
Para tamu undangan itu sudah memenuhi setiap kursi kosong di taman itu yang di bangun tenda dengan hiasan gemerlap di area tersebut.
Sengaja di gelar di lapangan terbuka agar banyak undangan di beberapa departemen ikut hadir untuk memeriahkan acara kenegaraan itu seperti hari besar nasional semacam hari pendidikan.
Setelah memberikan beberapa sambutan dari bapak presiden yang sekaligus menjadi pembuka acara tersebut. Kini saatnya giliran sambutan dari menteri riset dan teknologi yang membanggakan dirinya yang telah memperjuangkan kesuksesan para generasi muda yang berprestasi.
Pidatonya yang terdengar bak super hero mengangkat generasi muda yang berprestasi justru datang dari kalangan anak pejabat dan konglomerat yang mencuri hasil disertasi milik para mahasiswa yang tidak mampu, namun bisa kuliah ditempat itu karena mendapatkan beasiswa penuh.
Sayangnya, nasib mereka hanya sampai tingkat akhir dan tidak pernah mengikuti sidang disertasi untuk meraih gelar doktor di universitas keamanan di negara Rusia tersebut.
Saat pidato itu berlangsung, Nabilla harus mengecoh para panitia yang menjaga bagian audio video yang akan memutar tentang keberhasilan putri-putri konglomerat itu dalam mendapatkan gelar doktor mereka dengan predikat cumlaude.
"Maaf tuan. Apakah saya bisa menitipkan makanan ini untuk panitia acaranya?" tanya Nabilla yang menyamar jadi pelayan catering sambil membawa kardus snacks.
"Masuk saja ke dalam sana, nyonya! tidak apa-apa karena kami lagi sibuk," ucap salah satu panitia acara.
"Ok. Terimakasih...!" Nabilla masuk membawa makanan snacks yang di ambil dari mobil catering.
Setibanya di dalam ruang audio, Nabilla mengamati tempat itu. Ia meletakkan kardus kue di atas meja panitia sambil memperhatikan flashdisk yang sudah berada di laptop itu dan siap menayangkan laporan tentang para sarjana sains dan teknologi yang sudah berhasil menciptakan karya terbaik mereka.
Saat panitia itu sibuk berbincang. Nabilla dengan cepat menggantikan flashdisk miliknya itu yang merupakan hasil rekaman kejahatan tuan Vadim dengan milik tuan Benard di laboratorium tersembunyi di tengah hutan bersalju
Ia juga sudah membuat skema kejahatan beberapa pejabat terkait yang bekerjasama dengan perusahaan asing yang akan membeli produk karya anak bangsa di negara tersebut yang mereka culik dan dipaksa bekerja untuk keuntungan pribadi mereka.
Semua data informasi tentang kejahatan oknum pejabat itu sebentar lagi akan di tayangkan. Nabilla keluar dari ruangan itu berjalan menuju toilet untuk menggantikan lagi seragam petugas catering dari hotel tempat ia menginap dengan gaun mewah berwarna hitam yang ia pakai.
Setelah tugasnya selesai di ruangan itu, kini giliran Nabilla meletakkan bom di mobil milik oknum menteri riset dan teknologi tersebut.
Nabilla mengetuk jendela mobil berplat lambang negara itu yang merupakan mobil khusus untuk para pejabat sebagai mobilitas mereka dalam menjalankan aktivitas mereka sebagai abdi negara. Sang sopir menurunkan kaca mobil itu.
"Ada apa nyonya?" tanya sang sopir.
"Apakah aku boleh minta tolong tuan?"
"Minta tolong apa, nyonya?"
"Sepertinya ban mobilku kempes. Apakah tuan bisa menggantikan ban mobilku sebentar?" tanya Nabilla.
"Telepon saja orang bengkel nyonya! Mereka akan ke sini untuk membantu menyelesaikan masalahmu," ucap sopir itu.
"Anakku sedang dilarikan menuju ke rumah sakit karena kecelakaan. Apakah anda tidak bisa membantuku sebentar saja untuk menggantikan ban mobilku?" Nabilla pura-pura sedih.
"Lebih baik aku antar saja anda ke rumah sakit, nyonya. Lagian acaranya masih lama. Kalau menggunakan mobil ini pasti lebih mudah akses ke rumah sakit karena tidak terhalang dengan kemacetan," ucap sopir itu.
"Oh begitu. Alhamdulillah. Kalau begitu aku boleh duduk di belakang?" tanya Nabilla.
"Boleh. Silahkan nyonya!" ucap sang sopir.
"Sebentar tuan.... ! sepertinya suami saya sudah menjemput saya. Terimakasih ya..! maaf sudah merepotkan Anda tuan," ucap Nabilla.
"Tidak apa nyonya. Semoga anaknya baik-baik saja," ucap sopir tersebut.
"Aaamiin terimakasih ya ...!"
Nabilla kembali lagi ke dalam tenda di mana acara masih berlangsung. Usai mendengarkan pidato oknum pejabat sadis itu, kini video mulai ditayangkan oleh pihak panitia.
Di dalam video itu terlihat dengan jelas bagaimana perintah menteri riset dan teknologi itu meminta tuan Vadim dalam melakukan penculikan beberapa mahasiswa berprestasi dan di bawa ke laboratorium raksasa di tengah hutan melalui jalan rahasia yang bisa di akses oleh anggota mereka sendiri.
Proyek pembangunan laboratorium itu sudah di rancang sedemikian rupa komplitnya. Dan kini sudah bertahan selama 15 tahun. Dan tidak ada yang berani menyelidiki karena saling menyogok satu sama lain untuk melindungi proyek itu terus berjalan karena mengingat keuntungan yang mereka dapatkan miliaran dollar jika menjual salah satu hasil produk karya anak bangsa.
Tuan menteri terhenyak hingga sekujur tubuhnya bergetar sambil melihat bapak presiden yang fokus menyaksikan aksi demi aksi beberapa oknum menterinya yang melakukan skandal memalukan dalam dunia pendidikan. Alat-alat canggih di ciptakan oleh mahasiswa itu yang salah satunya adalah jenis model bom yang baru yang saat ini sudah aman di dalam mobil sang menteri riset dan teknologi itu.
Terlihat unik namun mematikan. Bahkan bom itu tidak bisa terdeteksi oleh alat penjinak bom sekalipun. Kecuali penciptanya sendiri yang menyebutkan kelemahannya.
Tanpa membuang waktu sang menteri mengumpulkan keberaniannya untuk tinggalkan tempat itu agar bisa kabur dari tempat itu. Para anggotanya sang presiden tidak ingin melakukan apapun pada sang menteri atas perintah presiden karena acara masih sedang berlangsung.
"Sial ...! bagaimana mungkin video prestasiku di gantikan dengan aibku? siapa yang melakukan ini dan mengapa laboratorium itu bisa terlihat oleh orang lain? siapa yang berani memberikan ijin pada orang asing meliput semua fasilitas yang ada di laboratorium itu?" gerutu tuan Benard sambil berlari cepat menuju mobilnya.
"Tuan...! apakah acaranya sudah selesai?" tanya sopirnya tuan Benard yang langsung sigap turun dari mobil menyambut sang bos.
"Berikan kunci mobilnya padaku! biar aku sendiri menyetir mau berangkat ke kantorku," ucap tuan Benard terlihat panik dan juga gugup.
Sang sopir memberikan kunci itu dan hanya menjauhi mobil itu sambil melihat kegugupan tuan Benard seperti habis melihat hantu.
"Tuan...! apakah anda baik-baik saja?" tanya sang sopir namun tidak digubris oleh tuan Benard yang sedang memundurkan mobilnya hingga menabrak mobil lainnya. Bunyi alarm mobil itu serempak karena hantaman mobil tuan Benard. Ia mempercepat laju mobilnya hingga suara ban mobil berderit menyatu dengan aspal. Ia berhasil meninggalkan taman itu sambil menancap pedal gas mobil dengan niat kabur ke bandara.
Nabilla memperhatikan keberadaan mobil milik tuan Benard melalui ponselnya di mana Nabilla bisa meretas CCTV di setiap jalanan yang dilalui oleh tuan Benard dengan kendaraannya.
Saat di jalanan yang cukup lengang karena tidak ada kendaraan lain mengikuti mobilnya tuan Benard, Nabilla menekan tombol pengendali bom itu hingga mobil tuan Benard yang ada di di atas jembatan yang melintas kali itu tiba-tiba meledak hingga mobil itu terpental ke udara lalu jatuh ke dalam sungai itu.
Saat mobil tuan Benard sudah meledak dan memastikan tubuh tuan Benard juga sudah berpencar dalam satu mobil itu, tuan presiden meminta ajudannya untuk menangkap tuan Benard dan para komplotannya yang juga ikut hadir di dalam acara tersebut.
"Tangkap mereka semua tanpa membuat kegaduhan!" titah presiden lalu meninggalkan tempat acara dengan malu hati.
"Bagaimana sayang? apakah misimu sudah berhasil?" tanya Amran saat melihat Nabilla sudah memasukkan lagi ponselnya ke dalam tasnya.
"Alhamdulillah. Dia sudah bertemu dengan malaikat penjaga kubur. Ayo kita temui lagi anak-anak di kemah. Aku ingin menikmati kebersamaan keluarga kita di tempat itu," ucap Nabilla seraya bangkit berdiri.
Helikopter yang sudah menjemput lagi Nabilla dan Amran membawa pasangan suami-istri ini ke tengah hutan bersalju.
Vote dan likenya cinta!"