Dikira Pembantu, Ternyata Istri Mafia

Dikira Pembantu, Ternyata Istri Mafia
61. Tamu Tak Terduga


Tuan Rusli masih menceritakan kisah cinta pilunya pada Nabilla yang mendengarnya tanpa ingin menghujat perbuatan ayahnya pada ibunya karena alasan ayahnya yang cukup masuk akal.


Percuma saja bagi Nabilla untuk marah pada ayahnya, toh, ibunya juga sudah meninggal dunia dan ibunya sudah memaafkan ayahnya. Siapa dia mau menghukum ayahnya karena sifat pengecut ayahnya yang tidak tegas dalam memilih wanita yang dia cintai.


"Begitulah permainan hidup. Kadang salah satu harus dikorbankan padahal yang kita korban itu adalah orang yang paling kita cintai. Yah sudahlah ayah, cukup Allah sebagai hakim yang akan menegakkan keadilan untuk manusia yang berlaku zholim pada manusia lainnya," sarkas Nabilla terdengar halus namun sampai menusuk hati ayahnya.


"Nak. Apakah kamu mau memaafkan ayah? karena ayah sudah mengabaikan kamu dan ibumu?" tanya tuan Rusli yang sekian lama terdiam mengenang cintanya pada Hilda.


"Insya Allah ayah. Aku sudah memaafkan ayah. Dengan ayah mengakui aku sebagai putri ayah di depan bunda Mariska dan Devan, itu sudah menjadi kebanggaan tersendiri untukku karena ayah siap mengorbankan rumah tangga ayah dengan bunda Mariska, jika bunda tidak siap menerimaku sebagai anak sambungnya.


Lagi pula aku sudah punya kehidupan sendiri di mana keluarga suamiku sangat menyayangiku dan sekarang aku dan mas Amran sudah memilki tiga anak, itu sudah cukup bagiku ayah. Dan mas Amran mulai menerimaku dan insya Allah, dia akan terus mencintaiku sampai maut memisahkan kami suatu saat nanti. Aku sangat mencintainya ayah, walaupun cintanya pernah membuatku sedih dan tak berdaya. Namun aku sudah terlanjur mencintainya dengan segenap hati dan jiwa ragaku," ucap Nabilla haru.


Amran yang diam-diam menguping pembicaraan ayah dan anak itu, ikut menangis karena pengakuan istrinya secara langsung mengatakan kepada ayah kandungnya yang sangat mencintai dirinya.


"Maafkan aku Nabilla. Maafkan aku, baby. Lagi-lagi aku selalu membuatmu kecewa dan sedikitpun kamu tidak pernah putus asa untuk mencintaiku," batin Amran sambil menarik nafasnya dalam-dalam karena merasa sangat tercekik saat ini.


Tuan Rusli memeluk putrinya. Keduanya menangis bersama. Air mata itu sudah membasuh luka mereka. Memaafkan itu jauh lebih mulia dengan begitu kita akan tenang menjalani kehidupan.


Menyimpan sakit hati dan dendam seperti menabur beling di dalam hati, makin engkau membenci, maka makin luka itu tertusuk lebih dalam dan kau akan tersiksa dan menderita sendiri karena dendam yang tak berkesudahan.


Hidup hanya sekali saja, maka tutuplah telinga dari kata yang menyakitkan. Yang lalu biarlah berlalu. Jangan rusak mimpi-mimpimu hanya karena sikap duniawi yang egois dan terlihat kejam padamu. Jika percikan sakit dari setiap ujian tidak membuatmu cerdas dalam bertindak, bagaimana mungkin kamu mampu bangkit untuk berdiri angkuh menaklukkan kesombongan manusia yang merampas hakmu untuk bahagia? hanya manusia yang berpikiran sempit lagi picik yang akan berakhir pada jurang keputusaan karena pengecutnya hati. Itulah yang terpikirkan oleh Nabilla saat ini.


Jika Nabilla dan ayahnya masih merajut hubungan darah yang terkoyak oleh manusia berhati besi, namun tidak dengan Reno yang sejak tadi terus menggoda Celia.


Saat gadis itu sibuk memakan kuenya yang baru digigit sepotong, Reno meraih pergelangan tangan Celia untuk menyodorkan potongan kue itu ke dalam mulutnya. Sontak Celia melebarkan matanya dengan mulut penuh sambil mengunyah.


"Potongan kue dari bekas gigitanmu sangat enak baby," goda Reno.


"Aku bukan babymu dan jangan menggangguku!" tegas Celia.


"Yakin mau mengusirku, baby? entar nyesal lho, kalau aku sudah pulang," goda Reno lagi.


"Kamu tu ya benar-benar-" !" Wajah Celia makin memerah, tapi entah mengapa ia bahagia dengan godaan kecil Reno karena itu yang membuat ia merindukan godaan Reno.


"Benar-benar membuatmu sayang sama aku, Baby," balas Reno.


"Ihhh... ngapain juga. Nggak butuh," sergah Celia.


"Benaran nggak butuh? ya sudah aku pulang ya?" sahut Reno sambil melangkah pergi.


Celia ingin berucap mencegah langkah Reno dengan satu tangannya yang terangkat ingin mengucapkan kata-kata yang tertelan kembali olehnya." Tolong jangan pergi kak!" lirih Celia tapi itu hanya terlintas di batinnya.


Celia merasa serba salah karena ia ingin sekali menunjukkan perasaan sukanya pada Reno tapi buatnya itu sangat memalukan dan terkesan murahan. Lagi pula ia juga tidak bisa bersikap genit karena awal pertemuan mereka dimulai dengan salah paham bahkan berakhir dengan pertengkaran. Celia terlihat kecewa juga sedih saat mengintip Reno yang sedang berjalan ke mobilnya.


"Apa...dia benaran mau pulang? bukankah tadi dia bilang mau melamar aku? kenapa tiba-tiba mau pulang? pasti dia hanya ingin mengerjai aku sajakan," batin Celia yang sudah berkaca-kaca.


"Astaga. Kenapa aku jadi sekecewa ini? apakah aku sudah jatuh cinta padanya?" lagi-lagi Celia merasa risau saat ini atas sikapnya yang sudah galak pada Reno.


Sementara di lantai bawah sana tepatnya di ruang keluarga, keluarga Reno yang masih tersisa duduk bersama keluarga Kakek Abdullah dan juga keluarga tuan Rusli dengan putranya Devan yang baru datang. Ada juga Arland yang duduk bersebelahan dengan Arsen yang tiduran sambil main game.


"Alhamdullilah. Untung si kunyuk ini adik kandung istriku, coba kalau bukan, sainganku makin banyak saja," batin Amran saat mereka duduk bercengkrama bersama karena ada ayahnya juga.


Tuan Rusli meminta waktu sebentar kepada keluarga itu untuk mengumumkan statusnya secara resmi pada keluarga besan dan juga Wira.


"Assalamualaikum semuanya. Mungkin diantara kalian sudah ada yang mengenal siapa aku. Tapi, hari ini aku ingin menyampaikan kabar baik pada kalian semua bahwa aku adalah ayah biologisnya Nabilla alias ayah kandungnya putriku Nabilla, istri dari menantuku Amran. Ceritanya cukup panjang dan juga suatu kebetulan bagaimana takdir telah mempertemukan kami.


Untuk itu, aku mohon maaf dan juga rasa terimakasihku kepada keluarga besan terutama kakek Abdullah yang sudah mau menerima putriku menjadi cucu menantu pertama di keluarga ini dan sekarang Nabilla tidak sebatang kara di dunia ini karena masih ada aku ayah kandungnya yang akan terus mengawasi kebahagiaannya" ucap tuan Rusli dengan tegas.


"Terimakasih tuan Rusli atas kejujuranmu yang mengakui Nabilla sebagai ayah kandungnya dari cucu menantuku Nabilla. Kami tidak sedikitpun ikut campur dalam hubungan kalian dan bagaimana kisah hidup kalian karena semua orang pasti punya kisah hidupnya masing-masing.


Kami begitu bangga memiliki menantu seperti putrimu Nabilla yang luar biasa jeniusnya, bukan hanya cantik saja secara fisik namun kecantikan akhlaknya dan juga keberanian dan ketegasannya untuk memerangi kegelapan yang dilanda oleh kejatahan. Insya Allah aku yang akan memastikan sendiri, putrimu akan bahagia bersama cucuku Amran," ucap kakek Amran bijak.


"Terimakasih kakek Abdullah," ucap tuan Rusli lalu menyalami keluarga besannya satu persatu. Amran menghampiri istrinya dan memeluk serta mengecup kening Nabilla.


"Ayah Rusli. Aku berjanji akan menjaga Nabilla dengan nyawaku sendiri," ucap Amran singkat, padat dan jelas.


Kini saatnya giliran Wira yang sudah mengetahui niat baik adiknya yang ingin melamar Celia sedang bicara sebentar dengan kakek. Kakek Abdullah sangat antusias dan menyambut baik kabar baik itu.


"Silahkan nak, Reno! niat baik harus dipercepat. Aku memang ingin melihat cucu perempuanku satu-satunya menikah...-"


"Bukan satu-satunya, ayah. Tapi masih ada dua lagi cucu perempuanmu yang belum pernah ayah akui sebagai cucu dari tuan Abdullah Al-Ghifari yang terhormat-"


"Kau ....!"


"Ya. Aku adalah Arumi, menantumu yang tidak pernah ayah akui aku sebagai menantu dan kedua putriku sebagai cucumu. Aku datang untuk meminta hak suamiku yang telah kakek hapus sebagai ahli waris," sergah Arumi yang nekat datang ke rumah kakek Abdullah.


"Mama .....! Ayo kita pulang yuk! jangan mempermalukan papa di sini!" pinta Lira dan Lea yang begitu malu dengan ulah ibu mereka yang memalukan.


"Lepaskan tangan mama Lea! apakah kalian tidak iri dengan kedua kakak kalian yang hidup bergelimpangan harta, dan tinggal di istana megah ini. Sementara kalian apa? hidup dari gaji ayah kalian yang tidak seberapa dengan memegang teguh nilai kejujuran hanya bisa memberikan kita penderitaannnnn.......!" pekik Arumi histeris di depan banyak orang.


Plakkkk....


Satu tamparan keras dari nenek Anisa pada menantunya yang tidak tahu malu ini membuat semua orang tersentak dan kedua putrinya saling berpelukan dengan wajah tertunduk malu atas perbuatannya ibu mereka.


"Siapa kamu, hah? Apakah kamu sudah tidak waras hingga datang ke rumah ini? apakah kami pernah datang melamarmu untuk menikah dengan putra kami Racky? apakah aku pernah memberikan statement pada publik mengakui kau adalah menantuku, hah?" tanya nenek Anisa dengan wajah garang lagi kelam.


Ucapan menohok dari nenek Anisa mampu melumpuhkan syaraf motorik Arumi. Tubuhnya terasa membeku. Setiap kata yang terucap dari mulut ibu mertuanya itu layaknya busur panah yang melesak masuk menembus jantungnya.


Menyayat hatinya tanpa ampun. Semua mata yang ada di di dalam ruangan itu tak bisa berkedip saking syoknya melihat bagaimana aksi nenek Anisa membungkam mulut besarnya Arumi yang memegang pipinya dengan wajah tercengang. Tuan Recky tidak bisa berbuat apa-apa karena ia juga geram dengan kenekatan istrinya yang masih mempermasalahkan harta.


"Harta siapa yang kamu maksud, wahai pelakor!" sarkas nenek Anisa lagi-lagi membuat Arumi tidak bisa berkutik lagi.


Sikap diam suaminya makin membuat ia ingin membunuh anggota keluarga itu.


.....


Vote dan like nya, cinta, please!