
Nada dan Ghaishan sedang mendengarkan penjelasan Ghaida yang didampingi oleh saudara kembarnya Ghazali. Saat ini, Ghaida terlihat menggemaskan memakai jas putih khusus lab yang menenggelamkan tubuh mungilnya.
Dengan tongkat panjang berbentuk antena yang bisa di atur panjang pendeknya, Ghaida mulai bersuara.
"Ini serum yang saya temukan hasil dari di setiap darah para pasien yang sudah kita teliti. Karena virus kimia ini tersebar melalui udara, maka akan masuk bersama oksigen yang kita hirup yang akan mengalir ke jantung lalu dari jantung memompa ke otak lalu dari otak menyebar kembali ke seluruh tubuh," jelas Ghaida.
"Kalau itu mommy sudah tahu. Sekarang jelaskan bagaimana cara kerja kamu bisa menemukan serum?" desak Nada menahan gemas pada putrinya yang sangat jenius ini.
"Serum yang saya temukan yaitu pada darah manusia yang tidak terpapar oleh virus itu padahal mereka berada lebih dekat dengan penderita. Rata-rata dari manusia yang tidak terpapar virus tersebut karena mereka selalu menjaga kesehatan tubuhnya dengan melakukan ibadah puasa Sunnah. Karena rata-rata orang yang berpuasa secara rutin, imun pada tubuhnya lebih kuat dibandingkan orang yang tidak melakukannya karena lambung mereka kosong atau dalam keadaan istirahat.
Ini bisa dilihat pada penderita diabetes, yang darahnya selalu diambil sebelum dia makan dan jumlah gula darahnya stabil. Tapi saat sesudah makan, gula darahnya mulai meningkat tajam.
Makanya kenapa penderita diabetes di anjurkan untuk puasa agar jumlah gula darahnya menurun karena lambungnya di buat kosong sehingga tidak memproduksi gula dalam darah. Nah, darah bagi yang berpuasa sepuluh kali lebih bersih dan tidak akan mudah terkena virus karena kekuatan imunnya kebal akan penyakit.
"Bagaimana kamu bisa membuktikan kalau itu adalah serum yang bisa menyembuhkan pasien, sayang?" tanya Ghaishan.
Ghaida mengigit sudut bibirnya menjawab penuh ragu karena tahu bakal diomelin oleh kedua orangtuanya itu.
"Lho kok diam? kenapa nggak dijawab?" tanya Nada.
"Karena Ghaida....-"
"Dia menjadikan dirinya sendiri sebagai kelinci percobaan Daddy dengan cara melakukan transfusi darah pasien terpapar virus itu ke dalam darahnya untuk menguji kekebalan tubuh kita yang sering melakukan puasa Sunnah Senin Kamis," sambar Ghazali yang melihat kenekatan saudara kembarnya ini mengorbankan jiwa raganya untuk menemukan serum itu.
"Astaghfirullah halaziiim, baby!" pekik Nada dan Ghaishan syok dengan aksi nekatnya Ghaida.
"Maaf mommy, daddy. Aku tidak sanggup melihat wajah sendu kakek yang merasa gagal melindungi rakyatnya. Lebih baik kehilangan harta dan nyawa dari pada kehilangan reputasi yang dibangun kakek demi negaranya," ucap Ghaida menahan sesak di dadanya.
"Tapi bagaimana kalau hasil uji coba penemuan kamu itu gagal dan kamu menjadi korban berikutnya?" geram Nada antara haru dan juga cemas menghadapi putrinya.
"Ghaida tidak sembarangan melakukannya Daddy, mommy karena Ghaida meminta petunjuk Allah dalam sholat istikharah. Apakah itu baik atau buruk jika di transfusikan darah orang berpuasa itu ke dalam ke tubuh pasien.
Kalau terlalu lama berpikir, maka negara kita akan kacau karena tekanan dari pihak luar akan meminta pertanggungjawaban opa Amran sebagai pemimpin negara Indonesia," timpal Ghaida sendu.
"Sayang. Mommy tahu niat tulus kamu,. tapi tidak perlu berkorban sejauh itu karena usiamu yang belum cukup umur untuk menjadi dirimu sebagai kelinci percobaan," ucap Nada memeluk putrinya.
"Mommy. Hati kecilku yang memintaku untuk melakukan itu. Suara hati kecil kita adalah kebenaran hakiki. Beda dengan nalar kita yang selalu ditunggangi oleh setan yang menyesatkan kita," dalih Ghaida dengan menjadikan agama sebagai senjata pamungkas untuk meredakan kegundahan keduanya orangtuanya.
"Baiklah. Kalau begitu kita akan mengabarkan kabar baik ini pada opa Amran," ucap Ghaishan.
"Apakah kita akan pulang ke Indonesia, mommy?" tanya Ghaida sangat girang.
"Nanti, setelah wabah ini mereda," ucap Nada.
"Jadi, kota Jakarta lagi diisolasi mommy?" tanya Ghazali.
"Iya sayang."
"Yah...!" keduanya terlihat kecewa.
...----------------...
Begitu mengetahui darah orang berpuasa rutin bisa dijadikan serum untuk mengobati pasien yang terpapar virus kimia itu, kini rumah sakit PMI mengadakan aksi menerima para pendonor yang ingin mendonorkan darahnya untuk para pasien terpapar virus tersebut.
Amran begitu bersyukur karena warga Jakarta yang sehat datang ketempat palang merah Indonesia untuk mendonorkan darah mereka untuk kepentingan para pasien yang terpapar virus kimia tersebut.
Para pendonor diperiksa kadar darahnya yang mengandung unsur oksigen tinggi karena darah orang yang rutin melakukan puasa Sunnah saja yang bisa melakukan donor darah.
Ada jumlah presentase sendiri untuk mendapatkan kantong darah yang terbebas dari segala jenis penyakit karena darah yang dibutuhkan oleh pasien virus kimia tersebut adalah darah murni.
"Maaf kak. Ada masalah dengan darah anda," ucap suster PMI itu.
"Maksudnya apa suster?" tanya pemuda itu.
"Saya tidak bisa menjelaskannya karena dokter yang lebih berhak menjelaskan kepada kakak," ucap suster.
"Baiklah. Terimakasih...!" ucap pemuda itu.
Dalam dua hari, rumah sakit PMI sudah mengumpulkan banyak kantong darah untuk di sebarkan ke seluruh rumah sakit yang menampung para pasien yang terpapar virus kimia tersebut.
Kedua cucu Amran yaitu Zacky dan Zacklin yang menerima donor darah milik kakek mereka sendiri karena darah keduanya sama dengan Syakira, sementara Amran tidak tega Syakira yang mendonorkan darah untuk anak-anaknya. Adam sendiri darahnya sama dengan baby Zea. Namun baby Zea tidak sakit.
Dalam dua hari kemudian, reaksi dari tubuh pasien mulai menunjukkan tanda-tanda pulih. Imun tubuh mereka mulai kebal kembali dan ISPA yang mereka derita hilang begitu saja.
Rupanya virus itu menyerang imun tubuh setelah itu korban akan merasakan dehidrasi dan selebih mengalami demam tinggi, radang tenggorokan, batuk dan flu berat.
"Alhamdulillah. Upaya kita berhasil. Keadaan pasien benar-benar pulih," ucap para tenaga medis di setiap rumah sakit yang memproklamirkan kesembuhan penyakit dari virus kimia itu pada kementerian kesehatan yang begitu bahagia karena langkah mereka tepat setelah mendapatkan penemuan serum unik dan sederhana yang dilakukan oleh Ghaida.
"Bapak presiden. Serum yang ditemukan nona kecil Ghaida berhasil mengobati para pasien dan pasien terbebas dari virus tersebut," ucap menteri kesehatan membuat Amran sangat bahagia.
"Ini kabar baik untuk kita," ucap Amran saling bersalaman dengan menteri kabinetnya.
Tidak lama kemudian, ada kunjungan dari cucu kembar Amran yaitu Hanan dan Hanin, putra dari Arsen dan Cintami ke istana negara. Mereka ingin bertemu dengan Amran secara resmi sebagai warga negara untuk memamerkan hasil temuan mereka.
Amran memperlakukan mereka sebagai anak bangsa bukan sebagai cucunya. Pemuda berusia empat belas tahun ini yang baru lulus dari kampus ternama di Amerika yaitu teknologi dan sains.
"Ada apa sayang, apakah ada sesuatu yang kalian ingin lakukan untuk negara?" tanya Amran.
"Iya Opa. Kami berhasil menemukan serum untuk menyebarkan kembali ke udara Jakarta untuk membersihkan sisa-sisa virus kimia yang masih menganggu aktivitas warga Jakarta dan sekitarnya," ucap Hanin.
"Bukan hanya membersihkan virus itu saja, serum yang kami temukan ini mampu membersihkan polusi udara kota Jakarta yang sudah tebal seperti kabut hingga pemandangan langit Jakarta tidak secerah mentari pagi.
Dengan serum ini, kita bisa mengurangi tingkat polusi di Jakarta agar menurun secara drastis dan mudah-mudahan hilang," ucap Hanan di hadapan Amran dan para jajaran menterinya yang mendengar ucapan pemuda 14 tahun ini.
"Bagaimana cara kerjanya?" tanya Amran penasaran.
"Sama seperti melakukan modifikasi cuaca yaitu hujan buatan di mana para TNI angkatan udara siap membantu untuk menaburkan garam(NaCL) di setiap kantong awan untuk mempercepat proses terjadinya hujan.
Namun serum ini tidak membahayakan bumi Pertiwi karena resapan airnya akan menjadi subur jika bersentuhan dengan tanah," imbuh Hanin.
"Adapun indikator yang mempengaruhi proses cepat atau lambat turun hujan setelah penaburan serum ini adalah ukuran awan serta kondisi lingkungan di sekitar awan seperti kelembaban, temperatur, kecepatan angin dan supply massa udara," timpal Hanan.
Kedua remaja ini sangat antusias saat menjelaskan penemuan baru mereka yang langsung menangkap setiap partikel udara yang menyimpan virus itu akan dibasmi oleh serum ciptaan mereka.
Amran menahan rasa bangga dan harunya pada kedua cucunya itu yang ikut memberikan kontribusi untuk negara dan masa pandemi itu. Ia ingin memeluk cucu kembarnya ini setelah sudah tidak ada orang lagi di hadapan mereka.
Amran memerintahkan komandan marsekal muda TNI AU yaitu menantunya Daffa untuk mempersiapkan pesawat Hercules untuk menyebarkan serum yang sudah tercampur dengan garam untuk membantu terjadinya proses awan mendung di atas langit ibu kota Jakarta.
"Tapi, tidak membuat ibu kota Jakarta banjirkan, Hanan, Hanin?" seloroh wakil presiden dan membuat semuanya terkekeh.
"Insya Allah pak, mudah-mudahan saja tidak terjadi. Tapi, hujan juga membawa berkah lho pak," imbuh Hanan dengan canda yang sama.
Jadi, jika datangnya musim hujan, dihimbau warganya tidak mengeluh akan hujan tapi tetap bersyukur karena hujan adalah berkah langsung dari langit Allah yang dikirimkan Allah untuk kesejahteraan manusia. Kalau banjir, itu resiko yang kita harus hadapi bukan mengeluh.
Dalam beberapa jam, agar tidak menganggu aktivitas warga, penyebaran serum temuan kedua cucu presiden itu dilakukan sore hari agar hujan bisa terjadi di malam hari.