
Nabilla dan Amran berkenalan dengan Dillon dan Molly. Mereka masuk ke dalam kemah itu untuk menikmati makan siang bersama. Cinta dan Bunga sudah memasak untuk keluarganya.
Kedua gadis ini mendapatkan beberapa jenis sayuran yang tumbuh di sekitar hutan itu. Beberapa sayuran seperti kubis dan wortel yang sempat mereka dapatkan. Nabilla juga sudah membeli beberapa makanan halal yang ia dapatkan di restoran di kota Moskow.
Hobi memasaknya Nabila diturunkan kepada ketiga putrinya yang mengikuti jejak sang ibu. Melalui masakan yang kita masak sendiri akan menambah bumbu kelezatannya jika di masak dengan tulus. Bukan terletak pada bahan masakannya.
Itu yang ditanamkan Nabilla pada ketiga putrinya. Walaupun begitu kedua putranya juga ikut belajar memasak agar saat sendirian jauh dari keluarga mereka bisa memasaknya.
Dillon menikmati masakan itu dengan aroma bumbu khas Indonesia yang asing baginya tapi ia sangat menyukainya. Nabilla juga membawa kue dan makanan snacks lainnya untuk menemani mereka saat pesta rusa panggang nanti malam.
Nabilla mulai interogasi Dillon usai makan siang bersama. Mulai dari urusan keluarga hingga keyakinan Dillon." Kalau boleh tahu, apa agamamu Dillon?"
"Saya seorang ateis Tante," ujar Dilon.
"Apakah keluargamu juga punya keyakinan yang sama denganmu?" tanya Amran.
"Tentu saja, paman," sahut Dilon.
"Berarti kamu juga mencari jodoh dengan wanita yang sepaham denganmu?" tanya Bunga.
Nada tercekat saat Bunga menanyakan itu dan Dillon nampak berpikir sejenak.
"Entahlah. Aku belum kepikiran untuk berumah tangga karena usiaku masih muda dan juga mimpiku masih panjang. Ada banyak hal yang ingin aku wujudkan tanpa embel-embel nama besar kelurgaku," timpal Dillon.
"Aku tidak menanyakan kamu kapan nikahnya. Tapi yang ingin aku tanyakan bagaimana jika kamu jatuh cinta pada orang yang memiliki keyakinan? maaf saja dalam Islam tidak dianjurkan untuk menikah dengan agama lain apalagi menikah dengan yang tidak memiliki keyakinan.
Jika ada yang kawin campur itu karena keinginan mereka yang menghalalkan segala cara agar bisa bersama walaupun dalam agama Islam sangat ditentang karena tidak ada satu ayat pun yang menyebutkan boleh kawin campur," tegas Bunga sekaligus memberi penekanan pada Nada agar tidak tergoda dengan ketampanan Dillon.
Bagi keluarga Amran dan Nabilla, tidak masalah dengan jodoh berasal dari manapun asalkan satu aqidah dengan begitu akan terjaga keturunannya yang akan kembali berkumpul di surganya Allah. Jika tidak satu keyakinan, maka sulit bagi kedua orangtua untuk membentuk karakter anak dan itu sangat menyedihkan.
Dillon nampak terdiam. Ia sama sekali tidak berpikir ke arah hubungan yang serius seperti pernikahan. Nada terdiam dan berusaha untuk tidak terjebak dalam perasaannya saat ini pada Dillon. Jika kembalikan lagi urusan hati kita pada Allah, cukup Allah saja yang membolak balikan hati manusia.
"Sudahlah. Jangan dibahas sesuatu yang terlalu sensitif. Semua orang memiliki prinsip. Lagipula Dillon tidak mungkin menyukai adikku, Nada kan?" sarkas Daffa.
"Cih...! kenapa laki bini ini kompak nyerang teman gue?" gerutu Nada membatin.
Dillon tersenyum kecut dan dia memilih untuk pamit pulang. Ia tidak ingin menjawab pertanyaan yang diajukan Daffa barusan. Jika dia salah menjawab maka akan menyakiti hati Nada. Cukup waktu yang akan menjawab perasaannya pada gadis yang sempat membuat jantungnya berdenyut berdebar.
"Permisi Tante, paman, Nada. Kami mau balik lagi ke villa dulu. Terimakasih untuk makan siangnya. Makanannya sangat lezat," ucap Dillon lalu melirik ke arah Molly yang sedang bermain dengan anak buahnya Amran di luar sana.
"Kalau kamu punya waktu nanti malam, datanglah ke sini karena kami sedang pesta kecil-kecilan untuk kakak kembar tiga nya Nada. Ulang tahun Adam Bunga dan Cinta yang ke 18 tahun," ucap Amran.
"Saya akan sempatkan untuk datang. Terimakasih sebelumnya paman. Bye...!" Dillon bersalaman dengan Amran, Adam, El dan juga kedua menantunya Amran.
"Ok. Sampai jumpa lagi Molly...!" Nada memeluk tubuh Molly yang sangat harum karena Dilon selalu memandikan Molly dan menyemprotkan parfum khusus untuk binatang peliharaannya itu.
Molly menyalami keempat wanita cantiknya Amran lalu naik di motornya Dillon. Keduanya meninggalkan kemahnya keluarga Amran.
Nabilla langsung mencari data tentang Dillon setelah mencari tahu konfirmasi tentang Dillon dari putrinya Nada. Mata Nabilla melebar seakan tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Ia lalu menatap wajah putrinya.
"Tenang saja mommy! aku tidak mungkin menyukainya. Bukankah Dillon bilang sendiri jika dia tidak berniat untuk menikah muda karena banyak obsesinya yang belum terwujud," timpal Nada meyakinkan keluarganya walaupun saat ini hatinya langsung patah jadi dua.
"Sini sayang sama Daddy!" Amran menarik tubuh putri bungsunya itu lalu memeluknya." Tenang saja, yang kita kira baik buat kita belum tentu baik menurut Allah. Jangan pernah ragu akan janji Allah karena setiap kekecewaan yang kita rasakan pasti digantikan Allah dengan yang lebih hebat dari yang kita pinta, hmm!" Amran membesarkan lagi hati putrinya itu.
"Aku sangat mencintaimu, Daddy dan belum saatnya aku membagikan cintaku pada pria lain," ujar Nada untuk menghibur hatinya.
"Kamu kira cinta kami berkurang pada daddy karena kami lebih cepat menikah!" semprot Bunga.
"Ssssttt....sudah ..! jangan berdebat...! Bagaimana juga Daddy tetap menjadi milik mommy," ucap Nabilla menghibur ketiga putrinya.
Semuanya terkekeh lalu kembali membahas apa yang terjadi pada misi ibu mereka pagi tadi. Nabilla menceritakan semuanya. Dan keluarganya menarik nafas lega saat mendengar itu. Tidak lama Cinta mendapatkan pesan dari tuan Kenneth untuk membebaskan Yuri dari tahanan polisi karena Vadim telah mengkambinghitamkan anak itu atas tuduhan pembunuhan mahasiswa yang mereka culik.
"Astagfirullah. Kenapa Yuri jadi tumbalnya tuan Vadim. Pantas aku cari dia tidak pernah ketemu ternyata ada di penjara. Besok aku harus membebaskan dia dulu sebelum pulang ke tanah air," batin Cinta yang tidak mau membahas Yuri pada keluarganya karena saat ini mereka sedang menghibur Nada yang lagi galau.
Malam tiba. Salju tidak turun saat ini. Semuanya duduk melingkari api unggun. Sementara ketiga anak buahnya Amran memanggang daging rusa. Mereka sedang membahas hal serius mengenai beberapa hal yang berhubungan dengan misi-misi selanjutnya.
Sejak tadi, Nada menanti kedatangannya Dillon namun pria bermata hijau itu tidak nampak juga batang hidungnya hingga pukul 10 malam. Daffa dan Adam sedang bertugas mengecek keadaan sekitar pondok mereka takut-takut ada serigala datang mengunjungi tempat itu karena aroma daging rusa merangsang penciuman mereka.
Namun mereka tidak bisa mendekati area karena Nada sudah menabur cairan kimia di sekitar area itu yang bisa membuat binatang buas tidak bisa mengendus bau manusia.
"Ok. Daging rusanya sudah matang. Ayo kita makan bersama!" ajak Amran pada keluarganya dan juga anak buahnya.
Malam itu terlihat lebih ceria karena satu sama lain saling bercanda dan menciptakan tawa. Hingga pukul 11 malam, salju turun sangat deras. Keluarga itu masuk dalam tenda dan memilih untuk cepat tidur karena mereka harus berangkat lebih pagi.
Nabilla dan Amran memohon kepada Allah untuk menjaga mereka malam itu dari serangan binatang buas dan badai salju yang turun makin deras. Beruntunglah mereka membawa kasur karet yang bisa menghangatkan tubuh mereka. Walaupun ada mesin penghangat ruangan itu.
Menjelang pagi tiba, mereka hanya sarapan roti dan minum susu, teh dan kopi. Selebihnya mereka ingin makan di kota Moskow karena Amran sudah booking kamar untuk kelurganya.
Tiga helikopter sudah datang menjemput mereka. Nada sedari tadi gelisah menunggu kedatangan Molly fan Dillon yang tidak terlihat sampai saat ini. Semuanya sudah masuk ke helikopter mereka. Hanya Nada yang masih berdiri sambil melihat ke arah datangnya Molly dan Dilon yang tetap tidak terlihat.
"Selamat tinggal Dillon dan Molly! Aku senang melukis sepenggal cerita pertemuan kita yang singkat ini. Semoga selalu sehat...!" lirih Nada lalu berlari ke arah helikopter yang langsung disambut sang ayah menarik tangan putrinya.
Helikopter mulai mengudara dan Molly baru datang ke tempat itu sendirian tanpa Dillon. Molly menatap sedih ke arah helikopter yang membawa pergi gadis yang sangat ia sayangi itu. Yang lebih sedihnya, Molly membawa seikat bunga yang di petiknya di rumah kaca milik Dillon yang akan ia serahkan ke Nada.
Di dalam helikopter, Nada sekuat tenaga menahan kesedihannya di dalam dadanya yang terasa sangat sesak saat ini. Ia tidak ingin menunjukkan kesedihannya di hadapan keluarganya.
"Apakah sesakit ini orang yang sedang di landa asmara?" batin Nada sambil melihat ke bawah di mana mereka melewati diatas villa milik Dillon. Yang mengejutkan Nada, Ada tulisan di kain. yang terbentang di balkon rumah Dillon.
"I love you Nada. Good bye my girl. See you again again. I am so sorry..!"
"Dillon...!" pekik Nada tertahan membaca bacaan itu.
Helikopter bergerak cepat meninggalkan kawasan hutan itu yang menorehkan sejarah indah untuk keluarga Amran.
Vote dan likenya cinta please!