mencobanya.


.


"Princess."


"Hmm!"


"Apakah kamu mau menerima hadiah dariku?" tanya El rummi.


"Baiklah. Apakah kamu mau jam tangan dariku?" tanya El saat melirik toko jam mahal yang tidak jauh dari mereka berdiri.


"Apakah kamu...?" pertanyaan Tamara menggantung di udara. Ia tidak enak meneruskan kata-katanya karena dinilai kurang sopan.


"Pilih saja yang kamu suka. Aku sanggup membelikannya untukmu bahkan mall ini," ucap El yang ingin menunjukkan ekstensinya di depan Tamara bahwa dia patut diperhitungkan oleh gadis ini.


Sementara bagi Tamara kalau itu hanya bentuk candaan.


"Ok. Siapa takut." Keduanya masuk ke konter jam tangan dengan branded terkenal.


Tamara menanyakan jam tangan desain terbaru yang dimiliki oleh konter itu. Dan mereka mengeluarkan tiga jam tangan dengan desain yang berbeda.


Tamara mencari yang termahal dari ketiga jam itu untuk mengetahui tingkat sosialnya El." Jika dia bisa membelikan jam tangan mahal ini untukku berarti, dia adalah anak sultan," batin Tamara.


"Aku mau yang ini, El," pinta Tamara.


"Hanya itu saja?" tanya El.


"Cukup ini saja. Dan sisanya aku ingin kita makan di restoran," pinta Tamara.


El mengeluarkan black card miliknya dan Tamara tahu fungsi kartu itu.


"Benar. Dia adalah putra sultan," batin Tamara kegirangan dan dia ingin merekomendasikan El kepada ayahnya untuk dijadikan suami.


Jam tangan itu sudah di kemas dan di serahkan kepada Tamara. Keduanya mengunjungi restoran dan memilih makanan yang cocok untuk Tamara. Saat makanan itu dihidangkan, El mencegah Tamara untuk menyentuhnya terlebih dahulu sebelum dirinya.


"Tunggu princess...! Biar aku yang menyicipinya terlebih dahulu. Siapa tahu ada racunnya," ucap El yang begitu waspada menjaga keselamatan Tamara karena baru kali ini Tamara makan di restoran Mall.


El menyicipinya dengan sendok miliknya. Setelah dirasanya aman, ia baru membiarkan Tamara menikmati makanannya. Keduanya mulai ngobrol. Tamara menanyakan tentang kelurganya El. Putra bungsunya Amran ini menjelaskan data kelurganya pada Tamara tapi bukan keluarga agen rahasia yang ia paparkan pada Tamara.


"Apakah aku boleh melihat foto keluargamu?" tanya Tamara secara diam-diam ingin mengetahui bagaimana kehidupan El.


Dengan senang hati El memperkenalkan kedua orangtuanya dan juga keempat saudaranya serta kakak iparnya. Tidak ketinggalan 8 keponakannya membuat Tamara begitu takjub.


"Aku harus bicara pada ayahku kalau El adalah kelurga konglomerat. Dengan begitu ayah pasti setuju menikahkan aku dengan El daripada pangeran yang sudah beristri dua. Sumpah demi apapun aku tidak akan menikah dengan penjahat kelamin itu," batin Tamara dengan tekad kuat.


"Berarti tinggal kamu yang belum menikah El?" tanya Tamara semangat.


"Lagi mencari gadis yang pas di hati," ucap El sekedarnya.


"Gadis seperti apa yang kamu inginkan El?" tanya Tamara.


"Yang memiliki sifat seperti mommy aku," ucap El.


"Berarti aku gadis yang kamu inginkan El. Aku hampir mendekati sifat yang mirip dengan ibumu. El, katakan kepadaku kalau kamu menyukai aku!" Batin Tamara penuh harap.


Keduanya sudah menyelesaikan makanan mereka dan memutuskan untuk pulang. El merasa ada yang sedang memantau mereka dengan mengarahkan senjata mereka ke arah Tamara. El mulai curiga. Hingga reflek membelit pinggang Tamara posesif.


Merasakan sentuhan El yang begitu erat membuat Tamara gugup dan juga berusaha menolak.


"Percayalah padaku princess! Ada yang ingin membunuhmu. Tetap seperti ini seolah kamu adalah istriku,"ucap El dengan langkah cepat menggiring Tamara segera menuju mobil mereka yang sudah menunggu di depan Mall.


"Bagaimana mereka bisa mengetahui princess jalan bersamaku? Bukankah yang tahu aku pengawal rahasia Tamara hanya raja Farouk dan Bodyguard Tamara?" batin El ingin mengupas misteri ini.


Keduanya buru-buru naik ke dalam mobil. Tamara makin bingung dengan sikap El seperti pengawal pribadi baginya. Apa lagi El menekan salah satu tombol yang ada di atas dasbor yang mengeluarkan laci dibawahnya yang ternyata terdapat beberapa jenis senjata.


"El. Kau...! Apakah kamu ingin menculik aku? Apakah kamu penjahat sebenarnya?" tanya Tamara yang merasa salah paham pada El.


"Tidak seperti itu princess. Aku justru sedang melindungimu dari incaran para penjahat yang ingin membunuhmu," ujar El sambil melihat ke spion mobil di mana 3 mobil sedang mengejar mereka.


"Tidak. Kamu pasti penjahatnya. Tolong jangan menculikku...!" pekik Tamara ketakutan.