
Di hotel bintang lima Multazam di jam tower tepatnya di hadapan Masjidil haram, keluarga besar Amran menginap di hotel mewah tersebut. Karena kedatangan raja Farouk menjadi pusat perhatian dunia di tanah suci itu yang mendapat perlakuan istimewa oleh kerajaan Arab Saudi.
Beliau dikawal ketat oleh Askar Mekkah yang bertugas di area Ka'bah. Karena beliaulah, para pangeran tampan dari keluarga besar Amran diijinkan masuk bersama raja Farouk ke dalam Ka'bah.
Inilah yang membuat mereka sangat terharu. Baik tuan Recky, Rusli, Wira, Reno, Arland dan Amran menangis tersedu-sedu mengingat dosa-dosa mereka yang sangat banyak di masa lalu. Entah sudah di ampuni Allah atau tidak, itu yang sedang berkecamuk di otak mereka.
Sementara wanita tidak diperkenankan masuk ke dalam Ka'bah. Mereka masuk ke Ka'bah sebelum melakukan sholat taraweh yang sangat panjang, yang akan di gelar hingga memasuki waktu sahur.
Rombongan itu melakukan umroh tanpa Syakira karena keadaannya yang sedang hamil. Ia bisa melakukan umroh menunggu jamaah umroh sedikit longgar dan itupun harus menggunakan kursi roda.
Saat ini dia menemani bayi kembarnya Nada yang tampak pulas setelah disusui ibu mereka. Ada yang membuat Nada sempat syok saat melakukan tawaf, Nada melihat sosok Dillon di antara para jamaah umroh.
Sesaat kemudian ia menundukkan wajahnya, takut salah mengenali orang yang wajahnya mirip Dillon. Nada kembali mengangkat wajahnya dan wajah Dillon terlihat jelas di hadapannya karena Nada berada di posisi kedua disamping ayahnya karena Ghaishan mendampingi ibunya, nyonya Rosella yang berjalan di depan ayahnya.
Jantung Nada tidak merasa baik-baik saja ini. Ia memastikan lagi penglihatannya dan di saat itu Dillon tersenyum padanya lalu kemudian menghilang diantara para jamaah yang berkulit putih golongan eropa.
"Dillon...! Semoga Allah mengampuni dosa-dosamu dan menerima amal ibadahmu," batin Nada berdoa tulus untuk Dillon.
Ia meneruskan lagi bacaan tawaf-nya yang sempat terhenti karena kehadiran sosok Dillon menganggu konsentrasinya. Amran menggenggam tangan putrinya yang hampir ketinggalan rombongan agar lebih cepat berjalan. Sementara Adam menggenggam tangan Nabilla. Arsen berjalan bersama keluarga kecilnya.
Sementara El menggenggam tangan Tamara yang sedang bergandengan lengan dengan Bunga. Di samping Bunga ada umi Ambar yang dijaga oleh Daffa. Usai tawaf mereka sholat sunah tawaf lalu melanjutkan melakukan sa'i antara bukit Safa dan Marwah dan dilanjutkan tahalul atau menggunting rambut.
"Hei sayang....! Apakah kalian tidak kasihan aunty Syakira sedang kesepian saat ini?" goda Syakira sambil mencolek hidung mancung si kembar.
"Ayo bangunlah..! Main bersama aunty..!" iseng Syakira.
Si kembar hanya bergumam sambil menggeliat terlihat menuli mendengar godaan Syakira yang cukup setress karena sedang menunggu taraweh yang sebentar lagi akan didirikan oleh imam besar Masjidil haram.
Merasa dicuekin si kembar yang makin pulas, akhirnya Syakira membaca Alqur'an. Baru beberapa ayat yang dilantunkan olehnya, terdengar bacaan untuk mengajak para jamaah menunaikan ibadah taraweh.
Syakira segera mempersiapkan diri untuk menunaikan sholat taraweh. Semenit kemudian bu mil ini sudah hanyut dalam suara indah sang imam Masjidil haram. Entah mengapa hatinya seperti diaduk-aduk dengan perasaan haru yang tak berkesudahan.
Sepanjang malam itu Syakira hanya menangis karena merasa sangat dekat dengan Robb-nya saat ini. Rasa syukurnya mengenal Islam lebih cepat sebelum ajal menjemput dirinya.
Syakira mengerjakan taraweh semampunya saja karena kehamilan kembar tiga cukup membuatnya cepat lelah.
Sekitar pukul 9 malam rombongan keluarga besar itu baru kembali ke hotel. Suasana kembali hangat saat mereka berkumpul bersama di restoran hotel karena kelurga mereka lebih dominan di restoran itu. Mereka baru makan malam bersama setelah menguras energi mereka saat menunaikan ibadah umroh dan taraweh.
Nada dan ibu mertuanya menjemput si kembar di kamar ibu mil itu.
"Apakah mereka rewel kak?" tanya Nada pada Syakira.
"Tidak. Mereka sangat manis dan tidak mau menganggu-ku," kesal Syakira dicuekin si kembar.
Tidak lama kemudian, si kembar terbangun juga saat merasakan keberadaan ibu mereka.
"Dasar bayi kembar pintar...! Tahu aja ibunya datang," gerutu Syakira yang merasa dicurangi keponakannya.
"Ayo cium aunty Syakira...!" pinta Nada pada si kembar yang tersenyum pada Syakira memperlihatkan mata mereka yang sangat biru.
"Kalian ini benar-benar ya, buat aunty kesepian."
"Aku sudah datang sayang. Kamu tidak kesepian lagi," ucap Adam seraya membelit perut buncit istrinya.
"Ayo kita kabur mommy....! Sebentar lagi ada tontonan dewasa," ajak Nada pada ibu mertuanya yang menggendong putrinya.
Adam dan Syakira tersenyum mendengar ledekan Nada dengan tingkah konyolnya. Adam meminta pelayan restoran mengantarkan makanan mereka ke kamar. Adam tidak tega melihat Syakira harus turun naik lift menuju restoran dengan membawa perut besarnya.
"Jam berapa kita sahur?" tanya Syakira ditengah makan malam mereka.
"Sesuai hadits Rasulullah yaitu memperlambat sahurmu dan mempercepat buka puasa. Jadi satu jam sebelum imsakiyah adalah waktu terbaik untuk sahur," sahut Adam.
Sebagai suami tentu saja Adam kegirangan. Namun kondisi kehamilan Syakira yang tidak bisa ia abaikan begitu saja.
"Kita tidur dulu awal waktu setelah itu kita bangun sekitar jam 2 pagi untuk menunaikan sholat tahajud, bercinta lalu makan sahur," tutur Adam.
"Tapi, aku mau tadarus dulu," ucap Syakira dan Adam mengangguk setuju.
Sepuluh menit berlalu, Syakira sudah bersandar di dada Adam yang membelit perut besarnya sambil mengelus lembut. Seperti biasa, Syakira selalu berdiskusi dengan suaminya saat menjelang tidur jika mereka tidak sedang bercinta.
"Adam."
"Hmm!"
"Mengapa sebagian manusia selalu saja mengeluh kalau Allah itu tidak adil pada hidup mereka?"
"Itu karena mereka selalu mengharapkan sesuatu apa yang mereka inginkan sesuai impian hidup mereka."
"Bagaimana dengan orang yang selalu bersabar dengan takdir Allah hingga dirinya berada di titik terendah tapi dia sangat yakin kalau Allah akan menolongnya suatu hari nanti?"
"Hanya orang yang beriman yang menjalani ujian Allah dengan keimanannya. Setiap kali kegagalan yang ia dapatkan akan ia kumpulkan data kehidupannya yang rumit itu yang akan ia jadikan sebagai bahan evaluasi atau dalam Islam dikenal muhasabah.
Ia mencari tahu apa yang salah atau apa yang masih kurang hingga dia merasakan kegagalan demi kegagalan yang ia dapatkan. Dan saat ia tahu apa kendalanya dia akan mencari solusi dengan lebih meningkatkan iman dan terus menerus ikhtiar.
Saat pengumpulan data yang lebih banyak itu akan terlihat lebih akurat dari pada hidup manusia lainnya yang didapatkannya dengan mudah malah ia lebih cepat berpuas diri tapi meremehkan ibadahnya dan melupakan Sang pemberi rejeki. Akhirnya orang yang diberikan kemudahan itu akan kufur nikmat," ujar Adam.
"Berarti orang yang selalu mendapatkan kegagalan saat ia menemukan sebuah keberuntungan menjadikan dirinya lebih pandai bersyukur?" tanya Syakira antusias.
"Iya sayang. Karena yang ia lalui penuh dengan kesengsaraan dan air mata. Hingga suatu saat Allah memuliakan dirinya di hadapan manusia lainnya karena kegigihannya yang pantang menyerah karena ia yakin Allah memiliki data yang tanpa batas untuk membuat hambaNya menemukan diriNya saat dia sedang di uji dengan berbagai macam cobaan," ucap Adam.
"Apakah itu seperti kisah cinta kita, Bunga, Nada dan El?" tanya Syakira.
"Itu hanya sebagian contoh kecil dari sekian banyak ujian yang Allah titipkan pada hamba yang Dia kehendaki," sahut Adam.
"Ujian seperti apa yang dianggap berat menurutmu Adam?"
"Ujian kesenangan yang mampu membuat kita lupa pada zat yang memberikan kita setiap kemudahan."
"Kenapa bisa begitu? Bukankah itu yang dibutuhkan manusia karena hidupnya akan terjamin?" tanya Syakira.
"Tapi, itu akan membuat kita lebih dekat dengan maksiat dan di saat ia tenggelam dengan maksiat nya, Allah mengunci hatinya untuk tidak lagi mendapatkan hidayah dan dia akan mati dalam keadaan terhina dan itu bukan kematian yang dirindukan oleh mukmin," jawab Adam.
"Terus, bagaimana kita tahu kalau Allah mencintai hambaNya?" tanya Syakira.
"Puncak tertinggi cinta Allah pada hambaNya adalah saat Allah memberikan rahmatNya dengan mengampuni dosa-dosa hambaNya."
"Bagaimana kita tahu jika dosa kita itu sudah diampuni oleh Allah? apa indikasinya?" tanya Syakira.
"Di saat sang pendosa itu membenci pada perbuatan maksiat yang sering ia lakukan setelah ia bertobat pada Allah dengan tobat Nasuha atau taubat yang sesungguhnya."
"Bagaimana kalau dia masih melakukan dosa lagi setelah dia bertobat?"
"Allah tidak akan pernah bosan menerima tobat hambaNya agar manusia tidak putus asa atas Rahmat Allah. Jika manusia merasa dirinya sangat terhina dan dia berkata sepertinya aku sudah sangat terhina dan Allah tidak akan mengampuni dosa ku.
Sesungguhnya dia sudah masuk dalam jebakan setan yang membuat hatinya sulit menerima nasehat baik dari orang yang berilmu," ucap Adam.
Setelah itu Syakira sudah mendengkur usai mendapatkan kultum dari suaminya di malam pertama taraweh mereka. Adam mengecup bibir istrinya yang sempat tersenyum walaupun sudah terlelap.
"I love you, baby! Tetaplah bersamaku hingga hari tua kita. Kau mudah dicintai karena kau mempesona. Mencintaimu lebih dari anganku yang terwujud. Dan setiap hari dalam hidupku, hanya untuk mencintaimu, honey..!" Adam mendoakan istri dan calon bayi kembar tiganya lalu tidur sambil memeluk perut istrinya.