
Nabilla dipindahkan kembali ke ruang inapnya sambil menunggu kesadaran gadis ini kembali pulih. Darah yang mengalir melalui transfusi ke tubuhnya sudah membuat wajahnya mulai sedikit berubah kemerahan. Tidak lagi sepucat tadi.
"Dia sudah melewati masa kritisnya. Kita hanya menunggunya siuman. Nanti kalau sudah sadar segera beri dia makanan agar ia bisa menyusui ketiga bayinya," ucap dokter Mariska yang langsung turun tangan merawat putri sambungnya itu.
"Baik dokter." Amran hanya bisa pasrah dan terus berdoa agar istrinya cepat sadar.
Tuan Rusli mendekati putrinya dengan beban kesedihan yang mendalam karena ia harus berjumpa dengan putrinya setelah saat Nabilla sudah menikah. Walaupun saat ini tuan Rusli sudah mengetahui kalau Amran sudah mendengar penjelasan tentang hubungannya dengan Nabilla sebagai ayah dan anak, tapi tuan Rusli merasa tidak punya andil sama sekali untuk mendapatkan cinta putrinya.
"Nak Amran. Apakah aku boleh mencium putriku?" tanya tuan Rusli hati-hati.
"Silahkan ayah!" ucap Amran mengijinkan istrinya untuk dicium ayah kandungnya.
Tuan Rusli mengecup pucuk kepala Nabilla sambil berlinang air mata dengan tubuh bergetar hebat.
"Maafkan ayah nak. Maafkan ayah!" desis tuan Rusli membuat jari jemari Nabilla mulai bergerak diikuti erangan sakit pada bagian intinya yang baru saja mengeluarkan tiga bayi dari rahimnya.
"Masya Allah. Nabilla sudah sadar dokter," pekik Amran yang merasa takjub kalau ciuman ayah mertuanya dapat membuat Nabilla mulai siuman.
Tuan Rusli mengangkat wajahnya yang masih di atas kening putrinya. Ia buru-buru mengusap air matanya dan menjauhi brangkar Nabilla.
"Sayang. Alhamdullilah kamu akhirnya kembali kepada kami," ucap Amran lalu mengecup bibir istrinya.
Nabilla tersenyum sesaat lalu merasakan perutnya yang sudah terasa kosong." Mas. Di mana tiga bayiku?" tanya Nabilla.
"Mereka masih di dalam inkubator. Dua jam lagi baru bisa di keluarkan. Kamu harus makan dulu biar bisa menyusui mereka," ucap Amran tersenyum bahagia.
"Nabilla. Sebentar lagi makanannya datang. Kamu harus makan yang banyak karena sudah kehilangan banyak darah," ucap dokter Mariska.
"Baik dokter."
"Sayang. Tuan Rusli yang sudah mendonorkan darahnya untukmu. Untung ada tuan Rusli karena darah yang dibutuhkan kamu sangat langka di rumah sakit ini," ucap Amran.
Nabilla melirik ke arah ayahnya dan juga dokter Mariska yang sedang menatapnya. Entah mengapa ia tiba-tiba merasa canggung kepada keduanya. Di tambah lagi sikap tuan Rusli yang terlihat salah tingkah sendiri.
"Terimakasih tu...tuan!" tutur Nabilla berusaha rileks di depan semua orang.
"Sama-sama, nak," ucap tuan Rusli juga sama gugupnya seperti Nabilla.
Sejak bertemu ibu kandungnya di dalam tidurnya, kini semua terasa sangat jelas. Sekarang lebih jelas lagi adalah alasan ayahnya meninggalkan dirinya dan tidak mau tahu tentang dirinya padahal tuan Rusli punya alat yang bisa meretas data kependudukan.
"Maaf Nabilla. Ibu tinggal sebentar," ucap dokter Mariska yang sengaja meninggalkan suaminya agar bisa bicara pada Nabilla.
"Sayang. Aku lihat dulu bayi kembar kita. Tuan Rusli. Aku titip Nabilla sebentar," ucap Amran yang juga ingin memberikan kesempatan kepada ayah mertuanya.
"Iya nak Amran. Pergilah!" ucap tuan Rusli.
Amran dan dokter Mariska memang sudah sepakat untuk menyatukan Nabilla dan ayahnya agar Nabilla segera mengetahui sosok tuan Rusli baginya.
"Permisi cleaning servis!"
Petugas cleaning servis itu mengantarkan makanan untuk Nabilla yang langsung ditata di atas meja makan untuk pasien.
"Terimakasih mbak," ucap Nabilla.
Tuan Rusli makin keki di depan putrinya sendiri. Lidahnya seakan mati rasa dengan wajah yang tiba-tiba membeku.
"Apakah tuan mau bicara sesuatu denganku?" tanya Nabilla mencairkan kebekuan diantara mereka.
"Selamat untukmu nak! atas kelahiran bayi kembarmu. Mereka sangat cakep dan menggemaskan," ucap tuan Rusli mulai dengan basa-basinya padahal bukan itu yang ingin diucapkannya pada Nabilla.
"Terimakasih!" Nabilla mulai membuka plastik yang menutupi makanannya. Namun langsung dicegah oleh tuan Rusli.
"Biarkan aku membantumu, nak," ucap tuan Rusli membuka semua plastik diatas piring dan gelas Nabilla.
"Barusan aku bermimpi bertemu dengan ibu kandungku. Aku baru tahu kalau dia adalah ibuku.Wajahnya sangat mirip denganku. Dan dua menceritakan semua kepedihannya padaku bagaimana ayahku meninggalkannya demi wanita lain.
Dia bilang dia meninggal karena terlalu merindukan suaminya yang telah melupakannya dan putrinya. Ibuku meninggal saat usiaku dua bulan,. " ucap Nabilla sambil menahan air matanya yang hampir jatuh.
Duarrr.....
Tuan Rusli hanya bisa mendengar cerita putrinya dalam keadaan terpaku menatap wajah Nabilla dengan perasaan campur aduk di dalam sana. Ia juga tidak tahu harus mengucapkan apa kepada Nabilla untuk mengomentari cerita putrinya tentang istrinya. Satu-satunya yang dilakukannya saat ini adalah menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan halus.
"Apakah tuan mengenal ibuku yang bernama Hilda?" tanya Nabilla kini sambil menangis.
Deggggg....
"Nak, aku....aku....!" mulut itu lagi-lagi terkunci karena letupan rasa bersalah yang tidak cukup dengan meminta maaf.
"Nabilla. Tolong sampaikan salam ku untuk suamiku! katakan kepadanya kalau aku sudah memaafkannya! Jika kamu ingin tahu tentang aku, tanyakan kepada ayahmu tentangku! itu yang dikatakan ibu kepada aku tentang ayah. Cinta Seperti Apa yang kamu punya untuk ibuku, hmm?" ucap Nabilla mengulangi perkataan ibunya dalam mimpinya.
Tuan Rusli menangis histeris hingga menutupi wajahnya. Ia terduduk di kursi karena kakinya sudah kuat lagi menopang tubuhnya yang masih terlihat atletis itu. Sementara itu dokter Mariska yang mengintip dari kaca pintu ikut menangis di luar sana melihat suaminya yang terlihat rasa bersalah menyelimuti hatinya saat ini.
Dokter Mariska adalah sumber dari masalah ini. Rasa cemburunya pada Hilda membuat dirinya melakukan segala cara untuk mencegah tuan Rusli bertemu dengan Hilda.
"Maafkan aku Nabilla! Apa yang terjadi antara ayah dan ibumu tidak sepenuhnya kesalahan ayahmu. Yang harus disalahkan adalah aku. Aku yang terlalu egois memaksa ayahmu untuk mencintai aku seorang. Tapi, aku tahu cinta ayahmu hanya untuk ibumu. Aku juga tidak pernah melihat seperti apa wajah ibumu karena mereka mengatakan kalau ibumu juga berpakaian sepertimu dengan mengenakan cadarnya.
Aku baru tahu wajah ibumu seperti apa saat ayahmu yang langsung mengenali wajahmu yang sama persis seperti kamu," ucap dokter Mariska yang sekarang sudah bergabung dengan Nabilla dan suaminya.
Ia ingin menanggung beban suaminya yang mungkin saja tidak bisa menjelaskan semuanya pada Nabilla.
"Tolong tinggalkan aku sendiri! Ku mohon!" pinta Nabilla yang merasa sangat sesak saat ini.
"Nak. Aku tahu kamu tidak akan mudah menerima alasan apapun dariku. Tapi, ayah hanya bisa memohon maaf kepadamu," ucap tuan Rusli sambil terisak.
"Aku hanya korban dari keegoisan kalian semuanya. Bagaimanapun juga aku bukan malaikat yang punya tingkat kesabaran yang tinggi. Walaupun aku sudah terlatih untuk bersikap sabar. Gara-gara ayah menyakiti ibu, aku kehilangan identitas ku.
Aku tidak tahu siapa ayah dan ibu kandungku sendiri. Bahkan ibu dengan tega menghilangkan identitasku demi melindungi aku dari keluarga ayah, apakah ayah tahu akan hal itu, hah?" pekik Nabilla histeris.
"Hah..?"
......
mohon like dan vote nya cinta!