Dikira Pembantu, Ternyata Istri Mafia

Dikira Pembantu, Ternyata Istri Mafia
44. Pertengkaran


Keesokan harinya, Arland mengunjungi Amran. Kedatangan Arland membuat Amran sangat gembira karena ia yakin Arlan sudah bertemu dengan istrinya Nabilla.


"Apakah kamu sudah bertemu dengan kesayanganku, Arland?" tanya Amran langsung ke intinya.


"Sekarang baru kesayangan. Lagi ada didepan mata kemarin di cuekin. Rasain loe! emang enak tu anakonda nya kedinginan di penjara?" batin Arland mengumpat Amran.


"Alhamdulillah. Saya sudah bertemu dengannya. Keadaannya kurang baik karena kondisi bayimu yang butuh perawatan intensif. Tapi untuk sepekan ke depan, mungkin nona Nabilla baru bisa pulang," ucap Arland tanpa menceritakan tentang Tuan Rusli yang ingin membantunya untuk memecahkan kasus hukum yang dituduhkan pada Amran.


"Apakah aku bisa mendapatkan ijin bertemu dengan istriku?" tanya Amran.


"Tidak perlu Amran karena Aku sudah mengambil video dan fotonya. Lihatlah ini!" ucap Arland seraya menyerahkan ponselnya di mana ada fotonya Nabilla yang sedang terbaring lemah sebelum gadis itu sadar.


Saat membuka rekaman videonya Nabilla, rupanya Nabilla sedang memberikan pesan untuk suaminya.


"Assalamualaikum, mas Amran! apa kabarmu sayang! Aku dan bayi kita baik-baik saja. Nabilla minta maaf karena Nabilla sudah membuat mas Amran panik karena sedang mencari Nabilla. Kalau saja Nabilla minta ijin terlebih dahulu pada mas Amran , mungkin kejadian perampokan itu tidak akan terjadi. Aku sudah durhaka kepadamu dan aku mohon ridho mas Amran.


Oh iya, untuk kasusnya mas Amran, tidak perlu kuatir karena aku sudah tahu bagaimana mengatasinya. Ikuti saja proses hukum yang ada. Jika aku sudah dapatkan buktinya untuk membuktikan mas tidak bersalah, insya Allah, mas Amran akan segera bebas.


Karena saat ini mas Amran masih menjadi praduga tidak bersalah bukan sebagai tersangka karena polisi hanya menindaklanjuti laporan yang terlihat bukan yang sesungguhnya terjadi. Nabilla ijin masuk ke wilayah bisnis mas melalui akun mas dan id milik mas, apakah boleh?" tanya Nabilla.


"Permisi Tuan. Waktu kunjungan anda sudah habis," ucap polisi yang sedari tadi mengawasi pertemuan Amran dan Arland.


"Katakan kepada kesayanganku, kalau aku mengijinkannya masuk ke akun aku dan juga hati dan pikiranku," ucap Amran di detik terakhirnya saat tubuhnya kembali diseret oleh polisi.


Arland hanya bisa menarik nafas panjang. Ia juga merasa sedih dengan kisah cinta Nabilla dan Amran yang pasang surut dengan segala kisah cinta yang mereka punya di setiap waktu. Beruntunglah Arland sempat merekam pesan terakhir Amran pada Nabilla.


"Amran ... Amran, dikasih yang enak malah di tolak. Sekarang di kasih sengsara, matilah kau sendiri di dalam sana," sesal Arland gemas sendiri dengan tingkah konyol bos dan sekaligus sahabatnya itu.


Beberapa jam kemudian, Reno yang ingin menemui Amran harus bersikap sabar karena jalanan siang itu sedang macet parah. Lagi sedang menggerutu karena jalanan macet, seorang pengendara motor malah menabrak kaca spion mobilnya hingga patah.


Krekkk....


"Astaga. Apa lagi ujianku hari ini?" kesal Reno lalu menurunkan kaca jendelanya melihat pengandara motor yang langsung membuka kaca helemnya.


"Eh..maaf tuan! assalamualaikum!" ucap gadis itu yang tidak lain adalah Celia.


"Heh..! gadis bodoh! apakah kamu baru bisa belajar bawa motor hingga main tabrak aja spion mobil segede itu nggak kelihatan olehmu, hah?" bentak Reno.


"Ya Allah tuan. Santai saja ya. Nggak usah marah. Entar aku ganti ya. Sebutkan saja berapa nomor kontakmu nanti aku tanggung jawab. Aku minta maaf ya tuan. Tidak usah marah ya. Tuan masukkin mobilnya saja ke bengkel langganan tuan, dan kita ketemu di sana," ucap Celia nampak tenang tapi tidak dengan Reno yang sudah memasang wajah membara seakan asap sedang keluar dari kuping dan ubun-ubunnya mendapati sikap Celia yang nampak tenang menghadapi kesalahannya.


"Hei...kau... ! beraninya kau mengaturku, kau pikir kau siapa, hah?" bentak Reno yang ingin turun dari mobilnya tapi tidak bisa karena kendaraan sedang padat merayap.


"Aku adalah putri dari ayah dan ibuku, lagian kenapa tuan jadi marah-marah seperti itu? kan saya sudah bilang mau tangguh jawab dengan kerusakannya. Walaupun aku bawa motor, bukan berarti aku orang miskin. Tinggal sebut saja di mana bengkelnya! gitu aja ko repot," sungut Celia.


"Kamu kira harga spion itu murah apa? harga motor matic mu itu saja tidak bisa melunasi spion mobilku yang kamu ingin ganti," sergah Reno.


"Sebutkan saja berapa? puluhan juta atau ratusan juta, satu miliar juga aku bisa bayar," sahut Celia yang masih tenang menghadapi Reno.


"Tidak usah sok kaya kamu. Penampilan kamu saja tidak terlihat seperti putri seorang sultan, sok berani sebutin angka," sindir Reno ketus.


Celia membuka tasnya dan mengeluarkan dompetnya. Ia mencabut salah satu kartu transaksi pembayaran dan itu adalah black card, yang uangnya tanpa batas jumlahnya.


"Pakailah sesukamu Tuan. Mungkin dengan kartu ini, aku bisa membeli harga dirimu yang angkuh itu. Tidak usah menilai orang dari covernya. Yang sederhana belum tentu murahan. Yang kinclong belum tentu terhormat, seperti mulut besarmu itu.


Pakaian dan kendaraanmu memang branded tuan tapi, akhlakmu tidak berkualitas sama sekali seperti penampilanmu terutama lisanmu itu. Ambil kartu ini dan PINnya ada di balik kartu itu. Ingat satu hal tuan! aku bisa mengganti kerusakan spion mobilmu dengan uang. Tapi, kamu tidak bisa menggantikan hinaanmu itu dengan hatiku yang baru," ucap Celia dan langsung menancapkan gas motornya meninggalkan Reno dengan wajah tercengangnya.


Jalanan mulai lengang. Reno juga menambah kecepatan mobilnya menyusul motor Celia yang bisa ia ikuti. Ternyata Celia juga sedang menuju ke kantor polisi untuk mengunjungi Amran.


"Kenapa gadis itu juga ke kantor polisi? apakah dia sedang....? ah mungkin saja dia mau ngurus SIM motornya," ucap Reno yang langsung memarkirkan mobilnya di area parkir kantor polisi.


Reno meminta ijin pada petugas polisi untuk bertemu dengan Amran . Tidak lama kemudian di susul Celia yang ingin bertemu dengan Reno juga.


"Kau...!" tegur Reno yang kaget melihat Celia.


"Ada apa denganmu, tuan? emang kantor polisi ini punya moyangmu juga?" sinis Celia.


"Pasti saat ini kamu ingin ketemu sama ayahmu yang korupsi hingga kamu bisa sekaya itukan..?" sarkas Reno.


"Keluarga tuan Amran!" panggil petugas polisi membuat Celia dan Reno berdiri bersama.


"Kak Amran ....!" panggil Celia sambil memeluk tubuh Abangnya itu.


"Hahh...? jadi dia adiknya Amran atau selingkuhannya Amran?" lirih Reno yang tidak mengetahui kalau Amran memiliki seorang adik.


"Reno ....!" sapa Amran begitu melihat Reno.


"Celia. Kenalkan ini sahabatnya kakak. Reno, ini adik kandung gue," ucap Amran memperkenalkan keduanya.


"Apa...? jadi dia sahabatnya kakak?" tanya Celia tidak percaya kakaknya memiliki sahabat gila seperti Reno.


Reno hanya menggaruk kepalanya yang tak gatal dengan perasaan yang begitu malu atas sikapnya yang telah menghina habis-habisan Celia. Amran yang melihat sikap adiknya dan sahabatnya Reno yang terlihat canggung membuat ia jadi curiga.


"Apakah kalian sudah saling kenal?" tanya Amran menatap keduanya bergantian.


"Belum..!" ujar Celia.


"Sudah ..!" jawab Reno.


Jawaban keduanya kompak walaupun tidak sama ucapannya.


"Celia. Kamu sudah kenal dengan Reno?" tanya Amran lagi.


"Kenal sih belum, kak. Lihat sih sudah. Kakak mau-maunya bersahabat dengan preman pasar ini," sarkas Celia.


"Kau.... berani sekali kau menyindirku seperti itu," omel Reno.


"Reno. Ini adik kandung gue lho!" tegur Amran menyadarkan Reno yang mencak-mencak adiknya.


"Sorry Amran ..!"


"Kak. Celia besok ke sini lagi ya. Mungkin preman ini ingin bicara penting sama kakak," ucap Celia yang sudah tidak mood lagi saat mengetahui Reno adalah sahabat kakaknya.


"Hei..! tunggu dulu..!" panggil Reno yang ingin mengembalikan black card miliknya Celia.


Amran jadi kesal melihat keduanya malah sibuk sendiri dengan urusan mereka dan tidak jadi menemuinya.


"Sebenarnya ada apa antara Celia dan Reno? apakah mereka berdua sedang pacaran atau gimana?" tanya Amran.