
Walaupun Amran sudah mengetahui tuan Stranger saat ini tersandung kasus besar yang melibatkan dirinya dengan mencuri uang para bangkir dunia kecuali uang dari perusahaan milik Syakira yang sangat aman di bank itu karena terlindungi sangat baik oleh Ghaishan yang membuat dobel kode rahasia secara acak.
Jadi, hanya rekening milik Syakira yang tidak bisa diretas oleh anak buahnya Alejandro. Usai menikmati hidangan makan siang, diantara para kepala negara itu saat ini sedang ngobrol satu sama lain.
Tuan Stranger berusaha sebaik mungkin menghindari Amran yang sedari tadi terus menerus membuatnya gugup. Namun baru mau menghindari diri, ajudannya sedang membisikkan sesuatu pada tuan stranger.
"Maaf tuan. Anda di pinta oleh bapak presiden agar kita segera kembali lagi ke negara kita karena ada masalah pelik yang berhubungan dengan anda," bisik ajudannya terlihat cemas.
"Ada masalah pelik apa?" tanya tuan stranger sambil menarik nafas berat.
"Saya tidak begitu paham. Sebaiknya tuan tanya langsung bapak presiden," ucap ajudannya.
"Apakah kamu tidak lihat kalau saat ini kita sedang melakukan pertemuan negara Asia-Eropa?" ucap tuan stranger kesal.
"Baik tuan." Sang ajudan kembali ke tempatnya semula berdiri di sana dengan sikap berdiri tegak.
Amran yang sedikit mengetahui bahasa Italia itu, menarik sudut bibirnya melihat sikap tuan Stranger yang tidak ingin tertangkap saat ini.
Amran akhirnya mengajak para tamu negaranya itu untuk kembali ke ruang meeting mereka. Ia mengajak para tamunya untuk tidur lebih awal agar bisa melakukan perjalanan menuju kota Bandung pada dini hari untuk menghadiri pertemuan Asia-Eropa di gedung Asia-Afrika di kota hujan tersebut.
"Kenapa harus melakukan perjalanan di malam hari? Dan mengapa tidak mengunakan kereta cepat?" tanya presiden Korea Selatan.
"Baiklah. Aku sengaja meminta kita melakukan perjalanan di malam hari karena karena menghindari terjadinya kemacetan di siang hari. Aku tidak mau aktivitas masyarakat Jakarta akan terganggu ketika mereka berkendaraan di jalan yang mana akan kita lintasi," ucap Amran bijak.
"Ok. Cukup masuk akal. Baiklah demi rakyatmu kami senang melakukannya," ucap Presiden Korea Selatan tersebut.
"Baiklah. Kalau begitu silahkan istirahat! Sampai jumpa pukul satu dini hari," ucap Amran mengakhiri pertemuannya malam itu.
Sekitar pukul sepuluh malam, petugas kepolisian melakukan penyisiran di sepanjang jalan yang akan di lewati oleh presiden dan rombongan para tamu negara.
Setelah jalan tersebut sudah steril dari para pengendara lainnya, presiden mengajak rombongan para tamu negara untuk berangkat tepat pukul satu dini hari.
"Pastikan rakyatku tidak merasakan kemacetan saat mobil kita melintas," ucap Amran pada ajudannya yang mengangguk.
"Siap pak."
Semuanya sudah siap di dalam mobil mereka masing-masing menuju kota Bandung. Karena berangkat di malam hari, rombongan tamu negara itu cukup merasa nyaman karena suasana yang terlihat begitu tenang. Sebagai tuan rumah, Amran memilih untuk berangkat paling terakhir karena ingin memastikan perjalanan tamunya tidak mengalami kendala.
Saat memasuki pintu tol, rupanya terjadi hujan yang cukup deras. Laju kendaraan diatur dengan kecepatan stabil agar tidak terjadi kecelakaan. Namun sayang, kemacetan parah terjadi di ruas tol yang berlawanan arah yang mengarah Bandung-Jakarta.
Amran dan Nabilla sempat melihat kemacetan parah di sepanjang jalan tol berhubungan malam itu jatuh pada hari Minggu. Amran meminta sopirnya agar laju kendaraan mereka di perlambat agar ia bisa melihat situasi kemacetan yang terjadi di ruas tol menuju Jakarta itu.
"Apa yang terjadi? Kenapa macetnya lama sekali?" tanya Amran.
"Maaf pak. Ada kecelakaan di arah berlawanan karena tabrakan beruntun. Saat ini mobil ambulans sedang menyelamatkan seorang wanita hamil yang harus segera melahirkan karena perutnya tiba-tiba kontraksi akibat syok," ucap sang sopir.
"Apa...? korbannya wanita hamil ..?" sentak Nabilla.
"Iya ibu. Kabarnya kalau korban mengandung anak kembar tiga," ucap sang sopir membuat tubuh Nabilla langsung melemah.
"Daddy. Kita harus melakukan sesuatu pada korban. Kalau mengandalkan mobil ambulans, aku yakin pasti wanita itu tidak akan selamat," ucap Nabilla cemas.
"Tolong menepikan mobilnya pak..! Saya ingin melihat kecelakaan itu," pinta Nabilla membuat sang sopir dan dua ajudan terlihat bingung.
"Tapi bu, itu hanya kecelakaan kecil," tepis sang ajudan.
"Tapi dia juga manusiakan sama seperti kita. Jangan terlalu melihat status presiden itu seperti barang langka yang perlu di jaga dengan ketat. Tapi suamiku bisa sampai di posisi ini, mungkin doanya yang lebih didengar oleh Allah yang berasal dari korban itu," ucap Nabilla membuat sang sopir dan ajudan sangat terenyuh.
Baru kali ini mereka melihat presiden Amran dan istrinya Nabilla yang tidak ada duanya lagi di era baru seperti ini. Benar-benar pemimpin yang amanah dan menyenangkan.
Mobil berhenti di depan kecelakaan lalulintas itu. Amran dan Nabilla turun dan tidak lama helikopter medis datang. Melihat presiden mereka yang begitu peduli membuat para pengendara dan polisi tersentak.
"Bapak presiden...pak Amran ....Masya Allah..!" pekik mereka menahan haru.
"Assalamualaikum... selamat pagi!" sapa Amran langsung melihat kondisi korban.
Nabilla menghampiri ibu hamil yang merupakan korban kecelakaan itu.
"Bagaimana keadaannya Bu? apa yang sakit? Katakan saja kepadaku biar saya meminta tim medis mengurusmu," tanya Nabilla sambil mengusap rambut si korban.
"Masya Allah. Apakah ini ibu presiden? Saya bicara dengan ibu presiden? saya tidak mimpikan hiks ...hiks ...hiks ...!" tangis Bu mil itu pecah saat Nabilla memeluknya penuh sayang. Nabilla juga mencium keningnya dan mengusap perut besarnya. Nabilla mendoakan sebentar pada pada perut Bu mil itu sebelum dibawa masuk ke dalam helikopter.
"Saya akan usahakan untuk mengunjungi ibu di rumah sakit. Insya Allah. Semoga ibu dan bayi kembarnya selamat semua.... aaamiin. Sekarang ibu fokus menjalani operasi sesar ya!" ucap Nabilla membuat Bu mil itu menciumi tangan Nabilla sambil menangis.
"Semoga panjang umur ibu Nabilla ...! Terimakasih atas perhatiannya...! Saya tunggu kedatangan ibu. Saya akan memberikan nama bayi saya Nabilla dan Amran. Boleh ya bu?" pinta Bu mil itu..
"Boleh ibu..!"
Pertigaan medis sudah siap membawa ibu hamil ke rumah sakit di temani suaminya. Sementara korban lainnya langsung dibawa ke rumah sakit terdekat. Helikopter terbang dengan cepat menuju rumah sakit bunda Mariska.
Amran dan Nabilla segera pamit pada masyarakat di jalan tol itu yang rela mengantri hanya untuk salaman dengan Amran yang mau melayani rakyatnya yang ingin foto dan memeluknya erat.
"Terimakasih pak Amran. Kalau bisa jadi presiden Indonesia seumur hidup biar anak cucu kami hidup sejahtera seperti lima tahun ini," ucap yang lainnya.
"Benar pak. Setuju...! Kami dukung bapak...!" ucap mereka sambil menangis.
"Semoga selalu sehat dan semangat. Maaf bapak ibu dan saudaraku semuanya. Saya dan istri harus ke bandung karena ada acara kenegaraan besok pagi... tolong jangan ngebut di jalanan. Ikuti rambu lalulintas agar selamat sampai tujuan. Jangan lupa berdoa dan tetap berzikir!" ingat Amran pada sesama muslim dan tetap toleran terhadap agama yang lain.
"Selamat jalan bapak Amran !"
"Semoga sampai tujuan!"
"Sehat selalu pak!"
Teriakan pengendara mobil yang rela turun dari mobil mereka hanya ingin bertemu dengan Amran dan Nabilla.
Mobil anti peluru itu meluncur dengan cepat menuju arah Bandung. Pengendara lain langsung kembali dan masuk ke mobil mereka masing-masing dengan hati puas dan sangat lega bisa bertemu dengan presiden idola mereka.
"Aku rela jadi pembantunya presiden Amran seumur hidup saya," ucap salah satu sopir truk yang begitu bahagia saat Amran mau foto dengannya sambil merangkul pundaknya.