Dikira Pembantu, Ternyata Istri Mafia

Dikira Pembantu, Ternyata Istri Mafia
103. Kunci Rahasia


Amran segera menggendong istrinya menuju pintu lift yang diikuti oleh Reno yang nampak panik.


"Sayang. Tolong bertahanlah...!" pinta Amran sambil menangis.


"Apakah kamu sangat mencintai aku, hubby?" tanya Nabilla dengan suara lirih dan terlihat sangat melemah.


"Jika kamu mati, aku juga ikut mati bersamamu," ucap Amran terlihat frustasi.


"Kalau begitu mintalah Reno untuk menembakmu supaya kita mati bersama saat ini, hubby!" tantang Nabilla.


"Kau yakin begitu sayang, dengan apa yang kamu minta padaku?" tanya Amran sambil menangis.


"Apakah kamu hanya bisa memberiku janji? cih..kamu itu tidak lebih dari tim kampanye di depan banyak orang, tapi hanya untuk memperkaya diri sendiri," sarkas Nabilla.


"Baiklah. Kita akan mati bersama, tembak aku Reno!" titah Amran membuat Reno menatap horor wajah Amran.


"Gila saja sendiri. Jangan ngakak-ngajak!" semprot Reno melihat drama keduanya.


"Turunkan aku baby! Aku tidak apa. Itu hanya kantong darah buatan karena aku tahu hari ini aku akan dibunuh oleh mereka. Mereka menginginkan kematianku. Aku mengenakan rompi anti peluru. Di luarnya aku pasang banyak kantong darah yang dibalut lagi dengan kemben yang saat ini mas lihat.


Dengan melihat aku tertembak, mereka akan mengira aku akan mati. Salah satu anak buah mereka akan melaporkan kepada bosnya tentang kematian aku," ucap Nabilla sambil tersenyum membuat Reno hanya menepuk jidatnya.


"Astaga...! Nabila. Kamu sudah membuat kami hampir mati ketakutan dan kamu berhasil menipu kami berdua dengan siasatmu itu?" tanya Reno terlihat gemas dan juga lega.


"Acting aku baguskan?" tanya Nabilla pada keduanya.


"Baiklah sayang. Kamu memang Istriku terhebat. Bagaimana caranya membersihkan tubuhmu dari noda darah ini?" tanya Amran.


"Kita ke toilet yang tidak terpakai. Tadi aku menitipkan ranselku disitu!" pinta Nabilla.


"Baiklah. Ayo Reno! temani kami!" pinta Amran.


"Baiklah. Aku akan berjaga-jaga agar kalian tetap aman," ucap Reno sambil mengedarkan pandangannya.


Amran membantu Nabilla melepaskan kantung darah yang melilit di tubuhnya Nabilla. Ia baru mengetahui kalau jadi agen rahasia harus banyak akal supaya tidak mati konyol.


Nabila melepaskan semuanya lalu mengguyur tubuhnya lagi dengan air mineral botol besar ukuran 1500ml yang ia bawa dalam ranselnya. Nabilla memasukkan pakaian dan kantong darah ke dalam plastik hitam untuk dibawah pulang agar tidak meninggalkan jejak.


Tidak lama berselang ketiganya sudah kembali ke rombongan keluarga yang menanti mereka dengan cemas.


"Kak Reno dari mana?" tanya Celia manja saat melihat suaminya datang tergopoh-gopoh lalu memeluk istrinya.


"Tadi aku...-"


"Kami sedang bertemu dengan kepala bea cukai bandara untuk menunjukkan surat ijin membawa senjata api. Walaupun itu jet pribadi harus tetap meminta ijin," sela Nabilla agar Reno tidak menjawab sembarangan pada istrinya tentang apa yang terjadi barusan dengannya.


"Oh ..!" hanya kata itu yang keluar dari bibir Celia.


"Maafkan aku sayang karena tidak sempat minta ijin kepadamu," ucap Reno.


Nabilla melirik Alif yang asyik main dengan Lea dan Devan. Ia mencari sesuatu ditubuh anak itu. Nabilla memperhatikan kalung berbahan titanium dengan bandulannya.


Alif mengerutkan keningnya. Seakan sedang berpikir dan menimbang sesuatu." Kata ayah aku nggak boleh membuka kalung ini, apa lagi memberikannya pada orang lain," ketus Alif.


"Sayang. Tante hanya melihatnya bukan mengambilnya, boleh ya!" rayu Nabilla.


"Baiklah. Tapi nanti di balikkin lagi ya Tante!" Alif membuka kalungnya dan memberikan kepada Nabilla.


"Hmm!"


Devan yang mengetahui sesuatu yang dibutuhkan oleh kakaknya pada kalung Alif, mengalihkan perhatian Alif dengan permainan game di ponselnya.


"Alif. Lihat ini! kita hampir menang," ucap Devan sambil memberikan isyarat pada Nabila yang langsung memeriksa bandulan kalung Alif yang ternyata dibalik bandulan itu ada sebuah kunci untuk sebuah loker.


Nabilla segera memotret kalung Alif dan juga kuncinya. Ia berniat ingin membuat duplikat kunci yang sama dengan milik Alif untuk menukar kalung Alif yang asli.


"Hei ...! ayo kita ke pesawat. Pilotnya sudah memanggil kita untuk segera ke naik ke pesawat," teriak Arland kepada anggota keluarganya.


Keluarga besar itu buru-buru jalan menuju pesawat jet pribadi milik Amran. Wajah mereka terlihat berbinar dan saling menggandeng pasangan mereka masing-masing. Sementara Alif bersama kakek Abdullah dan tuan Rusli yang terlihat cemberut.


"Kakek tua. Apakah aku tidak bisa bertemu dengan ayahku dulu sebelum kita pulang lagi ke Indonesia?" gerutu Alif membuat kakek Abdullah hanya menarik nafas panjang.


"Ayahmu akan menyusulmu ke Indonesia. Saat ini ia sedang mengurus bisnisnya dan dia menitipkanmu kepada kami agar kamu bertemu ibumu terlebih dahulu. Apakah kamu tidak tidak senang?" tanya kakek Abdullah sambil tersenyum pada Alif yang sangat cerewet seperti Dito.


"Apakah kalian tidak sedang menipuku?" tanya Alif kritis.


"Menipu bagaimana Alif? jika kami menipumu untuk apa membawa pulang kamu ikut bersama kami ke Jakarta. Tidak ada untungnya bagi kami," jengkel kakek Abdullah terlihat memerah menahan kesal.


"Mungkin kakek menganggap aku anak kecil yang gampang dibohongi," tebak Alif.


"Terserah padamu Alif. Suatu saat nanti kamu akan tahu apa yang kami lakukan saat ini demi kebaikan kamu," ucap kakek Abdullah.


Keluarga itu disambut tiga orang pramugari dengan senyum cantik mereka. Amran dan Nabila yang terlihat sangat berwibawa pembawaannya hingga membuat pramugari cukup segan dengan pasangan ini.


Tidak lama kemudian pesawat sudah mundur menuju landasan pacu untuk siap take-off meninggalkan kota Wina Austria.


Gelak tawa didalam sana mewarnai kebahagiaan diraut wajah masing-masing pasangan itu. Amran mengecup bibir Nabilla sekilas.


"Baby. Kenapa kamu memberikan kejutan padaku banyak sekali? Dan mengapa saat aku bertemu denganmu pertama kali kamu tidak bisa menghajar para berandalan yang mencoba merampas motormu?" tanya Amran penasaran.


"Aku sebenarnya ingin melawan mereka namun pahlawanku tiba-tiba datang menolongku. Jadi untuk apa aku harus mengerahkan tenagaku untuk menghajar pemuda tanggung sok berani itu," sahut Nabilla sambil terkekeh.


"Astaga. Kau ini. Hampir saja membuatku saat itu jantungan. Tapi, aku juga tidak tega saat orang lain menindas wanita yang lemah sepertimu. Ternyata wanita yang aku temuin luar biasa dan itu membuatku tidak bisa berkutik saat mengetahui siapa kamu sebenarnya baby," ucap Amran penuh kagum pada istrinya.


"Kamu memang tidak tega melihat wanita ditindas oleh para penjahat. Tapi, kamu tega menghancurkan hatiku saat bercumbu dengan Fina dibelakangku. Apakah itu adil, sayang? bukankah itu juga bagian dari penindasan?" sarkas Nabilla.


"Maafkan aku Nabilla. Tolong jangan ingatkan lagi padaku tentang wanita berengsek itu. Aku ingin melupakannya dan memulai semuanya dari awal denganmu. Aku menyesal baby. Sangat menyesal. Maafkan aku! apakah kamu mau memaafkan aku?" tanya Amran terlihat sendu.


....


Vote dan likenya cinta please!"