
Dinar menghampiri suaminya yang tergeletak lemas diatas tempat tidur. Dengan sangat hati-hati, Dinar membelai lembut kening suaminya lalu membenamkan bibirnya di kening itu.
"Tunggu 4 hari lagi tamunya akan pamit pulang. Namanya tamu pasti tak akan lama menginapnya," bisik Dinar sambil menatap dalam wajah Evren.
Dalam sekejap, Evren sudah menarik tengkuk Dinar dan menyambar bibir merah merona itu dengan cepat. Dinar terperangah namun ia mulai suka dengan perlakuan Evren seperti itu. Akhirnya tubuh keduanya sudah sejajar dan saling berhadapan.
Tangan kekar itu mencari resleting gaun pengantin Dinar agar bisa terbuka dengan cepat. Evren merasakan kulit lembut Dinar bak bayi membuatnya makin terangsang. Bisikan fulgar terdengar erotis kala ciuman itu terputus.
"Hanya bagian bawahmu saja yang haid tapi tidak dengan wilayah lainnya. Berarti aku masih bisa menguasai kedua bukit indah ini, bukan?" bisik Evren membuat wajah Dinar bersemu merah.
Evren membebaskan dua tahanan itu dari perisainya. Kini tangan kekar itu siap menggerayangi keduanya dan bermain di sana penuh kelembutan dan menciumi keduanya dengan gemas.
Aroma tubuh Dinar makin menggoda Evren seakan aroma itu melepaskan simpul syarafnya yang membelit kusut karena membangkitkan gairah birahi berkabut cinta. Dinar merasakan kenikmatan yang berbeda dan sungguh ini adalah pengalaman yang luar biasa dan tak pernah terlupakan.
Tanpa mendapatkan ijin dari Dinar, satu ujung bukit itu sudah berada di dalam mulut Evren membuat Dinar seketika mende$ah.
"Vren..hmmp!" desis Dinar terdengar sensual membuatnya makin gencar menyesapkan kedua bukit itu saling bergantian.
Ukuran dada itu cukup besar padahal dari penampilan Dinar hampir tidak terlihat. Mungkin tertutup jilbab membuatnya tersembunyi dari jangkauan mata lelaki. Dinar hanya menyuguhkan wajahnya yang cantik dan meneduhkan bagi siapapun yang melihatnya.
Evren bangkit untuk melucuti pakaiannya sendiri dan sekarang tersisa hanya segitiga pelindung yang sudah terlihat pemiliknya yang membengkak di bawah sana.
Dinar menutupi wajahnya karena begitu malu untuk menatapnya. Belum lagi tubuh atletis Evren yang membuatnya meleleh.
"Kamu tidak ingin melihatnya, sayang?" goda Evren seraya meraih tangan Dinar untuk menyentuh miliknya. Bagai tersengat listrik dari tangan Dinar pada miliknya membuat Evren mendesis nikmat. Dinar ingin menarik tangannya karena malu, namun Evren memaksanya untuk menggenggam.
"Jika kamu belum berani melihatnya, cukup dipegang saja, sayang? Lama kelamaan kalian akan saling membutuhkan karena dia adalah bagian dari kebahagiaanmu.
Dia milikmu. Berikan kesan terindah dari pertemuan pertama dengannya agar dia selalu ingat pulang karena merindukanmu," gumam Evren membuat Dinar harus memberanikan diri melihat dan mengenali daging tak bertulang itu.
"Makhluk kecil ini memang harus diperlakukan dengan baik. Jika tidak terpuaskan dia akan mencari tempat yang bisa membuatnya nyaman. Walaupun terlihat kecil tapi jangan coba-coba menyepelekannya karena dia bisa membuat hidupmu di dalam neraka karena penyelewengannya yang tidak bisa menemukan kepuasan pada tuan rumah nya dan aku adalah tuan rumah itu walaupun belum bisa diajak masuk tapi tidak ada salahnya menyenangkan dia dengan caraku," batin Dinar memberanikan diri menatap teman barunya.
Evren mengulum senyumnya. Menahan geli kala melihat Dinar bersi tatap dengan teman barunya seakan sedang mengamati bentuk dan ukurannya yang membuatnya kagum sekaligus ngeri.
"Sebesar ini? Bagaimana bisa menempati sarang ku yang sangat sempit di bawah sana?" tanya Dinar seakan sedang melakukan telepati dengan adik dari suaminya itu.
"Ayo sayang..! Jinakkan dia dengan mulutmu!" serak Evren yang tidak kuat lagi menahan hasratnya yang menggebu membakar jiwanya.
Dinar mengerti dan membuka mulutnya untuk merasakan milik suaminya.
"Ssssttt...oh, baby!" desis Evren menikmati jilatan dan hisapan lidah dan mulut Dinar yang sangat nikmat pada miliknya membawanya ke alam nirwana.
Permainan ringan itu terus berlanjut melewati setiap menit demi menit hingga dini hari. Malam itu jadilah pasangan pengantin baru ini bisa menikmati hal lain sebelum milik Dinar sudah siap untuk dikunjungi oleh milik suaminya.
......................
Pagi itu, Dinar dan Evren berencana mendatangi perusahaan Evren. Tapi Dinar ingin berangkat lebih dulu untuk menyingkirkan keluarga suaminya dari perusahaannya secepat mungkin sebelum mereka lebih jauh melenceng dan membuat perusahaan Evren bangkrut.
Beberapa menit kemudian Dinar sudah berada di perusahaan suaminya dan otomatis itu juga menjadi bagian perusahaannya karena dirinya adalah istri sahnya Evren. Di ruang kerjanya Evren kini Dinar berkutat dengan pekerjaannya sambil memeriksa laporan keuangan perusahaan yang makin tidak teratur.
"Sial...! pengeluaran besar-besaran bulan ini dengan laporan kegiatan fiktif. Apa mereka mengira perusahaan ini adalah milik mereka sendiri?" gerutu Dinar yang tidak bisa tolerir lagi perbuatannya tuan Azka dan kompolotann nya.
Dinar memanggil sekertaris Vey ke ruang kerjanya. Vey melenggang masuk menemui Dinar tanpa beban.
"Vey. Tolong panggilkan tuan Azka dan tuan Dimas ke ruang kerjaku sekarang!" titah Dinar datar.
"Ada keperluan apa, nona Dinar memanggil mereka?" tanya sekertaris Vey penasaran.
"Kamu akan tahu setelah kamu memanggil kedua orang itu karena kamu juga akan saya butuhkan di sini. Cepatlah...! Aku tidak suka menunggu," ucap Dinar tidak sabaran.
"Ok."
Dinar menghubungi selingkuhannya itu yang seharusnya menjadi anak tirinya. Tapi karena di perusahaan semuanya harus terlihat formal tanpa ada hubungan status di perusahaan itu berdasarkan silsilah keluarga.
"Tuan Azka. Tuan di minta ke ruang kerjanya nona Dinar sekarang!" ucap sekertaris Vey. Wanita berusia 40 tahun ini juga memanggil Dimas.
"Tolong jelaskan kepadaku! Bagaimana bisa laporan keuangan perusahaan ini dalam bulan ini pengeluarannya sangat banyak. Dan tidak ada laporan detailnya. Semuanya hanya garis besar tanpa pertanggungjawaban yang signifikan dari aliran dana yang terkuras cukup banyak bulan ini. Apa kalian sengaja membuat perusahaan ini bangkrut, hah?!" bentak Dinar yang sudah memperlihatkan tanduknya.
Tuan Azka menyeringai licik. Lalu menghampiri Dinar dengan tatapan mesum membuat Dinar sudah siap dengan bogem mentah yang sesaat lagi akan mendarat di bawah dagunya tuan Azka.
"Kau hanya pemegang saham di sini. Kau boleh pergi kalau kau mau nona karena perusahaan ini sudah menjadi milik kami karena pemiliknya sudah dinyatakan hilang oleh pihak otoritas negara ini. Jadi urusan perusahaan ini di bawah kendali ku. Aku bisa mengusirmu keluar dari sini kalau aku mau," ucap tuan Azka membuat darah Dinar mendidih.
"Kalian bertiga lah yang harus segera angkat kaki dari sini sebelum aku bertindak secara hukum dengan tuduhan penggelapan dana perusahaan secara besar-besaran yang dilakukan oleh kalian," ucap Dinar sengit.
Tuan Azka tertawa keras mendengar ucapan Dinar di ikuti kedua kaki tangannya.
"Jangan terlalu naif nona Dinar. Kau itu hanya anak kecil yang belum begitu mahir mengusai dunia bisnis. Lagi pula siapa kau hingga begitu vokal ingin menyingkirkan kami dengan mengirim kami ke penjara.
Justru kami yang akan menyingkirkan kamu dari perusahaan ini karena kau tidak bisa di ajak kerjasama," sarkas tuan Azka merendahkan posisi Dinar.
"Dasar maling....! Kalian bertiga terlihat sangat menyedihkan. Ingin menyingkirkan Evren hanya untuk mengusai perusahaannya," sinis Dinar.
"Kamu tidak perlu pendapatmu, nona. Kau hanya tamu di sini. Singkirkan dia Dimas..!" titah tuan Azka menarik sudut bibirnya.
Gubrakkk...
Pintu dibuka dengan kasar oleh pengawal barunya Evren yang direkomendasikan oleh Amran untuk menjaga cucu menantunya itu.
"Siapa kalian...?!" bentak Tuan Azka murka.
Tidak lama masuklah sosok yang selama ini mereka mengira sudah berhasil membunuhnya. Langkah tegap dan gagah itu menapaki ruang kerjanya sambil memasukkan satu tangannya ke kantong celananya dengan wajah datar dan tatapan mematikan menghunus tajam ke arah tuan Azka yang tercekat sambil mundur beberapa langkah.
"Evren...! Kau...!" gugup tuan Azka yang juga dirasakan oleh putranya Dimas dan sekertaris Vey.
"Kenapa begitu kaget melihatku, paman? Apakah kamu berbuat salah padaku?" sindir Evren setia dengan wajah datarnya.
"Sini sayang...!" Evren mengangkat satu tangannya menyambut Dinar yang menghampirinya. Lalu satu lengannya merangkul pinggang ramping istrinya seraya membenamkan ciumannya ke pelipis Dinar.
"Apakah mereka menyakitimu, hmm?" tanya Evren membuat ketiganya bingung dengan penuh tanya di benak mereka.
"Ternyata kau tidak lebih dari perempuan murahan berkedok hijab untuk menutupi aibmu," maki sekertaris Vey.
"Diam jal**ng. Jangan coba-coba menghinanya karena Dinar adalah istriku. Sekali lagi kau menghujat nya akan aku pastikan mulutmu itu tidak lagi berfungsi untuk makan dan bicara, kau mengerti?!" bentak Evren makin membuat tungkai kaki Vey terkulai lemas.
"Hah...?! Istri...? Kapan kalian menikah?" tanya Dimas bingung.
"Bukan urusanmu bajingan. Kejahatan kalian padaku sudah terlalu banyak. Menjual beberapa asetku di luar negeri secara diam-diam. Menggelapkan uang perusahaan dan menyabotase perusahaan yang ada luar kota. Dan lebih gila lagi kalian menyuap orang-orangku untuk mengkhianatiku.
Kalian menunggu kesempatan saat aku sedang bermain ski dan membunuhku saat aku mendekati tepi tebing. Dengan cara itu, kalian menganggap kematianku karena kecelakaan. Itukan rencana kalian untuk melenyapkan aku?!" ungkap Evren tanpa jeda membuat wajah ketiganya pias.
"Itu fitnah. Semuanya fitnah. Justru mantan sekertaris mu itu yang telah menggelapkan uang perusahaan. Kami yang berusaha menyelamatkan perusahaanmu, Evren," dalih tuan Azka.
Sekarang Evren baru mengerti mengapa tuan Azka mengajak orang-orang kepercayaannya untuk bekerjasama dalam rencana melenyapkan dirinya. Dengan cara itu, tuan Azka bisa menuduh mereka sebagai otak dari konspirasi pembunuhan atas dirinya.
"Semua kejahatan kalian sudah terbukti. Sekarang kalian harus bertanggung jawab atas perbuatannya kalian padaku. Penjara lebih tepat untuk mendidik kalian agar tidak lagi serakah," ucap Evren lalu memanggil polisi yang ada di depan ruang kerjanya untuk membekuk ketiga orang yang menjadi keluarganya.
"Evren. Ini hanya fitnah. Tolong paman Evren...!" elak tuan Azka yang masih memohon kepada Evren yang segera menutup pintu ruang kerjanya.
Dinar menghempaskan tubuhnya di atas sofa lalu menghembuskan nafas lega.
"Alhamdulillah. Akhirnya drama kelurga ini sudah berakhir," puji Dinar penuh syukur pada Tuhannya.
"Itu karena dirimu Dinar. Karena kehadiranmu yang mengembalikan semua pada tempatnya. Sekarang persiapkan dirimu karena kita harus pulang ke Jakarta untuk melakukan acara resepsi pernikahan dan bulan madu di pulau Dewata Bali.
Aku pernah nazar untuk mengunjungi tempat indah itu saat aku menikah nanti dan aku menikah dengan seorang gadis cantik dari Indonesia," ucap Evren seraya memagut bibir istrinya lebih dalam.
......................
3 episode lagi kita end ya say, kita buat sekuelnya karya ini untuk pembaharuan.