
Cintami yang mendekati mobil penjahat itu tiba-tiba dikejutkan dengan ledakan mobil yang maha dahsyat hingga tubuh istrinya Arsen itu terpental jauh saking kuatnya ledakan api yang berasal dari tangki bensin yang sudah menjalar di sepanjang jalan dengan sambungan kabel yang ada di mobil yang memercikkan bunga api.
"Cintamiii....!" pekik Adam berlari mengejar saudara kembarnya itu yang sudah tergeletak pingsan di bahu jalan.
"Adam....! Ada apa? apa yang terjadi dengan Cintami?" cecar Nabilla ketakutan setengah mati.
"Cintami pingsan mommy karena imbas dari ledakan mobil penjahat," sahut Adam sambil berteriak di tengah derunya hujan.
"Innalilahi wa innailaihi rojiuuun!" pekik Nabilla.
Arsen yang mendengar ucapan Adam mempercepat laju kendaraannya. Daffa melihat posisi Adam dan Cintami yang tidak jauh dari mereka dan langsung menjalankan mobilnya secara pelan menghampiri Adam yang memangku kepala adiknya sambil menangis ketakutan.
"Cintami. Bangun...!" teriak Adam sambil mengusap pipi Cintami.
Belum saja hilang paniknya, tiba-tiba terdengar tembakan dari penjahat yang mengarah kepadanya membuat ia segera membaringkan kepalanya Cintami di atas aspal.
"Sial...! Aku kira kalian sudah mati dalam ledakan mobil tadi, rupanya kalian masih hidup," ucap Adam menyongsong penjahat itu dengan melepaskan tembakan ke arah penjahat yang hanya tinggal satu orang.
Tidak lama mobil Arsen tiba di tempat itu di mana istrinya terbaring pingsan di bawah guyuran hujan. Arsen segera turun dan menggendong istrinya. Daffa membukakan pintu mobil untuk iparnya itu.
"Kita harus segera ke rumah sakit...!" titah Arsen pada Daffa yang siap mengantar pasangan itu ke rumah sakit.
Sementara itu, Adam menggunakan mobil Cintami untuk mengejar penjahat yang ingin membunuhnya juga. Rupanya bukan nyawa Syakira saja yang menjadi target sang penjahat, namun juga dirinya yang mereka juga buru.
Sebenarnya, Adam tidak ingin menembak mati sang penjahat sebelum mengetahui siapa dibalik penyerangan malam ini dengan menyewa sang penjahat yang sekarang lari menyebarang jalan utama.
Karena lawan arah dengan sang penjahat membuat Adam harus memutar balik lagi mobilnya yang cukup jauh dari tempatnya sekarang.
"Adam. Di mana kamu?" tanya Nabilla.
"Lagi kejar penjahat mommy. Dia sekarang berlari menuju jalan utama ke arah terminal keberangkatan luar negeri," sahut Adam.
"Apakah kamu sudah melihat wajahnya?" tanya Nabilla.
"Tidak bisa mommy karena hujan deras dan terlihat sangat gelap. Apalagi dia mengenakan pakaian dan jaket serba hitam," ujar Adam.
Amran Menjalankan mobil dengan kecepatan stabil menuju jalan ke arah terminal keberangkatan luar negeri. Nabilla, Bunga dan El Rumi melihat ke arah luar jendela mobil agar bisa menemukan sosok penjahat yang mungkin saat ini masih berjalan kaki.
Sementara itu, Ghaishan yang berhasil menangkap wajah penjahat dari tangkapan layar dengan teknologi canggih, segera mencari data diri penjahat itu yang tidak lain adalah pembunuh bayaran tingkat satu.
"Nama Frederick. Usia 30 tahun dan berkebangsaan Amerika. Merupakan pembunuh bayaran tingkat satu yang bekerjasama dengan oknum pejabat yang ingin memenangkan pemilihan calon presiden," ucap Ghaishan membuat Nada berpikir keras.
"Siapa yang membayar orang ini Ghaishan untuk membunuh Syakira dan kak Adam?" tanya Nada bingung.
"Kita akan periksa rekeningnya. Biasanya mereka akan menerima pembayaran awal sebelum melakukan eksekusi pada target," ucap Ghaishan.
"Kamu salah Ghaishan. Pembunuh bayaran nomor satu selalu mengambil bayaran awal mereka dengan uang tunai. Setelah eksekusi berhasil, mereka baru terima sisa pembayarannya melalui transfer rekening," ucap Nada.
"Hebat sekali analisis kamu, baby. Kalian bisa belajar sejauh itu tentang uang bayaran untuk pembunuh nomor satu," puji Ghaishan.
"Kita harus mengabari mommy dan lainnya," ucap Nada.
"Mommy sudah mendengar informasinya dari Ghaishan, Nada. Terimakasih Ghaishan. Tolong lihat keadaan Syakira, Nada..!" titah Nabilla.
"Syakira ditemani nenek Ambar dan Eyang Mariska, mommy," jawab Nada.
"Pasti dia sudah membaur dengan para penumpang lainnya karena saat ini sudah pukul 2 pagi," ucap Nabilla.
"Setidaknya kita sudah mengetahui identitasnya. Dengan begitu kita tahu bagaimana bentuk wajah penjahat itu," ucap Amran.
"Bagaimana kalau dia sudah mengenal kita?" tanya Bunga yang bingung sendiri untuk menangkap penjahat.
"Pakailah gamis dan cadar mommy agar kamu tidak mudah dikenali oleh penjahat itu. Nanti sampai di dalam kita berpencar!" titah Nabilla.
"Berarti aku sama El juga menangkap penjahat itu?" tanya Amran.
"Iya sayang. Lakukan peranmu sebagai mafia...!" titah Nabilla lembut pada suaminya.
Amran bisa saja menyuruh anak buahnya yang akan membunuh penjahat itu. Hanya saja Amran tidak bisa nekat melakukannya karena ini menyangkut internasional di mana Syakira masih dibawah naungan manajemen artis sekaligus pengusaha terkaya nomor satu di Amerika. Dan motif penembakan dirinya yang belum mereka ketahui sebelum menangkap penjahat itu.
Hujan diluar mulai reda hanya meninggalkan gerimis halus namun cukup membuat orang kedinginan. Adam yang sudah tiba di tempat parkir menggantikan bajunya terlebih dahulu sebelum beraksi lagi di dalam ruang keberangkatan.
Nabilla menunjukkan identitasnya sebagai anggota FBI pada petugas bandara yang langsung mengijinkan keluarga itu masuk untuk mencari sang penjahat.
El sudah menemukan sang penjahat yang sudah berada di ruang tunggu untuk menunggu pesawat menuju Amerika.
"Mommy...! Cepatlah mengejar penjahat itu karena pesawatnya sesaat lagi akan berangkat.
"Apakah dia memakai identitas palsu?" tanya Nabilla karena penjahat itu pasti membawa pistol.
"Tidak. Dia tidak membawa senjata apapun. Dia hanya ingin pulang ke Amerika sebagai penumpang biasa bukan menyamar jadi apapun," ucap El namun terasa ganjil bagi Nabilla.
"Jangan sampai kita terkecoh dengan ulahnya El. Sepertinya dia sedang menunggu Adam," ucap Nabilla yang sudah pengalaman mengetahui bagaimana pola pembunuh bayaran bekerja untuk mendapatkan targetnya.
"Mommy...! Adam sudah berada di ruang tunggu. Tapi tidak menemukan penjahat itu," ucap Adam.
"Astaghfirullah halaziiim. Sekarang penjahat itu sedang menuju ke tempat pesawat jet pribadinya," ucap Nabilla membuat semuanya langsung meminta otoritas bandara untuk meminjam kendaraan yang ada di dalam landasan bandara itu.
Dengan menaiki bis yang ada di landasan bandara, Nabilla mengejar sang penjahat di mana saat ini pesawat jet miliknya penjahat sedang berjalan menuju landasan pacu.
El-Rummi meminta menara ATC agar tidak mengijinkan pesawat jet pribadi itu untuk terbang meninggalkan Indonesia.
"Maaf tuan. Pesawat jet pribadi milik tuan Fredrik baru saja meninggalkan bandara," ucap pihak ATC bandara.
"Kalau begitu minta co-pilot untuk balik lagi ke bandara atau aku akan meminta bosmu memecatmu!" ancam El-Rummi.
"Baik Tuan. Aku akan contek lagi co-pilot untuk landing lagi," ucap bagian ATC bandara itu ketakutan dengan ancaman El-Rummi.
Sang penjahat sedang asyik tiduran di kamarnya sambil meneguk wine dengan santainya seakan sudah bebas dari kejaran keluarga Amran. Saat pesawat itu menapakkan lagi rodanya di landasan bandara membuat sang penjahat tersentak.
"Sepertinya pesawat ini kembali lagi ke bandara awal?" gumam Fredrick tidak mengerti. Iapun menghubungi co-pilot melalui telepon kamarnya.
"Apa yang terjadi? Kenapa pesawatnya balik lagi?" tanya Fredrick.
"Maaf tuan. Cuacanya tidak mendukung untuk melakukan penerbangan," ucap co-pilot William bohong walaupun sudah mengetahui alasan sebenarnya.
"Siall...! Mudah-mudahan saja tidak berkaitan dengan keluarga agen rahasia itu," maki Frederik penuh murka.