
Keluarga besar Amran beraktivitas seperti biasa. Setiap anggota keluarga yang berpergian mengenakan alat pelacak dan penyadap hasil rancangan Nabilla yang cukup canggih pada cincin maupun jam tangan. Termasuk Arsen yang saat ini duduk di kelas 6 SD.
Arsen juga sudah dibekali ilmu beladiri oleh ayahnya. Sementara Lea dan Lira juga menguasai ilmu bela diri dengan sabuk hitam disandang mereka saat masih duduk di bangku SMP.
Apakah dalam keadaan hamil seperti ini mereka masih bisa melakukan gerakan untuk melawan musuh atau tidak, itu yang masih jadi pertimbangan suami mereka. Sementara Celia dan Nadin dibekali dengan latihan menembak. Kedua ibu hamil ini sangat girang saat melihat hasil tembakan mereka tepat sasaran.
Entah bawaan bayi atau ketagihan karena sudah bisa menguasai memegang pistol, keduanya tidak ingin berhenti menembak di tempat pelatihan tembak.
"Sudah sayang. Sudah cukup. Ayo kita pulang!" bujuk Arland pada istrinya yang masih betah menembak dalam keadaan perut mereka buncit.
"Ini sangat keren mas Arland. Lihatlah aku sudah seperti Angelina Jolie dalam film action," ucap Nadine.
"Tapi, Celia juga sudah berhenti. Masa kamu nggak mau berhenti, sayang?" bujuk Arland hingga terdengar oleh kuping Reno.
Reno yang tidak suka adiknya yang membangkang suaminya langsung menghampiri gadis itu." Nadiinnnn...!" pekik Reno membuat Nadin segera menghentikan tembakannya.
Gadis itu tidak banyak membantah jika mendengar teriakan itu seperti alarm peringatan untuknya setiap kali kalau dia selalu memaksakan kehendaknya.
Arland sampai heran melihat Nadin yang langsung jadi penurut ketika ditatap oleh Reno." Itu mata ada apanya? sampai buat bini gue jadi manut. Dari tadi mulut gue sampai berbusa dicuekin nih sama si cantik. Heran deh manusia. Mata bisa jadi senjata mematikan selain mulut," gerutu Arland pada Reno.
"Ayo kita pulang!" desis Nadin terlihat ngambek karena ia belum puas bermain dengan senjatanya.
"Jangan ngambek gitu dong sayang! Emang kamu nggak mau main dengan pistol yang lain?" rayu Arland sambil mengecup pipi istrinya.
"Emang mas Arland beli pistol buat Nadin?" tanya Nadin dengan wajah berbinar.
"Itu lho pistol yang bisa membuat kamu klepek-klepek," bisik Arland membuat Nadin mencubit perut suaminya.
"Eh, jangan ngomong jorok! kuping istriku masih suci," sergah Reno.
"Lagian lo pakai acara nguping," omel Arland.
Mobil kembali bergerak di kawal oleh mobil lainnya untuk menjaga keamanan kedua ibu hamil ini. Sementara di kediaman kakek Abdullah Nabilla masih berkutat dengan laptopnya untuk mencari keberadaan Gavin dan Kenzie.
"Aku yakin kalian akan menggunakan identitas palsu dengan wajah palsu yang sudah dicetak oleh seseorang yang memiliki keahlian khusus. Kalian bisa mengelabui semua orang tapi kalian tidak bisa mengelabui aku," desis Nabilla sambil melihat keduanya masuk ke arah bandara terminal dua khusus untuk keberangkatan luar negeri.
Nabilla memanfaatkan waktu tunggu penumpang pesawat luar negeri empat jam sebelum keberangkatan. Nabilla ingin berhadapan dengan keduanya di tempat umum seperti di bandara. Tentunya di ruang tunggu keberangkatan. Ia harus punya alasan untuk bisa keluar dari rumah ini sekarang juga.
Sebenarnya ia bisa saja menyuruh petugas bandara untuk tidak mengijinkan kedua buronan itu kabur dari bumi Indonesia, namun Nabilla tahu pasti ada campur tangan oknum pejabat yang punya andil dalam pelarian keduanya.
"Nabilla. Kamu mau ke mana sayang?" cegah ummi Ambar saat ibu hamil ini terlihat terburu-buru pergi.
"Ke perusahaan ayah, ummi. Nabilla butuh data untuk mencaritahu keberadaan kedua penjahat itu agar mereka tidak melukai keluarga kita," ucap Nabilla memberi alasan walaupun itu benar namun masih ada kebohongan didalamnya.
"Baiklah. Pengawal akan akan mengantarkan kamu," ucap ummi Ambar yang bertugas mengawasi Nabilla karena kakek Abdullah saat ini sedang pergi entah ke mana bersama istrinya.
"Baik ummi. Terimakasih. Nabilla pergi dulu. Titip anak-anak ya ummi. assalamualaikum," ucap Nabilla saat memastikan ketiga bayinya sedang tidur saat ini.
"Hati-hati sayang. Dan cepat kembali sebelum suamimu pulang," ucap ummi Ambar. Nabilla mengecup pipi ibu mertuanya saat hendak masuk ke dalam mobilnya di mana dua orang pengawal siap mengantarkan ibu mil ini ke bandara.
"Kita ke bandara!" titah Nabilla.
"Tapi Nona, untuk apa ke bandara?" tanya salah satu pengawal.
"Baik nona."
Keduanya hanya menuruti perintah ibu hamil itu. Sementara Kenzo dan Gavin cukup trauma dengan wanita bercadar yang saat ini duduk di hadapan mereka sejumlah empat orang.
"Apakah mereka salah satu istrinya Amran?" tanya Gavin setengah berbisik pada Kenzy.
"Sepertinya salah satu dari mereka bukan Nabilla karena Nabilla memiliki tanda lahir pada punggung tangannya. Sementara keempat wanita di depan kita ini tidak memilikinya," ujar Kenzy yang sudah mengetahui ciri khas untuk bisa membedakan wanita bercadar khusus mengetahui Nabilla atau bukan.
Setibanya di Bandara. Nabilla masuk ke dalam seperti penumpang lain untuk melakukan cek in dengan menunjukkan tiketnya yang ada dalam ponselnya. Tentu saja tiket itu juga asli tapi palsu. Usai cekin ke negara tujuan, Nabilla menuju toilet. Nabilla membuka pakaian syar'i miliknya dan kini penampilannya yang sudah melakukan penyamarannya seperti beberapa bulan yang lalu saat mengambil benda berharga milik Amerika tentunya mengenakan jilbab segiempat.
Ia keluar dari toilet bejalan dengan santai dengan mengenakan masker dan kaca mata untuk menutupi wajah cantiknya. Nabilla menuju ke gate 7 setelah lolos dari pemeriksaan petugas bandara tentunya dengan identitas warga negara Amerika.
Saat melihat kedua pria buronan dengan wajah palsu itu, kini Nabilla berjalan mendekati keduanya. Beruntunglah Nabilla mengenakan kaus tangan dan mantel panjang sehingga Gavin dan Kenzie tidak mengetahui kalau saat ini mereka sedang berhadapan dengan Dewi kematian.
Perut besar Nabilla yang saat ini sedang hamil memudahkan dirinya untuk melengkapi penyamarannya kali ini. Nabilla mengeluarkan ponselnya mengacak sistem CCTV dari mulai ia masuk ke bandara hingga dirinya saat ini berada di ruang tunggu itu agar tidak ada yang tahu dia pernah ke sini.
Sementara di kediaman kakek Abdullah, Amran tiba di rumah sebelum waktunya ia biasa pulang. Ummi Ambar cukup kaget melihat putranya yang sudah muncul di hadapannya.
"Ummi. Di mana Nabilla?" tanya Amran masih dengan sikap santai.
"Apakah dia tidak mengabari kamu kalau dia ke perusahaan ayahnya?" balas ummi Ambar.
"Baiklah. Mungkin saja dia lupa. Aku akan menjemputnya, ummi," pamit Amran yang merasa istrinya sedang berbohong pada Ibunya.
"Astaghfirullah Nabilla. Ke mana kamu sayang? aku tahu kamu pasti tidak akan tenang sebelum membuat musuhmu kapok," lirih Amran seraya menghubungi pengawal Nabilla.
"Di mana istriku?" tanya Amran.
"Kami baru saja mengantar nona ke airport, tuan. Tepatnya ke terminal dua. Kata nona dia mau ke luar negeri dan kami di suruh kembali ke markas," ucap Leon.
"Baiklah. Terimakasih. Jangan katakan apapun kepada keluargaku tentang ke mana istriku pergi!" pinta Amran.
"Siap tuan!"
"Hmm!"
Amran meluncur ke bandara mengejar istrinya. Kemacetan arah masuk bandara mulai menumpuk membuat Amran merasa sangat kesal saat ini. Sementara Nabilla mengikuti Gavin dan Kenzie yang saat ini sedang menuju toilet. Nabilla menyeringai licik karena suasana toilet terlihat lengang.
"Sudah saatnya kalian kembali ke jeruji besi dengan tubuh kalian lumpuh secara permanen," batin Nabilla.
"Tuan Gavin, Kenzie!" sapa Nabilla tiba-tiba membuat keduanya spontan menengok ke belakang melihat siapa yang memanggil mereka dan mereka tidak ingat dengan penyamaran mereka.
"Mengapa wanita hamil itu tahu nama kita ya dan astaga.....-"
Wajah kedua pria itu langsung pias saat mengetahui mereka sudah masuk dalam jebakan saat ini.
"Sial...!" umpat Kenzie yang sangat hafal dengan suara Nabilla.
.......
Vote dan like nya cinta, please!