
Lampu sorot dari arah laut mengarah ke arah bibir pantai, di mana Bunga sedang melambaikan tangannya ke arah ayahnya yang merasa lega melihat Bunga di temani oleh dua orang marsekal muda yang berdiri mendampinginya.
"Daddy...!" pekik Bunga kegirangan.
Sikap dewasa Bunga yang awalnya membuat Daffa kagum kini berganti geli bercampur gemas dengan tingkah manja gadis ini.
"Cih....! tadi sok dewasa dan sekarang berganti seperti gadis kecil. Sifatnya yang mana yang asli?" batin Daffa ingin mencubit pipi Bunga.
"Alhamdulillah. Itu ayahku...! aku pergi dulu kapten Bimo, kapten Daffa. Sampai jumpa lagi di lain kesempatan," ucap Bunga secara formal pada kedua marsekal muda ini.
"Terimakasih banyak atas petuahnya yang sangat berharga untuk kami agar selalu mengingat Allah dalam keadaan apapun," ucap kapten Bimo sambil tersenyum.
Sementara Daffa hanya memasukkan kedua tangannya ke dalam kantong celananya tidak memberikan respon apapun karena gejolak batinnya sedang bertempur di dalam sana untuk menahan wanitanya agar tidak meninggalnya.
Rupanya yang menjemput Bunga adalah pamannya Devan dan Daddy Amran yang langsung memeluk putrinya." Daddy....! hiks....hiks...i am so sorry...!" manja Bunga dalam pelukan ayahnya yang langsung mengecup keningnya Bunga dengan penuh cinta.
"Alhamdulillah. Kamu baik-baik saja, Baby? putri ayah memang hebat!" puji Amran sambil mengusap punggung putrinya yang mendekapnya erat.
"Daddy, uncle Devan. kenalkan co-pilot Bimo dan pilot Daffa! marsekal Daffa ini Daddy tampan aku dan ini uncle kesayangan aku," ucap Bunga memperkenalkan keempat laki-laki tampan itu yang saat ini sedang bersalaman sambil menyebutkan nama mereka masing-masing.
"Sebaiknya kalian berdua tunggu di kapal saja. Kami akan tunggu kedatangan bala bantuan untuk kalian. Jangan menginap di sini karena tempat ini sangat rawan. Kapal kami akan tetap stay di sini sampai rekan kalian menjemput kalian. Dan tolong jangan menolak tawaranku karena aku tidak akan mengulangi perkataanku anak muda...!" ucap Amran tampak berwibawa di depan kedua marsekal muda ini yang saling menatap.
Tidak perlu ditawari Amran, justru itu yang diinginkan Daffa sejak tadi karena dia belum siap berpisah dengan Bunga.
Melihat wajah datar Daffa yang terlihat sangat berharap membuat Bimo langsung mengangguk.
"Baik Tuan Amran. Kami terima tawarannya," ucap co-pilot Bimo yang tidak tega melihat sikap diam Daffa yang sedang menahan diri tak berdaya berpisah dengan wanitanya.
Daffa memejamkan matanya penuh rasa syukur dan terimakasih kepada Allah dan rekannya itu." Aku akan membalas kebaikanmu suatu saat nanti, Bimo," batin Daffa sambil menarik nafas lega.
"Ayo...! silakan naik ke speed boatnya karena akan terjadi badai lagi...!" pinta Devan.
Bunga naik lebih dulu dibantu ayahnya yang sengaja menggendong putrinya agak tidak basah karena air laut. Dan di susul yang lainnya yang sudah siap menuju kapal pesiar yang jaraknya sekitar 700 meter dari bibir pantai.
Kalau bisa meminta, Daffa ingin menawarkan diri untuk menggendong Bunga tapi itu tidak mungkin dilakukan karena berhadapan langsung dengan induk singa dari wanitanya.
Begitu tiba di depan body kapal, Devan naik ke tangga kapal lebih dulu dibantu Nathan dan El, lalu disusul Bunga, Amran, Daffa dan Bimo.
Setibanya di atas kapal, Nabilla yang tetap mengenakan cadarnya menyambut putrinya di ikuti keempat Tantenya yang lain.
"Masya Allah, sayang! kamu jadi kedinginan seperti ini. Ayo kita langsung makan malam!" ajak Nabilla pada dua tamu mereka.
Bimo dan Daffa terperangah sendiri ketika melihat wajah keluarga besar Bunga tidak ada yang jelek. Dari mulai yang tua hingga yang muda.
"Masya Allah. Apakah mereka adalah keluarga artis? bibitnya benar-benar gila. Terutama gadis-gadisnya, semuanya sangat cantik. Hei Daffa...! malam ini langit tetap menaburkan bintang-bintangnya walaupun hujan sedang berlangsung saat ini," bisik Bimo setengah bercanda.
Namun, jantungnya hampir berhenti saat melihat wajah Cintami yang baru muncul yang saat ini mengenakan hijab merah dengan dress warna senada. Aura kecantikan yang bernama lengkap Queenara Cintami Magnolia ini tersenyum cerah menyambut saudaranya Bunga.
"Masya Allah. Masih ada lagi stoknya?" batin Bimo sambil menyikut lengan Daffa agar melihat Cintami.
Bimo yang terlihat ikut berbinar malam ini karena ada Cintami. Yang awalnya hanya mengagumi saudara sepupunya Bunga, kini degup jantungnya tidak bisa kompromi untuk tidak melihat si jelitanya Amran.
"Kamu hampir buat aku mati ketakutan saat mendengar kabar dari menara ATC mengatakan kalau helikopter kalian lost kontak," gerutu Cintami sambil memegang kedua bahu Bunga.
Cintami menelisik sesaat melirik ke arah Daffa dan Bimo yang juga ikut menatap mereka. Gadis berjilbab ini hanya mengatupkan kedua tangannya dengan senyum seadanya lalu kembali fokus pada Bunga.
Semuanya duduk di kursi mereka masing-masing. Masakan kuliner dari mulai tradisional maupun internasional tersaji di atas meja panjang itu. Setelah basa basi sesat dengan kedua marsekal muda itu, akhirnya tuan Rusli mengajak semuanya untuk membaca doa terlebih dahulu baru menikmati makan malam itu.
Daffa mampu mengendalikan perasaannya dengan sikap kharismatik layaknya seorang perwira muda. Walaupun hatinya masih tidak tenang saat ini namun ia mampu menjawab setiap pertanyaan yang dilontarkan oleh keluarga Bunga. Begitu pula dengan Bimo yang kurang fokus karena selalu melirik Cinta.
Usai makan malam, keluarga Bunga asyik ngobrol sementara Daffa pamit untuk merokok di sudut kapal sambil menikmati terpaan angin laut. Bunga menghampiri pria tampan itu dengan membawakan minuman hangat untuk Daffa.
"Apakah ada yang indah dilihat malam ini?" tanya Bunga membuyarkan lamunan Daffa yang seketika membuang puntung rokoknya seraya membalikkan tubuhnya.
"Bunga. Sorry, saya hanya ingin berdiam diri di sini sebentar," ujar Daffa.
"Mau ditemanin?" tanya Bunga.
"Dengan senang hati karena itu yang aku nantikan sejak tadi," ucap Daffa jujur sambil merapikan anak rambut Bunga yang selalu menutupi wajah gadis itu. Ia kemudian mengambil sapu tangannya dan memutarnya memanjang.
"Ijinkan aku mengikat rambutmu!" pinta Daffa santun.
"Hmm!"
Bunga membalikkan tubuhnya. Daffa menyatukan surai indah milik Bunga, menaikkan ke atas hingga memperlihatkan leher jenjangnya Bunga membuat nafasnya naik turun tak beraturan. Tangannya gemetar mengikat rambut panjang Bunga yang terdiam gugup.
Aroma parfum milik Bunga yang masih saja terasa harumnya menguar lembut ke penciuman Daffa. Jari-jari kekarnya itu begitu berani menyentuh leher jenjang tampak menggoda imannya untuk disentuh dengan bibir namun ia harus menahan diri. Namun ujung jari itu tidak bisa berhenti mengusap, membelai lembut leher jenjang seputih porselin mewah nan mahal itu.
"Bunga," serak Daffa menahan hasrat menautkan kedua tangannya Bunga membentuk sayap lalu menyatukan tangan mereka didepan perut Bunga.
"Hmm."
"Berapa usiamu?" tanya Daffa.
"Tujuh belas tahun tujuh bulan," sahut Bunga.
"Apakah aku bisa melamarmu setelah kamu menyelesaikan sekolahmu?" tanya Daffa.
"Aku sudah menamatkan jenjang pendidikan tinggi di luar negri. Di Amerika. Aku mengambil sains dan hukum dalam satu waktu di university Oxford Amerika. Aku sudah menyandang gelar sebagai
Sains : B.Sc. (Bachelor of Science)
Hukum : L.L.B (Bachelor of Laws)
Apakah kamu masih mau menunggu aku melanjutkan pendidikan lagi untuk meraih gelar doktor?" seloroh Bunga membuat Daffa tidak bisa berkutik karena seloroh Bunga tapi, usia muda Bunga yang mampu meraih dua gelar bergengsi sekaligus di luar negeri.
"Masya Allah. Apakah gadis ini termasuk golongan jenius?" batin Daffa terdiam membisu.
Bunga membalikkan tubuhnya lalu menanyakan Daffa yang masih membisu." Apakah kamu siap melamarku malam ini pada Daddy aku?" tembak Bunga agar Daffa bisa memiliki dirinya seutuhnya.
Duaaarrr.....
......
Say. Baca juga novel baru author yaitu menolak pinangan sang sultan.