Dikira Pembantu, Ternyata Istri Mafia

Dikira Pembantu, Ternyata Istri Mafia
305. Lingkaran Setan


Kabar kedatangan seorang pengusaha muda nan cantik ke Perusahaan energi' market milik Evren itu ditunggu oleh tuan Azka, paman tirinya Evren.


Dinar turun dari mobilnya yang diantar langsung oleh sopir pribadi pamannya Asegaf.


"Terimakasih pak. Tolong tunggu urusan saya sampai selesai di perusahaan ini," pinta Dinar.


"Baik nona. Hati-hati..!" nasehat pak Rega.


"Hmm!"


Dinar melangkah dengan anggun yang langsung di sambut Dimas putra dari tuan Aska yang seusia Evren.


"Assalamualaikum nona Dinar!" sapa Dimas yang sudah menerima informasi tentang gadis itu.


"Waalaikumuslam!" jawab Dinar seraya mengatupkan kedua tangannya di dada sebagai pengganti jabatan tangan karena bukan muhrim.


"Kenalkan saya Dimas putra dari tuan Azka yang akan mewakili tuan Evren," ucap Dimas.


"Mengapa tidak dengan tuan Evren sendiri? apakah beliau sibuk?" tanya Dinar pura-pura tidak tahu.


"Beliau sedang berada di luar negeri dan tidak tahu kapan akan kembali. Jadi, urusan dengan nona diwakilkan oleh ayah saya tuan Azka," ucap Dimas.


"Baik. Tapi, saya tetap ingin bertemu dengan tuan Evren selaku CEO perusahaan besar ini karena saham yang saya tawarkan di perusahaan ini tidak sedikit.


 Saya harap kalian tidak membuang waktu saya karena saya orang yang sangat menghargai waktu dan tidak ingin mendengarkan basa-basi yang tidak bermutu," tegas Dinar saat pintu lift terbuka dan mereka yang sudah berada di lantai 25 untuk menemui tuan Azka.


"Tentu saja tuan Evren akan segera pulang jika dia tahu kalau nona ingin berkerjasama dengan perusahaan kami," ucap Dimas buru-buru karena takut Dinar berubah pikiran.


"Baik."


Langkah Dinar terhenti setelah berada di depan pintu bercat kayu mahoni itu dibuka oleh sekertaris baru Evren yang tidak lain adalah istri mudanya tuan Ghanim, kakek tirinya Evren.


Sekertaris itu bernama Vey. Usia Vey yang tidak jauh berbeda dengan usia Cintami ibu kandungnya Dinar. Sesaat Dinar menatap wajah vey seperti perempuan penggoda.


"Silahkan masuk nona. Itu tuan Azka CEO perusahaan ini. Untuk sementara beliau akan menggantikan posisi tuan Evren," ucap sekertaris Vey membuat Dinar makin muak.


Tuan Azka yang penggila wanita nampak jelalatan memindai penampilan Dinar dari ujung kaki hingga ujung kepala. Walaupun baju Dinar tertutup dengan hijab cantiknya, namun mata tuan Azka tidak berhenti menatap wajah cantik Dinar.


"Tolong kondisikan mata anda tuan !" sarkas Dinar.


"Oh...sorry! Silahkan duduk..! Kenalkan saya Azka pengganti tuan Evren saat ini." Tuan Azka menyodorkan tangannya hendak bersalaman namun Dinar hanya mengangguk hormat membuat ia harus mengepalkan tangannya dengan canggung.


"Vey. Tolong siapkan minuman untuk kami...! Anda mau minum apa nona?" tanya tuan Azka.


"Maaf. Saya sedang saum hari ini," bohong Dinar untuk berjaga-jaga karena tidak ingin terpancing dengan pria licik di depannya ini. Padahal saat ini Dinar sedang haid.


"Hebat..! Selain cantik anda juga sangat Sholeha. Pasti pria yang memiliki hati anda sangat beruntung," puji tuan Azka membuat wajah vey memerah.


"Dasar tua bangka. Bisa-bisanya dia merayu wanita itu," maki Vey dalam hati sambil berlalu menuju meja kerjanya.


Dinar mulai melancarkan rencananya untuk menjebak tuan Azka dan putranya Dimas yang sedang menunggu dirinya berbicara.


"Saya sudah mempelajari prospek besar perusahaan ini. Progres dari income yang diperoleh perusahaan ini sangat menggiurkan bagi pengusaha seperti saya untuk melirik peluang besar yang tentunya menguntungkan.


Jadi saya berniat untuk menanam saham saya di sini sebesar 75 persen tapi penandatanganan kontrak kerjasamanya harus dengan tuan Evren karena saya tidak ingin tertipu oleh kalian berdua," sarkas Dinar langsung pada intinya.


"Bagaimana kalau Evren tidak pernah kembali lagi, nona Dinar?" tanya tuan Azka sengaja memancing Dinar.


"Kenapa tidak kembali? Apakah ada masalah?" selidik Dinar.


Tuan Azka melirik putranya Dimas agar meninggalkan mereka namun isyarat itu ketahuan oleh Dinar.


"Maaf. Saya tidak ingin berdua dengan anda di dalam ruangan tertutup karena ada banyak setan di dalam ruangan ini," tembak Dinar membuat wajah tuan Azka gelagapan.


Maksud hati ingin merayu dan meyakinkan Dinar tentang kematian Azka namun Dinar sudah lebih dulu menghentikan niatnya.


"Katakan kepadaku apa yang terjadi dengan tuan Evren?" tanya Dinar ingin tahu kebohongan apa yang akan mereka ciptakan untuk Evren.


"Begini nona. Beberapa Minggu yang lalu Evren pamit ke luar negeri tapi sampai saat ini kabar tentang dirinya menghilang begitu saja. Dia tidak ke luar negeri namun tidak ada di negara ini. Kami cukup bingung menanti kabar darinya yang tak kunjung datang," ucap tuan Azka pura-pura sedih.


"Apakah dia punya musuh? Sudah lapor polisi? Apa mungkin dia di sekap?" tanya Dinar.


"Itu dia yang saat ini kami curiga saat Evren menghilang, kelima pengawal dan sekertarisnya ikut menghilang," ucap tuan Azka penuh drama.


"Apakah kalian butuh aku bantu melacak keberadaan tuan Evren?" tawar Dinar.


"Jangannn...!"


"Tidakkk...!"


"Lho.. Kok tidak boleh? Kenapa tidak boleh? apa jangan-jangan kalian sedang melakukan sesuatu pada tuan Evren?" cecar Dinar.


"Bukan begitu. Anda hanya orang luar nona. Ini urusan intern keluarga kami," ucap tuan Azka berusaha tenang.


"Kalau ceritanya orang hilang itu sudah menjadi urusan semua orang yang berkaitan dengan tuan Evren. Kecuali kalian memiliki konspirasi untuk melenyapkannya," ucap Dinar dengan kata-kata menohok.


"Nona Dinar. Kedatangan anda ke sini untuk menawarkan kerjasama dengan bisnis dengan perusahaan kami jadi kenapa anda tiba-tiba mau ikut campur yang bukan urusan anda.


"Perusahaan kalian? Perusahaan kalian yang mana? Setahu saya ini perusahaan tuan Evren dan kalian tidak lebih dari karyawan di sini yang bekerja dengan tetap digaji oleh tuan Evren kenapa tampil seperti pemilik perusahaan ini?


 Lagipula saya sudah mengenal tuan Evren sebelumnya dan beberapa kali bertemu dengannya saat beliau ke luar negri. Saya ada di sini karena sudah janji dengannya beberapa bulan yang lalu," ucap sesuai dengan skenario yang ia perankan saat ini.


Tuan Azka dan Dimas tampak gelisah. Mereka mengira Dinar belum kenal sama sekali dengan Evren. Kalau sudah seperti ini membuat hati mereka cukup galau dengan sikap Dinar yang terlihat sangat kepo.


"Begini nona. Kalau anda memang ingin bekerjasama dengan perusahaan ini, anda bisa terjun langsung mengawasi perusahaan ini sambil menunggu kembalinya keponakanku Evren," bujuk Tuan Azka.


Dinar menarik sudut bibirnya hampir tak terlihat oleh kedua pria beda generasi itu.


"Itu yang aku tunggu, bodoh! Aku ingin menyelidiki keterlibatan kalian yang ingin melenyapkan Evren dengan cara yang sangat licik.


"Baiklah. Kalau begitu saya terima tawaran anda, tuan Azka. Tidak salah juga kalau aku ikut melihat perkembangan perusahaan ini selama tiga bulan ke depan. Jika tidak ada perubahan selama saya berada di sini. saya akan minta ganti rugi sebesar 20 persen," ucap Dinar.


"Baik. Tidak masalah. Kami siap bekerjasama dengan anda nona," ucap tuan Azka antusias.


"Satu lagi. Saya ingin bekerja di ruangan tuan Evren karena saya pemilik saham terbesar di sini dan kalian berdua hanya stafnya saja," ucap Dinar menambah persyaratan membuat tuan Azka meradang karena merendahkan kedudukannya.


"Tidak masalah nona Dinar karena ayahku punya ruangan sendiri," timpal Dimas sambil cengengesan pada Dinar yang terlihat sinis.


"Dasar ular...!" umpat Dinar.


"Apakah kita bisa menandatangani kontrak kerja samanya nona?" tanya tuan Azka tidak sabaran.


"Harus ada hitam diatas putih dalam surat perjanjian dan harus disaksikan oleh pengacara perusahaan. Tidak asal dibuat," ucap Dinar dengan banyak persyaratan membuat tuan Azka makin geram.


"Baik."


Tuan Azka meminta sekertaris Vey menghubungi pengacara perusahaan untuk membuat surat kesepakatan kerjasama antara Dinar dan perusahaan milik Efren itu.


Sementara Efren yang mengikuti perdebatan dalam drama yang diperankan langsung oleh Dinar dan kelurganya melalui rekaman video yang Dinar buat membuat Evren hanya tersenyum puas.


"Hebat gadis ini. Aku bersyukur padaMu ya Allah karena sudah mempertemukan aku dengannya," lirih Evren.


Beberapa jam kemudian, Dinar sudah menyelesaikan misi pertamanya yaitu menjalin kerjasama bisnis dengan perusahaan Evren. Sekarang tinggal memasuki bab ke dua di misinya ini.


Ia segera kembali ke rumah sakit untuk menemui Evren namun dalam perjalanan dirinya diikuti oleh orang suruhan tuan Azka. Dinar meminta anak buah opanya Amran untuk menghentikan aksi dari anak buahnya Tuan Azka itu.


"Hentikan mereka...! Jangan sampai mereka mengetahui aku mengunjungi rumah sakit internasional!" pinta Dinar melalui penghubung.


"Baik nona."


Dinar memastikan lagi keadaan di belakang mobilnya sudah aman dari orang-orang suruhan tuan Azka.


"Apakah mereka mengetahui aku adalah kaki tangan Evren?" tebak Dinar yang merasa tuan Azka tidak bermain sendiri.


"Pasti ada saingan bisnis Evren yang mendukung tuan Azka," lirih Dinar.


Setibanya di rumah sakit, Dinar yang ingin makan siang bersama Evren harus mampir di sebuah restoran untuk memesan makanan buat mereka berdua. Dinar mulai bingung apa yang menjadi kesukaannya Evren.


"Mudah-mudahan saja Evren menyukai menu pilihanku yang ini," lirih Dinar lalu menulis pesanannya dan memberikan kepada pelayan restoran.


Beberapa menit kemudian pesanan Dinar sudah siap. Gadis ini memberikan tip untuk pelayan yang lumayan besar membuat sang pelayan berulang kali mengucapkan terimakasih di sertai doa terbaik untuk Dinar.


Tiba di rumah sakit, Dinar menanyakan ruang inap Evren pada resepsionis rumah sakit. Setelah mendapatkan informasi tersebut, Dinar ke kamar Evren. Namun alangkah terkejutnya Dinar saat melihat Evren tidak ada di tempat.


"Apakah kamarnya salah atau bagaimana? Dinar segera menghubungi dokter Jasmine.


"Dokter Jasmine. Apakah anda tahu kamar yang ditempati oleh tuan Evren?" cecar Dinar.


"720," ucap dokter Jasmine.


"Tapi tuan Evren tidak ada di kamarnya. Apakah ada pemeriksaan lanjutan di...-"


"Rencana jadwal pemeriksaan MMR besok pagi. Emangnya ada apa, nona Dinar?" tanya dokter Jasmine.


"Tuan Evren menghilang," jawab Dinar tergugu.


"Apaaa ...?!" sentak dokter Jasmine.