Dikira Pembantu, Ternyata Istri Mafia

Dikira Pembantu, Ternyata Istri Mafia
199. Salah Paham


Nada segera ditangani oleh dokter di ruang IGD. Setelah memastikan beberapa hal, dokter menyimpulkan kalau gadis ini sedang hamil.


Wajah Ghaishan nampak cemas menunggu hasil dari dokter tentang kondisi istrinya." Apa yang terjadi dengan istri saya dokter?" tanya Ghaishan.


"Istri anda sedang hamil 2 Minggu. Kondisinya baik-baik saja karena kandungannya sangat kuat. Hanya saja saat ini ia tidak perlu lagi di libatkan dalam hal-hal yang menguras tenaganya. Karena ibu hamil mudah lelah," ucap dokter Alisher.


"Masya Allah. Alhamdulillah. Terimakasih ya Allah. Akhirnya aku sudah lulus jadi ayah...yes ..!" pekik Ghaishan sambil berjingkrak seperti anak kecil tanpa peduli dokter dan Mr. M yang ada di hadapannya. Ia lalu berlutut untuk bersujud syukur.


"Silahkan temui istrinya, tuan! Dia tidak perlu dirawat. Cukup istirahat saja dan jangan dulu beraktivitas yang berat-berat!" pesan dokter Aliser.


"Baik dokter. Terimakasih...!" ucap Ghaishan.


"Selamat Ghaishan sudah menjadi calon ayah...! Sampaikan salam ku pada agen satu. Aku harus kembali ke markas karena harus menangani penjahat yang sudah ditangkap istrimu dengan susah payah. Satu hal lagi, mobil kalian jadi viral di seluruh media karena sudah melanggar aturan perundang-undangan kereta api.


Tapi tenang saja! Aku sudah temui kepala stasiun kereta apinya dan menjelaskan kondisi yang di hadapi istrimu itu. Adegan itu sangat kereennn....!" puji Mr. M sambil mengangkat kedua jempolnya.


"Dasar nenek sihir...! Kau kira aku gila dengan pujianmu itu, apa? Kalau ada apa-apa dengan istriku, kau akan berhadapan denganku!" ancam Ghaishan membatin.


Nada tersenyum melihat wajah suaminya yang terlihat cerah walaupun keduanya baru saja melewati ketegangan demi ketegangan hari ini. Tanpa kata apapun yang keluar dari mulut mereka saat ini, kecuali pagutan bibir yang terdengar berdecak diikuti tautan lidah yang saling menghisap hingga akhirnya mengakhiri dengan dorongan lembut dari Nada pada tubuh suaminya karena sudah kehabisan pasokan oksigen. Benang Saliva itu nampak masih terlihat dan Ghaishan mengigit dagu lancip sang bidadari dengan gemas.


"Dia datang di saat yang tak terduga. Aku kagum padamu istriku walaupun jantungku setiap saat ingin berhenti karena kegilaanmu. Semoga anak kita laki-laki karena kalau perempuan aku takut mereka akan mengikuti jejakmu," ucap Ghaishan sambil mengelus lembut perut istrinya.


Nada hanya tersenyum tanpa ingin menangapi ucapan suaminya.


"Aku lapar sayang..!" ucap Nada yang baru terasa perutnya perih karena sedari siang mereka belum makan sama sekali.


"Astaghfirullah. Ayo sayang..! Kita cari makan yang terenak di restoran mewah," ajak Ghaishan.


"Tapi, aku mau makan gorengan juga. Gorengan khas Indonesia," pinta Nada yang sudah mulai ngidam.


"Sayang. Bukankah selama ini kalau mau makan gorengan kamu suka olah sendiri?" tanya Ghaishan yang sudah tidak asing lagi dengan makanan ringan khas Indonesia itu.


"Baiklah. Aku mau makan spaghetti carbonara dan hamburger," pinta Nada.


"Baiklah. Di dekat sini ada restoran yang kamu pinta itu. Kita makan di sana. Sekarang ganti dulu bajumu..!" pinta Ghaishan yang membantu istrinya mengganti baju Nada.


Keduanya sudah berada di dalam mobil mereka. Restoran Itali yang menjadi pilihan mereka.


...----------------...


Kabar kehamilan Nada menjadi berita besar bagi keluarga Amran. Kedua orangtua ini mengajak yang lainnya berangkat ke Amerika tentunya dengan jet pribadi mereka.


Hanya saja semuanya tidak ikut karena alasan kesibukan mereka. Jadilah hanya kelurga inti saja yang akan berangkat ke Amerika.


Bunga dan anak kembarnya, begitu pula Cintami dengan anak kembar empatnya. Suami-suami mereka juga tidak ikut serta ke Amerika, namun tidak dipermasalahkan oleh kedua istri tangguh itu karena sudah ada Adam dan ayah mereka yang akan menjaga anak-anak mereka nanti di sana.


Kebetulan sebentar lagi akan memasuki musim salju. Itu berarti cucu-cucunya Amran dan Nabila ini akan menghabiskan waktu liburan mereka di Amerika hanya ingin merasakan bermain salju.


Sebenarnya liburan main salju itu sering di lakukan oleh ke enam cucunya Amran itu, hanya saja karena masih kecil memori mereka tidak terlalu mengingat hal-hal Indah bersama kedua orangtuanya saat berkunjung ke jepang maupun ke Incheon Korea Selatan. Sekarang usia mereka sudah lima tahun dan empat tahun jadi liburan kali ini pasti mengesankan.


"Sayang. Jangan lupa bawain makanan kesukaan Nada!" ingat Amran pada istrinya.


"Sudah di siapkan semuanya. Ini hanya bawa bumbu-bumbu dasar yang sulit di temui di Amerika. Lebih baik bawa sendiri. Lagian Nada sangat doyan dengan gorengan jadi kita cukup bawa tempe dan tahu. Kalau bakwan dan pisang goreng bisa buat di sana nanti," ucap nenek cantik ini.


"Apakah aku sudah kelihatan tua sayang?" tanya Amran yang melihat guratan keriput di bawah matanya.


"Kalau sudah tua emang kenapa?" tanya Nabilla sambil nyengir.


"Yang penting opa masih kuat di ranjang kan?" ledek Nabilla.


"Aduh...! jadi kepingin bercinta sayang, di goda begitu sama kamu," ucap Amran sambil memeluk Nabilla dari balik punggung.


"Cie ...cie...! Opa sama Oma pacaran nich ye..! nanti Audri lapor lho sama mama!" ledek Audri.


"Kenapa harus lapor sama mama, sayang?" tanya Amran mendekati cucunya yang makin cantik ini.


"Kata mama nggak boleh pacaran. Pacaran itu dosa," ucap Audrey dengan polosnya.


"Oma sama opakan..-"


"Mas...!" tegur Nabilla agar suaminya tidak perlu menjelaskan pada Audrey karena nalar mereka belum nyampe.


"Sayang. Tolong bawakan kue ini buat Mbah uyut ya!" pinta Nabilla pada cucunya itu untuk membawakan kue buat ayahnya tuan Rusli yang sedang bertamu di rumahnya.


"Iya Oma. Tapi nggak boleh pacaran lagi ya!" nasehat Audrey diangguki Nabilla sambil tersenyum.


"Kalau tidak pacaran dengan omamu yang cantik ini, mana mungkin bisa ada ibumu," gerutu Amran membuat Nabilla mencubit perut suaminya.


"Ucapan frontal itu cukup untuk anak muda. Kamu sudah tidak pantas lagi mengucapkan itu, Opa..!" bisik Nabilla gemas dengan suaminya.


Setibanya di Amerika, Cintami meminta tolong pada Adam untuk menemaninya ke Mall karena ada yang ingin ia belikan. Jadilah, Amran membawa keluarganya langsung ke kediaman Ghaishan dan Nada.


"Daddy. Aku mau mampir ke mall sebentar. Ada yang ingin Cinta beli untuk anak-anak," pamit Cintami.


"Iya sayang. Hati-hati...! Adam ..! Jaga adikmu..!" ucap Amran.


"Iya daddy." Keduanya mengambil langsung menuju Mall.


Saat memasuki Mall, rupanya Syakira juga ada di mall itu. Ia dan sahabatnya nampak membeli banyak barang yang dibawa oleh asistennya Syakira.


Syakira yang mengenakan kacamata hitam dan masker dilengkapi hijab pashmina yang menutupi wajahnya agar tidak mudah di kenali fansnya.


Saat turun dari eskalator, menuju lantai satu, Syakira melihat Adam sedang merangkul pundak Cintami posesif untuk melindungi Cintami dari sentuhan pengunjung mall khususnya pria. Cintami yang mengenakan cadar itu membuat Syakira mengira Adam sudah menikah dengan wanita pilihannya.


"Adam ..!" desis Syakira dengan suara bergetar menahan tangisnya. Ia membekap mulutnya kuat agar tangisnya tidak pecah melihat kemesraan Adam pada Cintami yang Dikira istrinya Adam.


"Ya Allah. Ternyata dia sudah menikah. Aku sudah kalah..sudah kalah .. Kesempatanku sudah berakhir," gumam Syakira menahan sedih.


Merasa mengenali penyamaran Syakira, Adam mempertajam penglihatannya ke arah Syakira yang sudah berlari menjauhinya.


"Syakira...! Bukankah itu Syakira? Aku tidak mungkin salah lihat walaupun ia menutupi wajahnya dengan masker dan kacamata. Tapi hijab...? Hijab itu... kenapa dia memakai hijab...?" batin Adam bertanya-tanya.


Ingin rasanya ia mengejar Syakira namun ia juga tidak ingin meninggalkan saudaranya sendirian. Jika minta ijin pada Cintami untuk menemui Syakira itu tidak mungkin karena ia sebentar lagi akan menikahi Nadia.


Vote dan likenya cinta please!"


Visual Nadia




Visual Syakira