Dikira Pembantu, Ternyata Istri Mafia

Dikira Pembantu, Ternyata Istri Mafia
119. Mengapa Suaranya Sama?


Bunga menaiki pesawat jet milik FBI, di mana Mr. M sedang menunggunya. Wajah cantik itu masih terlihat sembab dibalik cadar itu. Dari bola manik indah itu, Mr. M bisa menebak jika Bunga baru melalui peristiwa besar yang sangat membuatnya syok berat.


Setiap gadis ini melewati latihannya, pernah melalui latihan yang sangat ekstrim namun selalu menggunakan pengaman tubuh agar tidak mudah jatuh dan cidera.


Tapi yang dialami Bunga hari ini hampir merenggut nyawanya karena melompat dari gedung tinggi untuk mencapai tali tangga pesawat diikuti serangan peluru secara brutal mengarah ke arahnya walaupun ia sudah mengenakan rompi anti peluru yang dirancang sangat tipis oleh dirinya sendiri namun tidak menutup kemungkinan kepala, paha maupun kakinya bisa saja tertembus oleh timah panas itu.


"Apakah kamu baik-baik saja?" tanya Mr. M yang langsung memeluk putri dari sahabatnya itu.


"Aku takut Mr.M," tutur Bunga seperti anak kecil dihadapan ibunya.


"Tapi, kamu adalah gadis hebat yang tidak akan tergantikan oleh pasukan manapun karena kamu bisa melumpuhkan lawanmu sendirian ditengah serangan penjahat yang berjumlah hampir lima puluh lebih.


Dan lebih mencengangkan aku, kamu bisa membasmi mereka semua tak tersisa," puji Mr.M.


"Berengsek....!" Bukan nyawaku yang aku pikirkan, tapi aku memikirkan nasib keluarga para penyerang itu. Apakah diantara mereka adalah ayah seseorang ataukah anak, suami, kekasih atau saudara seseorang. Aku telah mematahkan hati orang-orang yang pasti menunggu mereka pulang apalagi masih momen lebaran," batin Bunga.


"Duduklah dulu dan makanlah sesuatu!" titah Mr. M merenggangkan pelukannya dan menuntun Bunga untuk duduk di kursinya.


Seperti biasa Bunga butuh segelas teh kaki naga buatan Cina. Mr. M menyiapkan kebutuhan gadis itu sesuai selera makan minum Bunga yang tentu saja semuanya harus halal.


Bunga menikmati minumannya sebentar lalu menikmati makanannya. Ia ijin sebentar untuk menunaikan sholat dhuhur dan ashar yang dijama sekaligus. Bunga melalukan tayamum dan setelah itu sholat di tempat duduknya. Mr. M tidak menganggu dan juga tidak berani melihat wajah Bunga yang saat ini membuka cadarnya karena sedang menghadapkan wajahnya pada sang khalik.


Bunga merenungi apa yang membuat dirinya bisa ketahuan penyamarannya. Mengapa mulutnya bisa tidak sabar mengungkapkan kejahatannya tuan Zhidan. Jika ia lihai dan bermain sangat halus, mungkin ia tidak perlu membunuh orang lebih banyak dalam misi ini.


"Ya Allah. Ampuni dosaku. Aku telah zholim kepada diriku sendiri hingga menyebabkan orang lain mati sia-sia. Ya Allah berikan ketenangan hati untuk keluarga korban. Aku mohon ampunilah dosaku, ya Robb," tangis Bunga terasa kembali sesak usai menunaikan sholatnya.


Bunga melafazkan ayat suci Alquran untuk menenangkan hatinya yaitu surat Yasin. Setelah hatinya cukup tenang, ia baru mengambil ponselnya untuk melihat hasil rekamannya pada Mr M.


"Mr. M...!" tegur Bunga.


Mr. M menoleh melihat ke arah Bunga yang sudah bercadar lagi. Ia menghampiri Bunga yang sedang membutuhkannya.


"Pinjamkan aku laptop milikmu. Aku akan memindahkan file data yang sudah aku dapatkan dari tuan Zidane! Kita tinggal mencari tahu siapa dalang dari semua ini," tutur Bunga sambil membuka hasil rekamannya di ponsel miliknya.


Ia juga sudah mengambil SIM card milik tuan Zhidan untuk menghubungi siapa oknum pejabat pemerintah yang korup khususnya di divisi keuangan dan persenjataan di badan intelijen Amerika tersebut.


"Sekarang kita akan menangkap pengkhianatnya," ucap Bunga meretas CCTV di ruang divisi tersebut.


Bunga dan Mr. M sedang memperhatikan staff khusus di divisi tersebut. Diantara mereka tidak ada yang mengangkat panggilan yang dilakukan oleh Bunga.


Bunga dan Mr. M saling menatap. Mereka bingung bukan para staff di divisi tersebut itu yang melakukan pengkhianatan.


"Lalu siapa yang melakukannya?" tanya Mr. M cemas.


"Kenapa kita harus fokus kepada pada tampang staff yang tidak berdosa itu? Jika ada pejabat yang lebih berpengaruh berurusan dengan mafia sekelas Zidane. Semut hanya bisa mengangkut remah makanan sesuai ukuran tubuhnya.


Bagaimana jika binatang lain yang lebih berperan dengan tubuhnya yang kecil namun sangat rakus hingga mengerat benda yang keras. Hanya pekerjaan tikus yang bisa melakukannya," sindir Bunga pada kalangan pejabat di tubuh intelijen di negara itu.


"Jenius Baby. Aku sibuk memikirkan para staff itu yang melakukan pengkhianatan tapi aku lupa orang berpengaruh yang memiliki akses besar di beberapa negara. Pasti dia tidak bermain sendiri. Dia pasti punya koneksi dengan menteri luar negeri dan juga menteri keuangan negara," tutur Mr. M dengan pendapatnya.


"Berarti kita harus memburu tikus besar lainnya," ucap Bunga yang langsung ke para pimpinan tinggi di intelijen Amerika itu. Ia menggunakan SIM card milik tuan Zidane untuk menghubungi penjahat negara itu.


Bunga meretas ruang CCTV 8 kantor pimpinan tinggi intelejen tersebut. Walaupun 8 tayangan yang bisa menangkap visual 8 orang pimpinan itu, namun mereka butuh interaksi siapa pemilik nomor yang tertera dikontak milik Zidane.


"Permainan mereka begitu rapi hingga merasa sangat aman untuk bisa merasakan kekayaan milik tuan Zidane yang menyamar dengan seribu wajah," ujar Bunga.


"Kamu sangat pintar Zidan. Bersembunyi dari beberapa wajah orang yang tidak berdosa untuk membuat kamu tetap berada di zona nyaman. Jika aku tidak menyudutkan kamu dengan beberapa pertanyaan untuk menyibak topengmu, mungkin aku harus lebih keras lagi berusaha mendapatkan informasi untuk menemukan dalang utamanya. Ternyata sikap cerobohku membawa keberuntungannya juga untukku, walaupun aku aku harus mengorbankan nyawaku," ucap Bunga.


Gadis cantik ini melakukan panggilan ke nomor tujuan sambil memperhatikan pergerakan visual beberapa bos besar yang sedang anteng bekerja di mejanya di Amerika sana.


Satu orang lelaki gendut dengan tampang menyeramkan mengangkat panggilan dari Bunga. Bunga dan Mr. M sangat kaget melihat siapa orang itu.


"Astaga. Bukankah ini tuan Collins?" gumam Mr. M saat mengetahui pimpinan tertinggi badan intelijen itu.


"Hallo tuan Zidane!" sapa tuan Collins sambil menghampiri pintu ruangannya untuk dikunci agar tidak ada yang berani masuk ke kantornya.


Bunga buru-buru mematikan panggilannya. Ia langsung meretas dokumen penting milik tuan Collins yang berhubungan dengan Zidan.


"Kena kau berengsek!" maki Bunga yang sudah mendapatkan hasil kejahatannya Collins yang mendapatkan keuntungan 30 % dari setiap transaksi keuangan dari bank dunia.


Bunga bisa mengaksesnya melalui code Swift. Singkatnya, swift code sebenarnya adalah bentuk singkatan dari Society for Worldwide Interbank Financial Telecommunications. Kode ini dipakai untuk membantu memudahkan proses identifikasi lembaga perbankan atau sekuritas yang berlokasi di negara maupun cabang khusus.


"Mr. M. Ini semua bukti kejahatannya tuan Collins. Tugas saya sudah selesai. Sekarang saya ingin pulang.


"Tolong bekukan rekening tuan Collins sekarang!" titah Mr M pada Bunga yang mampu melakukan apa saja untuk menangkap penjahat.


"Perintahkan penangkapan tuan Collins sebelum dia kabur!" titah Bunga pada Mr. M agar cepat bertindak mengamankan pengkhianat itu.


"Terimakasih agen satu. Anda akan dijemput oleh marsekal TNI AU dari Indonesia di bandara internasional di New York. Mereka sudah menunggumu," ucap Mr. M.


"Terimakasih Mr M..!" ucap Bunga.


Setelah menempuh perjalanan beberapa jam, pesawat jet milik FBI tiba di bandara setempat. Mr M dan Bunga saling cipika-cipiki sebelum berpisah.


"Terimakasih agen satu. Titip salamku untuk kedua orangtuamu," ucap Mr. M.


"Insya Allah. Akan saya sampaikan," Bunga sudah siap-siap untuk turun saat pintu pesawat di buka.


Alangkah terkejutnya Bunga saat melihat wajah tampan sang kekasih berdiri di bawah tangga pesawat untuk menjemputnya.


"Ya Allah. Kenapa harus dia yang menjemputku?" sentak Bunga gugup.


Antara senang dan takut ketahuan Daffa jika penyamarannya terbongkar kalau agen satu FBI adalah dirinya sendiri. Beruntunglah ia menggunakan pakaian syar'i lengkap dengan cadarnya. Daffa memberikan penghormatannya pada Bunga yang yang hanya bisa mengangguk kaku.


Jantungnya seakan mau berhenti kini karena rindunya pada lelaki ini. Sikap tegas Daffa yang hanya menjalankan tugasnya tanpa mengetahui siapa gadis yang dibalik cadar itu.


"Lapor. Perkenalkan saya adalah marsekal Daffa TNI AU yang bertugas menjemput agen satu untuk mengawal nona kembali lagi ke tanah air Indonesia..!" lapor Daffa dengan sikap hormat.


"Lanjutkan..!" tegas Bunga melangkah dengan anggun menuju pesawat milik angkatan udara Indonesia.


"Kenapa suaranya mirip sekali dengan Bunga? apakah aku terlalu kangen pada kembang cintaku itu hingga menganggap suara gadis ini sama seperti suara Bunga," batin Daffa yang berjalan tegap di belakang Bunga.


"Ya Allah. Aku dikawal oleh kekasihku sendiri. Andai dia tahu siapa aku sebenarnya," batin Bunga saat menaiki tangga pesawatnya.


Bunga harus tetap bersikap profesional karena menjaga identitasnya.


......


Vote dan likenya cinta please!