Dikira Pembantu, Ternyata Istri Mafia

Dikira Pembantu, Ternyata Istri Mafia
275. Menghukummu..!


Tidak sedikit warga negara Indonesia yang masih sangat labil dalam menyaring setiap berita yang disampaikan oleh media yang mudah sekali disuap untuk membuat suatu berita untuk menghukum lawan politik.


Pikiran mereka yang dangkal dengan layar pendidikan yang minim dan ditambah mental mereka yang kurang diasah dalam menyikapi masalah.


Mereka mudah termakan dengan kebohongan publik yang dilakukan oleh tuan Winarto tentang penculikan kedua cucunya Amran sebagai capres yang sebentar lagi akan dipertaruhkan di pemilu.


"Walaupun tuan Amran selama ini sangat baik pada kita, kalau dia tidak bisa menjaga dua cucunya, bagaimana dengan bangsa ini?" gerutu salah satu warga pada istrinya yang sedang menyiapkan makanan.


"Tuan Amran itu dipilih bukan mau dijadikan satpam untuk warganya. Beliau dipilih karena el...el...ssst aduh lupa...!" menepuk jidatnya sendiri.


"Elektabilitas...! Itu saja nggak bisa sebut. Makanya tuh lidah jangan dipakai buat ngegosip," omel sang suami.


"Elektabilitas...yah benar. Kalau elektabilitasnya yang sudah teruji di masyarakat dengan beberapa faktor dukungan lainnya maka, rakyat tidak begitu terpengaruh dengan isu murahan itu," protes sang istri.


"Sok tahu ngomong elektabilitas. Emang kamu ngerti kata elektabilitas itu?" semprot sang suami.


"Yah tahu. Mana mungkin aku bisa bicara dengan bapak kalau tidak tahu. Elektabilitas itu adalah tingkat ketertarikan seseorang pada apa yang dia pilih. Jadi, kalau mau jadi presiden itu jangan pintar ngambil hati rakyat dengan membaur pura-pura membaur biar terkesan merakyat.


Tapi harus didukung kecerdasan otak dalam mengelola hasil bumi dan hasil lainnya yang kira-kira mampu untuk mensejahterakan rakyatnya. Bukan hanya sekedar dituntut baik. Kalau otaknya nol, terlihat memalukan sekali. Prestasi kerja tidak ada yang merasakan kebaikan presiden hanya segelintir orang. Itu juga pakai di pamer di media," timpal sang istri.


"Wah..kamu makin pintar ya!" puji sang suami.


"Makanya. Bapak itu jangan mudah tertipu pada gosip murahan itu. Lagipula tuan Amran tidak pernah bicara tentang kedua cucunya diculik, kenapa tuan Winarto yang terlihat sibuk menebar isu penculikan itu? Apa jangan-jangan dia penculiknya." Tertawa terbahak-bahak.


"Oh iya ya. Sudahlah..!" kedua pasangan suami istri itu mengakhiri perdebatan mereka dan memilih untuk makan malam bersama sambil menyimak berita di televisi.


Berita tentang penculikan kedua cucunya Amran berlangsung hingga tiga hari bertepatan dengan kondisi Audrey yang sudah mulai membaik dan gadis cantik ini sudah terlihat ceria dan tidak ada kesan trauma tentang penculikan itu.


Wartawan yang belum puas dengan pernyataan tuan Winarto mendatangi kediaman Amran untuk mengkonfirmasi berita penculikan itu karena tiga hari ini, kelurga itu sulit untuk ditemui karena masih ada tamu negara kerajaan Bahrain. Kini raja Farouk sudah kembali ke negaranya begitu pula dengan para besan Amran yang lainnya.


"Itu mobil tuan Amran!" ucap salah satu wartawan yang sengaja menunggu di luar pagar mansion hanya untuk bisa bertemu dengan calon nomor satu capres ini.


"Tuan Amran. Boleh minta waktunya sebentar tuan?" tanya sang wartawan.


Amran turun dari mobilnya dan melayani wartawan yang sudah terlalu haus dengan berita.


"Tuan Amran. Apakah benar sebelumnya kalau kedua cucu anda diculik oleh penjahat?"


"Kalian tahu dari siapa?" tanya Amran.


"Tuan Winarto."


"Kalau begitu tanyakan kepadanya? Mengapa dia bisa tahu tentang penculikan itu," balas Amran.


Wartawan terdiam. Mereka bingung harus bertanya apa lagi pada pria tampan yang berkharisma kuat.


"Tapi tuan Amran, kami hanya ingin tahu kejelasan berita itu. Hanya itu saja," pinta wartawan.


Tunggu saja berita itu karena saya sendiri yang akan menyelesaikan semua kekisruhan yang ditimbulkan oleh tuan Winarto," ucap Amran kembali lagi ke dalam mobilnya karena ia harus segera ke perusahaannya.


"Baik tuan Amran. Terimakasih." Wartawan harus menelan kecewa karena tidak bisa mendapatkan apa yang mereka inginkan.


...----------------...


Sepekan lagi akan diadakan pemilihan umum. Rakyat Indonesia mengapresiasikan kegembiraan mereka pada calon presiden terpilih yang sesuai dengan ketertarikan mereka pada dua kandidat yang sebentar lagi akan bertarung.


Di Minggu tenang ini, Amran mengambil kesempatan untuk menayangkan kejahatan tuan Winarto di semua televisi swasta yang menyuruh anak buahnya menculik kedua cucunya Amran.


Bahkan tidak tertinggal di setiap billboard jalan protokol, kejahatan tuan Winarto di pertontonkan hingga membuat wajah tenang tuan Winarto sontak berubah panik.


Tuan Winarto yang malam itu sedang ada meeting dengan anggota partainya dikejutkan dengan tayangan di mana dirinya menjadi otak penculikan itu.


Ada beberapa teman politiknya yang tidak tahu menahu tentang penculikan itu menatap wajah tuan Winarto dengan tatapan rumit.


"Apa yang anda lakukan tuan? Kita sudah sejauh ini berjuang untuk anda, mengapa anda malah merusaknya dengan cara yang tidak bermoral seperti itu?" maki teman-teman politiknya membuat tuan Winarto kalang kabut sendiri.


"Dasar bajingan tengik...! Kau kira biaya politik ini menggunakan daun, hah?!uang, pikiran dan tenaga kami terbuang begitu saja dengan sikap pengecut mu seperti itu.


"Citra yang dibangun selama ini oleh beberapa partai yang tergabung demi mensukseskan pencalonan diri anda untuk maju ke capres di periode tahun ini."


"Kalau begitu. Tidak perlu lagi melakukan pemilu karena pemenangnya sudah terlihat saat ini. Tuan Amran sudah menang telak tanpa harus melakukan pemungutan suara. Dasar badebah," maki yang lainnya pada tuan Winarto yang hanya tertunduk malu.


Alih-alih untuk bisa maju ke pilpres itu dengan menjatuhkan Amran, ternyata dia yang masuk dalam lubang neraka yang digali sendiri. Semua teman politiknya yang sedari awal ingin melakukan meeting gabungan harus membubarkan diri usai menyaksikan berita kejahatan tuan Winarto yang diangkat di publik oleh pihak Amran yang memiliki banyak cara untuk menghukum musuh.


Sementara itu Amran menghubungi tuan Winarto untuk menanyakan kabar tuan Winarto.


"Bagaimana tuan Winarto? bagaimana dengan pembalasanku? Apakah kamu puas?" ledek Amran dengan otak mafianya yang selalu menjatuhkan musuh dengan cara yang elegan bahkan lebih terhormat.


"Baji...-" maki tuan Winarto pada Amran yang belum sempat menyelesaikan kalimatnya.


Amran tersenyum puas dan sangat puas karena sudah menghukum tuan Winarto yang selama ini berusaha keras untuk menggeser posisinya sebagai capres.


"Kau salah memilih lawan tuan Winarto. Aku adalah Amran. Sang Mafia yang bisa berubah karakter jika aku disentuh dengan cara yang licik," lirih Amran meninggalkan ruang perpustakaannya.


Nabilla yang selama ini mengumpulkan semua tindak kejahatannya tuan Winarto merasa sangat bersyukur karena mereka sudah siap untuk maju di pilpres periode berikutnya.


"Terimakasih ya Allah, ya Robbi atas Rahmat yang Engkau limpahkan kepada keluargaku. Tolong bimbing suamiku dalam setiap langkah untuk mengambil tugas berat ini penuh dengan fitnah.


Ya Robb. Jadikanlah kami pemimpin yang adil seperti Engkau menjadikan Rosulullah yang memimpin setengah dari dunia ini dengan adil tanpa celah... aamiin."


Doa tulus Nabilla atas kesuksesan peran mereka berdua dalam menggapai titik terakhir ini sebagai kepala negara.