Dikira Pembantu, Ternyata Istri Mafia

Dikira Pembantu, Ternyata Istri Mafia
166. Menutup Mata


Di Denpasar, Nada tidak menemukan lagi Dillon karena pria itu sudah kembali ke negaranya karena tugas penting menantinya di sana. Hanya kelurga besar Amran yang tersisa yang masih menikmati liburan di Bali. Begitu pula dengan besannya Amran dan Nabilla kembali lagi ke Amerika.


Sementara Nabilla dan Amran mengajak kakek Salim ke Batu Malang bersama cucunya Asegaf dan Mariam. Ada juga kelima anak mereka disertai dua menantu yang langsung terbang ke Batu Malang dari Denpasar.


Nada tidak terlihat sedih sama sekali saat menemani kelurganya liburan. Gadis ini selalu berzikir setiap saat dengan tasbih ditengah jarinya sambil menyebut asma Allah.


Dia hanya ingin Ghaishan dipermudahkan urusannya di sana agar pemuda tampan itu kembali lagi padanya. Canda dan tawa mewarnai perjalanan itu. Hingga akhirnya mereka tiba di tempat tujuan.


Ini ketiga kalinya Nabilla membawa kelurganya berkunjung ke tempat ia dibesarkan oleh pamannya. Udara sejuk di desa itu membuat keluarga besar itu sangat betah di tempat itu.


Apalagi rumah di kediaman keluarga Nabila sudah di pugar lebih besar dan megah sebagai tempat peristirahatan saat mereka berkunjung ke sana.


"Apakah istri dan kedua anakku menghabiskan waktu mereka di sini?" tanya kakek Salim yang hanya bisa menemukan foto putranya yang tergantung di ruang keluarga.


"Kakek. Kediaman ini dulunya sangat kecil. Itu foto rumah aslinya sebelum Nabilla meminta di pugar," ucap Nabilla seraya menyerahkan album di mana banyak sekali foto masa kecilnya bersama paman dan tantenya yang dulu dikiranya orangtua kandungnya.


"Aku saat itu tidak mengetahui kedua orangtuaku yang asli kakek. Paman dan Tante yang membesarkan aku. Dan foto nenek dan ibu juga tidak ada di album ini," ucap Nabilla.


"Kalau begitu antar kakek ke makam mereka sekarang, Nabilla!" pinta kakek Salim yang sudah tidak sabar kepingin melihat tempat peristirahatan istri dan putranya untuk terakhir kalinya. Sementara putri mereka Hilda ibu kandungnya Nabila di makamkan di Amerika karena meninggal di negara adikuasa itu.


"Nabilla. Aku ingin bertemu dengan Istriku walaupun yang kudapatkan hanya pusaranya saja!" pinta kakek Salim dengan suara bergetar.


"Baiklah kakek, ayo kita ke sana sekarang!... Tapi kakek janji ya, sampai di sana kakek jangan mudah cengeng karena Nabilla takut kesehatan kakek akan menurun," pinta Nabilla.


"Iya nak. Kakek sudah bahagia bertemu kamu dan cicit-cicitku sudah membuat kakek puas. Tapi, yang kakek sangat rindukan adalah mereka yang telah pergi meninggalkan kakek," rengek kakek Salim tidak sabaran.


Perjalanan ke makam tidak begitu jauh karena menggunakan mobil. Setibanya di pemakaman, Arsen menggendong kakek dipunggungnya menuju makam istrinya itu yang agak jauh ke dalam sana.


Beruntunglah Nabilla sudah meminta kerabatnya untuk membersihkan makam itu terlebih dahulu jadi mudah bagi mereka untuk memperlihatkan pada kakek Salim di mana makam nenek, Tante dan pamannya yang berjejer pemakamannya mereka kini sudah bersih dan rapi.


Kakek membaca tulisan nama istrinya di batu nisan itu. Air matanya tumpah ruah seraya duduk bersimpuh di atas pusara istrinya sambil mengusap batu nisan itu.


"Maafkan aku Dewi, sekian lama aku baru bisa menemuimu. Aku tidak bisa menebus waktu yang terbuang. Penyesalanku hanya sebuah omong kosong karena nyaliku tidak berani mencari kamu dan kedua anak kita. Aku terlalu pengecut. Maafkan aku, sayang!" tangis kakek Salim makin menggema tidak kuat menahan rasa pilunya.


Kini ia beralih pada putra pertamanya yaitu pamannya Nabilla, Ridwan Amir. Ia juga memanjatkan doa untuk keduanya yaitu menantunya Hanna istri dari Amir.


Beberapa menit kemudian, puas melepaskan kerinduannya pada keluarganya, mereka membawa pulang kakek Salim yang terlihat lebih banyak diam dan tenggelam dalam lamunannya. Nabilla juga tidak ingin menganggu kakeknya itu.


...----------------...


Kakek Salim dan keluarganya kembali lagi ke Turki dan kehidupan keluarga Nabilla kembali lagi ke aktifitas mereka seperti sedia kala. Tiga bulan kemudian, kakek Salim di kabarkan kalau kesehatannya makin menurun. Ia ingin bertemu dengan cucunya Nabilla.


"Selamat jalan kakek....! kisah pertemuan kita hanya sekelumit, tapi sudah membekas di bagian hidupku. Titip salamku pada ibuku, semoga kita bertemu lagi di surganya Allah," ucap Nabilla seraya mengecup pipi kakeknya sambil menahan bulir bening yang hampir bergulir dipipi mulusnya.


Amran memeluk istrinya dan membiarkan Nabilla menangis pilu di dada bidangnya." Kita sudah memenuhi semua keinginan kakek dan membahagiakan dirinya di akhir hidupnya," ucap Amran menenangkan istrinya.


Keluarga yang ada di Jakarta datang melayat ke kediaman kakek Salim. Pemakaman kakek Salim secara militer mengingat dirinya adalah pensiunan seorang laksamana perwira angkatan laut. Ketiga cicitnya yaitu Bunga, Cinta dan Nada tidak kuat menyaksikan pelepasan jenazah dari kelurga untuk dikembalikan ke negara. Di saat lagu kebangsaan didengungkan dan peti jenasah diantarkan ke pemakaman.


Tangis ketiganya merasakan kehilangan begitu mendalam pada kakek uyutnya yang baik hati itu. Mereka menangisi kisah cinta kakek yang berakhir tragis karena keegoisan kedua orangtua kakek Salim. Beruntunglah di akhir hidupnya ia menutup matanya untuk yang terakhir kalinya disaksikan kelurganya terutama Nabila dan kelima cicitnya.


"Aku tidak mau mempersulit cinta keturunanku saat dipertemukan dengan jodoh mereka kecuali beda keyakinan karena agama adalah faktor penting yang harus diperjuangkan," lirih Bunga saat jenasah kakeknya sudah ditimbun dengan gundukan tanah dan kuntum bunga segar diletakkan di atas pusaranya kakek Salim.


Di saat pemakaman telah usai, Nada menerima panggilan video call dari sang kekasih. Melihat Nada berdiri di area pemakaman, kening Ghaishan mengkerut.


"Sayang..! kamu ada di mana? siapa yang meninggal?" tanya Ghaishan.


"Kakek uyut kita Salim baru saja dimakamkan," ucap Nada sambil mewek.


"Innalilahi wa innailaihi rojiuuun! maafkan aku sayang karena tidak bisa memelukmu saat ini. Jangan menangis lagi sayang!... Simpan air matamu buat aku juga!" ledek Ghaishan.


"Air mata apa nih? kalau hanya membuat aku sedih, aku tidak mau menangis untukmu," sungut Nada.


"Yang jelas air mata kerinduan sayang," imbuh Ghaishan yang baru saja ingin mengatakan sesuatu pada Nada tentang hal penting yang ingin ia kerjakan saat ini yang mengandung resiko berbahaya.


Melihat selimut duka masih menggayut di pelupuk mata sang kekasih, membuat Ghaishan mengurungkan niatnya untuk mengatakan keadaannya saat ini.


"Sayang. Kamu harus jaga kesehatan kamu selama kamu jauh dariku. Aku tidak ingin melihat kamu kurus dengan wajah sedih seperti itu. Yang sudah pergi tidak akan kembali. Mereka hanya butuh doa kita untuk menerangkan kubur mereka," ucap Ghaishan menghibur Nada yang masih mewek.


"Aku hanya ingin kamu cepat kembali disisiku, Ghaishan. Aku tidak bisa tenang kalau kamu belum turun ke bumi," keluh Nada.


"Ghaishan. Kamu di minta untuk masuk ke ruangan penghubung satelit sekarang karena satelit akan meledak....-" kata-kata Craig terhenti saat melihat Nada di layar besar yang masih terhubung dengan Ghaishan.


"Innalilahi..!" ucap Ghaishan panik.


Ghaishan yang kaget lupa mematikan suara penghubung ke ponsel Nada membuat pria ini gelagapan dan langsung putusin pembicaraannya dengan Nada secara sepihak.


"Hei....! kenapa di matikan. Ada apa di sana? Apa yang meledak...?!" geram Nada ikut panik karena sempat mendengar pembicaraan Ghaishan dan temannya yang sedikit samar.


Sementara itu Ghaishan sudah terbang ke ruang komputer untuk memperbaiki satelit bumi itu saat ini.


Vote dan likenya Cinta please!