Dikira Pembantu, Ternyata Istri Mafia

Dikira Pembantu, Ternyata Istri Mafia
95. Bangkitnya Mafia


Sudah cukup lama para mafia di keluarga kakek Abdullah tidak pernah berhadapan dengan musuh mereka. Ketika Nabilla mengajak mereka kerjasama dalam misi penyelamatan dunia dari angkara sindikat mafia, tentu saja semuanya antusias menerimanya.


Sekarang hanya satu yang harus mereka hadapi adalah ijin dari para istri. Bagaimana harus menjelaskannya pada para istri ini yang buat para pria tampan ini ciut menghadapi ratu mereka yang cukup buas di atas tempat tidur.


Jika salah menyampaikan maksud dan tujuan pada keempatnya, maka mereka akan ditolak jatah imun tubuh dan itu sangat tidak enak sekali. Apa lagi Reno yang begitu besar naf*sunya saat sudah bergumul tak pernah ada kata usai kalau dia sendiri belum menuntaskan hasratnya. Itulah mengapa Celia cukup kewalahan menghadapi sang mafia maniak seperti Reno.


Celia punya cara sendiri untuk membuat suaminya ketagihan dalam setiap sesi percintaan mereka. Entah bagaimana istri mungilnya itu belajar memuaskannya ditempat tidur namun terus menerus menjadikan dirinya candu. Dan itu semua berkat guru besarnya yaitu Nabilla. Bukan hanya Celia, tiga gadis lainnya menjadikan Nabilla tempat mereka melakukan konsultasi.


"Sayang. Aku besok mau ke luar negeri," ucap Reno usai bercinta dengan istrinya.


"Berapa lama?" tanya Celia sambil menarik nafas panjang seakan tidak rela melepaskan prianya.


"Sekitar satu pekan," ujar Reno.


"Apakah aku boleh ikut?" tanya Celia.


"Sayang. Lain kali saja, aku akan mengajak kamu berlibur di luar negeri. Kita akan melakukan bulan madu ke dua. Tapi, untuk kali ini aku tidak bisa mengajakmu serta," ucap Reno.


"Satu pekan terlalu lama, Baby dan aku tidak kuat menahan rinduku," rengek Celia.


"Sayang. Bukankah ada penggantiku yang akan menjagamu, hmm? putra kita Farrel," bujuk Reno.


"Iya aku tahu itu. Hanya saja putraku hanya bisa menyenangkan hatiku. Sementara suamiku adalah satu-satunya yang selalu menyenangkan hasratku. Apakah satu pekan nanti di sana kamu bisa tahan tanpa menyentuhku?" rayu Celia sambil memainkan kepala jamur Reno dengan jempolnya sambil memijat lembut mengusai daging tanpa tulang itu memancingnya kembali mengeras.


Ditambah mulut Celia membimbing pusaka kokoh itu masuk ke dalam rongga hangat dan mengisapnya dengan kuat hingga Reno mendesis gila menahan rasa geli yang sangat nikmat. Apa lagi suara erotis yang tercipta dari gadis itu mengerang mendayu membakar lagi gairah pemilik tubuh kekar itu.


Memanjakan setiap incinya sepanjang ruas yang dibutuhkan untuk dimanjakan dengan jilatan yang maha dahsyat nikmatnya. Lenguhan panjang Reno menggeram nikmat tidak kuat menahannya lagi. Hingga ia harus mendorong wajah sang bidadari untuk menjauhi miliknya.


"Baby. Aku tidak akan membiarkanmu istirahat malam ini. Aku akan menjajahmu bahkan menghukummu karena kamu sudah menganggu ketenangan birdnya," bisik Reno saat memasuki gerbang sempit yang akan membawanya ke langit ke tujuh.


"Apakah kamu masih tidak ingin mengajak aku untuk ikut bersamamu sayang, hmm?" rayu Celia yang tahu betul Reno tidak bisa jauh darinya.


Celia sengaja menjeda permainan mereka dan Reno tidak suka itu karena ia sudah hampir tiba di puncak kenikmatan." Iya sayang. Aku akan membawamu bersamaku. Tolong jangan berhenti. Selesaikan ini, segera!" pekik Reno saat Celia mempermainkan emosinya yang sebentar lagi akan siap meledak.


Celia mengukir bibirnya dengan lekukan sensual menggoda suaminya dari atas tubuh kekar itu bahwa rayuannya cukup ampuh diatas tempat tidur.


"Benar katamu mbak Nabilla. Segala sesuatu yang berkaitan dengan suami bisa kita selesaikan diranjang," batin Celia mempercepat gerakannya untuk mengakhiri permainan mereka karena sesaat lagi akan memasuki waktu subuh. Malam ini mereka benar-benar begadang sampai pagi hanya untuk memburu nikmat.


...----------------...


Saat tiba di bandara, Nabilla dan Amran sangat syok melihat para mafia itu turun dari mobil dengan pasangan mereka masing-masing. Amran sangat curiga pada istrinya mengapa adik-adiknya itu turut serta dalam misi ini.


"Sayang. Apakah itu hasil didikanmu hingga para suami bertekuk lutut?" tanya Amran setengah berbisik pada Nabilla karena ada kakek Abdullah dan tuan Rusli berada di belakang mereka.


"Bukan salahku kalau mereka menjadi kucing peniru, hubby. Karena aku hanya memberikan sedikit metode pemikat suami ditempat tidur, bukan perayu suami. Berarti kucing-kucing peniru itu memiliki keahlian khusus dengan mulut mereka yang berbisa dalam menaklukkan para mafia tampan itu," timpal Nabilla menerbitkan senyum terbaiknya dengan desah*an menggoda.


"Maafkan kami kak Nabilla! kami tidak mau berpisah dengan suami kami terlalu lama," imbuh Lea.


"Tidak apa Lea. Yang penting kalian harus mempertanggungjawabkan keinginan kalian itu karena misi ini sangat penting dan nyawa kita menjadi taruhannya. Jika tiba di sana hanya untuk menyusahkan aku, lebih baik kalian pulang saja sekarang dan temanin bayi kalian!" tegas Nabilla.


"Tidak ..! aku bisa," sahut Lea.


"Aku sanggup. Aku tidak mau pulang," ucap Celia sambil menggelengkan kepalanya dengan cepat.


"Aku janji tidak akan merepotkan kak Nabilla," jelas Lira.


"Aku mampu menguasai situasi. Percayalah padaku, mbak Nabilla!" Nadin meyakinkan Nabilla.


"Ok. Tapi kalian tetap harus melewati ujian dariku. Jika hanya janji semua orang bisa melakukannya. Tapi, untuk membuktikannya, itu yang sulit. Hanya sebuah janji wanita bisa gila karena kesetiaannya yang berakhir dengan sebuah pengkhianatan," ucap Nabilla sambil melirik Amran.


"Insya Allah kak," ujar mereka kompak.


"Cih ..! aku lagi yang jadi tumbal," Amran berdecih setiap kali Nabilla mengingatkan kesalahannya yang dulu.


"Ok. Semuanya naik ke pesawat!" perintah Amran.


Mereka rela meninggalkan bayi yang berusia lima bulan itu yang harus belajar minum susu formula jika stok ASI ibu mereka habis. Di sana mereka tinggal di apartemen mewah yang sudah disewakan Nabilla dengan menggunakan identitas palsu sebagai turis. Amran juga membeli dua mobil Van untuk mempermudah aksi mereka di sana nanti.


Pramugari, co-pilot dan pilot pesawat jet pribadi milik Amran itu, sempat kaget melihat anggota keluarga kakek Abdullah bak deretan selebriti Hollywood yang sedang pergi honeymoon.


"Busyet...! Gadis-gadis itu sangat cantik sekali!" puji co-pilot dari atas pesawat sambil memperhatikan wajah para bidadari itu.


"Tapi sayang, istrinya tuan Amran yang tidak bisa kita lihat kecantikannya. Apakah dia lebih cantik daripada bidadari itu? sehingga ia menutupinya dengan cadar?" seru pilot Azzam.


"Saya rasanya sih seperti itu karena orang Arab banyak mengenakan cadar karena banyak diantara mereka sangat cantik," ucap co-pilot sambil memundurkan pesawatnya menuju landasan pacu.


Sementara lima orang pramugari di dalam sana tertegun melihat lima pemuda tampan menaiki pesawat itu. Senyum mereka mengembang sempurna sambil menatap satu persatu para sultan itu. Tapi, sedikit gugup kala mata bidadari menukik tajam ke arah mereka agar tidak hanyut menikmati ketampanan suami mereka. Tatapan horor itu membuat mereka menurunkan pandangan mereka.


Semuanya mengenakan sabuk pengaman saat pesawat siap take off meninggalkan ibu Pertiwi tercinta. Seperti biasa salah satu pramugari memberikan panduan untuk menjaga keselamatan pada penumpang pesawat dengan alat perlengkapan penyelamatan jika pesawat mengalami sesuatu yang tidak diinginkan.


Co-pilot memberitahukan keberangkatan mereka menuju Wina Austria.


"Selamat sore keluarga besar tuan Abdullah. Saat ini kita akan berangkat ke Wina Austria. Saya akan menyampaikan bahwa jarak antara Jakarta Wina Austria yaitu 10.552 km dengan kecepatan penerbangan 900 km / jam dan waktu penerbangan yaitu 11 jam 43 menit. Selamat menikmati perjalanan anda sekalian bersama saya co-pilot Bahtiar dan pilot Chairul Azzam" ucap Bahtiar.


Sementara keluarga itu saat ini sedang berdoa bukan hanya untuk keselamatan perjalanan mereka saja namun juga misi kemanusiaan yang akan mereka emban di negara tujuan.


.....


Episode 95 di kirim dari semalam namun di pending cukup lama oleh NT.