
Lima bulan kemudian, kehidupan sang pengantin baru kini tetap masih dalam suasana bulan madu. Sementara ketiga bayinya Nabilla sudah berusia sepuluh bulan. Ketiga bayi itu saat ini sedang kompak demam. Ketiganya terlihat rewel dan sulit dibujuk oleh siapapun.
Kebetulan Celia dan Lea sedang menginap di rumah kakek Abdullah, jadi bisa saling gantian menggendong ketiga bocah yang mulai kehilangan semangat mereka. Sulit dibujuk untuk makan dan ketiganya ingin menyusu langsung pada Nabila dan tidak ingin menggunakan botol dot. Jika tetap di kasih, botol dot itu bakalan digigit oleh mereka membuat semuanya terkekeh.
Nabilla dan Amran membawa ketiganya ke dalam kamar. Ketiganya duduk di tempat tidur masih saja merengek.
"Iya deh, nggak usah pakai botol dot, mommy langsung nyusuin ya? tapi jangan rewel lagi! Sekarang sudah hampir pagi dan kalian kompak tidak mau tidur. Semuanya pada begadang nungguin kalian. Emang kalian nggak kasihan sama mommy dan Daddy? emang orang semuanya tidak punya kerjaan selain urusin kalian?" omel Nabilla pada ketiga bayinya yang terus mengerjai dirinya dan suami.
Ketiganya terdiam saat Nabilla mengomeli mereka. ketiganya saling bertatapan seakan mengerti kalau ibunya terlihat sudah lelah. Amran yang melihat wajah ketiga anaknya pingin ngakak. Bagaimana tidak, ucapan seorang agen dua ini terdengar lembut tapi penuh intimidasi. Ketiganya kompak menjatuhkan tubuh mereka di atas kasur dan mulai memejamkan mata sambil memeluk boneka kesukaan mereka masing-masing.
"Sekarang tidur atau mami akan menghukum kalian!" ancam Nabilla namun tangannya tetap mengusap bokong montok baby Bunga dan Cinta. Sementara Amran mengusap punggung baby Adam.
"Wow keren! ucapan agen dua bisa mampu mendiamkan tiga bayinya. Bayi saja langsung nurut, gimana orang lain," lirih Amran membuat Nabilla mencubit perut suaminya.
"Aduh sayang! kamu malah bangunin dede yang lain," goda Amran.
"Nanti saja mas. Aku mau rehat dulu. Badanku sudah sangat lelah. Akhir-akhir ini aku mudah sekali lelah padahal hanya merawat kalian berempat," keluh Nabilla.
"Aku hanya bercanda sayang. Baiklah kita tidur. Besok kita ke rumah sakitnya bunda!" ucap Amran.
Akhirnya Amran dan Nabilla bisa memejamkan mata mereka karena waktu sudah menunjukkan pukul dua pagi. Keesokan paginya, saat sarapan bersama keluarga, entah mengapa Celia dan Lea merasakan sangat mual.
Keduanya kembali ke kamar mereka dan memuntahkan makanan yang baru saja mereka makan. Devan dan Reno kompak panik melihat wajah cantik istri mereka sangat pucat.
"Sayang. Sebaiknya kita ke rumah sakit Bunda!" ajak Devan pada Lea. Lea hanya mengangguk lemah dan menggantikan bajunya hendak ke rumah sakit mertuanya dibantu Reno.
Saat keluar dari kamar, Lea dan Celia membuka pintu bersamaan dan terlihat sudah rapi dengan suami mereka masing-masing.
"Kalian mau ke mana?" tanya Reno pada Devan.
"Ke rumah sakitnya bunda. Lea kurang sehat," ujar Devan.
"Ayo kita bareng ke rumah sakit! Celia juga dari tadi muntah terus," ajak Reno.
"Baiklah. Biar aku yang bawa mobil," ucap Devan.
Ketika sampai di teras, Amran dan Nabilla hendak membawa ketiga bayi mereka ke rumah sakit.
"Kalian mau pulang?" tanya Nabilla pada kedua iparnya. Celia dan Lea menggelengkan kepala mereka." Kami mau ke rumah sakit. Lea dan Celia lagi kurang sehat," ucap Reno.
"Kalau begitu bareng saja. Kita juga mau bawa anak-anak ke dokter. Semalaman rewel terus dan badannya masih saja demam," ucap Amran.
"Baiklah. Biar saya yang menggendong Cintami," pinta Reno mengambil Cintami dari gendongan Amran yang sedang menggendong Adam.
Jadilah ketiga pasangan itu ke rumah sakit menggunakan mobil Limousine milik Amran karena bisa menampung lebih banyak anggota keluarga. Setibanya di rumah sakit, mereka bertemu dua pasangan lainnya yaitu Lira Wira serta Arland dan Nadin. Kebetulan Nadin menginap di rumah ibunya.
"Lho..! kok kalian di sini juga? apa sakit juga?" tanya Amran pada kedua gadis yang terlihat sangat pucat.
"Iya. Ini lagi nunggu Tante dokter," ujar Nadin yang ia maksud adalah dokter Mariska.
Dokter Mariska yang baru tiba di rumah sakit melihat para menantunya dan juga cucunya pada ngumpul membuat ia jadi kuatir. Ia memperhatikan wajah-wajah kelima gadis itu secara bergantian dan mengerti kalau kelimanya sedang hamil. Namun pandangannya beralih pada cucu kembar tiganya yang terlihat lucu karena saat ini sedang kompak cemberut.
"Cucu Oma kenapa sayang? lagi sakit juga?" tanya dokter Mariska dan ketiganya kompak menangis.
"Ya Allah. Lagi kolokan ya? tunggu ya sayang! nanti dokter yang akan memeriksa keadaan kalian," ucap dokter Mariska seraya mengusap pipi ketiganya.
"Selamat ya Nona Celia! saat ini anda sedang hamil 13 Minggu," ucap dokter Seza.
"Alhamdullilah. Terimakasih dokter!" ucap Celia dan Reno bersamaan. Pasangan ini terlihat sangat bahagia saat melihat monitor USG menayangkan bentuk embrio yang tumbuh dalam rahim terlihat sangat menakjubkan karena menggunakan USG 3 dimensi.
Begitu pula yang terjadi pada gadis yang lainnya dengan usia kehamilan mereka berbeda-beda. Usia kandungan yang lebih tua adalah Nadin yang selisih dengan Celia hanya dua pekan.
Sementara itu, dokter Lutfia sedang menangani ketiga bayi Nabilla ditemani dokter Mariska. Dokter Mariska melihat wajah Nabilla yang melepaskan cadarnya saat ini terlihat pucat.
"Nabilla. Sebaiknya kamu juga diperiksa urine mu. Sepertinya kamu juga sedang hamil sayang," ucap dokter Mariska.
"Masa sih bunda? Nabilla nggak merasakan gejala hamil," ucap Nabilla.
"Setidaknya periksa saja dulu sayang. Apa salahnya untuk memastikan saja kecurigaan bunda," timpal dokter Mariska.
"Baiklah. Nabilla titip anak-anak sama bunda sebentar ya! ayo mas! kita ke dokter Marion," pinta Nabilla.
"Iya Baby." Amran mengandeng tangan istrinya menuju poli kandungan di mana dokter Marion baru saja memeriksa keadaan Lea. Kedua gadis ini ngobrol sebentar dan memberikan selamat. Gantian Nabilla yang diperiksa oleh dokter Marion dan ternyata Nabilla juga sedang mengandung dan bayinya juga kembar. usia kandungan Nabilla sama dengan Lira yaitu lima Minggu.
Kabar kehamilan ini langsung di kabarkan kepada keluarga besar. Lira menghubungi ibu kandungnya yaitu nyonya Arumi yang saat ini sedang berada di Belanda.
Drettttt....
Nyonya Arumi yang sedang menonton film di kamarnya, mengambil ponselnya dan melihat panggilan dari putrinya. Lira mengucapkan salam kepada ibunya dan menanyakan kabar ibunya.
"Tumben hubungi mama. Sekarang sudah ingat sama mama karena sudah menikah dengan pria kaya?" sindir nyonya Arumi.
"Maafkan Lira mama karena Lira sedang menyusun skripsi dan sebentar lagi mau sidang," ucap Lira memberi alasan.
"Apakah saat ini kamu sudah tinggal di istana mewahmu, Lira?" selidik nyonya Arumi.
"Lira masih tinggal dengan ibu mertua karena rumah itu sangat besar mama," ujar Lira.
"Jadi suamimu nggak bisa beli rumah sendiri untukmu? pelit sekali dia. Lagi pula apa enaknya tinggal dengan mertua? Sudahlah. Tidak usah hubungi mama kalau tidak ada cerita yang menyenangkan hati Mama dari kalian berdua. Padahal mama ingin sekali tinggal antara kamu ataupun Lea. Tapi sayang, semuanya numpang sama mertua. Katanya punya suami tajir. Kalau tinggal sama mertua, itu sama saja masih kere," sarkas Arumi.
"Ya Allah mama. Kenapa hanya ada harta saja yang ada dalam pikiran mama. Padahal Lira mau mengabarkan kalau saat ini Lira dan Lea....-"
Nyonya Arumi sudah mengakhiri sambungannya membuat ucapan Lira harus terhenti. Gadis ini hanya bisa menangis sambil meremas dadanya yang sangat sakit mendengar sindiran ibunya.
"Ya Allah. Lembutkan hati mamaku agar tidak tergiur dengan godaan dunia," gumam Lira sambil terisak.
Wira hanya menarik nafas berat melihat kesedihan istrinya. Ia yang ikut mendengar pembicaraan istri dan ibu mertuanya tidak begitu tersinggung dengan ucapan menohok Arumi. Yang ia kuatirkan hanya kesehatan istrinya yang sedang hamil muda saat ini.
"Sayang. Serahkan semuanya kepada Allah dan jangan memikirkan apapun. Pikirkan saja kandunganmu dan juga aku yang akan selalu mencintaimu. Tolong jangan ceritakan ucapan mama pada Lea!" support Wira.
"Maafkan mama, kak Wira!"
"Itu bukan salahmu. Anggap saja kita sedang diuji melalui mama," ucap Wira.
"Terimakasih kak! aku sangat malu kepadamu," tutur Lira. Wira memeluk tubuh istrinya yang menangis dalam pelukannya. Lira begitu sakit hati karena ibunya tidak mau mendengarkan apa yang ingin dia sampaikan tentang kehamilannya.
....
vote & like cinta, please!