
Pergerakan kelima orang pelayan catering yang disinyalir sebagai penjahat oleh si kembar Ghazali dan Ghaida membuat Nada juga ikut curiga pada ke limanya.
Kelima pelayan itu lebih fokus pada makanan kelas tamu VIP yang sengaja di buat terpisah dengan tamu lainnya. Sepertinya kelima pelayan itu sudah terlihat sangat profesional dalam melancarkan aksi mereka.
"Aku mau mengikuti ketiga pelayan itu dan kamu awasi ketiganya..!" pinta Ghazali pada Ghaida yang menatap ketiganya tidak berkedip.
"Jangan sampai membuat keributan! lakukan secara diam-diam agar acara ini tidak di rusak oleh ulah penjahat itu," lanjut Ghazali yang tetap bertingkah seperti anak kecil yang tidak tahu apa-apa.
Ghazali mengintai ketiganya sambil membawa ponsel untuk merekam aksi ketiga pelayan catering. Ghazali mengikuti ketiganya saat mereka hendak masuk ke mobil kontainer untuk mengambil beberapa boks besar makanan untuk keluarga besar Amran.
"Orang itu mengeluarkan bungkusan apa?" tanya Ghazali pada dirinya sendiri sambil merekam salah satu pelayan yang mengeluarkan bubuk narkoba untuk di masukkan ke dalam makanan khusus untuk keluarga besar Amran.
Saat hendak menuangkan bubuk narkoba itu ke salah satu menu makanan yaitu gulai kambing, Ghazali membuat tangan pelayan itu menjadi kaku dan sulit untuk membuka plastik bubuk narkoba itu.
"Hei...! Lakukan dengan cepat! Kenapa kamu malah bengong?" bentak rekannya yang hendak mengambil bubuk narkoba itu dari temannya.
Keduanya akhirnya dibuat tarik menarik oleh Ghazali untuk memperebutkan bubuk narkoba itu hingga akhirnya Nada memergoki keduanya.
"Hei...! Apa yang kalian lakukan di sini?" bentak Nada sambil melihat bubuk narkoba yang ada ditangan keduanya.
Mata penjahat itu melebar namun mereka sulit menyembunyikan bubuk narkoba itu.
"Apa itu? Apa yang kalian pegang? Apakah kalian ingin meracuni kelurgaku atau mau memfitnah keluargaku?" cecar Nada sambil mengambil gambar ketiganya dengan ponselnya dengan posisi masih saling berebutan bungkusan narkoba.
"Maaf nona...! Itu ..itu...!" gugup ketiganya tidak bisa bicara apapun pada Nada, ditambah kaki mereka juga tidak bisa bergerak untuk melangkah apa lagi untuk berlari karena aksi mereka sudah ketahuan oleh pemilik rumah.
"Ada apa Nada?" tanya Adam yang ikut bergabung dengan Arsen menghampiri Nada yang sedang mengintrogasi ketiga penjahat.
"Amankan mereka kak Adam! Sepertinya mereka di suruh seseorang untuk menjebak kelurga kita atau meracuni keluarga kita," tutur Nada.
"Kurangajar..! Kalian harus di hukum atas perlakuan kalian pada kelurgaku...!" ujar Arsen turut membantu Adam mengamankan ketiga penjahat yang menyamar sebagai pelayan catering dari hotel milik Reno.
Sementara kedua rekannya penjahat yang masih berada di dalam rumah Amran menunggu dengan gelisah kedatangan ketiga rekannya untuk membawa menu makanan belum juga kembali.
"Kenapa mereka lama sekali? Ini sudah setengah jam dan sebentar lagi acara aqiqahan sudah selesai."
"Tunggu sebentar...! Biar aku yang melihat ketiganya."
"Baiklah. Jangan sampai misi kita gagal karena bisa menjadi perkara besar nantinya oleh si bos."
"Baiklah."
Saat salah satu temannya penjahat hendak menghampiri ketiga temannya di mobil box catering hotel itu, tubuhnya langsung menegang melihat ketiga temannya sudah tertangkap oleh pemilik rumah.
"Mampus...!" menepuk jidatnya sambil bersembunyi bahkan ingin menyelamatkan diri.
"Om cari siapa?" tanya Ghazali yang sudah sudah berada di balik punggung penjahat dengan tingkah sok polosnya.
"Wah......! Aku bisa jadikan anak ini sandera kalau mereka berusaha menangkap aku," ucap sang penjahat sambil melihat ke kanan kiri untuk memastikan tidak ada yang melihatnya menculik Ghazali.
"Sayang. Kamu mau ikut om?" tanya sang penjahat seraya menggendong Ghazali.
"Kita akan main ke wahana kora-kora di Ancol. Kamu pernah ke sana?" tanya penjahat berhasil membodohi Ghazali dengan tampang sok baik pada Ghazali.
"Bukannya kalau naik kora-kora itu harus memenuhi syarat dengan ketentuan usia dan tinggi badan om?" cecar Ghazali membuat sang penjahat cukup kaget.
"Bagaimana anak sekecil ini bisa tahu aturan main di wahana?" batinnya seraya masuk ke dalam mobilnya bersama dengan Ghazali.
"Kita bisa mencari wahana permainan lain yang sesuai dengan usia kamu. Sekarang tenanglah! Jangan banyak bicara..!" titah sang penjahat meninggalkan kediaman Amran melalui pintu belakang hingga tidak ketahuan penjaga keamanan.
Arsen dan Adam sudah membawa ketiga penjahat di markas Amran untuk diinterogasi. Ghaida menemui ibunya lalu membisikkan sesuatu pada Nada.
"Mommy sini!" menarik tangan Nada mendekati dirinya.
"Ada apa sayang?" Nada mendekatkan kupingnya dekat mulut si cantik.
"Abang Ghazali di culik penjahat dengan mobil. Mereka baru saja pergi dari sini," bisik Ghaida membuat Nada tersentak.
"Apaaa....?!" pekik Nada dengan nafas tersengal terlihat sangat panik.
"Iya mommy! Mobilnya belok ke arah kiri," sahut Ghaida sambil menunjukkan ke arah pintu belakang mansion.
Baru saja Nada ingin bicara dengan suaminya, tiba-tiba Cintami berjalan cepat dengan wajah panik.
"Nada. Apakah kamu melihat Audrey?" tanya Cintami cemas.
"Audrey? Bukankah tadi dia di kamarnya Syakira menemani bayi kembarnya kak Adam?" balas Nada.
"Tidak ada. Aku sudah mencari ke manapun," jawab Cintami ketakutan.
"Kak. Tolong jangan panik seperti itu. Penjahat sedang memanfaatkan momen ini dengan menculik anak-anak kita," ucap Nada.
"Maksud kamu, anak kamu Ghazali di culik juga sama penjahat?" tanya Cintami di angguki Nada.
"Astaghfirullah halaziiim...!" Cintami mengusap wajahnya terlihat sangat gugup.
"Ayo kak...! Sebaiknya kita mencari keberadaan Ghazali dan Audrey melalui CCTV jalanan...! Lakukan secara diam-diam," pinta Nada menuju garasi mobil untuk berganti baju dan mengambil motornya.
"Ghaida. Mommy dan aunty Cintami pergi sebentar. Jangan beritahukan tentang penculikan Ghazali dan kak Audrey pada Oma dan opa! Kamu mengerti?" tegas Nada.
"Jangan terlalu kuatirkan kak Ghazali, mommy. Mungkin saja saat ini dia sedang menghajar para penjahat," santai Ghaida berlalu dari hadapan Nada yang hanya bisa menggelengkan kepalanya.
Cintami mengunakan mobil sedan sport hitam dan Nada dengan motornya dilengkapi helm yang bisa melacak nomor polisi mobil penjahat. Keduanya siap beraksi untuk menjemput anak-anak mereka dari tangannya penjahat.
Jika Nada masih bisa tenang karena putranya memiliki kekuatan, namun tidak dengan Cintami yang sangat kuatir pada putrinya yang hanya memiliki otak jenius saja. Apa lagi usia mereka sudah memasuki sepuluh tahun. Itu sangat rentan pada kejahatan.
"Ya Allah. Lindungi anak-anakku! Bagaimana kami bisa teledor seperti ini? Para penjaga keamanan hanya di tugaskan untuk mengawasi pintu keluar masuk gerbang utama tapi tidak lagi diperketat penjagaannya karena sudah terlalu sibuk mengurus tamu. Dasar sial..!" maki Cintami yang benar-benar sudah terkecoh dengan tampang penjahat yang menyamar menjadi apa saja untuk mengelabui pemilik rumah agar bisa melakukan kejahatan mereka di momen penting hari ini.
Beberapa jam kemudian, para tamu undangan sudah meninggalkan kediaman Amran. Kini saatnya keluarga besar itu makan siang bersama di ruang keluarga secara lesehan.
Gelak tawa terdengar riang di dalam sana tanpa tahu ada dua orang cucu mereka sedang diculik saat ini oleh penjahat.