Dikira Pembantu, Ternyata Istri Mafia

Dikira Pembantu, Ternyata Istri Mafia
141. Tidak Mungkin!


Di hotel mewah Four season Istambul, tepat di depan kamar 271 Bunga dan Daffa berada. Daffa memencet tombol kamar itu dengan satu tangannya menggenggam tangan Bunga yang saat ini mengenakan pakaian syar'i lengkap dengan cadarnya agar tidak mudah dikenali oleh penjahat yang sempat melihat wajahnya saat bertempur menjatuhkan Alinskie.


Tidak lama keluar sesosok tubuh yang masih terlihat gagah dengan wajah yang sama persis dengan Daffa hanya beda generasi.


"Masya Allah. Ini tidak mungkin!" batin Bunga melihat kemiripan suaminya dengan tuan Darwis.


"Selamat pagi Daffa. Aku sudah menunggumu sejak tadi dan ini...?" tanya Darwish yang sudah tahu itu istrinya Daffa.


"Bidadariku. Hidupku. Segalanya bagiku," itu yang digambarkan Daffa tentang Bunga di hadapan ayah kandungnya.


Bunga menyalami Darwish yang tersenyum padanya." Oh iya, hampir lupa menawarkan kalian masuk. Silahkan masuk..!" tawar Darwish.


"Bukankah kita mau mengunjungi istri anda, tuan Darwis? ayolah. Aku sudah tidak sabar melihat secantik apa istrimu hingga membuat hatimu terkunci mati untuk wanita lain," ucap Daffa dengan candaan ringan.


"Baiklah. Kita berangkat sekarang. Semoga kamu senang bertemu dengannya," harap Darwis seakan ingin mengatakan kamu pasti senang bertemu dengan ibu kandungmu.


Daffa yang mengendarai mobil milik kakek Salim membawa ayahnya dan istrinya menuju kantor polisi untuk bertemu dengan Bundanya Daffa yaitu nyonya Cyra.


*


*


Di kantor polisi, nyonya Cyra kembali di kawal oleh polisi menemui tiga orang yang sangat dicintainya. Wajahnya masih tertunduk dengan rambut terurai menutupi wajahnya dan kedua tangannya diborgol.


Entah mengapa jantung Daffa seakan ingin berhenti dengan nafasnya yang terasa sangat sesak." Daffa ...itu!" desis Bunga yang sudah mengenal dekat ibu kandung suaminya. Tubuh Bunga terhuyung beberapa langkah ke belakang. Ia tidak percaya jika Darwish mengatakan itu istrinya.


"Ya Allah. Bagaimana mungkin nyonya Cyra dan tuan Darwish adalah suami istri? bukankah nyonya Cyra adalah istrinya tuan Murrad?" batin Cyra beradu argumen dengan pikiran yang sulit mencerna kisah pelik ini.


Polisi membuka borgol nyonya Cyra lalu mempersilahkan Cyra duduk.


"Cyra, sayang. Lihatlah...! siapa yang aku bawa," ucap Darwish membuat Cyra mengangkat wajahnya perlahan menatap wajah yang ingin dilihatkan Darwish padanya.


"Dia....?" Cyra melihat wajah Daffa dan Darwish secara bergantian dengan air mata yang sudah mengembang di kelopak mata indahnya.


"Apakah dia adalah....?" suara serak itu tidak mampu lagi melanjutkan perkataannya karena takut membuat Daffa kecewa padanya.


Sementara Bunga dan Daffa hanya menyaksikan adegan demi adegan dan tutur kata Cyra yang putus-putus karena hanya kedua orangtuanya saja yang mengerti.


"Iya sayang. Dia adalah putra kandung kita karena tes DNA Daffa sama denganku dan aku membawa buktinya," ucap Darwish membuat pengantin baru ini sontak kaget bukan main.


"Apaaaa.....?" pekik keduanya tidak percaya pada tuan Darwish yang tidak bisa lagi menahan diri untuk membongkar semuanya.


"Apa-apaan ini, tuan Darwish? lelucon seperti apa yang sedang anda perankan, hah?" bentak Daffa dengan intonasi suaranya yang sedikit meninggi membuat Bunga mengelus dada suaminya yang terlihat syok mendengar pengakuan Darwish.


"Tidakkkk ....! aku bukan ibu kandungnya. Kamu salah Darwish. Anak kita sudah mati," tegas Cyra sambil menggelengkan kepalanya dengan cepat. Air mata itu makin deras dengan kerinduan yang begitu mendalam pada putranya.


"Sayang. Kenapa kamu takut mengakuinya, hmm? semuanya sudah berakhir. Kini Murrad sudah tertangkap dan aku sudah telusuri kebenarannya di mana kamu meminta dokter April agar menukar putra nyonya Nayla yang meninggal paskah melahirkan dengan putra kita Daffa untuk melindungi dia dari Murrad, bukan? kasihan putraku, Daffa.


Sampai kapan kamu merahasiakan keberadaannya di dunia ini, Cyra?" pekik Darwish makin membuat dada Daffa terasa sesak hingga air matanya tidak bisa lagi ia bendung.


"Hentikan kegilaan ini! stop tuan Darwish! aku bukan anak kalian! aku ...aku ...!" Daffa kehilangan kata-katanya karena sangat syok.


"Sayang....ku mohon. Kuatkan hatimu!" hibur Bunga.


"Bunga. Ayo kita pulang sayang! ini sudah tidak benar. Ngaco..tahu, nggak!" ajak Daffa pada Bunga yang nampak bingung dan merasa serba salah karena kedua orangtua ini juga adalah mertuanya.


"Daffaaaa...! ku mohon dengarkan penjelasan ibumu dulu atau ayahmu, hmm..!" pinta Bunga yang juga ikut menangis mendengar kenyataan ini.


Sehebat apapun Bunga, tetap saja di mata Daffa dia adalah seorang istri yang harus menuruti perintah suaminya." Baik sayang kita pulang," ucap Bunga yang langsung pamit pada kedua mertuanya.


"Ayah. Maafkan Bunga. Bunga pulang dulu. Bunda Cyra. Masih ingat denganku, Bunda Cyra?" tanya Bunga seraya membuka cadarnya memperlihatkan wajahnya pada Cyra yang tersentak saat tahu Bunga adalah istri dari putranya.


"Kau...?" desis Cyra terperangah." Kami baru menikah beberapa hari yang lalu," ucap Bunga lalu mencium kedua pipinya Cyra sambil menangis.


"Maafkan aku.... maafkan juga suamiku...!" ucap Cyra menutup lagi wajahnya dengan cadar tanpa mau mendengarkan Cyra yang ingin menanyakan sesuatu kepadanya.


Bunga berjalan buru-buru sambil mencari-cari tubuh tinggi tegap itu karena tinggi Daffa 190cm dan Bunga 170 cm.


"Daffa...! berhenti. ....! aku belum kuat mengejarmu," ucap Bunga dengan ngos-ngosan menghampiri Daffa yang kembali lagi menjemput istrinya karena paru-paru Bunga belum kuat untuk dibawa lari cepat.


Tanpa banyak bicara, Daffa menggendong ringan tubuh Bunga membawa wanitanya ke mobil karena parkiran mobil mereka letaknya cukup jauh dari gedung kepolisian itu.


Bunga memeluk leher kokoh itu menempatkan lehernya ke dada bidang Daffa tanpa ingin bicara apapun. Pintu mobil dibuka oleh Bunga dan Daffa mendudukkan tubuh istrinya di jok mobil lalu memasang seat belt pada tubuh Bunga dengan wajah tertekan menahan kesedihan. Bunga melepaskan lagi seat beltnya membuat Daffa menatapnya tajam.


"Duduklah di sini dan pangku aku, hmm!" ucap Bunga untuk menghibur suaminya.


"Kita pulang. Dan jangan cari sensasi di sini!" ucap Daffa datar lalu masuk ke mobil, menyalakan mesin dan meninggalkan gedung itu menuju ke rumah kakek Salim.


Dalam perjalanan pulang, keduanya tampak terdiam dengan pikiran mereka masing-masing. Bunga hanya bisa istighfar untuk menetralkan perasaannya kini. Daffa menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi dan Bunga tahu Daffa ingin mengusir kegundahannya.


"Mengapa hidupku terlalu sial Bunga? memiliki ayah Gavin seorang pengkhianat negara dan sekarang mengetahui ibuku hanya seorang wanita simpanan seorang mafia," ucap Daffa sambil mengusap air matanya berkali-kali dengan tetap fokus menyetir.


"Sayang. Jika hidup kita di suruh Allah untuk bisa memilih, semuanya akan memilih yang terbaik untuk dirinya. Sayangnya, kita tidak diberi pilihan namun diperintahkan untuk menjalaninya saja.


Jika kamu yang terpilih berada diantara kedua belah pihak dengan takdir yang menyakitkan, karena Allah mempercayakan dirimu karena hanya kamu yang bisa melewati ujian yang diberikan oleh-Nya. Hanya kamu yang mampu, Daffa.


Kalau ada yang berani menghinamu karena memiliki ayah angkat yang zholim dan ibu kandung yang menyedihkan, coba suruh mereka menempatkan diri mereka di posisimu! apakah mereka sanggup menerimanya? belum tentu sayang. Mereka hanya bisa nyinyir. Menertawakan diri mereka sendiri karena mereka bukan manusia pilihan yang Allah ingin angkat derajatnya.


Lihatlah...! bagaimana cara Allah mempertemukan kita dengan takdirnya. Siapa yang menyangka jika misiku kali ini membekuk tuan Murrad yang telah menghancurkan pernikahan kedua orangtuamu dan memisahkan kalian bertiga.


Allah menyatukan kembali kalian dalam situasi yang berbeda. Apakah kamu tidak melihat kisah ibuku yang hampir puluhan tahun baru bisa bertemu dengan kakek kandungnya di sini. Jika aku tidak dibuat tenggelam, apakah ibuku bisa bertemu dengan kakek Salim? kisah kalian hampir sama hanya berbeda cara menjalankannya.


Bersyukurlah kamu masih bisa bertemu dengan kedua orangtua kandungmu Daffa. Bagaimana dengan anak yatim-piatu yang sudah tidak memiliki keduanya? bandingkan nasibmu yang tidak berakhir di panti asuhan, Daffa.


Berterima kasihlah kepada ibu kandungmu yang rela memberikan darah dagingnya pada orang lain hanya untuk melindungimu jika tahu kamu adalah seorang putra intelijen Amerika yang sedang mencari informasi tentang Murrad melalui ibumu sebagai informannya dan ironisnya ibumu itu adalah nyonya Cyra yang sudah aku kenal sebelumnya dan karena beliau aku dapat menangkap tuan Murrad dan putranya Alinskie," ucap Bunga.


Daffa mempercepat kecepatan mobilnya berhenti di pinggir pantai yang nampak sepi lalu membuka seat beltnya dan memagut bibir istrinya.


Bunga melebarkan matanya menerima serangan tiba-tiba Daffa dan mengimbangi ciuman Daffa yang sudah menarik tubuhnya untuk duduk di pangkuannya.


Suara decapan ciuman panas keduanya bersahutan dengan suara pecahan ombak yang mencium bibir pantai. Saat keduanya bergumul panas didalam sana, salju turun dengan derasnya dan Daffa makin gila mencumbui istrinya merasakan serpihan salju itu jatuh di atas atap mobil menutupi setiap kaca mobil hingga bunga es itu menyelimuti mobil menghalangi pergerakan keduanya di dalam sana yang sedang bercinta di jok belakang mobil.


Beruntunglah area itu nampak sepi membuat keduanya menikmati percintaan panas mereka dengan lenguhan dan erangan yang membuat keduanya benar-benar menikmatinya momen bulan madu itu.


"Daffa...! ehmmmm!" de$ah manja Bunga di atas pangkuan Daffa dengan liukan tubuh yang mengundang hasrat sang suami yang menatap tubuh polos itu dengan belahan dada sekang yang memaksanya untuk meremasnya lembut.


"Bunga. Kau datang di saat yang tepat karena aku butuh kamu melewati kepedihan hidupku saat ini. Terimakasih ya Allah, menitipkan bidadari ini sebagai penawar laraku kini," batin Daffa penuh syukur saat melepaskan cairan kenikmatan miliknya menghujam beberapa kali ke dalam rahim istrinya.


.....


Vote dan likenya cinta, please!