Dikira Pembantu, Ternyata Istri Mafia

Dikira Pembantu, Ternyata Istri Mafia
175. Syok


Pergulatan panas itu berlangsung seru dengan alunan lenguhan menggetarkan setiap rasa dari setiap sentuhan pasangan pengantin baru ini. Keduanya saling bergantian untuk menyenangkan pasangannya seakan ingin berlomba untuk memberikan yang terbaik.


Ghaishan yang perkasa masih ingin menyalurkan hasrat terpendamnya karena ingin mendapatkan hadiah persembahan seorang istri yang terjaga kesuciannya. Impiannya untuk memiliki wanita ini harus ditebus dengan segala pengorbanannya. Dari yang di cuekin oleh Nada hingga wanita ini sendiri yang datang mengakui perasaannya.


Cerita cinta yang singkat tapi penuh dengan air mata. Saat ini keduanya mereguk manisnya malam pertama. Des*ahan yang terdengar erotis itu mengakhirinya dengan peluh dan lelah tentunya setelah kepuasan yang telah mereka raih bersama.


"Apakah sakit?" tanya Ghaishan kuatir karena pria ini cukup tahu diri kalau ukuran miliknya sangat besar untuk menembus liang sempit yang tersegel dari pabrik Tuhannya.


"Sedikit. Selebihnya nikmat," sahut Nada penuh suka. Walaupun sebenarnya perih yang ia rasakan setelah merasakan manisnya bercinta. Tapi demi kebahagiaan suaminya Nada mengabaikan rasa itu.


Ghaishan mencari selimut untuk menutupi tubuhnya, namun sudah teronggok di lantai karena ulah keduanya yang bercinta mengusai area ranjang. Dan beruntung tidak jatuh ke lantai.


"Apa yang kamu cari?" tanya Nada saat Ghaishan berusaha bangkit untuk duduk dan melihat ke arah bawah ranjang.


"Tolong ambilkan selimutnya, baby!" pinta Ghaishan yang mulai terlihat lemah. Namun sekilas kemudian ia tersenyum saat melihat noda darah kesucian istrinya tercecer di seprei putih itu.


"Alhamdulillah ya Robby. Aku yang pertama mendapatkan kegadisannya," batin Ghaishan lalu memegang dadanya seakan ingin memuntahkan sesuatu diiringi batuk.


Uhuk...uhuk...uhuk...


Ghaishan hanya bisa menatap wajah cantik istrinya dengan pandangan mulai kabur. Melihat keadaan Ghaishan, sebagai seorang dokter Nada tahu jika suaminya saat ini tidak baik-baik saja.


"Ghaishan." Nada menyalakan lampu yang lebih terang. Bahkan semua lampu di kamar itu dinyalakan oleh Nada. Di saat itu wajah Nada terlihat pias hingga tubuhnya ikut lunglai.


"Ghaishan. Apa ini...?" tanya Nada dengan suara bergetar terdengar serak.


Ia melihat setiap inci tubuh suaminya di mana bagian dada dan otot perut berbentuk roti sobek itu nampak memar parah. Bahkan terlihat ungu kehitaman.


"Maafkan aku sayang...! Aku tidak kuat lagi," ucap Ghaishan menjatuhkan tubuhnya dalam pelukan istrinya.


"Astaghfirullah halaziiim. Ya Allah... bagaimana ini..?" Nada berusaha tenang tapi tidak dengan batinnya yang ikut terkoyak melihat wajah pucat Ghaishan dengan rembesan darah yang keluar dari hidung bangirnya.


Nada membaringkan tubuh Ghaishan secara perlahan. Ia lebih dulu mengenakan piyama tidurnya berbahan satin itu. Mengambil tas yang berisikan peralatan medis yang selalu ia bawa jika berpergian jauh karena di manapun ia selalu menemukan orang-orang yang jatuh sakit tiba-tiba seperti Ghaishan saat ini.


"Ya Allah. Tolong kuatkan aku dan tolong selamatkan suamiku," Nada memeriksa keadaan Ghaishan dengan stetoskop dan juga senter kecilnya melihat bola mata Ghaishan. Memasang saturasi, memeriksa tekanan darah yang nampak tidak stabil dengan alat tensi.


"Sayang. Apakah kamu masih bisa mendengarkan aku, hmm? Jangan membuatku takut! Kita harus ke rumah sakit sekarang karena saat ini kamu mengalami luka dalam dan juga pendarahan dalam. Jika terlambat sebentar lagi kamu akan muntah darah," ucap Nada sambil mengenakan piyama tidur pada suaminya.


Menghubungi pihak hotel untuk memanggil ambulans di rumah sakit terdekat. Mobil ambulans tiba. Brangkar di turunkan untuk mengevakuasi Ghaishan. Nada melapisi piyamanya dengan mantel panjang dan sepatu boot.


Pihak medis memeriksa keadaan Ghaishan sambil memasang infus dan selang oksigen pada Ghaishan. Merasa tidak puas dengan pelayanan medis di mobil itu, Nada mengeluarkan id card miliknya." Saya seorang dokter. Saya harus ikut andil memeriksa keadaan suami saya," ucap Nada yang gemas dengan dokter yang terlihat lelet menangani suaminya.


"Tapi, ini adalah urusan kami untuk menyelamatkan nyawa suami anda nona," ucap dokter itu membuat Nada ingin meninju wajahnya.


"Kau tahu suamiku ini siapa, hah? Kau kira kami ini pelancong yang sedang berlibur di pantai Florida, hah?" bentak Nada mengeluarkan taringnya.


"Emang kalian siapa? pejabat negara ini?" remeh dokter Tomy pada Nada membuat istri dari Ghaishan ini akhirnya melepaskan juga bogem mentah di tulang hidung sang dokter.


"Augghtt.. sakit!" ringis dokter Tomy sambil memegang hidungnya seakan bengkok.


"Dia lebih dari seorang pejabat karena suamiku adalah astronot NASA yang baru tiba kemarin sore? Masih mau celoteh, hah?" pekik Nada dengan wajah memerah.


Pindah ke tempat lain atau ijin doktermu akan aku cabut!" ancam Nada menakuti dokter Tomy yang langsung menuruti perintah Nada.


Dua orang perawat yang ikut membantu hanya bisa melipat bibir mereka menahan geli karena selama ini dokter Tomy terlalu congkak dengan dirinya sebagai dokter senior.


Nada memberikan suntikan penghilang rasa sakit dan menghentikan pendarahan luka dalam pada suaminya. Hanya morfin yang bisa menenangkan rasa sakit yang hebat pada suaminya yang terlihat kesulitan bernafas tadi.


Tiba di rumah sakit, sudah banyak polisi yang dikerahkan oleh tuan Craig saat dihubungi Nada untuk menjaga keamanan sang pahlawan NASA.


Di ruang IGD, Nada mendampingi suaminya ditemanin oleh tuan Craig yang ikut cemas pada anak buahnya.


"Kamu boleh menangani suamimu di rumah sakit ini untuk bertindak sebagai dokter. Aku sudah bicara langsung dengan direktur rumah sakit ini," ucap tuan Craig.


"Benarkah? Aku boleh melakukannya, tuan Craig," tanya Nada tidak percaya.


"Itu direktur utama rumah sakit ini!" unjuk tuan Craig saat dokter Melendez masuk ke ruang IGD.


"Apakah ini istri dari tuan Ghaishan?" tanya dokter Melendez melihat wajah cantik Nada yang terlihat sangat muda.


"Perkenalkan ini dokter Nada spesialis dokter bedah. Dan dia juga seorang profesor muda di tanah airnya," ucap tuan Craig yang sudah mengetahui biografi Nada melalui Mr. M.


"Semudah ini? Apakah gadis muda ini tergolong super jenius?" tanya dokter Melendez.


"Dia adalah salah satu putri dari agen rahasia FBI. Dan dia salah satu kandidat terbaik untuk agen rahasia FBI selanjutnya," bisik tuan Craig membuat dokter Melendez manggut-manggut penuh segan pada Nada yang terlihat fokus menangani keadaan suaminya.


Setelah dipastikan keadaan Ghaishan sudah aman, Nada baru bisa bernafas lega. Baru di saat itu Nada baru bisa menangis sesenggukan karena melewati ketegangan yang hampir membuat rohnya ikut melompat keluar dari raganya melihat saturasi Ghaishan berada di bawah 50 yang seharusnya normal 90.


"Sayang. Mengapa kamu menipuku? Mengapa kamu ingin melihat aku bahagia tapi kamu malah terluka seperti ini. Pernikahan ini jadi tidak seru lagi tahu...!" serak Nada sambil terisak.


"Dokter Nada. Apakah pasien perlu menggunakan ruang ICU?" tanya suster.


"Tidak perlu. Biar suamiku dibawa ke ruang inap VVIP saja. Aku ingin merawatnya sendiri," ucap Nada.


"Baiklah dokter Nada. Kami tidak keberatan jika anda ingin menggunakan fasilitas rumah sakit ini untuk menjadi dokter pribadi suami anda sendiri. Keberadaan kalian adalah suatu kehormatan besar untuk kami," ucap dokter Melendez penuh rasa hormat pada Nada.


"Terimakasih dokter atas kepercayaannya. Saya tahu saya sudah menyalahi wewenang peraturan Rumah sakit ini. Tapi hanya duduk menunggu di luar sana tidak membuat saya merasa puas. Setidaknya saya harus tahu tindakan pengobatan seperti apa yang harus dilakukan oleh saya untuk mengobati suami saya," ucap Nada bijak.


"Lakukan yang terbaik untuk suamimu, dokter Nada! Jangan cemaskan dokter lain di rumah sakit ini. Biar saya sendiri yang akan menyampaikan siapa kalian berdua pada dokter yang bersangkutan yang harus menangani suamimu," ucap dokter Melendez.


"Baik dokter Melendez. Saya tidak akan lupa dengan jasa baik anda ini," ucap Nada.


"Kalau begitu saya permisi dulu kembali ke ruangan saya," ucap dokter Melendez pada Nada dan tuan Craig.


"Silahkan dokter!"


......................


Vote dan likenya cinta please!