Dikira Pembantu, Ternyata Istri Mafia

Dikira Pembantu, Ternyata Istri Mafia
220. Pengejaran Ditengah Hujan Deras


Suara pecahan kaca jendela terdengar nyaring dari kamar lain yang bersebelahan dengan kamar pengantin, membuat penghuni kamar lain tersentak.


"Astaghfirullah. Suara apa itu?" ayo kita lihat mas!" pinta Nabilla segera mengenakan lagi busananya dan juga hijabnya.


"Sepertinya terdengar dari kamar Adam," jawab Amran.


Kamar sebelah kiri dari kamar Adam adalah kamar Amran, sebelah kanan kamarnya Adam adalah kamarnya Bunga dan yang berhadapan langsung dengan kamar Adam adalah kamar Cintami.


Penempatan kamar itu sudah disetting dengan baik oleh Nabilla karena mereka harus bertanggungjawab atas keselamatan Syakira yang merupakan penyanyi terkenal internasional.


Ketiga pasangan itu kompak mengetuk kamar sang pengantin. Adam meminta istrinya untuk segera mengenakan piyama tidur dan hijabnya yang ada di atas sofa. Sementara dirinya sendiri hanya meraih jubah mandi yang tadi bekas dia pakai.


"Adam....! Buka pintunya sayang...!" pekik Amran sangat kuatir dengan keduanya.


"Sayang." Ayo, kita keluar dari sini dan tetap merunduk!" titah Adam pada Syakira yang berusaha tenang.


Adam berjalan lebih dulu membuka pintu kamarnya lebar-lebar agar Syakira bisa keluar. Syakira yang sudah terbiasa dengan ujian ambang kematian, masih berusaha tegar walaupun jantungnya sendiri ingin melompat keluar saat ini.


"Syakira. Kamu tidak apa sayang?" tanya Nabilla yang langsung memeluk menantu pertamanya itu posesif.


"Tidak apa mommy..!" ujar Syakira dengan bibir pucat.


Reno, Wira, Arland beserta istri-istri mereka sudah berkumpul di koridor hotel bergabung bersama keluarga Amran. Pasalnya setiap pasangan itu kompak ingin bercinta malam ini dan harus terganggu karena mendengar suara gaduh di luar kamar mereka.


Kumpulan kelurga mafia ini mencoba rileks untuk mencaritahu apa yang terjadi usai mengusir ketegangan yang melanda jiwa mereka.


"Apa yang terjadi?" tanya Amran pada Adam setelah mengusai keadaan jantungnya yang mulai stabil.


"Ada penembak jitu yang menggunakan kaca mata infrared. Sepertinya itu pembunuh bayaran yang memiliki perlengkapan untuk melakukan pembunuhan untuk menguasai area karena bisa membaca bayangan tubuh kami," jawab Adam.


"Berarti. Dia berada di gedung seberang sana. Kita harus menangkapnya," ucap Reno yang sudah lebih dulu memerintahkan anak buahnya untuk memeriksa gedung yang ada diseberang hotelnya.


"Kamu di sini sama mommy! Aku akan mengejar penjahat itu. Tunggu di sini, ya, sayang!" pinta Adam pada Syakira yang berat hati ditinggal suaminya namun harus mengangguk setuju.


Sementara Bunga yang sudah lebih cekatan bersama El rummi langsung menuju ke atas atap hotel untuk melakukan flying fox ke gedung yang berbeda sebrang hotel mereka untuk menangkap penjahat.


Sementara Cintami, Arsen dan Daffa langsung turun untuk menghadang penjahat itu sebelum penjahat itu kabur. Cintami membawa mobilnya sendiri. Sedangkan Ghaishan dan Nada sibuk membaca situasi melalui laptop milik mereka untuk melihat pergerakan mencurigakan orang-orang yang ada di sekitar gedung seberang walaupun itu sebenarnya adalah kantor.


"Sial....! penjahat itu melakukan penembakan dari atap gedung yang ada di seberang. Sekarang dia sudah menyelamatkan diri dengan tali yang langsung turun dari gedung bertingkat lantai 35 itu," ucap Ghaishan.


"Kita harus menangkapnya...!" ujar Nada yang melakukan kontak dengan yang lainnya melalui alat penghubung.


Pergerakan sang penembak jitu itu lebih cepat hingga ia bisa dengan mudah membaur dengan orang-orang di sekitar tempat itu yang masih ramai di jalanan karena masih menunjukkan pukul 12 malam.


Hujan mulai rintik dengan membawa angin dingin menerpa wajah Adam yang bertekad untuk menangkap sendiri penembak jitu itu. Sementara Bunga dan El masih menelisik atau gedung kantor itu dan mereka menemukan senjata milik penembak jitu yang dilengkapi alat peredam suara yang tergeletak di atas atap gedung.


Penjahat itu memang sengaja meninggalkan senjatanya agar tidak tertangkap oleh polisi maupun keluarganya Amran yang kesemuanya merupakan agen rahasia di Amerika.


"Ini senjatanya. Orang itu tidak bisa membawa pergi senjatanya. Pasti dia tidak jauh dari sini," ucap El lalu mengeluarkan ponselnya untuk mencetak genggaman sidik jari si pelaku pada gagang senjata namun tidak ditemukan sidik jari penjahat.


"Dia dalam pengejaran Cintami. Cepat susul Cintami karena orang itu sedang menyamar menjadi orang biasa," ucap Nada.


Bersamaan dengan itu, hujan disertai petir mulai menyapu kota Jakarta sehingga Bunga dan El harus segera turun dari atap gedung.


"Apakah kita balik dulu ke hotel atau bagaimana kak?" tanya El yang sudah basah kuyup seketika.


"Ini sudah tanggung El. Kalau kita pulang dulu, penjahatnya keburu kabur. Ayo kita susul Cintami dan Adam.


Kita sendiri tidak bawa kendaraan kak. Kita melakukan flying fox dari hotel ke gedung ini.


"Bunga, El, turunlah sayang mommy dan Daddy sudah di bawah gedung ini. Kalian bisa terjun ke bawah?" tanya Nabilla yang sudah menjemput kedua anaknya dengan membawa mobil anti peluru.


Pengejaran mulai dilakukan. Hujan makin deras. Jalanan tampak lengang hingga memudahkan keluarga Amran melakukan pengejaran kepada penjahat yang berjumlah dua orang.


"Di mana mereka sekarang?" tanya Cintami pada Ghaishan dan Nada yang memantau CCTV jalanan.


"Mereka menuju Bandara. Periksa semua jet pribadi yang mungkin saja salah satunya milik musuh..!" titah Ghaishan.


"Baik. Aku akan segera hubungi ATC bandara untuk tidak mengijinkan penerbangan bagi jet itu," ucap El Rumi.


"Bagaimana caranya untuk mengetahui penjahat itu apakah menggunakan jet pribadi atau pesawat komersial?" tanya Amran yang sedang membawa mobil.


"Lihat saja arah kendaraan penjahat itu. Apakah dia akan masuk ke terminal keberangkatan luar negri atau ke bandara khusus pesawat jet pribadi...!" titah Nabilla yang ikut melacak keberadaan mobil penjahat melalui ponselnya.


"Bagaimana kalau dia menumpang pesawat komersial?" tanya Amran lagi.


"Aku sudah mendapatkannya mommy!" Ucap Adam yang sudah lebih dulu berada di belakang mobil penjahat itu.


"Jangan melakukan penembakan di jalan tol, Adam!" titah Nabilla.


"Baik mommy...! Kita lihat saja bagaimana situasinya. Kalau mereka beraksi lebih dulu, aku tidak segan untuk menghabisi mereka," ucap Adam.


"Baiklah sayang. Kamu harus hati-hati ..!" pinta Nabilla.


Adam melajukan mobilnya mendahului mobil sang penjahat. Penjahat yang merasa aman dari pengejaran kelurga Amran melajukan kecepatan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


Namun sayang, baru saja mereka hendak masuk ke jalur menuju bandara pribadi khusus untuk pesawat jet, tiba-tiba Adam membalikkan mobilnya untuk menghalau mobil penjahat memasuki area bandara.


Karena pandangan dalam jarak jauh terhalang oleh hujan deras membuat sang penjahat tidak mengetahui arah datangnya mobil Adam yang tiba-tiba menyergap mobilnya.


"Awaasss....! Penjahatnya membanting stir hingga mobilnya harus melompat jalan sebelahnya yang lawan arah dan langsung disambut oleh mobilnya Cintami.


Mobil itu terguling beberapa kali dulu di jalur masuk arah bandara jet pribadi. Adam dan Cintami memarkirkan mobil mereka di pinggir jalan itu dan turun dari mobil mereka sambil berjalan dengan mengarahkan pistol mereka dalam derasnya hujan.


"Hati-hati Cintami...! Takutnya mobil penjahat itu meledak. Tapi jangan biarkan mereka lolos..!" titah Adam yang sedang menyebrangi pagar pembatas.


"Iya Adam..!" Cintami tetap waspada namun baru saja ia hendak memeriksa keadaan dua penjahat itu di mobil mereka yang saat ini sedang terbalik dengan ban mobil mengarah ke atas, tiba-tiba...?"