Dikira Pembantu, Ternyata Istri Mafia

Dikira Pembantu, Ternyata Istri Mafia
121. Menolak


Persiapan pernikahan Cintami dan Arsen yang sedianya digelar dua bulan lagi, kini di majukan menjadi bulan depan. Hal ini dilakukan karena Arsen tidak ingin terlalu lama mempersunting Cintami.


Kedua orangtua mereka mempersiapkan segalanya lebih cepat seperti pemesanan gaun pengantin untuk Cintami. Untuk masalah tempat dan lainnya sangat mudah bagi mereka. Karena Wira memiliki resort di Bali jadi resepsi pernikahan akan di gelar di pulau Dewata Bali.


Melihat saudara kembarnya menikah lebih cepat, Bunga juga ingin menggelar pernikahannya bersamaan dengan Cintami. Saat kedua orangtuanya sedang bersantai di dalam kamar, Bunga memberanikan diri untuk menyampaikan keinginannya itu.


Tok...tok...


Cek..lek..


Amran membuka pintu untuk Bunga. Bunga masuk ke kamar itu dengan langkah ragu dan wajah tampak tegang." Ada apa sayang?" tanya Amran begitu Bunga sudah duduk di hadapan mereka.


"Daddy. Apakah Bunga juga boleh menikah bareng dengan Cintami? dari dulu kami ingin pernikahan kami di langsungkan secara bersamaan. Awalnya Bunga belum siap untuk menikah lebih cepat. Tapi, Bunga juga tidak ingin melakukan zinah kecil walaupun itu hanya sebatas ciuman....-"


"Tidak. Mommy tidak akan menyetujui hubungan kamu dengan marsekal muda itu," bantah Nabilla.


Amran mengerutkan keningnya mendengar kedua wanita yang sangat dicintainya ini mulai berdebat." Emang apa yang salah dengan Daffa, sayang?" tanya Amran penasaran.


"Daffa adalah putra dari Gavin Bramantyo. Oknum polisi yang telah menjebakmu hampir masuk penjara bahkan berakhir di tiang gantungan jika aku tidak lebih cepat menemukan kejahatan mereka," jelas Nabilla membuat Amran dan Bunga terperanjat.


"Apakah kamu yakin Daffa adalah putra kandungnya Gavin Bramantyo, baby?" selidik Amran.


"Aku sudah telusuri silsilah keluarganya dan itu semua sudah terbukti oleh pengakuan Daffa sendiri," timpal Nabilla.


"Daddy, mommy. Kesalahan ayahnya kenapa harus kami anak menjadi korban? rasanya itu tidak adil mommy. Bunga tidak akan pernah mau menikah dengan pria manapun kalau bukan dengan Daffa," pukas Bunga protes pada ibunya yang terlihat kekeh dengan pendiriannya.


"Waktu yang akan membuatmu berpikir realistis, Bunga. Setiap hubungan percintaan tidak selamanya indah seperti impian pemiliknya. Kadang takdir bicara lain untuk menghindari hal-hal yang tidak sesuai dengan keinginan kita. Mommy yakin kamu bisa menemukan cinta sejatimu," tegas Nabilla.


"Lebih baik jadi perawan tua daripada mencari pengganti selain Daffa, mommy!" pekik Bunga tidak terima dengan penolakan ibunya. Ia keluar dari kamar orangtuanya sambil menangis.


"Bunga...!" Amran ingin menahan putrinya namun dicegah oleh Nabilla.


"Biarkan saja dia seperti itu! dia akan belajar untuk bertahan menerima ketidak adilan ujian cintanya," ucap Nabilla.


"Sayang. Bunga bisa menjatuhkan puluhan penjahat tapi, Bunga tidak sanggup melupakan cintanya yang baru mulai tumbuh. Lagi pula apakah kamu yakin jika Daffa itu putra kandungnya Bramantyo? aku bahkan tidak melihat ada kemiripan diantara keduanya," ucap Amran dengan persepsinya sendiri.


"Apakah mas meragukan fakta yang aku ungkapkan silsilah tentang Daffa?" tanya Nabilla menahan geram.


"Setiap fakta yang kita temukan tidak selamanya terbukti benar," jelas Amran.


"Apa maksud mas Amran berkata seperti itu?" tanya Nabilla.


"Sepertinya Daffa adalah anak adopsi. Kenapa kita tidak selidiki saja dulu DNA Daffa dan ibunya. Bukankah kamu juga pernah berada dibagian yang sama dengan Daffa? kamu menemukan ayah kandungmu setelah kamu sudah dewasa. Jadi jangan berpijak pada kebenaran abstrak," ungkap Amran membuat Nabilla mempertimbangkan kembali ucapan suaminya.


"Tapi, aku tidak terima begitu saja Daffa menjadi bagian dari kelurga kita. Kesetiaan pemuda itu harus dibuktikan terlebih dahulu baru aku percaya dia mencintai putriku atau tidak," tegas Nabilla.


"Watak kamu dan Bunga itu tidak jauh beda, baby. Jadi aku tidak heran jika kalian berdua mempertahankan prinsip masing-masing," sergah Amran sambil mendengus.


Sementara di kamar Bunga sedang terlibat obrolan dengan kembarnya Cintami yang lebih mendengarkan keluhannya setiap kali Bunga ada masalah." Dunia belum berakhir, Bunga. Setiap cinta itu perlu adanya perjuangan. Jadi, kamu harus lebih gigih lagi untuk meyakinkan mommy kalau Daffa layak untukmu," nasehat Bunga.


"Terus, apa yang harus aku lakukan, Cinta?"


"Minta Daffa untuk melamarmu secara personal. Jika, Daffa bisa meyakinkan mommy dan Daddy, maka mintalah calon ibu mertuamu untuk melamarmu dengan resmi. Lakukan secepatnya, supaya kita bisa menikah bareng sesuai dengan impian kita dulu," ucap Cintami.


"Baiklah. Aku akan menghubungi Daffa. Terimakasih Cinta. Kamu tetap menjadi konsultan terbaikku," Bunga mengecup pipi Cintami penuh sayang. Ia lantas menghubungi Daffa untuk melamarnya besok malam.


Di tempat berbeda, Daffa sedang mengusap rambutnya yang masih basah dengan handuk kecil. Pria ini hanya mengenakan handuk putih membalut tubuhnya hanya sepinggang.


Drettttttt....


Bunyi ponselnya begitu nyaring dengan panggilan ayang beb dan itu berarti dari Bunga karena Daffa mengkhususkan panggilan itu untuk Bunga. Daffa tersenyum lalu menggantinya dengan video call. Terlihat jelas wajah cantik Bunga mengenakan mukena putih. Nafas Bunga tersendat kala melihat perut kotak-kotak milik Daffa yang membuat darahnya berdesir.


"Cih...! apakah dia sedang pamer padaku?" gerutu Bunga bersemu merah.


"Ada apa sayang?" tanya Daffa serius.


"Apakah kamu mau datang melamar aku ke daddyku?"


"Boleh. Itu yang aku inginkan. Kapan kamu siap sayang?" tantang Daffa walaupun ia tahu, niat baiknya tidak akan diterima begitu saja oleh keluarga itu mengingat kejahatan ayahnya. Walaupun ia sendiri belum mengetahui status dirinya.


"Besok malam. Aku mohon kamu datang dan jangan terlalu memikirkan hal apapun!" pinta Bunga.


"Kenapa tidak sekarang saja. Waktunya masih pukul tujuh malam," ucap Daffa.


"Kalau menunggu besok kelamaan. Dan aku tidak akan bisa tidur karena merasa gelisah menunggu sampai besok malam," ucap Daffa.


"Tapi aku barusan...-"


"Bertengkar dengan ibumu?" curiga Daffa.


"Bagaimana kamu tahu?"


"Karena hubungan kita sudah ditentang oleh ibumu dari awal kita bertemu. Jika mereka masih menentang hubungan kita, aku akan membawa lari dirimu," ucap Daffa.


"Baiklah. Aku tunggu kedatanganmu. Tapi, aku harus bilang dulu pada kedua orangtuaku," ucap Bunga.


"Jangan lakukan itu! buatlah seolah-olah ini bukan rencanamu karena aku memang sudah menyiapkan ini sebelumnya. Aku akan hadapi kedua orangtuamu demi mendapatkan kamu, sayang," ucap Daffa tulus.


"Bismillahirrahmanirrahim. Semoga Allah memudahkan niat baik kita menjadi suatu berkah," Bunga mengakhiri pembicaraan mereka dan siap menunaikan sholat isya.


Waktu yang ditunggu-tunggu Bunga akhirnya tiba saat kelurga sedang berkumpul di ruang kelurga. Pelayan datang menghampiri Amran memberitahukan kedatangan Daffa.


"Permisi Tuan...! di luar ada tamu seorang pemuda ingin bertemu tuan dan nyonya," ucap pelayan Lena.


"Apakah kamu menanyakan namanya?" tanya Nabilla.


"Maaf nyonya...! saya lupa," ujar Lena.


"Terimakasih Lena. Biar saya sendiri yang menemuinya," ucap Amran beranjak dari sofa menuju teras.


Nabilla memeriksa melalui layar televisi dan melihat wajah tamunya dan ternyata tamu itu adalah Daffa. Nabilla mengambil sesuatu dari atas meja buffet dan keluar menemui Daffa.


"Assalamualaikum Om!"


"Waalaikumuslam Daffa!"


"Maaf om kalau saya menganggu waktu rehatnya om," ucap Daffa basa-basi tapi Amran tetap melihat kegugupan Daffa.


"Silahkan duduk Daffa...! tunggu sebentar Om akan panggilkan Bunga" ucap Amran.


"Tidak usah om. Saya datang ke sini untuk bertemu dengan om. Saya ingin melamar Bunga," jelas Daffa.


Pintu dibuka, Nabilla yang sudah ikut mendengar pembicaraan Daffa dan Amran ikut mengambil bagian dalam sesi lamaran itu.


"Kamu pikir kelurgaku mau menampung anak dari seorang pengkhianat negara yang memfitnah suamiku demi kesenangannya?" sarkas Nabilla.


"Bukankah ayahku sudah menerima hukumannya dan bukankah Tante sendiri yang sudah menghukumnya?" tembak Daffa membuat Nabilla dan Amran tersentak.


"Jadi itu sebabnya kamu ingin membalas dendam padaku melalui putriku, Bunga, bukan?" selidik Nabilla.


"Apa yang bisa aku buktikan pada om dan Tante kalau aku sangat mencintai Bunga dan mau melakukan apa saja untuk mendapatkan restunya om dan Tante untuk hubungan kami? aku tidak terkait apapun dengan masalah ayahku," tanya Daffa.


"Oh,...! jadi kamu ingin kami melihat kesungguhan cintamu pada putri kami, Bunga?" memastikan keseriusan Daffa.


"Insya Allah Tante, saya siap walaupun itu adalah nyawaku sendiri," ucap Daffa tidak main-main.


"Nyalimu boleh juga, anak muda. Apakah kamu tidak takut Daffa, jika om meminta kamu melakukannya untuk membuktikan ucapanmu itu?" tantang Amran menguji cinta pemuda ini pada putrinya.


"Demi Allah. Aku sangat mencintai putri om yaitu Bunga.


"Baik. Bunuh dirimu sendiri dengan ini..!" Nabilla melemparkan pisau ke lantai membuat Amran terhenyak.


Lidah Amran sangat kelu dengan agen dua ini. Ternyata jiwa psikopat istrinya yang masih dendam kepada Gavin menular sampai ke Daffa.


"Buktikan ucapanmu sebagai prajurit negara!" titah Nabilla lalu mengajak Amran masuk ke dalam rumah.


Baru saja keduanya membalikkan tubuh mereka tiba-tiba terdengar sesuatu yang jatuh. Amran membalikkan badannya dan melihat Pergelangan tangan Daffa sudah mengalir darah segar dan Daffa juga pingsan.


"Astaghfirullah....!" pekik Amran.


.....


Kita sorot masalah pemerannya satu-satu ya say. jangan lompat ke peran pendukung yang lainnya dulu.