Dikira Pembantu, Ternyata Istri Mafia

Dikira Pembantu, Ternyata Istri Mafia
293. Ada Hantu


"Siapa yang terlibat Ghazali, Ghaida?" cecar saudara sepupu mereka bersamaan.


"Orang-orang terkuat yang berhubungan dengan pembangunan proyek ilegal ini. Para pejabat pemerintah terkait, terutama wakil presiden yang merupakan sahabat Opa Luciano," sahut Ghaida tergagap.


"Jadi kamu mau bilang kalau opa Luciano ikut terlibat dalam proyek ilegal ini, Ghaida?" tanya Hanan.


"Entahlah. Yang jelas Opa Luciano secara tidak langsung mengijinkan pulau ini untuk dijadikan tempat proyek pembangunan pemancar jaringan satelit ini," ucap Ghaida.


"Pasti mereka hanya meminta ijin untuk melakukan sesuatu yang berhubungan dengan kegiatan milik negara. Maka dari itu opa Luciano mengijinkannya. Selebihnya, aktivitas mereka sebenarnya diluar sepengetahuan opa Luciano. Mungkin seperti itu Hanan," ucap Raffi dengan asumsinya.


"Mungkin saja seperti itu. Tapi, kegiatan mereka sudah menganggu keamanan internasional. Ini dilakukan oleh oknum tertentu. Jika aktivitas mereka kita diamkan, stabilitas negara ini akan terganggu dan diangggap maling oleh negara lain.


Ini sama saja mengajak perang. Ulah dari segelintir manusia rakus akan berdampak buruk pada keamanan negara yang sedari awal sudah tenang, aman dan damai," ucap Raffa.


"Apakah kamu sudah mendapatkan semua bukti dari aktivitas legal mereka, Ghazali? Jika itu benar, kita akan bawa bukti ini ke mahkamah internasional?" tanya Raffa.


"Tapi, opa Luciano akan kena getahnya karena proyek besar ini dibangun di atas tanah miliknya. Apa lagi ini adalah tempat terpencil," ucap Ghaida masih takut akan keterlibatan opanya dengan kegiatan ilegal ini.


"Apakah kita perlu bicara dengan opa Luciano dan tidak perlu bertindak sendiri?" tanya Ghazali.


"Sebaiknya begitu. Lebih baik kita rekam semua kegiatan mereka dan kita ambil beberapa bukti kejahatan mereka. Dengan begitu mereka tidak bisa berkelit," ucap Ghaida.


"Baiklah. Lakukan dengan cepat. Ambil semua bukti dan kirim langsung kegiatan mereka ini ke saluran Chanel YouTube. Jika mereka ingin menghancurkan bukti, kita bisa menjadikan bukti yang ada sebagai kekuatan hukum sebelum mereka menghancurkan bukti yang ada," ucap Ghazali.


"Jangan lakukan seperti itu. Lebih baik kita ajak opa Luciano untuk menyaksikan sendiri aktivitas ilegal mereka dulu. Selebihnya baru kita siarkan kejahatan mereka di Chanel YouTube kita," ucap Audrey bijak.


"Semuanya tampak berpikir keras atas keputusan yang mereka ambil agar negara ini tidak diadili oleh mahkamah internasional atas kejahatan oknum pejabat yang serakah," ucap Dinar.


Mereka segera mendatangi beberapa orang staff yang sedang bekerja lembur untuk mencari beberapa bank yang akan diretas oleh anak buahnya penjahat itu untuk memindahkan uang dari berbagai bank dunia tentunya milik bankir yang uangnya triliun dollar.


Masing-masing cucu opa Amran merekam aktivitas mereka itu sebagai bukti kejahatan di dalam ruangan itu. Namun sayang, Dinar membuat kecerobohan dengan mengambil beberapa berkas laporan saham di meja milik tuan Alejandro.


Gerakan tangan Dinar yang memegang berkas itu terlihat melayang di udara tanpa terlihat ada manusia yang memegangnya membuat beberapa orang staff di markas itu sangat syok.


"Dion. Lihatlah itu ..! Kenapa berkas di ruang kerjanya tuan Alejandro melayang sendiri?" tanya Lucas dengan bulu kuduk meremang. Rekannya Dion mengikuti gerakan tangan Lucas. Keduanya kompak menjerit-jerit ketakutan.


"Ada ha...ha...hantu ..!" ucap keduanya memancing yang lain ikut penasaran dengan kata-kata kedua rekan mereka.


"Ada apa...?" tanya yang lain.


"Ada hantu." Semua mata staff tertuju pada benda yang bergerak sendiri membuat darah mereka berdesir dengan tungkai kaki terasa sangat lemas dan berat.


Sontak saja semuanya kabur menuju pintu keluar membuat tuan Alejandro yang sedang menikmati puncak kenikmatan bersama dua orang pelacurnya di dalam kamar l nya tersentak.


"Suara gaduh apa ini?" tanyanya sambil meraih remote tv untuk melihat rekaman CCTV di ruang kerja staffnya.


Bersamaan dengan itu, Audrey segera merebut dan mengembalikan berkas laporan yang diambil Dinar ke tempat semula.


"Lihatlah kecerobohanmu...! Kau sudah membuat kita ketahuan berada di sini," ucap Audrey menarik tangan saudara kembarnya itu untuk keluar dari ruang kerja tuan Alejandro.


"Ada apa Audrey?" tanya Dinar tidak mengerti.


"Kau pegang berkas ini sementara tubuh kita sedang disembunyikan oleh Ghaida. Mereka kira sedang melihat hantu," jawab Audrey.


"Upssd! Sorry," sesak Dinar tidak enak dengan saudaranya.


"Tinggalkan tempat ini atau kita akan terperangkap di sini!" titah Raffi.


"Cepatlah...! Sebelum gerbang utama di tutup karena aku tidak bisa membuat tubuh kita melewati tembok karena kita bukan makhluk halus," ucap Ghaida.


Mereka berlari keluar mengikuti staff yang kabur karena ketakutan. Tuan Alejandro keluar dari kamarnya dan menuju ruang kerjanya staff.


"Apa yang terjadi?!" tanya tuan Alejandro dengan suara menggelegar membuat langkah-langkah kaki stafnya itu terhenti.


"Bos. Ada hantu," ucap salah satu staffnya dengan wajah pucat.


"Kamu kira hantu bisa membunuhmu, hah?! Plakk...plak...bukk... Brakkkk..!"


Tamparan dan tendangan yang dilancarkan oleh tuan Alejandro pada salah satu staffnya itu membuat pria malang itu ambruk diatas lantai dingin itu dengan sudut bibir berdarah.


"Tutup pintu gerbang...! Pasti ada yang sedang menyusup ke sini dengan kekuatan ghaib," tebak tuan Alejandro yang sudah biasa melihat hal aneh itu karena ada beberapa masyarakat setempat masih memiliki kepercayaan yang berbau mistis.


Para penjaga yang tadinya tenang dengan menutup rapat gerbang utama dikejutkan dengan pintu gerbang utama itu kembali menguak lebar membuat mereka ikut bergidik.


"Tidak mungkin...! Pintu gerbang itu sudah tertutup rapat dengan dua gembok besar atas dan bawah. Bagaimana mungkin bisa terbuka lagi," ucap salah satu penjaga keamanan itu.


"Benar. Apakah ada makhluk halus sedang mendatangi tempat ini? Mengingat kita berada di tengah pulau tak berpenghuni," tanya rekannya.


"Hei..! Apa yang kalian lihat...! Tembakkk mereka...!" teriak tuan Alejandro kepada para pengawalnya yang masih menatap bengong ke arah gerbang utama di hadapan bibir pantai.


"I... iya bos..!" jawab mereka gugup seraya melepaskan tembakan membabi-buta pada ruang hampa tanpa ada wujud yang harus mereka lumpuhkan.


"Kejar mereka...! Pastikan mereka masih berada di sekitar pantai ini," teriak tuan Alejandro dengan rasa penasaran karena musuh yang tidak terlihat olehnya.


"Ayo cepat naik ke speed boat...!" titah Ghaida yang masih melindungi saudaranya dengan kekuatan yang di milikinya. Beruntungnya hujan belum juga reda dengan ombak yang mengamuk membuat speed boat mereka terombang ambing di atas permukaan laut sebelum mesin speed boat itu di nyalakan oleh salah satu dari mereka.


Tembakan dari para penjahat masih mengarah ke setiap sisi area pantai dan berharap ada beberapa orang yang mereka kejar itu tertembak oleh peluru mereka.


Merasa geram dengan para penjahat itu, Ghazali mengarahkan air laut menyembur ke dalam gerbang utama markas besar penjahat itu dengan menciptakan tsunami kecil. Sementara speed boat mereka sudah menjauh meninggalkan markas musuh.


Melihat gulungan ombak yang begitu tinggi di hadapan mereka untuk menggulung tubuh mereka, membuat mereka tidak bisa berbuat apa-apa karena kaki mereka seakan tertanam di dalam pasir. Hingga hempasan ombak besar itu masuk ke dalam gerbang untuk memporak-porandakan markas di dalamnya.


"Wow....!" gumam mereka tertahan dengan nafas tercekat di kerongkongan saking takutnya saat ini. Tubuh mereka gemetar terlihat syok.


Semuanya berteriak histeris termasuk Alejandro yang mencari tiang pilar yang ada di sepanjang koridor markas untuk bisa dijadikan pegangan agar tidak terbawa arus laut yang kembali menarik dirinya dari ruangan markas itu sebelum kembali lagi ke arah laut.


Namun hisapan ombak itu begitu kuat membawa tubuh mereka menuju laut. Mereka merasa sangat sial karena harus berenang menyelamatkan diri sebelum kehabisan tenaga dan tenggelam di laut lepas.


Sementara itu Ghaida dan saudara sepupunya melihat pemandangan itu cukup puas karena sudah menghancurkan sebagian markas musuh.


"Ayo kita pulang ke mercusuar...!" ajak Raffi agar speed boat mereka yang saat ini dikemudikan oleh Hanan agar cepat tiba di mercusuar karena tubuh mereka sudah sangat lelah setelah menjalankan misi berbahaya mereka dini hari itu.


Namun mereka tidak menyadari apa yang saat ini terjadi pada Ghaida yang terlihat sangat lemah hingga hidungnya keluar cairan darah mimisan. Tubuh kecilnya tidak mampu mengendalikan kekuatannya yang terlalu besar ia umbar hanya untuk memudahkan misi mereka kali ini bisa berhasil dan tidak tertangkap oleh musuh.


Wajahnya tertunduk dan tertutup oleh mantel hujan yang melindungi wajah imutnya. Matanya terpejam dengan menahan sesak di dadanya. Semuanya nampak kelelahan sehingga tidak memperhatikan si kecil cantik itu.


Hingga akhirnya tubuh kecil Ghaida akhirnya terkulai lemas jatuh dipangkuan Raffi yang tersentak.


"Ghaida...!" gumam Raffi melihat wajah adik sepupunya itu dalam keremangan cahaya langit yang mengeluarkan kilat.