
Waktu pagi di Indonesia, khusus ibu kota Jakarta. Pandawa dan Srikandi ini turun dari pesawat sambil menyalami kelima orang pramugari. Pasangan pertama yang turun adalah Amran dan Nabilla. Tangan keduanya saling bertautan. Lalu diikuti pasangan lainnya. Terakhir tuan Rusli, kakek Abdullah dan Alif yang sudah dijemput oleh ibunya agar anak itu tidak merasa sendirian.
"Alifff.....!" panggil mbak Tiar saat melihat wajah putranya yang sekarang sudah berusia tujuh tahun.
Alif juga sangat senang melihat ibunya lagi." Mama ...!" panggil Alif lalu mengembangkan kedua tangannya untuk memeluk ibunya yang sudah berpisah dengannya selama dua tahun.
"Mbak Tiar. Kalau mau bicara dengan Alif di dalam mobil saja. Jangan di sini!" tegur Nabilla karena posisi Alif masih belum aman saat ini.
Kunci yang dipakai pria kecil itu yang menjadi sumber petaka baginya. Satu-satunya cara membuat anak itu akan aman dengan menggantikan kalungnya beserta bandulannya dengan mitasi yang akan dibuat Nabilla.
"Nona Nabilla. Terimakasih sudah menjemput putraku dan membawanya lagi padaku dalam keadaan sehat," ucap mbak Tiar penuh haru.
"Sama-sama mbak Tiar. Aku sudah memenuhi janjiku kepadamu mbak Tiar. Dan sekarang tugasmu menjaga Alif dengan baik. Buatlah dia senang bersama denganmu," ucap Nabilla lalu buru-buru masuk ke dalam mobilnya.
"Tunggu Tante! di mana ayahku? bukankah Tante bilang ayah akan menjemput aku juga di sini?" tanya Alif sedikit kesal.
Nabilla membalikkan lagi tubuhnya dan tersenyum." Tanyakan ayahmu kepada mamamu karena mamamu lebih mengetahui di mana ayah kandungmu," ucap Nabilla.
Alif mendongakkan wajahnya melihat ibunya yang hanya mengangguk pasrah." Apakah mama tahu di mana ayah?" tanya Alif.
"Iya sayang. Nanti mama akan jelaskan kepadamu dan sekarang kita pulang ya!" ucap mbak Tiar yang sudah tahu kalau mantan kekasihnya itu pasti sudah meninggal. Mereka masuk ke mobil mewah itu untuk bergabung bersama tuan Rusli dan kakek Abdullah.
Keenam bayi pasangan itu saat ini sedang berada di kediaman kakek Abdullah. Dokter Mariska dan Oma Irene sengaja menunggu kedatangan putra putri mereka di sana karena diundang langsung oleh nenek Anisa sebagai sesepuh di keluarga besar itu. Lagian nenek Anisa sekalian menggelar syukuran untuk menyambut cucu-cucunya dan juga cucu menantunya. Jadilah sembilan bayi itu berkumpul bersama dengan kakak tampan mereka adalah Arsen.
Arsen menjaga adiknya Kirana dan baby Cintami. Sementara baby lain bersama baby sitter mereka masing-masing. Keempat wanita senior itu memastikan dulu hidangan yang ada di meja makan itu sudah lengkap semua atau belum. Karena mereka sendiri yang memasaknya.
Tidak lama terdengar debaman pintu mobil ditutup bergantian. Kembar tiga langsung beraksi menyambut kedua orangtuanya yang sangat mereka rindukan.
"Daddy ...!" ucap Adam sumringah saat ayahnya turun dari mobil itu diikuti mommy Nabilla.
"Mommy...!" Bunga dan Cinta tidak kuat menahan rindu.
"Oh ... putra daddy." Amran menggendong Adam lalu menciumnya.
Sementara Nabilla menggendong baby Bunga dan juga Baby Cinta. Kembar tiga saat ini sudah berusia dua tahun dan adik kembar mereka lima bulan. Lima hari meninggalkan kelima bayi mereka seakan sudah lima bulan tidak bertemu. Rasa lelah mereka tergantikan dengan penyejuk jiwa mereka saat ini.
Baby kembar yang sedang digendong baby sitter meminta ayah dan ibu mereka untuk gantian menggendong mereka. Baby El-Rummi dan baby Denada. Panggilan kedua bayi itu adalah El dan Nada. Sekarang Amran menggendong Nada dan Nabilla menggendong El.
Lira memeluk Arsen terlebih dahulu sebelum menggendong putrinya yang diikuti Wira yang mengambil baby Kiran dari gendongan istrinya.
Keluarga besar saling bersalaman dan cipika-cipiki satu sama lain. Sekarang Alif yang terlihat segan dengan keluarga itu saat menyadari dirinya adalah seorang putra pembantu di rumah besar itu. Namun Arsen mengetahui perasaan Alif dan mengajaknya bermain.
"Hai ..! Apakah kamu Alif?" tanya Arsen dengan wajah bersahabat.
Alif hanya mengangguk." Kenalkan aku Arsen," Arsen menyodorkan tangannya untuk berkenalan dengan Alif yang menyambutnya malu-malu.
"Ayolah...! kita makan bersama. Jangan sungkan pada keluarga ini. Mereka semua adalah orang yang baik. Bagaimana perjalananmu dari Wina ke Jakarta?" tanya Arsen terlihat akrab sambil menggandeng tangan Alif menuju meja makan untuk makan bersama keluarganya yang sudah duduk di meja makan itu.
Melihat ada Alif, nenek Anisa meminta pelayannya untuk menambahkan kursi untuk Alif. Awalnya Alif menolak untuk makan bersama dengan keluarga besar itu, tapi nenek Anisa memberikan pengertian pada pria kecil itu agar tidak sungkan dengan keluarga mereka karena ayahnya tuan Dito sering makan bersama mereka jika berkumpul dan jadilah Alif mau menerima ajakan nenek Anisa karena menyebutkan nama ayahnya yang pernah berjasa pada keluarga itu walaupun pada akhirnya Dito membelot karena ingin menyaingi kelurga itu sebagai penguasa hanya jalan yang ia tempuh adalah salah.
"Alif. Nanti kamu sekolah ditempatnya Arsen ya!" ucap Amran ditengah menikmati makan siang mereka.
"Tapi, aku ingin bertemu dengan ayah, om Amran," sahut Alif yang masih penasaran dengan ayahnya.
"Ayahmu saat ini masih berurusan dengan teman-temannya yang berkerjasama dengannya. Ayahmu seorang pebisnis dan sulit untuk dihubungi. Apakah kamu tidak mau melihat ayahmu senang mengetahui putranya sangat mandiri saat ditinggalkan? lagi pula di sini ada ibumu yang akan menemani kamu. Apakah masih kurang, Alif?" tanya Amran penuh kesabaran menghadapi Alif.
"Ibuku di sini hanya sebagai pembantu dan ayahku punya banyak uang yang akan menyenangi aku. Lalu, apa yang bisa aku banggakan memiliki ibuku hanya sebagai pembantu di istana milik om Amran?" ketus Alif sambil melirik wajah ibunya yang seketika terhenyak mendengar ucapan menohok putranya.
Semuanya yang duduk di meja makan itu menarik nafas dalam-dalam merasa sesak mendengar pernyataan Alif yang selama ini sudah disenangi ayahnya dengan fasilitas mewah.
"Kamu akan mendapatkan fasilitas yang sama di dalam rumah ini, Alif karena uang ayahmu sangat banyak yang dititipkan kepada kakek," timpal tuan Abdullah untuk menyenangkan hati Alif.
"Tapi, ibuku masih tetap berstatus pembantu di rumah ini dan aku tidak mau menumpang di sini seolah-olah aku bagian dari keluarga ini. Kata ayahku jangan pernah menjadi bawahan orang lain karena mereka akan terus memanfaatkanmu untuk kepentingan mereka. Apa lagi bekerja untuk keluarga kaya akan membuatmu terus terhina," ucap Alif mengulangi nasehat ayahnya dengan lantang membuat mbak Tiar membentaknya dengan kencang.
"Alif....! hati-hati bicara dengan orang yang lebih tua darimu, nak...!" tegur Mbak Tiar yang tidak enak hati pada keluarga besar Amran.
Arsen begitu kecewa dengan sikap Alif yang terlihat arogan. Iapun menasehati Alif dengan bijak." Alif. Mungkin saat ini ibumu tidak berarti apa-apa untukmu. Namun perlu kamu ingat satu hal, bahwa jika kita kehilangan ayah, seorang ibu bisa menggantikan tempat seorang ayah di hati kita. Tapi, jika kita kehilangan seorang ibu, duniamu ikut terkubur bersama raganya.
Sakitnya kehilangan ibu jauh lebih pedih daripada kehilangan ayah. Jangan menghina statusnya sebagai pembantu karena disisi Allah nanti kita akan dimuliakan Allah karena bakti kita kepada ibu. Dan dia Jackpot kamu untuk masuk ke surga. Di akhirat nanti bukan status pekerjaan orangtua kita yang akan ditanyakan Allah namun seberapa banyak ilmu agama yang membawa manfaat untuk hidupmu yang orangtua kita berikan kepada kita selama kita hidup.
Aku sudah merasakan bagaimana sakitnya kehilangan seorang ibu, Alif," ucap Arsen begitu lembut namun menusuk sampai ke jantung bagi yang mendengarnya karena Arsen sudah banyak mentadaburi Al-Qur'an.
Mbak Tiar meninggalkan keluarga itu kembali ke paviliunnya dan menangis di sana.
......
Vote dan like nya cinta please!"