Dikira Pembantu, Ternyata Istri Mafia

Dikira Pembantu, Ternyata Istri Mafia
306. Ulah Ghazali


Kepanikan Dinar begitu luar biasa. Badannya seakan lemas saat ini karena tidak menemukan Evren di kamar mandi. Apalagi Evren berada di bawah tanggung jawabnya, itu yang membuat hatinya dilanda gundah gulana.


Dinar mendatangi meja perawat untuk kelas VVIP yang ada tidak jauh dari kamar inap Evren. Baru saja kakinya melangkah hendak menanyakan sesuatu pada bagian perawat, ada telepon masuk dari dokter Jasmine.


Dinar buru-buru mengangkatnya. Ia tidak peduli saat ini sedang berhadapan dengan siapa. Amarahnya benar-benar tidak bisa terkontrol.


"Ada apa dokter?" tanyanya sedikit membentak.


"Tuan Evren di pindahkan ke tempat yang lebih aman oleh tuan Amran, opa kamu. Semuanya dilakukan secara diam-diam," ucap dokter Jasmine.


Deggggg..


"Rumah sakit mana?"


"Bukan rumah sakit. Tapi, kediaman kakek Salim. Itu yang saya ketahui," ucap dokter Jasmine.


"Terimakasih."


Dinar menutupi teleponnya dan kembali ke rumah kakek Salim. Ia menghubungi ibunya. Memastikan perkataan dokter Jasmine.


"Mama. Apakah mama mengetahui sesuatu tentang Evren?" tanya Dinar sambil berjalan keluar menuju lobi rumah sakit.


"Iya sayang. Evren dibawa ke rumah kakek Salim. Rumah sakit tidak aman untuknya. Aunty Nada yang merawatnya sendiri. Dan ada kejutan untuk kamu. Ayolah cepat pulang...!" ucap Cintami membuat Dinar penasaran.


"Kejutan?" heran Dinar.


"Baiklah. Saya akan pulang."


Dinar menarik nafas panjang lalu menghembuskan nafasnya lembut. Ia begitu bahagia karena keluarganya sangat mendukung misi penyelamatan Evren.


"Kejutan apa yang akan mereka berikan kepadaku?" tanya Dinar penasaran hingga meminta pak Rega untuk lebih mempercepat laju mobilnya ke arah mansion mewah kakeknya itu.


Sementara di kediaman kakek Salim, Ghazali membantu kesembuhan Evren. Ia mendatangi kamar tamu yang ditempati oleh Evren. Pemuda remaja tanggung ini menanyakan beberapa hal pada Evren layaknya orang dewasa.


"Hallo bro ..! Apakah kamu menyukai saudara sepupuku kak Dinar?" tembak Ghazali membuat Evren hampir tercekik dengan liurnya sendiri.


"Jawab saja pertanyaanku? Kamu suka atau tidak?" tanya Ghazali sekali lagi.


"Tentu saja aku sangat menyukai kakakmu tapi, apakah kakakmu menyukaiku juga? Itu masalahnya," ucap Evren menyesuaikan pikiran Ghazali yang sok dewasa.


"Dengarlah bro...! Di keluargaku semuanya terlahir jenius. Tapi kami tidak sombong kecuali aku karena mewarisi sedikit kesombongan dari opaku yang paling tampan yaitu opa Amran," angkuh Ghazali membuat Evren menahan tawanya.


"Benarkah?"


"Terus apa kelebihan yang kamu miliki?" tanya Evren yang mengira Ghazali hanya seorang remaja kecil yang sedang mempertontonkan keangkuhannya yang terdengar omong kosong.


"Sedikit lagi aku sudah mendapatkan gelar sarjana sains dan teknologi di Amerika karena kami tinggal di Amerika karena Daddy aku adalah astronot NASA," ucap Ghazali membuat Evren terkesima dengan mulut terbuka.


"Tidak usah memperlihatkan wajah lucumu seperti itu karena kamu hanya mengetahui tentang keluargaku hanya baru satu fakta yang aku ungkapkan kepadamu.


Jika kamu bersedia menikahi kakakku Dinar aku akan membuat lukamu cepat sembuh dan kamu tidak butuh kursi roda apa lagi tongkat untuk berjalan," jelas Ghazali seakan sedang memeras Evren saat ini.


"Dasar bocah...! Tidak usah merayuku untuk bisa memiliki kakakmu yang bidadari itu, justru aku ingin segera melamarnya hari ini juga," batin Evren.


"Begini, aku ingin sekali menikahi kakakmu yang hebat itu, tapi apakah keluargamu setuju?" tanya Evren serius.


"Tidak ada yang kurang darimu. Kamu tampan sangat tampan malah, kaya dan tentunya jenius dan yang paling penting harus Sholeh karena kelurgaku sangat menjunjung tinggi apa itu akhlak. Kelihatannya kamu sudah memenuhi syarat itu. Jadi kamu harus PD bro untuk melamar kakakku yang cantik itu," imbuh Ghazali.


"Oh iya. Apa yang ingin kamu lakukan kepada kakiku?" tanya Evren penasaran.


"Aku tanya sekali lagi, apakah benar kamu serius ingin menikahi kakakku Dinar?"


"Tentu saja kalau bisa hari ini juga aku ingin menikahinya," jelas Evren.


"Bagus. Kalau begitu aku akan mengobati lukamu atas ijin Allah. Ini menjadi rahasia kita sebagai lelaki. Mau berjanji padaku?" tanya Ghazali hendak menyatukan telapak tangannya dengan telapak tangan Evren seperti orang yang ingin adu panco.


"Ok. Janji lelaki," ucap Evren seraya mengeratkan kedua tangan mereka dengan serius.


Ghazali beralih membuka selimut Evren yang sedikit gugup karena ia tidak percaya begitu saja pada Ghazali.


"Tutuplah matamu! Aku tidak akan menyakitimu. Ini rasanya sedikit sakit dan panas dan kau harus menahannya," ucap Ghazali membuat Evren merasa tergelitik.


Karena berhadapan dengan anak remaja sok tahu, iapun memposisikan dirinya dengan tetap mengikuti arahan Ghazali hanya sekedar menyenangkan adik iparnya itu.


Ghazali menempatkan tangan kanannya diatas paha kanan Evren yang masih terbalut perban. Semenit kemudian Evren bisa merasakan aliran dingin di pahanya yang mulai terasa kebas seperti mendapatkan suntikan anastesi.


Sedetik kemudian Ghazali mengalirkan kekuatan tenaga dalamnya dengan menciptakan hawa panas di kaki Evren yang tidak merasakan sakit apapun. Setelah itu, Ghazali meminta Evren untuk menggerakkan kakinya.


"Sekarang kamu sudah bisa menggerakkan kakimu. Coba kamu tekuk lututmu!" titah Ghazali dan Evren menggelengkan kepalanya karena ragu juga dengan perkataan Ghazali yang dikiranya main-main.


"Kamu tidak percaya padaku?" kesal Ghazali lalu membuka perban yang masih menempel di paha Evren dengan sangat kasar membuat Evren reflek bergerak turun dari tempat tidur dengan posisi kaki berdiri sempurna tanpa terasa nyeri bercampur ngilu yang ia rasakan sebelumnya.


"Hah....?! Aku bisa berdiri? Kenapa tidak terasa sakit lagi?" tanya Evren sambil melompat kecil dan tertawa ringan.


"Bekas lukanya tidak ada. Jadi, kamu tidak perlu malu pada kakak Dinar kalau sudah menikah dengannya. Sekarang ayo kita keluar..!" ajak Ghazali.


Karena mengenakan celana pendek, Evren penasaran juga melihat bekas lukanya yang ternyata memang tidak ada. Pahanya tetap terlihat mulus seperti sebelum terjadi penembakan.


"Sekarang kamu baru percaya aku bisa mengobati mu, bukan?" ledek Ghazali dan Evren mengangguk setuju.


"Terimakasih Ghazali. Tapi bagaimana kamu bisa melakukannya? Apakah kamu punya kekuatan selain jenius?" tanya Evren.


"Itu rahasia perusahaan. Aku tidak bisa cerita kepadamu karena hanya kamu yang mendapatkan hak istimewa dariku dan aku akan menagih janjimu untuk menikahi kakakku Dinar," ucap Ghazali.


"Baiklah. Tapi kenapa aku tidak boleh tahu? Bukankah aku adalah pasien pertamamu?" tanya Evren.


"Kau adalah bagian dari hasil risetku untuk memastikan kekuatan yang ku miliki apakah bisa mengobati orang yang terluka fisik sepertimu,"santai Ghazali.


"Jadi, maksudmu aku adalah bagian dari hasil kelinci percobaanmu?" geram Evren.


"Anggap saja begitu? Tapi hasilnya sangat memuaskan, bukan? Tidak perlu ke dokter ahli untuk membuatmu sembuh secepatnya. Ayo sekarang kita keluar dan temui keluargaku yang lain.


Dan satu lagi, keluargaku selalu mengadakan pesta otak jadi, kamu harus bisa mengolah kemampuanmu saat membahas sesuatu dengan topik yang berbeda tergantung situasi dan kondisi," ucap Ghazali sambil mengedipkan satu matanya pada Evren yang hanya bisa terkekeh.


Keduanya meninggalkan kamar tamu itu dan ingin bergabung pada yang lainnya. Di ruang keluarga di mana keluarga besar itu sedang berkumpul dan saling bercanda dikejutkan dengan kehadiran sosok tamu mereka yaitu Evren yang berdiri sempurna dengan celana pendek sejengkal di atas lutut.


Semua mata tertuju pada pria tampan itu yang baru saja mereka selamatkan jiwanya dari ancaman orang-orang yang ingin membunuhnya. Nasibnya yang tidak jauh beda dengan Syakira yaitu hidup sebatang kara dan memiliki kekayaan berlimpah.


"Evren. Apakah kakimu sudah sembuh...?" tanya Nabilla.


"Iya Oma. Aku yang telah mengobati kakinya. Kasihan sekali kalau ia harus menunggu kesembuhannya sementara perusahaannya sedang dikuasai oleh keluarga tirinya yang tidak tahu malu itu. Hai bro...! Duduklah di sini denganku!"


Ghazali menarik tangan Evren agar duduk di sebelahnya di sofa panjang yang masih tersisa.


"Wah...! Kau sudah menjadi kelinci percobaan putraku," ucap Nada terkekeh.


"Aku juga buat perjanjian dengan kak Evren, mommy. Semuanya tidak gratis di bumi ini. Harus ada imbal balik," ucap Ghazali.


"Perjanjian apa ..? Jangan bilang kamu meminta saham padanya," tanya Ghaishan.


"Tidak Daddy . Ini adalah janji seorang lelaki sejati. Sekarang, katakan bro! Apa isi perjanjian kita..!" titah Ghazali.


Evren tampak malu-malu bercampur gugup. Ia tidak menyangka dirinya yang selama ini selalu bersikap datar pada orang lain dikerjain oleh bocah 12 tahun ini.


"Apakah saya bisa bicara pada pemilik jiwa raga dari Dinar yaitu ayah kandungnya Dinar?" ijin Evren membuat Arsen seketika bangun untuk mengenalkan dirinya sebagai ayah kandungnya Dinar pada Evren.


"Ada apa anak muda? Apa yang kamu inginkan dariku?" tanya Arsen penuh wibawa.


"Maaf tuan. Saya mungkin terlalu buru-buru dalam urusan ini. Tapi, demi reputasi saya terutama reputasi keluarga Dinar yang saat ini sedang dipertaruhkan karena menyelamatkan hidup saya.


Keberadaan saya di sini juga atas kehendak kalian supaya saya tetap aman. Dan sebelumnya saya minta maaf jika dianggap lancang. Tapi saya harus menyampaikan ini...-"


Ghazali menarik tangan Evren untuk mendekati wajahnya.


"Apakah kamu tidak bisa langsung ke intinya saja, bro? Kenapa semuanya dibuat berbelit-belit. Tinggal ucapkan kalimat lamaran, apa susahnya? Semua orang di sini keburu kebelet pipis kalau mendengar cara bicaramu seperti itu," omel Ghazali yang tidak sabaran mendengar ucapan Evren.


"Diamlah...! Kamu kira gampang apa minta anak gadis orang? Kamu kira lamar gadis itu seperti beli kacang rebus lalu bungkus bawa pulang?" semprot Evren yang emosi juga menghadapi sikap Ghazali yang semuanya harus instan.


"Setidaknya kamu tidak melamar kakakku melalui aplikasi belanja online," timpal Ghazali.


"Emangnya kakakmu itu barang dagangan apa..?" balas Evren.


"Ayo lanjutkan lagi acara lamarannya! Awas jangan berbelit-belit. Bisa-bisa orang semua kabur karena sakit perut," titah Ghazali.


"Hmmm!"


Evren mengatur nafasnya dan sesekali berdehem untuk menghilangkan rasa gugupnya.


"Maaf tuan. Ada iklan sedikit. Begini. Saya bermaksud ingin melamar putri anda yaitu Dinar. Maaf kalau sikap saya terkesan lancang," ucap Evren singkat.


"Mau lamar perempuan pakai minta maaf. Emangnya salah lamar perempuan ke orangtuanya?" gerutu Ghazali yang mendampingi Evren.


Semuanya nampak hening karena Arsen sedang berpikir saat ini. Walaupun hatinya cukup senang karena putrinya di lamar seorang pemuda baik-baik dan punya masa depan yang menjanjikan namun, masalah yang dihadapi Evren begitu komplek yang menjadi pertimbangan Arsen.


Amran tidak bisa berbuat apa-apa untuk memberikan suaranya karena posisinya hanya ayah mertua. Sepertinya semua orang pada kabur karena kebelet pipis. Sementara Evren makin panas dingin karena Arsen tidak kunjung memberikan jawaban lamarannya.


"Ayolah uncle Arsen. Kasihanilah pemuda ini. Entar dikira orang dianggap bujang tak laku," geram Ghazali.


Visual Evren