
Perasaan cinta yang tumbuh di hati El pada princess Tamara kian memuncak. Walaupun ia meragukan akan bisa mendapatkan seorang putri raja yang dianggap mustahil bagi sebagian kaum Adam namun El yakin bisa mendapatkan hati gadis bercadar itu.
Kedekatan El dan Tamara berawal dari ulah princess Tamara yang lagi-lagi ingin kabur dari bodyguard yang selalu menuruti perkataan ayahnya agar dirinya hanya keluar istana untuk kuliah selebihnya tidak boleh mampir ke manapun kecuali mendapatkan ijin dari sang ayah raja Farouk.
Kala itu, princess Tamara ingin mampir ke restoran hanya untuk membeli es krim. Ia bersikeras membelinya sendiri dan tidak ingin dikawal karena merasa sangat risih jika dirinya selalu saja menjadi tontonan rakyatnya yang menjadi segan jika dia berada diantara mereka.
"Hei..! Bisakah kalian hanya menjaga aku dari jarak jauh saja? Sudah tertutup seperti ini, mana mungkin ada yang berani menculik ku?" protes princess Elmira pada kedua bodyguardnya.
"Tapi nona. Keselamatan anda adalah tanggungjawab kami," ucap bodyguard Hanif.
"Aku hanya ingin membeli es krim itu. Menjadi orang biasa sejenak. Apakah itu sangat mahal untukku?" bantah princess Tamara seperti biasa.
Kedua bodyguardnya Tamara nampak terdiam sesaat dan saling berdiskusi. Mereka akhirnya menyetujui permintaan Tamara.
"Baiklah princess. Waktumu hanya sepuluh menit. Lebih dari itu kami akan menjemputmu secara paksa," tegas Hanif.
"Terserah..!" ucap Princess Tamara berjalan masuk ke kedai es krim yang banyak sekali pengunjungnya siang itu hingga mengantri agak panjang membuat princess Tamara ikut membaur dengan rakyat Bahrain.
Ditengah antriannya, El ikut menyusup di antrian itu hingga terlihat oleh princess Tamara.
"Bukankah itu El ..?" desis princess Tamara begitu girang. Ia segera mendekati El agar membelikan untuknya juga.
"Hai El!" sapa Tamara pada El yang sudah tahu adegan ini akan terjadi. El harus bisa bersandiwara secara natural agar tidak dicurigai oleh princess Tamara.
"Hai prin...-"
"Tolong jangan menyebutkan identitasku...!" pinta princess Tamara setengah berbisik dan El mengangguk paham.
"Ok. Apa kamu ingin beli es krim?" tanya El.
"Bisa tidak kita pergi dari sini, El? Aku bosan di awasi terus oleh kedua pria idiot itu," gerutu princess Tamara.
"Sedikit lagi kita akan dapatkan es krimnya. Setelah itu kita bisa kabur dari mereka," ucap El membuat princess Tamara kegirangan.
"Baiklah tidak masalah. Aku ingin es krim rasa vanilla dan coklat," pinta Princess Tamara antusias.
"Tunggu sebentar!"
El mengirimkan pesan ke bodyguard princess Tamara.
"Princess Tamara bersamaku. Sebaiknya kalian pulang saja. Aku akan mengantarkannya pulang ke istana," tulis El.
"Ini es krim milikmu. Makannya di mobilku saja," ucap El Rumi begitu mendapatkan es krim mereka.
"Terimakasih El. Kamu sangat baik." Princess Tamara membuka cup es krim miliknya dan memakannya sama seperti yang bias dilakukan oleh Nabilla.
Mobil mulai bergerak. Hati El rasanya di tabur kelopak bunga siang itu. Beruntung saja ia lebih dulu tiba di tempat itu saat princess Tamara ingin ke kedai es krim. Berkat alat penyadap yang di pasang El di ponselnya Princess Tamara. Jadi, dia bisa mendengar suara gadis itu.
"Kamu mau kita ke mana?" tanya El sambil melirik ke arah princess Tamara.
"Ke mana saja. Aku ingin menjadi orang bebas. Tidak mengikuti semua peraturan istana. Hidup seperti rakyat biasa," pukas princess Tamara usai menghabiskan es krim miliknya.
Kini ia melirik punya El yang belum di makan. Melihat princess Tamara belum puas makan es krim, El tidak tega melihatnya.
"Kamu makan punyaku saja. Ambillah sebagai hadiahku buat kamu karena kamu orang yang selalu peduli padaku," ucap El seraya menyerahkan es krim miliknya pada Tamara yang sangat senang dengan perhatian El padanya. Ia membuka es krim itu dan memakannya lagi.
"Kalau aku sudah terikat pada satu wanita yang berarti dalam hidupku, aku tidak akan berani mengkhianatinya dengan nekat jalan dengan wanita lain. Apa lagi permatanya negara ini," imbuh El membuat wajah princess Tamara bersemu merah dari balik cadarnya.
"Syukurlah. Berarti aku tidak perlu merasa bersalah pada wanita lain," timpal princess Tamara.
"Bagaimana dengan kamu sendiri?" tanya El membuat wajah princess Tamara berubah murung. Ia terdiam sesaat. Sendok es krim itu dilepaskannya begitu saja menandakan ia sedang berpikir. El juga tidak ingin mengusik lagi Tamara. Ia memilih menyalakan musik dengan lantunan lagu barat.
"Apakah pernikahan berdasarkan perjodohan itu akan membawa kebahagiaan, El?" tanya Tamara.
"Ada yang bahagia dan ada juga yang berakhir dengan perceraian. Apakah kamu akan dijodohkan dengan seseorang? Siapa pangeran yang beruntung itu?" tanya El dengan jantung yang tidak baik-baik saja.
"Salah satu pangeran Arab Saudi," jawab Tamara sendu.
"Apakah kamu sudah melihat orangnya?" tanya El.
"Sudah. Tapi aku akan dijadikan istri ke 3 untuknya. Dan aku tidak mau suamiku menjadi milik bersama dengan wanita lain. Mau dia tampan atau kaya tetap saja aku tidak menyukai pria dengan banyak wanita walaupun tidak ada larangan dalam agama kita, El," keluh Princess Tamara.
"Apakah kamu sudah menyampaikan protesmu itu pada kedua orangtuamu?" tanya El-Rummi merasakan dadanya menghimpit kini.
"Sudah berulangkali. Bahkan ingin kabur. Aku tidak ingin dijodohkan dengan siapapun. Aku ingin merasakan rasanya jatuh cinta itu. Memilih sendiri kekasih yang ku impikan. Yang membuat jantungku berontak setiap kali bertemu dengannya dan memikirkannya. Merasakan apa artinya merindu," tutur Tamara.
"Apakah kamu sudah menemukan pria itu?" tanya El penasaran.
"Sudah."
"Apakah dia juga seorang pangeran?"
"Tidak. Dia pangeran tanpa istana. Karena istanaku ada di hatinya," ucap Tamara tersenyum malu.
"Mengapa kamu tidak menghubunginya untuk melamarmu?" tanya El.
"Apakah dia seberani itu untuk melamarku?" tanya Tamara.
"Mengapa tanyakan itu padaku?" kesal El menahan cemburu buta pada pria yang digambarkan Tamara.
"Aku hanya ingin mengetahui pendapatmu saja. Jika benar seorang pria yang reka di hukum ayahku demi cintanya padaku, apakah dia mau berkorban atas nama cintanya untukku?" lirih Tamara membuat El menjadi jengah.
"Sudahlah. Kalau pria itu sangat pengecut untuk melamarmu, usir dia dari hatimu. Berharap pada pria pecundang hanya akan menyisakan air mata dan sakit hatinya untukmu," semprot El.
"Lantas. Siapa yang pantas aku cintai dan pria biasa mana yang berani datang melamarku? Mereka hanya bisanya membual di depanku tapi tidak bisa merealisasikan harapanku. Itu hanya terjadi di negeri dongeng," ucap Tamara kesal.
"Aku bisa melakukan itu untukmu Tamara jika pria yang kau impikan itu adalah aku," batin El sambil menarik nafas dalam.
"Andai saja aku berani mengatakan jika pria itu adalah kamu, El, mungkin kamu akan melakukan itu. Tapi, bagaimana kalau kamu sendiri tidak jatuh cinta padaku, El. Itu masalahnya," batin Tamara sedih.
Visual princess Tamara
Visual El-Rummi