
Aroma makan siang kali ini menambah selera makan kedelapan cucu Amran itu. Ada ikan bakar, sup ikan dan juga lobster saus asam pedas dan dilengkapi oleh beberapa sayuran lainnya. Mereka mengeksekusi hidangan di hadapan mereka penuh kenikmatan.
Kebetulan siang itu udara sangat panas walaupun di mercusuar itu ada mesin pendinginnya namun, mereka sedang menikmati buah-buahan segar berupa salad buah dan sayuran segar yang dicampur dengan yogurt dan parutan keju asli negara tersebut dan tentunya halal karena berasal dari pabrik milik keluarga nyonya Rosela.
"Usai makan siang kita sholat dhuhur berjamaah ya!" ajak Raffi di angguki yang lain.
"Apakah ada acara lanjutannya?" tanya Ghazali.
"Lebih baik tidur siang agar nanti malam kita begadang lagi untuk nonton film dan melihat keadaan di luar sana. Malam ini akan turun hujan lebat dan akan terjadi badai laut seperti di lansir di berita cuaca hari ini," ucap Raffa.
"Bagus. Itu berarti mereka akan melakukan kegiatan ilegal di malam ini," ucap Ghaida.
"Apakah kalian punya rencana?" tanya Audrey.
"Masing-masing dari kita harus membuat dua tim untuk gantian jaga malam. Raffi, Audrey, Hanin dan Ghazali yang akan berjaga dari jam 1 hingga jam 3 pagi. Sisanya jam 3 pagi hingga jam 5 subuh," ucap Hanan.
"Ok siap."
Semuanya kompak menjalani misi pertama mereka sebagai saudara sepupu yang merupakan putri dari ketiga bidadari cantiknya Amran dan Nabilla. Mereka lahir dari rahim ketiga ibu tangguh yang membuat mereka menjadi hebat sampai saat ini.
"Apakah perbekalan kita masih banyak?" tanya Hanan pada saudaranya Dinar yang bertanggungjawab bagian makanan cemilan mereka.
"Masih banyak untuk 5 hari ke depan. Kita sudah sepakat agar tidak ada yang menyusul ke sini membawa makanan karena kita tidak ingin di awasi asalkan kita harus membuat laporan setiap tiga jam sekali melalui video call dengan opa dan Oma," ujar Dinar.
"Bagus. Yang penting ada makanan supaya kita tidak kelaparan karena area sini jarang untuk kita bisa mendapatkan makanan halal," jelas Hanin.
Mereka akhirnya beristirahat sebentar setelah berkeliling di sekitar pulau Kirrin. Memasuki waktu senja, seperti apa yang mereka duga, jika nanti malam akan terjadi lagi badai saat melihat di luar sana sudah terlihat mendung bergelayut di antara awan hitam pekat. Padahal saat ini baru masuk jam lima sore.
Kini kedelapannya sibuk main game dan juga membaca berita di ponsel mereka sambil mengunyah cemilan mereka masing-masing dengan minuman ringan yang ada di samping mereka. Tidak lupa Audrey menyiapkan buah sebagai pelengkap untuk menikmati permainan mereka di ponsel pintar mereka masing-masing.
"Apakah nanti malam kita perlu merekam aktivitas mereka dari kejauhan?" tanya Raffa.
"Benar. Kita rekam aktivitas mereka nanti malam dari atas mercusuar," ucap Hanin.
"Apakah kita perlu menggunakan lampu sorot mercusuar?," tanya Ghaida.
"Jangan lakukan itu....! Nanti akan mempengaruhi lalu lintas angkutan laut yang mengira di sini ada pelabuhan," cegah Dinar.
"Tapi aku ingin mengerjai mereka," ucap Ghaida.
"Mengerjai bagaimana, dek?" tanya Raffi.
"Kita lihat saja nanti kak! Kalau dibilangin sekarang tidak seru," santai Ghaida.
Semuanya hanya mendesah jengah dengan ulah si kembar yang selalu saja membuat mereka support jantung.
"Sepertinya mereka tidak akan lagi melakukan aktivitas ilegal nanti malam karena keberadaan kita," ucap Ghazali.
"Kenapa...?" tanya Raffa.
"Mereka nanti malam akan datang ke sini ke tempat kita," sahut Ghazali.
"Untuk apa ke sini?" tanya Audrey mulai tegang.
"Menghabisi kita," ujar Ghazali.
"Bagaimana kamu bisa mengetahuinya?" tanya Hanin.
Ghazali memperlihatkan hasil rekaman cctv-nya dengan memperdengarkan suara audio di mana tuan Alejandro memerintahkan anak buahnya untuk membunuh mereka. Semuanya menyaksikan rekaman itu dan mendengarnya dengan saksama.
"Bagaimana kamu bisa meretas tempat itu?" tanya Hanan.
"Menggunakan satelit milik Amerika yang ada di pusat markas NASA," jawab Ghazali.
"Jadi, kamu menggunakan id card milik daddy?" selidik Ghaida.
Ghazali mengangkat kedua bahunya seraya berkata" Apa lagi bisaku kalau tidak dengan menempuh jalan ini. Karena satelit bulan yang daddy letakkan di ruang angkasa sana yang mampu menembus situs terselubung apapun yang dilakukan oleh penjahat dan aku masuk menggunakan koneksi daddy," ucap Ghazali tanpa beban membuat sepupunya hanya bisa menepuk jidat mereka.
"Aku hanya ingin membasmi kejahatan, apa salahnya melakukan sedikit kecurangan untuk mendapatkan informasi," ucap Ghazali.
"Baiklah. Sebelum mereka melaksanakan aksi untuk membunuh kita, apa yang harus kita lakukan saat mereka tiba di sini?" tanya Dinar.
"Biar Ghaida yang tanganin kak," ucap Ghaida.
"Apakah rencanamu membuat kita aman?" cemas Hanan.
"Insya Allah. Serahkan semuanya kepada Allah!" ucap Ghaida.
...----------------...
Sekitar pukul 11 malam, mereka memutuskan untuk tidur karena akan ada tugas jaga nanti malam. Namun si kembar Ghaida dan Ghazali sulit untuk memejamkan mata.
Tidak lama kemudian terdengar suara petir bersamaan dengan hujan deras membuat Ghaida dan Ghazali tersentak. Intuisi mereka begitu kuat dan mereka kompak mengintip keluar untuk melihat keadaan.
Suara dengkuran halus dari sepupu mereka terdengar lembut. Si kembar tidak ingin mengusik tidur saudara sepupu mereka.
"Lihatlah Ghaida! Mereka sedang mengarahkan speed boat mereka ke sini," ucap Ghazali.
"Kita lihat saja apa yang mereka lakukan dibawah sana melalui cctv mercusuar," ucap Ghaida.
Sementara itu sang penjahat sedang membawa ransel besar yang seakan ingin melakukan sesuatu. Mereka menembakkan beberapa jangkar ke atas mercusuar untuk melakukan pemanjatan dari luar.
Sekitar lima orang melakukan pemanjatan mercusuar dengan tali yang sudah terikat di jangkar yang mereka tembakkan ke atas dinding mercusuar.
"Selamat datang musuh-musuh...! Aku senang bermain dengan kalian," ucap Ghaida menyambut penuh semangat saat lima orang penjahat itu siap melancarkan serangannya.
Sementara rekan mereka yang lainnya yang ada dibawah sana sedang melakukan pemadaman listrik di gardu induk yang tersambung ke mercusuar. Dalam sekejap ruangan yang ada di dalam mercusuar tiba-tiba gelap.
Merasa tidak nyaman, semuanya pada bangun dan sempat kaget karena ruangan gelap.
"Apakah di sini mati lampu?" tanya Audrey sambil menguap.
"Ssssttt....! Tenanglah kak, kita sedang di kerjain penjahat," ucap Ghazali.
"Apaaa...?" sentak Audrey panik.
"Tenanglah kak! Ayo bangunin yang lainnya!" pinta Ghaida.
"Hei...! Bangun semuanya! Ada penjahat..!" seru Audrey membuat saudaranya terbangun sambil mengucek mata mereka.
Tidak lama kemudian tercium bau gas di dalam mercusuar itu. Ghaida segera melindungi saudaranya dengan membuat gelembung udara agar gas tidak memasuki area tempat tidur mereka.
"Apa yang terjadi?" tanya mereka semua sambil mengucek mata mereka.
"Penjahat saat ini ingin membakar mercusuar," ucap Ghazali.
"Apaaaa....?" sentak Raffi panik ingin segera turun ke bawah namun Ghaida sudah mencegahnya.
"Kak Raffi. Percayalah kepadaku! Ghaida jamin kalau kita akan aman di dalam sini dan justru penjahat itu yang akan menerima akibatnya," ucap Ghaida.
"Apa yang akan kamu lakukan Ghaida?" tanya Raffa.
"Kalian lihat saja di dalam ponsel kalian karena Ghazali sedang mengarahkan ke setiap sudut cctv di Mercusuar ini!" jawab Ghaida membuat sepupunya penasaran.
Mereka menghidupkan ponsel mereka untuk melihat apa yang terjadi di luar sana dan apa yang dilakukan oleh si cantik pemberani Ghaida pada penjahat yang saat ini ingin membunuh mereka.
Ghazali melihat kelima orang penjahat yang sedang memanjat mercusuar itu hampir tiba di atas puncak mercusuar.
"Ghaida. Bagaimana ini?" panik Dinar ketakutan.
"Hadapi mereka dan jangan takut, wahai cucu-cucu opa Amran dsn Oma Nabilla!" seru Ghazali