
Devan menggeleng cepat. Ia tidak tahu menahu atas kecurigaan Nabilla padanya." Aku tidak menceritakan apapun tentang hubungan kita mbak, pada orang lain. Paling asistenku yang mengetahui kalau aku sedang mengincar Lea. Dan aku rasa dia tidak akan berani melakukannya. Tapi, mbak Nabilla juga bisa memeriksa sendiri dirinya. Apakah Beno punya hubungan dengan musuh-musuh mbak Nabilla atau tidak," ucap Devan meyakinkan keluarganya.
Nabilla kembali mengerutkan alisnya sambil berpikir keras siapa yang berani memberikan informasi intern keluarganya dengan pihak luar.
"Mas. Ada yang Nabilla curigai, tapi Nabilla harus menyelidikinya terlebih dulu agar tidak terjadi fitnah. Untuk saat ini, Nabilla tidak bisa mengatakannya pada kalian. Biar Nabilla simpan sendiri orang-orang yang menjadi target buruan Nabilla," ucap Nabilla membuat ambigu bagi ketiga pria tampan yang ada di hadapannya.
"Baiklah. Sebaiknya kita lihat keadaan Lea dulu. Kita juga harus korek informasi dari Lea mengenai kedua sahabatnya yang berengsek itu yang sekarang sudah diamankan oleh Arland," ucap Amran sambil bangkit berdiri.
"Iya mas. Kita lihat dulu keadaan Lea."
Keempatnya ke kamar inap Lea yang dulu di tempati oleh Nabilla. Dokter Mariska yang menjelaskan langsung keadaan Lea yang sudah berangsur membaik.
"Pengaruh obat perangsang itu sudah hilang dari tubuhnya. Sebentar lagi dia akan sadar," ucap dokter Mariska yang memperlambat tetesan cairan infus Lea agar gadis itu segera bangun.
Semenit kemudian, Lea membuka matanya sambil menahan rasa pusing di kepalanya menatap orang-orang yang ada di sekitarnya dari pandangannya yang kabur lalu berganti terang benderang.
"Kak Nabilla. Apa yang terjadi padaku?" tanya Lea lirih.
"Kedua sahabatmu telah menjebakmu dengan minuman yang sudah dicampur dengan obat perangsang. Mereka ingin menjualmu, entah pada siapa karena kedua rekening mereka belum ada uang yang masuk. Mungkin kamu mengetahui sesuatu, Lea?" tanya Nabilla.
"Aku tidak mengetahui apa-apa kak. Kenapa mereka sangat jahat kepadaku? apa salahku pada mereka?" tanya Lea menahan geram pada kedua sahabatnya itu.
"Kamu tidak punya salah apapun kepada mereka, Lea. Keadaanlah yang memaksa mereka yang menjadikan kamu sebagai alasan balas dendam mereka pada kamu. Jadi jangan menyalahkan dirimu. Mulai sekarang kamu harus lebih selektif memilih teman. Sama seperti kita menyeleksi siapa pasangan yang cocok untuk mendampingi hidup kita," nasehat Nabilla bijak.
"Lea belum memikirkan untuk menikah kak Nabilla. Lea belum memikirkan untuk punya anak," ucap Lea.
"Kita nikah saja dulu, Lea. Soal anak, tidak perlu buru-buru. Yang penting aku ingin melindungimu," ucap Devan spontan membuat Lea terhenyak.
"Emang siapa yang mau menikah sama kak Devan? kapan kita jadiannya, kak Devan? tidak ada hujan dan angin, kenapa kakak Devan tiba-tiba ngomong seperti itu?" tanya Lea beruntun membuat yang lainnya mengulum senyum mereka menahan tawa.
Wajah Devan terlihat memerah menahan malu serta gelagapan. Ia melihat wajah-wajah yang ada di depannya seolah sedang menertawakan dirinya yang nekat melamar Lea. Devan menarik nafasnya dan tidak ingin kalah langkah. Ia harus mengeluarkan jurus lain untuk meredam guncangan rasa gugupnya ketika diserang oleh Lea yang menjatuhkan mentalnya.
"Untuk melamarmu, tidak perlu pendekatan. Lebih baik langsung nikah saja dulu dan pendekatan bisa dilakukan setelahnya. Jangankan pendekatan, jadi pelayanmu juga aku rela, Lea. Asalkan kamu bersedia menikah denganku. Aku tidak akan menghambat pendidikanmu karena itu hakmu. Hanya aku yang bisa melindungimu selain Allah yang menjaga cinta kita nantinya," ungkap Devan.
"Kak Devan terus terang sekali," timpal Lea.
"Emang kelihatan gombalnya ya?" senyum Devan mengembang melihat ekspresi wajah Lea yang juga suka padanya.
"Dikit," ujar Lea malu-malu.
"Berarti kamu mau ya nikah sama aku ya, Lea?" bujuk Devan.
"Mintalah sama pemilik diriku, kak Devan karena aku tidak bisa menentukan keputusan tanpa restu papa," ucap Lea.
"Huuuh....yang kebelet pingin kawin. Apa nggak bisa direm itu mulut," semprot Nabilla.
"Mending bablas aja mbak, daripada diambil orang. Iya nggak mas Amran?" tanya Devan melirik Amran.
"Itu adik aku juga Devan!" ingat Amran membuat Devan menepuk jidatnya.
Semuanya terkekeh melihat ulah Devan." Lea. Besok saja kamu baru bisa pulang. Nanti ayah yang akan menghubungi tuan Recky untuk menjelaskan keadaan kamu, ya nak," ucap tuan Rusli di angguki Lea.
"Kalau begitu, kakak Nabilla pulang dulu ya sama mas Amran. Bunda, aku titip Lea ya bunda," ucap Nabilla sambil cipika cipiki pada dokter Mariska dan ayahnya juga Lea.
"Titip adikku ya, Devan. Hati-hati, karena lampu hijaunya belum menyala. Nanti ketabrak," ledek Amran.
"Dasar kakak ipar songong," umpat Devan kesal.
Nabilla dan Amran sudah berada di mobil mereka. Amran yang masih penasaran dengan Nabilla, membujuk istrinya untuk menceritakan siapa orang yang ingin ia selidiki.
"Sayang. Apakah kamu tidak bisa memberitahu nama orang yang....-"
"Kamu tahu aja baby, kalau aku butuh imun tubuh," ucap Amran.
"Kalau begitu, kita bercinta di apartment kita saja. Supaya lebih leluasa menciptakan orkestra indahnya," ucap Nabilla yang sudah membuka cadarnya dengan ekspresi menggoda.
Ucapan frontal Nabilla dengan godaan nakalnya membuat darahnya Amran berdesir lebih kencang dari ujung kaki hingga ke ujung kepala. Spontan saja monster kecil Amran bangkit dan berdiri tegak dan kian mengeras lagi membengkak di bawah sana, hingga tonjolan itu makin mengetat di balik celana jeans yang di kenakan Amran.
Bagai diburu waktu, Amran membawa mobilnya bak kesetanan, mencari cela yang bisa ia selip dengan mini Cooper merah miliknya diantara mobil lain. Dalam beberapa menit kemudian, keduanya sudah berada di dalam unit kamar apartemen mereka dengan nafas yang kian memburu karena menahan hasrat.
"Kamu sudah membangun naga yang sedang tidur, Baby. Bersiaplah untuk menerima serangan muntahan apinya yang akan membakarmu saat ini," ucap Amran ketika kain penutup tubuh mereka sudah berserakan di atas lantai.
Keduanya mengimbangi ciuman mereka begitu menggelora. Setiap inci tubuh Nabilla sudah tercetak karya barunya Amran dan bermuara pada tempat yang menjadi pusat gairah Nabilla.
Erangan merdu itu membakar jiwa Amran yang sudah puasa selama dua bulan ini, hingga melupakan kalau dirinya belum bercocok tanam. Lenguhan panjang Nabilla dan Amran saat penyatuan tubuh mereka mulai lebih cepat untuk menuntaskan hasratnya mereka. Walaupun sudah melahirkan tiga anak sekaligus, milik Nabilla masih tetap sama legitnya seperti gadis perawan yang membuat Amran sedikit heran.
"Kenapa ini makin sempit dan membuat ku candu. Nabilla, apa lagi yang kamu gunakan untuk membuatku, gila?" batin Amran sambil mengaduk pinggulnya merasakan setiap himpitan mengelus lembut di ruang sempit itu.
Rupanya dokter Mariska melakukan operasi penyempitan jalur rahim Nabilla agar kembali seperti gadis tanpa sepengetahuan Nabilla dan Amran. Itulah hadiah terbesar dari dokter Mariska untuk menjaga keutuhan hubungan suami-istri ini. Entah mengapa, Amran tidak ingin menyudahinya. Ia menunda melakukan pelepasan padahal gelombang kenikmatan Nabilla sudah mengalir terus-menerus.
"Kenapa dia lama sekali? pinggangku rasanya mau patah," keluh Nabilla yang terus bertahan dengan tungkai kakinya yang sudah melemah dan rasa nyeri pada bagian intinya.
Ingin memohon untuk mengakhiri tapi ia takut suaminya akan kecewa. Walaupun tubuhnya sudah lemah, namun kenikmatan itu masih terus menyapanya.
Setelah melewati waktu sekian lama, Amran baru menyerah sambil memagut bibir istrinya dengan kencang hingga bibir Nabilla terlihat membengkak. Nabilla merasa menyesal karena mengajak singa lapar yang tidak mendapatkan mangsa hampir dua bulan.
Kembali ke mansion milik kakek Abdullah. Nabilla mengumpulkan semua pelayan dan penjaga keamanan di ruang keluarga milik kakek Abdullah termasuk para sopir pribadi dan juga Baby sitter. Amran baru mengetahui jawabannya, jika istrinya menaruh curiga pada pembantunya, tapi belum disebutkan secara spesifik salah satu nama yang akan dijadikan tersangka karena Nabilla belum melakukan proses penyelidikannya.
"Terimakasih kalian sudah hadir semua di sini. Mungkin selama ini, kakek Abdullah dan nenek Anisa kurang memperhatikan kalian dan melakukan interaksi dengan kalian kecuali ada perlunya. Dan ada hal-hal yang telah kami lewatkan dari momen-momen masalah pribadi kalian yang tidak bisa kalian ceritakan kepada keluarga ini entah segan atau apapun alasannya yang membuat kalian mencari solusi sendiri dengan cara yang salah. Apakah kalian menyadari kesalahan kalian itu apa?" tanya Nabilla pada pelayan yang berjumlah sepuluh orang itu.
Semuanya tertunduk namun saling melirik. Kesempatan itu di manfaatkan Nabilla untuk membaca bahasa tubuh mereka.
"Apakah kalian sudah tahu apa kesalahan kalian pada keluarga ini?" tekan Nabilla sekali lagi.
Semuanya menggelengkan kepalanya.
"Baiklah akan aku beritahu kalau diantara kalian telah mengkhianati kepercayaan yang telah diberikan nenek Anisa dan kakek Abdullah. Sebagai menantu tertua di keluarga ini, saya meminta maaf kepada kalian semua jika nenek dan kakek ku belum bisa membuat kehidupan kalian lebih layak atau mengekang kebebasan kalian untuk bisa berkumpul dengan keluarga kalian.
Tapi apapun kendala kalian, sampaikan saja pada kami daripada kalian berkhianat karena hukuman yang akan kalian terima sangatlah berat. Apalagi yang kalian lakukan itu dengan cara berhubungan dengan orang-orang yang telah mengkhianati negara ini.
Bukan hanya kalian yang akan masuk penjara, tapi nasib keluarga kalian yang juga tidak bisa diterima bekerja di manapun karena keturunan kalian namanya sudah di blacklist.
Apakah kalian siap menerima hukuman itu? kalau siap silahkan saja. Kalau tidak mau, silahkan terbuka padaku dan aku menjamin kalian tidak akan menerima sanksi baik dari keluarga ini maupun negara. Orang yang menyuruh kalian untuk mengkhianati kami, akan kami urus, bagaimana? mau terima tawaranku atau aku sendiri yang mengantar kalian ke kantor polisi. Sebenarnya aku sudah tahu siapa orangnya. Aku hanya butuh kejujuran dari kalian saja.
Yang pejabat korup saja bisa aku seret mereka ke penjara, apa lagi sekelas kalian, tinggal aku lempar ke penjara dan keluarga kalian tidak akan merasa aman karena aku lebih kejam daripada mereka, orang-orang yang telah mengancam kalian itu. Apakah masih mau diam?" selidik Nabila.
"Silakan kembali ke tempat kerja kalian. Jika berubah pikiran, aku tunggu di kamarku. Ayo mas!" ajak Nabilla kembali ke kamarnya.
"Sayang. Bagaimana bisa kamu mengetahui jika beberapa pelayan mengkhianati kita?" tanya Amran.
"Insting aku yang tidak pernah salah," ucap Nabilla.
"Hebat kamu sayang bisa mengatasi para pelayan dengan cara yang begitu apik. Di ranjang juga kamu juga sangat hebat. Ayo sayang! aku mau lagi!" pinta Amran yang sudah menarik tubuh Nabilla duduk di pangkuannya.
"Hahhh....lagi..?" Nabilla melotot.
"Kalau tadi kamu yang mengajak aku dan sekarang giliran aku yang mengajakmu. Aku sedang ingin bercinta jika sudah dipancing sekali," bisik Amran dengan tangan sudah menggerayangi seperti gurita.
.......
Vote dan like nya cinta, please!