
Nada dan Ghaishan sudah berada di Itali dan langsung menuju rumah sakit. Ghazali yang melihat kedatangan orangtuanya langsung melompat dalam pelukan ayahnya.
"Daddy...!" pekiknya manja sambil berurai airmata karena saudara kembarnya belum juga siuman.
Jika dilihat sekilas, Ghaida memang tidak terlihat seperti orang sakit berdasarkan laporan hasil medis. Namun tubuh gadis kecil itu memang tampak lemah hingga sangat sulit untuk diobati secara medis. Ghaishan mendekati putri cantiknya.
Hatinya terasa tercabik-cabik melihat wajah pucat itu tampak tenang dengan nafas lembut dibantu dengan selang oksigen di hidungnya.
"Baby...!" panggil Ghaishan dengan suara serak menyimpan kesedihan yang memuncak di dadanya.
Walaupun ia sudah mendengar semua cerita tentang kekuatan putrinya yang terkuras demi misi pertamanya, namun Ghaishan tetap menganggap Ghaida adalah putri kecilnya yang harus tetap dilindungi.
Semuanya meninggalkan ruangan itu kecuali kelurga kecil itu. Ghaishan menatap wajah istrinya dengan tatapan berkabut yang sudah dipenuhi cairan bening.
"Apakah putri kita akan pulih?" tanya Ghaishan.
"Insya Allah sayang," ucap Nada yang ingin menyalurkan kekuatannya pada putrinya agar Ghaida kembali sehat.
"Apakah kita harus menyerahkan keadaan putri kita dengan alat medis?" tanya Ghaishan.
"Aku dan putra kita akan membantu memulihkan lagi tenaga dalamnya yang sudah terkuras habis," ucap Nada seraya melirik putranya Ghazali dan mengangguk dengan optimis.
"Ayo mommy. Kita lakukan sekarang karena masih ada misi besar yang harus kita ungkap rahasia yang ada di pulau Kirrin," ucap Ghazali.
"Jangan libatkan Ghaida lagi, sayang. Dia sudah cukup lemah untuk misi berbahaya kalian kemarin. Apalagi kalian belum mampu mengendalikan kekuatan kalian. Tidak semua kekuatan di keluarkan begitu saja seperti yang dilakukan Ghaida," ucap Nada yang belum banyak mengetahui kehebatan anak kembarnya.
"Iya mommy. Tapi, aku kangen sama Ghaida, mommy. Apakah dia akan sembuh?" serak Ghazali dengan mata berkabut cairan bening.
"Allah yang punya rencana atas Ghaida. Kalian adalah malaikat mommy dan Daddy. Daddy yakin kalau Ghaida akan selamat dari rasa sakitnya," hibur Ghaishan menggendong putranya.
Sebenarnya Ghaishan yang paling sedih diantara Nada dan Ghazali karena ia tidak punya kekuatan untuk menolong putrinya, kecuali doanya sebagai ayah kandungnya Ghaida.
"Hai kesayangannya daddy. Jangan terlalu lama tidur...! Daddy kangen senyum dan celotehnya Ghaida, gadisnya daddy yang pemberani," lirih Ghaishan.
"Ayo sayang..! Kita harus memulihkan lagi kekuatannya Ghaida,"pinta Nada pada putranya yang sudah siap menyalurkan tenaga dalamnya untuk saudara kembarnya.
Tidak lama kemudian, keduanya terlihat seperti sedang mengambil posisi diam sambil mengepalkan satu tangannya yang diletakkan menyilang di atas dadanya. Nada membaca beberapa ayat Alqur'an di bagian surah tertentu untuk meminta pertolongan Allah agar diberikan kekuatan untuknya agar mereka bisa menyalurkan tenaga dalam untuk Ghaida.
Dengan kedua tangan mereka yang bertumpuk, Nada menyatukan kekuatan mereka lalu di salurkan dengan menempelkan tangan mereka di atas dada Ghaida.
Seketika hawa panas menyeruak masuk ke dalam tubuh lemah Ghaida yang bisa merasakan gelombang getaran tenaga dalam yang mengalir ke seluruh tubuhnya.
Ketiganya seakan berada di dimensi lain hingga Ghaishan yang melihat ketiganya merasakan juga aura kekuatan di sekitarnya merasuk masuk ke dalam tubuh Ghaida.
Putrinya itu terlihat tersenyum dalam lelap tidurnya. Ia seperti ditarik kembali ke alam dunia karena jiwanya sempat masuk ke lorong waktu diantara batas dunia dan alam kubur.
Dari lorong waktu itu, tubuhnya seakan di lempar keluar agar tidak masuk lebih dalam ke alam lain karena belum saatnya dirinya untuk pulang ke pangkuan illahi. Tangan mungil itu mulai bergerak dengan gumaman lirih memanggil ayah dan ibunya.
"Sayang. Daddy dan mommy di sini. Apakah kamu sudah sehat, apakah kamu sudah baikan? Apakah masih ada yang sakit?" cecar Ghaishan sambil memindai tubuh putrinya.
"Ghaida sudah baikan daddy. Ghaida harus menyelesaikan misi yang masih belum tuntas." Seraya beranjak bangun namun di tahan oleh Nada.
"Sudah sayang. Ini negara orang lain. Bantuan kamu dan saudaramu sudah cukup dengan memperlihatkan bukti kejahatan para oknum pejabat. Mereka saat ini sedang di ringkus oleh polisi," bohong Nada.
"Daddy. Apakah hidup orang itu harus bergelimang harta? Mengapa manusia terlalu serakah pada dunia yang yang hanya sementara ini?" tanya Ghaida.
"Hati mereka memang sudah ditutupi oleh angin surga yang hanya tipu muslihat setan. Setelah itu mereka akan sadar jika diberikan penyakit yang mematikan," ucap Ghaishan.
"Syukurlah. Kalau begitu Ghaida mau pulang ke Amerika. Ghaida kangen sama molly," ucap Ghaida yang terlihat lebih segar.
"Ok. Tunggu 3 hari lagi setelah dokter boleh menyatakan kamu bisa pulang atau tidak," ucap Nada.
"Ok mommy," ucap Ghaida antusias.
Tidak lama kemudian, nyonya Rosella datang membawa makanan untuk cucunya setelah mengetahui kalau Ghaida sudah sembuh dari sopir pribadinya.
Sementara itu, tuan Luciano yang saat ini sedang berada di ruang kerjanya presiden sedang membahas sesuatu yang terkait dengan kasus yang terjadi di pulau Kirrin. Tuan Luciano menceritakan bagaimana sepak terjangnya para menteri, polisi dan beberapa pejabat yang terlibat. Dengan memperlihatkan bukti yang ada di ponsel miliknya, membuat sang presiden meradang atas sikap wakilnya yang juga terlibat dalam kasus memalukan itu melebihi ambang batas.
"Kurangajar....! Apakah tuan Alejandro itu tidak takut jika keterlibatan wakil presiden itu akan mengakibatkan negara kita dianggap maling?" kesal tuan presiden dengan wajah kelam.
"Sekarang, apa yang harus kita lakukan untuk menangkap penjahat yang sebenarnya?" tanya tuan Luciano.
"Satu-satunya cara untuk menghukum dia yaitu dengan cara mengirimkan dia kembali pada tempatnya," ucap tuan presiden terlihat geram..
"Jangan menghukum mereka dengan aturan negara ini. Tapi hukumlah mereka dengan membuat mereka mengakui kejahatan mereka di hadapan masyarakat negara ini, melalui televisi," ucap tuan Luciano memberi solusi.
"Apa yang lebih menyakitkan dari itu, tuan presiden? Dengan membuat hidup mereka seperti di dalam neraka. Kita akan mempermalukan mereka dengan menayangkan kasus kejahatan mereka ke setiap televisi di negara ini. Setelah rakyat negara ini mengetahui semua kejahatan mereka pasti mereka tidak akan bisa lari ke luar negeri. Di saat itulah data pribadinya dianggap hilang oleh negara," lanjut tuan Luciano memberi solusi tambahan untuk membuat para penjahat itu menerima hukuman mereka setimpal.
"Maksud kamu kita akan menghapus data pribadi para penjahat itu yang dianggap mati oleh negara?" selidik tuan presiden.
"Hanya ini satu-satunya cara kita bisa menghukum mereka agar mereka tidak bisa kabur ke luar negeri?" tanya persiden.
"Betul. Saat mereka tidak bisa pergi ke manapun dan di saat itu hukuman mati akan menanti mereka," ucap tuan Luciano.
"Hebat kamu Luciano. Idemu sangat berlian," puji tuan presiden.
'Itu adalah idenya dari cucu-cucu ku. Aku hanya mengulangi apa yang sudah mereka sampaikan," ucap Luciano merendah.
"Pastinya kepintaran mereka yang diturunkan darimu untuk mereka dan mereka hanya melakukan sisa-sisanya saja," ucap tuan presiden memuji kehebatan cucu kembar tuan Luciano.
......................
Say. Terimakasih banyak atas ucapan dan doa kalian untuk putraku. Terimakasih atas apresiasinya ya begitu menyentuh hati author. Doa yang sama untuk kalian semua aaamiin.