
Nabilla menunggu agen 1 penuh penasaran. Siapa gerangan yang akan menjadi mitranya saat ini. Mereka belum bisa masuk ke ruang rahasia di mana layar raksasa di dalam sana memenuhi ruangan itu dengan keyboard berbentuk meja memperlihatkan barisan angka dan huruf serta kode sandi tertentu yang sangat komplit yang ada di ruangan itu. Ruangan belum di buka jika agen satu belum datang.
Nabilla, Amran dan tuan M masih ngobrol seputar keluarga. Amran lebih banyak menyimak obrolan kedua wanita ini dari pada ikut nyeletuk kecuali ditanya. Amran yang mengembalikan kepribadiannya yang cool dengan pelit bicara seperti awal pertemuan pertamanya dengan Nabilla atau awal pernikahannya dengan Nabilla beberapa tahun yang lalu.
Tidak lama terdengar degup langkah memasuki ruangan itu hingga tampaklah seorang pria tampan yang tingginya mencapai 198cm dengan berat badan 98 kg. Tubuh atletis kulit putih dengan mata biru. Betapa wajah itu sangat tampan dan kesempurnaan itu hampir membuat Nabilla syok. Pasalnya pria tampan itu yang selalu berusaha mendekatinya saat pertama kali ia bergabung dengan anggota CIA.
"Dia...? kenapa harus dia...?" batin Nabilla yang pura-pura tidak mengenal agen satu itu yang sekarang sudah berdiri di depan mereka dan menyapa tuan M.
Agen satu yang nama aslinya adalah Axton menyapa Mr. M dan Nabilla. Wajah Axton sempat terpana karena ia melihat Nabilla yang merupakan agen dua. Jantungnya berdegup kencang karena bertemu lagi gadis yang pernah memenuhi angannya. Walaupun selama ini ia tidak pernah melihat wajah Nabilla namun bentuk mata dan manik biru gadis itu yang merupakan keturunan blasteran Turki Indonesia itu sudah mewakili kecantikan utuh wanita itu.
"Agen satu. Kenalkan ini agen 2 yang akan menerangkan kepadamu di mana para mafia yang saat ini menyembunyikan barang-barang peninggalan sejarah negara ini yang bernilai tinggi, yang sedang diperebutkan oleh beberapa negara yang mengklaim itu milik mereka," ucap Mr. M.
"Baik Mr. M. Tapi, bukankah gadis ini adalah Na...-"
"Jangan lupa persyaratan di kesatuan ini, agen satu untuk tidak menyebutkan nama asli!" ucap Mr. M memperingatkan agen satu yang langsung minta maaf karena terlalu rindu pada Nabilla.
Amran hanya mengepalkan kedua tangannya saat melihat Axton menatap mata istrinya secara intens. Ia hanya bisa berdehem untuk menegur secara halus pada Axton.
"Ehmm!"
Nabilla melirik tuan M untuk memperkenalkan suaminya pada Axton. Mr. M baru mengerti ada hawa cemburu pria tampan itu pada saingannya.
"Agen satu kenalkan! ini adalah suami agen dua. Dan kalian hanya perlu menjabat tangan tanpa menyebutkan nama masing-masing untuk menjaga kode etik dunia profesi kalian!" ucap Mr. M memperkenalkan Amran dan Axton yang menjabat tangan saling menggenggam dengan kuat seakan saling mematahkan tangan lawan.
"Cukup!" titah Nabilla membuat keduanya melepaskan tangan mereka.
"Silahkan ikuti aku!" titah tuan M.
"Tunggu Mr. M. Bagaimana dengan suamiku?" tanya Nabilla.
"Si tampan ini boleh ikut, tapi tidak boleh berkomentar," tegas Mr. M membuat Nabilla lega dan menarik tangan suaminya untuk mengikutinya.
"Ini kehormatan besar bagiku bisa melihat suasana di dalam sana," batin Amran bangga.
Keempat orang masuk ke ruang teknologi canggih itu di mana semua data dunia bisa diakses di sini dengan mudah jika memiliki skill yang tinggi seperti Nabilla. Hanya orang yang berkemampuan khusus seperti Nabilla karena dia sendiri yang merancang keyboard raksasa itu dengan menciptakan segala bentuk sandi.
Nabilla menempelkan telapak tangannya untuk menghidupkan. komputer itu. Amran memperhatikan cara kerja istrinya dan baru mengerti jika akses untuk membuka jaringan wilayah dalam cakupan lebih luas adalah Nabilla.
"Pantas. Nabilla dibutuhkan di sini karena tangan ajaibnya itu," batin Amran.
Sejumlah titik menjadi target utama yang dicurigai negara di mana pelaku pencurian benda bersejarah itu saat ini sedang bersembunyi dan akan melakukan transaksi dengan negara yang membutuhkan benda itu untuk mereka beli dari tangan pencuri.
"Saat ini, sindikat mafia yang mencuri benda berharga milik negara ini sedang melakukan negosiasi dengan para pembelinya. Dari tengkulak ini, mereka akan menjual lagi kepada negara yang saat ini mengklaim benda bersejarah itu milik negara ini adalah milik mereka.
Untuk memperlancarkan transaksi penjualan tentu bukan negara tersebut yang akan menjadi target untuk membeli barang itu. Mereka akan melakukannya di negara yang dianggapnya aman untuk bertransaksi tentunya bukan negara konflik," ucap Nabilla.
"Negara mana yang akan mereka jadikan tempat transaksi, agen dua?" tanya agen satu.
"Makau. Tempat transaksinya di Kasino. Tempat judi itu menjadi tempat pertemuan dan ada seorang agen rahasia yang menyamar menjadi pelacur yang akan melakukan transaksi itu di tempat tidur dengan pemilik benda incaran kita. Bukankah ranjang adalah tempat yang aman untuk membahas segalanya termasuk melakukan transaksi rahasia dengan nilai fantastis? dan agen satu akan merebut kembali benda itu dari wanita itu tentunya dengan menggunakan pesonamu, bagaimana agen satu?" ucap Nabilla yang sudah tahu permainan mafia kelas dunia.
"Apakah tidak ada lagi tempat lain yang mereka tuju selain negara Makau, agen dua ?" tanya Mr. M.
Jika kita salah langkah maka kita akan kehilangan barang itu. Lihatlah pergerakan titik itu! Mereka tidak mengetahui benda yang mereka curi telah dipasang hologram dengan kode yang terpasang di salah satu titik. Jika keluar dari museum penyimpannya alat itu akan mengirim pesan ke data penting yang tersimpan di jaringan teknologi yang sudah saya modifikasi," ucap Nabilla.
"Bagaimana kamu tahu benda-benda itu memiliki alat pelacak yang tidak bisa terlacak dan hanya bisa kamu yang melakukannya?" tanya agen satu.
"Karena akulah perancangnya," ucap Nabilla secara lugas.
Glekkkk...
"Ok. Terimakasih agen dua. Aku butuh peralatan tertentu untuk menunjang aksiku," pinta agen satu pada Nabilla yang merangkap menjadi perancang alat canggih selain senjata mematikan tentunya.
"Aku akan merancang alat itu hari ini untukmu. Selebihnya untuk memudahkan interaksi kalian dengan tim dalam operasi ini saya kembalikan lagi kepada Mr. M. Tugasku selanjutnya adalah ke gedung putih. Mr. M. Anda bisa mengarahkan agen satu dengan titik merah yang akan bergerak mengikuti target kita.
Lalu jam berapa kita ke sana Mr. M?" tanya Nabilla yang ingin mempercepat tugasnya karena ia tidak ingin meninggalkan ketiga buah hatinya terlalu lama.
"Orang gedung putih akan mengutus tim mereka untuk menjemput kita. Kita tunggu informasi lanjutannya. Saya sudah mengabari gedung putih tentang kedatangan anda agen dua. Mereka juga akan menjamu kita makan malam nanti bersama tuan presiden," ucap Mr. M.
Lagi-lagi Amran tercengang kalau dia juga bakalan ikut bersama istrinya menghadiri jamuan makan malam dengan presiden.
"Apalagi tugas Istriku di sana?" batin Amran penasaran dengan kegiatan istrinya di negara kuasa tersebut.
"Baiklah. Kalau begitu aku ingin ke ruang material untuk menciptakan alat-alat yang akan digunakan agen satu. Apakah suamiku boleh ikut aku, Mr. M?" tanya Nabilla.
"Silahkan agen satu! dan kamu agen dua tetap di sini denganku karena masih banyak yang harus kita bahas," ucap Mr. M pada Nabilla dan Axton.
Nabilla mengajak Amran ke ruang kerjanya yang lain. Amran merasa istrinya ini multi talent. Apa saja bisa dilakukan oleh seorang Nabilla. Tapi, rasa penasarannya pada sosok agen satu membuatnya untuk bertanya.
"Apakah kamu mengenal agen satu itu, baby?" tanya Amran saat mereka sudah tiba di depan pintu ruang kerja Nabilla.
"Dia salah satu pengagum rahasiaku," jawab Nabilla tenang namun langsung menusuk jantungnya Amran.
"Segera selesaikan urusanmu dan kita pulang, Baby!"
"Apakah kamu cemburu, hubby?"
"Bukan hanya itu. Tapi aku ingin memisahkan kepalanya saat ini juga!" ujar Amran.
"Hahhh ...?"
Vote and like nya Cinta, please
Visual Reno e
Visual Celia