
Arsen tidak ingin istrinya meninggalkan ruang kerjanya karena tidak nyaman sama kedua kliennya yang menatap Cintami seakan baru melihat wanita cantik. Ia membawa Cintami ke kamar pribadinya yang ada di samping ruang kerjanya.
"Tunggu sebentar tuan Ciko dan tuan Kino! aku mau antar istri di sebelah!" pamit Arsen pada kliennya.
"Silahkan...!" ucap keduanya kompak.
"Kenapa tidak menghubungi aku dulu sebelum naik ke lantai ini?" keluh Arsen.
"Ini hampir jam rehat, aku pikir kak Arsen tidak lagi menerima tamu atau bekerja," ucap Cinta. Arsen membuka pintu kamar pribadinya dan masuk ke dalam sana lalu memagut bibir Cinta sebentar sambil mengusap perut Cinta yang masih rata.
"Baiklah. Kamu tunggu di sini, paling setengah jam lagi aku selesai meeting sama kliennya," ucap Arsen.
"Jangan lama-lama kak! aku tidak suka sendirian di sini," ucap Cinta manja.
"Hmm!"
"Apakah itu istrinya tuan Arsen? aku tidak menyangka dia punya istri secantik itu," ucap Chiko dengan seringai licik.
"Bukankah tuan Arsen menyebutkan secara jelas kepada kita kalau itu adalah istrinya?" ujar Kino.
"Aku akan merebut istrinya. Aku tidak kalah tampan dan kaya melebihi Arsen," batin Chiko berniat buruk pada Arsen dan Cinta.
Pintu dibuka oleh Arsen." Sorry agak lama tadi," ucap Arsen seraya duduk lagi di sofa." Kita lanjutkan lagi pembahasannya. Silahkan diteruskan tuan Kino!" pinta Arsen kembali fokus mendengarkan penjabaran tentang saham yang ia minta dari Arsen untuk perusahaannya.
Nada sedang melakukan operasi pengangkatan ginjal yang rusak pada pasien. Sementara ada panggilan masuk dari Ghaishan yang bertabrakan dengan jadwal operasi Nada.
Dokter Mariska yang sedari tadi duduk di ruang kerjanya melirik ponsel milik Nada gelisah untuk menerima panggilan video call itu. Nada sengaja meminta eyangnya untuk mengawasi ponselnya agar ada telepon masuk dari Ghaishan untuk menerimanya.
"Ya Allah. Bagaimana ini? Nada masih lama di ruang operasi. Apakah aku terima saja dan bilang kalau saat ini Nada sedang di ruang operasi? bagaimana kalau penting?" batin dokter Mariska.
Dokter Mariska menghubungi ruang operasi melalui interkom." Apakah dokter Nada sudah selesai operasinya? bilang padanya ada telepon penting!" titah dokter Mariska pada perawat yang ada di ruang operasi.
"Baik dokter!" perawat Lin menyampaikan pesan itu Nada.
"Dokter Nada. Ada telepon penting untuk anda di ruang dokter Mariska," ujar perawat Lin.
Deggggg....
"Ghaishan." Nada meminta timnya untuk meneruskan pekerjaannya. Beruntunglah operasinya sudah selesai jadi tugas selanjutnya adalah tim dokter lain." Tutupi lagi perutnya?" titah dokter Nada pada rekannya untuk menjahit daging bagian dalam perut pasien hingga menutupi permukaan kulitnya dengan lem sinar laser baru dioperasi kulit pasien agar tidak terlihat bekas jahitan operasi.
Jantung Nada seakan ingin meledak saat ini. Rasa haru dan cemas menjadi satu saat melihat eyangnya sudah berdiri di depan kamar operasi sambil memegang ponsel milik Nada.
"Terimakasih eyang!" Nada meraih ponselnya lalu menggeser tombol hijau itu dan tampaklah wajah sang kekasih yang terlihat sedikit kacau karena ditumbuhi banyak jambang halus di permukaan dagu dan rahangnya. Walaupun begitu tidak sedikitpun mengurangi pesona seorang Ghaishan. Keduanya saling menyapa dengan salam sebagai sesama muslim diiringi dengan air mata kerinduan.
"Hei ...! apakah semuanya baik-baik saja?" tanya Nada.
"Alhamdulillah. Allah sangat baik padaku hingga aku bisa menghubungimu terlebih dahulu sebelum menyelesaikan pekerjaanku dengan alat-alat ini," ucap Ghaishan.
"Aku tidak bisa tenang mengerjakan tugasku sebelum menghubungimu. Kamu adalah penyemangatku. Selain kedua orangtuaku, kaulah alasanku bisa bertahan di sini dan berusaha untuk kembali secepatnya ke bumi," imbuh Ghaishan.
"Lakukan dengan tenang! Setiap tarikan nafasmu, ingatlah Allah. Kerjakan tugasmu dengan terus berzikir. Insya Allah, Allah hanya meminjamkan tanganmu untuk memperbaiki alat-alat canggih satelit bumi itu. Karena sesungguhnya Allah jualah yang memberikan petunjuk atas apa yang kamu lakukan.
Jadi jangan pernah merasa hebat karena ilmu yang kamu miliki bersumber padanya," hibur Nada untuk membesarkan hati kekasihnya bahwa hanya Allah yang menemani Ghaishan saat pria itu sendirian di dalam kapsul pesawatnya yang terpisah dari pesawat utama.
"Alhamdulillah sayang. Itulah yang aku lakukan saat ini. Apa lagi bisaku selain memohon pertolonganNya. Jika aku merasa sendirian di dalam sini, aku bisa gila.
Itulah sebabnya mengapa aku ingin memperbaiki sistem operator untuk menghubungimu terlebih dahulu karena komponen komunikasi dari antariksa hanya di ponsel yang kamu pegang saat ini. Bahkan aku belum bisa menghubungi stasiun ruang misi angkasa di Florida sana.
Jika kamu bisa, tolong hubungi tuan Madison kalau aku baik-baik saja dan sedang memperbaiki alat-alat baru yang aku bawa dari bumi. Alat-alat yang ada sudah tidak lagi berlaku karena masanya sudah kadaluarsa," ucap Ghaishan.
"Aku sudah merekamnya. Sekarang, katakan sendiri pada tuan Madison tentang apa yang terjadi di tempatmu saat ini," ucap Nada yang saat ini sedang melakukan sambungan langsung secara virtual dengan tuan Madison melalui laptopnya.
Di ruang misi antariksa, sudah terlihat ruangan itu di mana ruang misi itu terdapat para staff yang stay di tempat itu hanya untuk memonitor kemunculan Ghaishan di layar lebar mereka di ruangan itu.
"Tuan Madison! Ada telepon dari Ghaishan...!" ucap staf itu.
Semuanya menatap wajah Ghaishan dengan tatapan rumit. Semuanya menyapa Ghaishan dengan wajah cemas." Apakah kamu baik-baik saja Ghaishan?" pertanyaan itu terlontar lebih dulu dari tuan Madison sebagai penanggung jawab misi itu.
"Bagaimana kabar teman-temanmu? apakah mereka tidak membantumu?" tanya tuan Medison..
"Aku belum memperbaiki kerusakan alat-alat ini. Tapi aku akan menggantikannya dengan komponen alat yang baru yang sudah aku bawa dari bumi. Hanya tinggal merakitnya saja dan memasang pada terminalnya," ucap Ghaishan.
"Apakah merakit alat itu memakan waktu yang cukup lama?" tanya tuan Madison.
"Merakitnya sebentar. Hanya saja memasangnya yang harus butuh teknik dan tenaga lain untuk membantuku di sini. Jika tidak hati-hati melakukannya akan meledak," ucap Ghaishan menjelaskan apa saja alat yang berhubungan langsung dengan pemancar satelit antariksa itu agar bisa mencakup seluruh dunia. Dengan begitu penduduk bumi yang tinggal di pelosok pulau bisa terdeteksi dengan pencarian secara google satelit. Dan mereka tidak perlu mengeluh susah signal dengan alat baru ciptaan Ghaishan.
Tentunya dengan menggunakan perangkat khusus untuk orang-orang tertentu seperti agen rahasia dan badan intelijen selain ruang misi antariksa.
Setelah menyampaikan informasi yang berkaitan dengan misinya di ruang angkasa, Ghaishan meminta Nada untuk mematikan obrolan secara virtual itu.
Para staf di ruang misi itu menarik nafas lega setelah mengetahui Ghaishan bisa melakukan tugasnya dengan sangat baik. Hanya saja pemasangan alat itu di ruang kendali harus butuh rekan Ghaishan yang ada di ruang pesawat utama yang masih sulit menggapai kapsul pesawat milik Ghaishan yang terpisah dengan mereka. (Karena saat ini mereka terpisah gerbong. Itulah ilustrasinya)
Kini Ghaishan fokus ngobrol dengan kekasihnya sebelum mereka berpisah lagi. Nada memperhatikan bagaimana Ghaishan melakukan tugasnya di atas sana sambil terus bicara dengannya.
"Ada alat yang sangat rumit dan ada juga yang mudah. Aku harus hati-hati memasangnya karena perlu keahlian," ucap Ghaishan terlihat risau.
"Ghaishan. Sepertinya mommyku bisa membantumu karena dia ahlinya dengan alat-alat canggih itu. Bisa kamu menunggu sebentar agar aku bisa menghubungi mommy! kita bisa ngobrol secara virtual dengan mommy untuk menyelesaikan kesulitanmu," ucap Nada.
"Benarkah Nada? Alhamdulillah...!" pekik Ghaishan kegirangan karena ia merasa tidak sendirian memperbaiki dan mengganti komponen alat canggih ciptaannya itu dengan milik ciptaan orang sebelumnya yang sudah kadaluarsa.
....
Vote dan likenya cinta please!