Dikira Pembantu, Ternyata Istri Mafia

Dikira Pembantu, Ternyata Istri Mafia
162. Malam Penuh Bintang


Suasana pesta terlihat sangat meriah saat ini. Para tamu undangan sudah memenuhi area resort itu karena pestanya saat ini sudah di gelar di taman itu.


Kehadiran kedua orangtuanya Daffa di tambah lagi dengan ibu angkatnya Daffa yaitu nyonya Nayla yang juga di temani oleh sahabatnya dokter Aprilia membuat keakraban kelurga itu makin terasa hangat.


Tiba saatnya kedua pasang mempelai itu berjalan beriringan menuju pelaminan di hantar oleh para saudara kandung mereka.


Cinta dan Bunga di iringi saudaranya Adam, Nada dan El. Sementara Arsen di iringi Kirana dan Jordan. Hanya Daffa yang tidak memiliki saudara kandung.


Di belakang anak-anak itu baru di ikuti pasangan Wira, Amran dan Darwish.


Nyonya Nayla memang sengaja tidak mau tampil di atas pelaminan saat resepsi pernikahan putra angkatnya Daffa berlangsung. Ia harus mengalah karena sudah banyak kesempatan merawat Daffa sejak bayi hingga dewasa. Wanita berusia 50 tahun ini menyerahkan kembali Daffa pada pemilik sebenarnya. Ia sudah puas merasakan menjadi seorang ibu bagi Daffa.


Saat sudah bersanding di atas pelaminan, para saudara dari mempelai itu kembali ke tempat duduk mereka masing-masing. Kecantikan dan ketampanan kelurga besar Amran itu bagaikan bintang-bintang bertaburan di angkasa di tengah pekatnya malam.


Kiran dan Nada yang sedang berjalan menuju tempat minum di cegat oleh Ghaishan dan Segaf. Assegaf yang sejak tiba di resort itu sudah melihat Kiran. Hanya saja belum punya kesempatan untuk mendekati gadis itu karena selalu diawasi oleh keluarga.


"Assalamualaikum. Selamat malam cantik...!" sapa Segaf pada Kirana yang sangat cantik malam ini dengan gaun indah berwarna biru muda serta hijab yang senada dengan gaunnya.


Kiran tampak tersipu dan menjawab salam dari Segaf." Waalaikumuslam. Malam juga..!" ucap Kiran.


"Kamu sangat cantik Kiran. Apakah kamu tidak mengundang kekasihmu di acara ini?" tanya Segaf sedikit kepo dengan status Kiran.


"Sorry. Aku belum punya kekasih. Aku saja baru kuliah tahun ini. Maklumlah otakku tidak secanggih Nada dan saudara-saudaranya. Tapi, Alhamdulillah aku tetap mendapatkan prestasi setiap kenaikan kelas hingga lulus," ucap Kiran apa adanya.


"Aku suka gadis yang apa adanya. Tidak perlu menjadi pribadi yang lain hanya untuk mendapatkan perhatian lawan jenisnya," ujar Segaf.


"Mengapa kamu mendekatiku? padahal kamu punya kesempatan bisa mendekati Nada. Cantik dan jenius," ucap Kiran.


"Apakah keberuntungan seseorang itu harus membuat orang lain langsung jatuh cinta? jika mata bisa disenangi dengan hal indah, cerita cinta akan berakhir membosankan karena belum tentu hatinya merasakan kebahagiaan.


Jika keterbatasan seseorang mampu menaklukkan hati yang keras, kehebatan apapun tidak bisa menghalanginya untuk memiliki orang itu," ucap Segaf yang tidak ingin di jodohkan dengan orang yang sempurna namun tidak membuat hatinya bergetar.


Kiran tersenyum lalu mengajak Segaf ketempat prasmanan." Apakah kakak mau mencicipi kuliner Indonesia?" tanya Kiran pada Segaf.


"Boleh. Apa yang ingin kamu rekomendasikan yang paling enak menurutmu?" tanya Segaf.


"Semuanya. Cobalah semuanya..!" tawar Kiran.


"Wah. Aku bisa dipecat dari pekerjaanku karena tidak bisa menjaga postur tubuhku karena gendut," canda Segaf.


"Kalau suka dengan gadis Indonesia, harus mau merasakan kelezatan makanan khas negaranya. Itu baru namanya mencintai seutuhnya," timpal Kiran.


"Baiklah. Demi kamu, aku mau mencicipinya. Bisa ambilkan untukku?" pinta Segaf dengan santun.


"Siap." Kiran mengambil apa saja yang harus dimakan oleh Segaf termasuk beberapa jenis sambal khas Indonesia agar dicoba oleh Segaf.


Dalam lima menit ia sudah berada di meja makan dan menyajikan beberapa menu makanan yang akan dicoba oleh Segaf.


Jika Kiran dan Segaf terlihat lebih akrab, tidak dengan Nada dan Ghaishan yang tidak terlihat akur di tempat pesta itu. Keduanya terus saja berselisih paham seperti anjing dan kucing.


"Apakah kamu tidak punya pekerjaan lain selain mengintil aku sudah seperti anak ayam sama induknya," semprot Nada memperlihatkan ketidaksukaannya pada Ghaishan.


"Aku tidak mau ada yang menghampirimu dan mengajakmu ngobrol dan mungkin sebentar lagi mengajakmu berdansa," ucap Ghaishan.


"Tidak ada acara dansa di pesta ini. Apakah kamu tidak melihat, hampir semua wanita di kelurga besar ini berhijab? apa lagi ibuku mengenakan cadarnya. Jadi, acara ini digelar penuh dengan adab sebagai cerminan kepribadian pemiliknya agar orang luar tahu diri dan tidak asal nyosor seperti kamu!" kecam Nada sengit membuat Ghaishan membungkam.


Kata-kata Nada yang terdengar seperti himbauan untuk dirinya yang bersikap kurangajar pada gadis itu membuat nyali Ghaishan ciut juga. Ia berpikir dengan menyentuh Nada, maka mudah baginya untuk mendapatkan gadis itu yang mungkin membutuhkan sebuah tanggung jawab, namun tidak sama sekali dan jauh dari ekspektasinya.


Nada yang telah menghilang begitu saja dari pandangannya membuat Ghaishan terlihat kesepian karena saudaranya Segaf sedang asyik bercanda ria dengan Kiran.


"Dasar bodoh! kamu tidak tahu cara mendekati wanitamu dan akhirnya kamu tidak mendapatkan apapun darinya," Ghaishan merutuki dirinya sendiri.


"Segera merapat ke markas. Saat ini tenaga kamu dibutuhkan!" titah bos-nya Ghaishan membuat Ghaishan gelagapan sendiri karena dirinya berada jauh dari negara Amerika.


"Saya berada di Indonesia karena ada acara keluarga tuan Richie," ujar Ghaishan memberikan klarifikasi.


"Naik pesawat jet tempur milik negara RI. Aku akan menghubungi komandannya dan kamu harus langsung ke pangkalan!" titah tuan Richie.


"Siap!" Ghaishan masuk lagi ke arena pesta itu untuk mencari Nada hendak berpamitan.


Namun sayang sekali, apa yang ditemui Ghaishan membuat hati pria itu terbakar. Jika tidak mengingat panggilan tugas saat ini, ingin rasanya ia menarik lengan pria tampan yang sedang bercanda mesra dengan wanitanya saat ini.


"Nada. Apakah kamu menyukai pria itu? di bandingkan dengan aku? apakah karena pria itu yang membuat kamu tidak menyukai aku sama sekali?" lirih Ghaishan yang berdiri tidak jauh dari Nada dan pria tampan yang baru datang menemui Nada.


Nada yang melihat Ghaishan yang berdiri terpaku menatapnya dengan wajah kelam membuat gadis ini mengatupkan bibirnya terlihat gugup seakan sedang tertangkap basah bermesraan dengan pria tampan yang tidak lain adalah Dillon.


"Ghaishan..?" gumam Nada yang terlihat serba salah namun melihat wajah Ghaishan seakan ingin bicara padanya, membuat gadis ini pamit pada Dillon yang baru saja bertemu dengannya.


"Dillon...! tunggu sebentar di sini! aku mau menyapa temanku di sana sebentar!" pamit Nada.


"Silahkan Nada ..!" ucap Dillon yang menjadi tamu undangan di acara itu atas permintaan Cinta yang ingin membuat kejutan untuk adiknya Nada.


Nada mencari keberadaannya Ghaishan yang sudah menghilang begitu saja. Ia sampai berlari ke luar menuju pintu gerbang resort yang langsung dicegah oleh para pengawal ayahnya.


"Anda mau ke mana nona, Nada?" tanya salah satu penjaga itu.


"Apakah kamu melihat seorang pria tampan bermata biru melintas ke sini?" tanya Nada cemas.


"Oh, tuan Ghaishan?" tanya penjaga itu.


"Iya benar. Ke mana dia pergi?" tanya Nada.


"Sepertinya tuan tadi langsung naik taksi dan tidak tahu pergi ke mana karena beliau tidak mengatakan apapun kepada kami. Sepertinya ada urusan penting karena tuan Ghaishan keluar dari sini dalam keadaan tergesa-gesa dan naik taksi di jalan raya utama," ucap penjaga itu.


"Baik. Terimakasih pak," ucap Nada sambil mengusap dadanya yang terasa berdenyut sakit. Tiba-tiba ia merasakan sesuatu yang akan hilang dari sanubarinya seiring kepergiannya Ghaishan.


"Ada apa denganku? kenapa aku jadi lebay begini? Bukankah aku tidak menyukai dirinya? ah sudahlah. Lebih baik aku ngobrol dengan Dillon. Paling sebentar lagi dia pulang," hibur Nada pada dirinya sendiri.


Baru saja kakinya berjalan menuju tempat Dillon berdiri menunggunya, Nada berpapasan dengan Segaf yang sedang terima telepon dari Ghaishan.


"Apa...? kamu ke Amerika malam ini menggunakan pesawat jet tempur?" ucap Segaf membuat Nada tercengang.


"Emangnya apa pekerjaannya Ghaishan, kak Segaf?" selidik Nada.


"Nada. Ghaishan titip salam padamu. Mungkin dia akan menghubungi kamu setelah tiba di Amerika," ucap Segaf tanpa ingin menjawab pertanyaan Nada.


"Katakan kepadaku! apa pekerjaan Ghaishan yang sebenarnya kak Segaf?" bentak Nada membuat Segaf bingung harus bicara apa karena Ghaishan melarangnya untuk mengatakan apapun pada gadis ini.


"Maafkan saya Nada...! lebih baik kamu tanyakan sendiri pada Ghaishan jika nanti ia menghubungi kamu," ucap Segaf.


"Tidakkkk....! aku ingin tahu dari kak Segaf tanpa menunggunya menghubungi aku. Cepat katakan...! baik. Kalau begitu aku ingin menemuinya sekarang!" ucap Nada yang terlihat sangat kacau saat ini.


"Mungkin kamu tidak akan bertemu dengannya Nada untuk selamanya!" ucap Segaf menghentikan langkahnya Nada.


Deggggg....


...----------------...


Tebak .! kira-kira apa pekerjaannya sesungguhnya Ghaishan selain seorang mafia di bidang IT.