Dikira Pembantu, Ternyata Istri Mafia

Dikira Pembantu, Ternyata Istri Mafia
137. Mentang-mentang Halal


Pencarian dilakukan dengan dua cara yaitu menyisiri bibir pantai dengan speed boat dan helikopter melalui udara. Dari atas udara Daffa memantau setiap titik penjelajahannya dengan sangat teliti, tentunya dibantu dengan alat yaitu teropong.


Sudah hampir tiga jam mereka menyusuri setiap pulau yang ada di sepanjang pantai namun tidak di temukan tidak juga di temukan tanda-tandanya Bunga.


Sementara Nabilla yang sudah menemukan signal dari salah satu aksesoris yang dipakai putrinya terlalu dalam di laut sana dan itu membuatnya tidak yakin bahwa putrinya berada di dasar laut. Jika Bunga meninggal maka tubuhnya akan mengambang di atas permukaan laut itu yang diharapkan oleh Nabilla jika takdir Bunga harus berakhir di dalam laut sana.


Betapa pasrahnya seorang Nabilla atas kematian putrinya, tetap saja hatinya berharap Bunga masih hidup. Begitu pula dengan Amran yang ada di speed boat di luar sana. Hati pria ini terasa lebih nelangsa. Ia tidak bisa menyembunyikan kesedihannya di depan lima orang prajurit angkatan laut yang menemaninya saat ini mencari putrinya, Bunga. Sambil menyisiri sekitarnya dengan teropong ditangannya, pikirannya tertuju pada wajah cantik putrinya.


"Wahai putriku tercinta...! karenamu, dadaku sesak dan hatiku terhimpit duka atas hilangmu. Air mataku menganak sungai enggan tuk berhenti. Sebanyak apapun ku menangis, kepedihanku tak pernah mau berkurang. Apa yang menjadi kecemasanku, telah terbukti kini.


Wahai putri kecilku, masih terasa lengan ini memelukmu saat kau dalam buaianku. Ku dendangkan lagu pengantar tidurmu walaupun suaraku tak sebagus biduan ternama hanya ingin memastikanmu terlelap.


Wahai malaikat kecilku, aku bukan ayah yang luar biasa bagi kalian. Tapi aku menghidupi kalian dengan kelelahan, keringat, darah dan air mataku untuk memastikan makanan yang kalian makan adalah dari rejekiku yang halal.


Kasih sayang, cinta dan perhatianku tak berkurang sedikitpun. Hanya ingin melihat kalian tumbuh dan bermanfaat untuk orang banyak," batin Amran sambil menyapu pandangannya dengan teropong di sekitar pantai masa kecilnya Bunga.


Sementara di atas udara, helikopter memperluas pencarian mereka lebih jauh dengan perhitungan secara tematik bagaimana pergolakan arus bawah laut membawa sesuatu seperti ikan hiu, lumba-lumba dan paus menyebrangi negara lain dalam waktu dua malam.


Itulah yang dilakukan oleh Daffa saat ini dengan analisisnya sebagai ahli matematika yang menghitung kecepatan angin perdetik dalam satu jam. Semua ada bidang ilmunya walaupun pergerakan air dan angin berbeda kecepatannya.


Daffa menarik nafas dalam sambil memejamkan matanya. Ia mengingat lagi kata-kata Bunga saat helikopter mereka yang hampir jatuh beberapa bulan yang lalu.


Di mana Bunga mengatakan untuk melibatkan Allah dalam kesulitan yang menghimpit disaat kekuatan manusia dengan keterbatasan ilmunya tidak bisa lagi menggunakan nalarnya maka jalan terakhir bagi manusia hanyalah memikirkan kekuasaan Allah yang bisa kita andalkan dalam ketidak berdayaan kita.


"Ya Allah. Aku manusia bodoh dan lemah bahkan aku tidak bisa lagi berpikir untuk menemukan istriku. Tolonglah aku ya Allah, pertemukan kami dalam keadaan apapun," lirih Daffa sambil mengangkat kedua tangannya membuat Ali mengamininya walaupun ia tidak mengerti bahasa Daffa tapi melihat Daffa mengangkatkan kedua tangannya dengan bersimbah air mata disertai nama Allah didalamnya membuat Ali mengerti ucapan Daffa.


"Tuan. Sepertinya kita kehabisan bahan bakar. Apakah tidak sebaiknya kita kembali lagi ke armada untuk mengisi bahan bakar sebentar?" tanya Ali.


Daffa yang sedang mengarahkan teropongnya dibawah sana yang awalnya melihat dua ekor ikan lumba-lumba putih berjalan beriringan, dari tengah laut menuju ke pinggir laut mencegah Ali untuk kembali.


Lambat laun ia melihat sesosok tubuh di bawah sana di mana ditengahnya ada kedua lengan bertumpu pada kedua mahluk paling cantik di air itu. Wajah Daffa berbinar sambil berteriak histeris melihat lumba-lumba memapah tubuh kekasihnya menuju tepi pantai.


"Alhamdulillah. Itu istriku!" pekik Daffa kegirangan dalam hatinya.


"Apakah kamu bisa turun lebih rendah helikopternya, tuan?" pinta Daffa tetap mengarahkan teropongnya di bawah sana.


"Apakah ada sesuatu dibawah sana, tuan Daffa?" tanya Ali yang merasa belum yakin.


"Sepertinya begitu dan aku yakin itu istriku," ucap Daffa dengan kelegaan yang luar biasa hingga tak berhenti bersyukur kepada Allah.


"Kenakan baju pelampung itu sebagai standar keselamatanmu!" Ali mengingatkan Daffa yang sigap memakai baju pelampungnya.


Setelah semuanya siap, Daffa yang sudah mengenakan pakaian selamnya dengan baju pelampungnya. Iapun memasang alat pengaman berupa tali pada pinggangnya.


"Bismillahirrahmanirrahim...!" ucap Daffa kemudian turun mengikuti kecepatan ikan lumba-lumba yang membawa tubuh istrinya dengan kecepatan luar biasa.


"Sedikit lagi," teriak Daffa melalui alat penghubungnya pada Ali.


Ketika melihat Daffa menghampiri mereka, kedua ikan lumba-lumba itu melepaskan tubuh Bunga dan Daffa segera menjatuhkan tubuhnya menangkap tubuh Bunga.


Wajah Bunga yang terlihat memar di pelipis dan dagu sebelah kiri membuat Daffa menangis. Walaupun begitu kecantikan gadis itu tidak sedikitpun berkurang. Jilbab berbahan karet itu masih menghimpit menutupi kepalanya.


"Baby...! Kamu sudah bersamaku, hmm!" Daffa tidak segan membenamkan ciumannya pada bibir Bunga yang sudah membiru dengan wajah pucat seperti kapas. Ia memasang alat pengaman pada pinggang Bunga dan mengikat pinggang mereka berdua dengan kencang.


Daffa melihat dua lumba-lumba putih itu menatapnya sambil memutar tubuh mereka menunjukkan rasa senang.


Keduanya melompat ke udara lalu terjun lagi ke dalam laut seakan sedang melakukan atraksi di depan Daffa untuk menghibur pria itu. Satu tangannya memberi hormat pada kedua lumba-lumba itu sebagai ucapan terimakasih dan selamat tinggal.


"Tarik kami ke atas!" teriak Daffa pada Ali sambil memeluk erat tubuh Bunga dengan kepala gadis itu menopang di bahu kekarnya seperti sedang menggendong anak kecil.


Setibanya di atas helikopter, Dafaa menutup tubuh mereka dengan selimut dan dengan begitu Daffa leluasa menanggalkan pakaian selam Bunga. Ia memakaikan gamis yang lebih mudah dikenakan Bunga kemudian menyelimuti lagi tubuh Bunga dan memangku tubuh Bunga seperti anak kecil. Daffa mencuri kesempatan memagut bibir istrinya penuh kelembutan. Dengan begitu bibir Bunga merasakan kehangatan bibirnya.


Co-pilot memberitahukan kepada Segaf kalau mereka sudah menemukan Bunga." Alhamdulillah. Tante Bunga sudah berhasil diselamatkan oleh Daffa," ucap Segaf haru.


"Alhamdulillah ya Robby!" ucap Nabilla.


Nabilla langsung menjatuhkan tubuhnya lalu bersujud syukur kepada Allah yang telah membawa putrinya kembali dalam pelukannya. Ia menghubungi Amran agar segera kembali ke kapal.


Sementara itu co-pilot Ali yang saat ini sedang ketar-ketir saat melihat tombol tanda bahan bakar habis membuatnya kuatir karena sedikit lagi mereka sudah mencapai kapal.


"Ya Allah. Aku yakin akan kebesaranMu, selamatkan kami dengan sisa bahan bakar ini, ya Robb," doa Ali penuh pasrah.


Para prajurit angkatan laut itu menatap ke arah helikopter dengan perasaan tegang. Amran berteriak histeris menengadahkan wajahnya ke langit memohon kepada Allah atas keselamatan helikopter itu.


"Ya Allah aku akan mewakafkan nyawaku di jalanmu ya Allah untuk terus menolong sesamaku, maka selamatkan helikopter itu," pinta Amran sambil terisak.


Beruntunglah Segaf cepat tanggap menambah kecepatan kapalnya menghampiri helikopter yang terlihat baling-baling sudah mulai melemah. Tepat diatas permukaan landasan pacu helikopter turun perlahan menapaki kakinya dengan baling-baling yang langsung mati total.


Tepuk tangan para prajurit angkatan laut itu memuji keberanian Ali yang mampu mengevakuasi Bunga dengan selamat. Brangkar telah di siapkan oleh dokter angkatan laut yang perempuan. Di tambah tiga orang suster yang siap menolong Bunga. Bunga segera di masukkan ke ruang perawatan di mana ada beberapa alat medis yang cukup menunjang untuk menyelamatkan nyawa gadis ini.


Nabilla dan Amran mendampingi putrinya saat di antar ke ruang rawat. Daffa menggenggam satu tangan istrinya sedang tangan Bunga yang lainnya digenggam Nabilla yang masih menangis dibalik cadarnya.


Setibanya di dalam ruang IGD itu, hanya Daffa yang diijikan oleh dokter untuk mendampingi Bunga sebagai suaminya Bunga.


"Denyut nadinya melemah. Paru-parunya kemasukan air. Kami akan menguras air dalam paru-parunya, tuan," ucap dokter membuka lagi baju Bunga untuk memeriksa keadaan tubuh agen pemberani itu.


Tubuh Bunga kembali polos, membuat wajah Daffa memerah karena melihat aset berharga istrinya secara jelas di hadapannya kini. Ia memalingkan wajahnya agar tidak tergoda sebagai lelaki normal.


"Banyak sekali luka lebam di tubuhnya karena benturan material dalam laut. Sepertinya ia mengalami luka dalam yang cukup serius. Ia memiliki ketahanan tubuh yang tangguh. Jika orang biasa berada dalam posisinya, dalam dua jam sudah dipastikan tewas.


Alhamdulillah, Allah masih menolongnya walaupun saat ini keadaannya kritis," ucap dokter Ghena yang tidak tahu jika gadis ini sudah melewati latihan ekstrem untuk menjadi seorang agen rahasia FBI.


Setelah ditangani oleh dokter di bantu suster yang memasang beberapa alat medis pada Bunga yang saat ini bertelanjang dada karena ada beberapa alat yang menempel di dadanya untuk. memantau jantungnya. Bunga hanya diselimuti selimut tebal oleh dokter dengan tubuh yang masih polos meninggalkan Daffa menemani istrinya.


Entah mengapa jantung Daffa berdegup sangat kencang saat ini antara bahagia dan terpesona dengan kecantikan Bunga walaupun wajah pucat itu masih mendominasi.


"Assalamualaikum nyonya Daffa!" sapa Daffa dengan perasaan bercampur aduk. Sedih, bahagia, kuatir, gemas dan lebih bahaya lagi tidak kuat mengendalikan perasaannya sebagai pengantin pria. Daffa hanya bisa mengecup bibir Bunga dan sesekali ia menyesapkan bibir sensual itu agak lama untuk memberikan kehangatan pada Bunga.


"Aku rasa momen pernikahan kita ini sangat luar biasa, baby. Kau diberikan kepadaku dalam keadaan hidupmu diambang kematian.


Orangtuamu memberikanmu kepadaku agar kau selamat karena mereka tahu kau berjuang untuk tetap hidup karena ada aku didalam hatimu, bukankah begitu nyonya istri?" Walaupun bibirnya tersenyum namun rasa harunya tidak juga berhenti.


"Terimakasih ya Allah. Dialah rejeki terbesar dariMu dalam hidupku. Aku janji tidak akan menyia-nyiakannya. Semoga ujian cinta kami ini berakhir di sini. Jangan Engkau berikan lagi kami ujian yang lebih berat lagi dari ini ya Allah," doa Daffa penuh harap pada Robby-nya.


......


Vote dan likenya Cinta..!"