Dikira Pembantu, Ternyata Istri Mafia

Dikira Pembantu, Ternyata Istri Mafia
147. Senjata Makan Tuan


Nabilla mencari bom itu dengan ponsel miliknya. Amran mengikuti istrinya dan juga putranya Adam. Sementara tuan Roy meminta anak buahnya mengevakuasi para penjahat untuk keluar dari tempat itu bersama dengan Bunga, Daffa dan si kembar.


Bom itu ternyata ada di ruang kerjanya tuan Vadim. Nabilla membuka laci meja kerja dosen gila itu dan menemukan juga bom yang sedang aktif dengan tanda kedip berwana merah didalamnya.


Bom hasil rancangan baru oleh salah satu mahasiswa terbaik yang mereka culik itu belum di uji kekuatannya. Bom yang sebesar bohlam lampu motor itu tapi sedikit agak ramping, namun memiliki ledakan yang sangat dahsyat.


Sebagai ahli yang merakit segala jenis senjata api, Nabilla paham betul kekuatan bom itu. Nabilla mencari remote pemicunya namun tidak ia temukan di dalam gedung itu.


"Sayang. Apakah ini bomnya?" tanya Amran melihat bom dengan pengait di atasnya seukuran peniti besar.


"Iya. Ini bomnya mas. Tapi tidak ditemukan remote pengendali atau remote kontrolnya," sahut Nabilla.


"Apakah tidak ditemukan di dalam gedung ini, mommy?" tanya Adam.


"Sepertinya tidak ada di sini, sayang," jawab Nabilla pada putranya Adam.


"Apakah jangan-jangan di pegang oleh orang lain. Dan mungkin saja pemilik tempat ini bukan tuan Vadim?" Amran memiliki asumsi sendiri.


"Sepertinya begitu. Baiklah. Aku akan menjinakkan bom ini," ucap Nabilla lalu mencari sesuatu di bagian peralatan yang berhubungan dengan perakitan bom di dalam laboratorium itu dibantu Amran dan Adam.


Mereka membaca setiap nama ruangan riset dan teknologi itu dalam bahasa Rusia dan Inggris. Adam yang lebih dulu menemukannya dan memanggil ibunya.


"Mommy ..! disini tempatnya," ujar Adam berbinar.


"Kalian tunggu di luar. Tempat ini mengandung radiasi nuklir. Kelihatannya tidak berbahaya namun memiliki partikel kecil yang bisa menyusup ke dalam pori-pori kulit manusia yang akan menimbulkan ruam," ucap Nabilla.


"Lalu bagaimana dengan kamu, baby?" tanya Amran cemas.


"Aku sudah mengenakan pakaian pelindung dan membawa kaus tangan khusus yang biasa aku gunakan dalam pekerjaanku," ucap Nabilla.


"Baiklah. Hati-hati sayang..! kami tunggu kamu di depan," ucap Amran sambil menarik tangan putranya meninggalkan istrinya sendirian di dalam lab khusus untuk perakitan bom.


Nabilla mengenakan jas lab. Memakai kaos tangan miliknya sendiri. Lalu memakai masker dan pelindung wajah atau Face Shield khusus untuk orang yang merakit bom.


Ia meletakkan bom kecil itu di alat tertentu kemudian menyalakan komputer untuk membaca lagi data komposisi yang dirakit pada alat sekecil itu. Setelah menemukan angka hulu ledaknya, Nabilla menggantikan kode angkanya dan memastikan lagi bom itu tidak akan meledak kecuali hulu ledaknya kembali dipasang.


Nabilla sangat hati-hati dengan bom itu. Walaupun sudah mahir dalam merakit persenjataan, namun bom rakitan orang lain membuat ia juga sangat was-was karena sejatinya dia juga manusia biasa yang punya rasa takut.


Keringat Nabilla akhirnya bercucuran juga walaupun suhu ruangan diatur secara normal. Sementara Amran dan Adam tidak lepas mengawasi Nabilla dari pintu kaca itu sambil berzikir dengan menyebut nama-nama Allah sesuai kebutuhan mereka saat ini agar pekerjaan Nabilla berhadapan dengan benda berbahaya itu dimudahkan oleh Allah.


Sekitar setengah jam kemudian, bom itu berhasil dijinakkan oleh Nabilla. Namun wanita jenius ini tetap membawa bom itu karena sudah tahu komposisinya. Dengan memasukkan lagi kode sandi di remote pemicu ledakan bom itu ke ponselnya, Nabilla tetap mencari siapa yang memegang alat pengendali bom itu. Nabilla memasukkan bom itu ke dalam kotak kecil sebesar kotak cincin dan di masukkan ke dalam tas ranselnya.


Wilayah pencarian Nabilla di perluas hingga ia menemukan titik remote control itu berada. Nabilla tersenyum saat mengetahui siapa pemilik remote pengendali jarak jauh itu melalui ponselnya.


"Kau akan membayar ini semua tuan. Sudah saatnya kamu pensiun," batin Nabilla yang sudah mengantongi nama sang pelaku. Ia keluar dari ruang lab khusus perakitan bom itu. Ia memasukkan virus dalam komputer itu agar orang lain tidak bisa membaca data dan cara merancang bom itu tidak diketahui siapapun jika otoritas negara tersebut melakukan penyelidikan di laboratorium itu.


"Bagaimana sayang? apakah kamu sudah bisa menjinakkan bom itu?" tanya Amran.


"Alhamdulillah mas, atas ijin Allah aku bisa melakukannya. Ayo kita keluar dari sini..! pasti anak-anak sudah menunggu kita di luar," ucap Nabilla mengajak Amran dan Adam meninggalkan tempat itu dengan mobil milik Adam yang tadi di bawa oleh putra pertamanya itu.


...----------------...


Bunga dan si kembarnya berteriak kegirangan saat melihat kedua orangtua mereka bersama kakak tertua mereka Adam keluar dengan selamat melalui terowongan itu.


Mereka saling berpelukan dalam satu pelukan yang diikuti oleh Daffa.


"Berarti kita kembali ke tenda dulu sebelum kita dijemput lagi dengan helikopter, mommy?" tanya Nada yang ingin bermalam di tempat itu.


Laboratorium itu sudah di jaga ketat oleh anggota CIA atas perintah Adam.


"Adam. Kita tidak bisa menggunakan mobil ini ke arah tenda kita karena tidak ada jalan menuju ke sana dengan mobil. Tapi hanya bisa di akses dengan motor," ucap Amran.


"Di mana motornya, Daddy?" tanya Adam.


"Seratus meter lagi nyampe," ucap Nabilla.


Ketika melihat motor mereka yang masih terparkir di balik gundukan salju, semuanya pada turun dan menaiki motor itu. Nabilla dan Amran. Daffa dan Bunga. Tiga motor lainnya di kendarai oleh Adam, Nada dan El.


"Cepatlah. Hari sudah senja. Sebaiknya kita cepat kembali ke tenda sebelum bertemu dengan kawanan serigala maupun beruang!" titah Amran.


Amran yang lebih dulu memimpin jalan di depannya dan diikuti oleh yang lainnya. Mereka harus memacu motor cross itu agak kencang karena jalanan itu menanjak mengikuti lekukan alur perbukitan.


Lolongan serigala mulai terdengar samar-samar dari jauh oleh rombongan kelurga itu. Lambat laun, malam pun mulai beranjak gelap. Semuanya sudah menyalakan lampu motor jarak jauh. Nabilla dan Bunga tetap waspada dengan memegang kedua pistol di masing-masing tangan mereka.


Lolongan serigala itu seakan makin mendekat membuat bulu kuduk mereka merinding juga. Tungkai kaki mereka semakin lemah dengan bibir bergetar antara takut dan juga kedinginan menyatu dalam rasa yang sulit dibedakan. Nabilla dan Amran terlihat kuatir dengan anak dan menantunya. Mereka akhirnya berhenti sejenak mengatur lagi perjalanan mereka.


"Kalian semuanya di depan. Biar Daddy dan mommy mengawasi kalian," ucap Amran.


"Sayang. Sebaiknya kamu duduk didepan menghadapku agar aku tidak kuatir!" pinta Daffa.


Bunga menurut duduk didepan suaminya dengan tubuh mereka berhadapan." Enak juga ya, naik motor dengan posisi seperti ini," ucap Bunga yang sudah memeluk suaminya erat namun pistol tetap ada di genggamannya.


Amran yang melihat menantunya memperlakukan putrinya Bunga dalam melindungi istrinya itu, mengikuti cara Daffa." Baby ..! ikuti cara putrimu duduk berhadapan denganku...!saya rasa itu posisi yang tepat untuk menjagamu," ucap Amran.


Nabilla pun tersenyum dengan wajah bersemu merah. Ia pun merasa berbunga-bunga setiap saat jika suaminya selalu membuat kejutan romantis untuknya. Saat posisi Nabilla sudah pas duduk dihadapan suaminya, Amran baru bersiap untuk menjalankan motornya.


Ketiga anak mereka yang masih jomblo hanya menarik nafas dalam-dalam sambil menggelengkan kepala mereka." Ini tua-tua tidak mau kalah ya sama yang muda," gerutu Nada.


Setelah cukup lama menempuh perjalanan menuju tenda, akhirnya mereka tiba juga di tempat tujuan. Bau aroma masakan dari dalam tenda itu tercium hingga ke luar. Saat ini Cintami sedang memasak untuk kelurganya dibantu suaminya Arsen.


Cintami dan Arsen keluar dari tenda saat mendengar suara motor. Cintami memeluk lagi kedua orangtuanya dan saudaranya. Kini mereka sudah lengkap menjadi sebuah kelurga yang sempurna.


"Alhamdulillah. Semuanya sudah selamat," ucap Arsen.


"Sebaiknya masuk dulu! kita bisa ngobrol di dalam!" titah Amran.


"Mommy. Cinta sudah buat makan malam untuk kita," ucap Cinta sambil menyiapkan mangkok dari bahan melanin sebagai wadah untuk mereka makan.


Cintami membuat shabu-shabu yang tetap hangat di atas kompor portabel dan juga daging sapi panggang di atas pinggan panas. Bunga dan Cinta melayani suami-suami mereka. Sementara Nabilla melayani suaminya dan ketiga anaknya yang masih lajang.


Keluarga itu bersenda gurau melepaskan ketegangan mereka seharian saat berhadapan dengan musuh. Mereka sengaja tidak ingin membahas yang lainnya karena ingin menikmati rasa kebersamaan mereka setelah lama terpisah dengan Cintami, Adam dan Bunga.


Makan malam itu terlihat sangat membahagiakan hingga membuat Nabilla dan Amran saling bertatapan sambil menahan air mata haru.


"Ya Allah. Nikmat Tuhan yang manakah lagi, yang kamu dustakan?" ucap Amran dengan lafadz dalam bahasa Al-Quran yang terdapat di dalam ayat yang berulang-ulang di dalam surah Ar-Rahman.


.......


Vote dan likenya Cinta, please!"