Dikira Pembantu, Ternyata Istri Mafia

Dikira Pembantu, Ternyata Istri Mafia
159. Dibalik Incaran Sang Mafia


Flash back tragedi di Mall


Nada turun dari dari lantai lima dengan menggunakan eskalator ke lantai satu. Nada memang sengaja memilih belanja di salah satu pusat perbelanjaan di kota Istanbul Turki itu. Usai belanja dan menikmati makan siang di Mall tersebut gadis itu memutuskan untuk pulang.


Baru saja mencapai lantai empat tiba-tiba ada seorang balita yang terlepas dari pengawasan kedua orangtuanya hendak masuk di sela pagar pembatas Mall tersebut yang muat dengan ukuran tubuhnya yang mungil.


Sontak saja para pengunjung Mall yang melintas di lantai 3 itu berteriak histeris saat tubuh bocah itu tergelincir dan jatuh dari lantai tiga itu.


Nada yang sudah berada di lantai dua melihat bocah itu terjun bebas itu langsung melompat pagar pembatas itu hendak menangkap sang balita yang berusia dua tahun itu.


Sebelum jatuh ke lantai bawah, Nada yang masih mengenakan alat pengaman berupa balon pelindung tubuh yang dipakai untuk melindungi tubuhnya jika jatuh dalam runtuhan es saat bermain ski. Rupanya balon pengaman itu sekarang menjadi bermanfaat melindungi dirinya dan bocah dua tahun itu dari benturan lantai granit marmer di mall itu.


Pengunjung Mall menyaksikan kehebatan Nada dalam aksinya menyelamatkan bocah itu di tambah lagi dengan balon pelindung tubuh dari benturan itu yang makin membuat orang kagum.


Balita laki-laki itu bukannya menangis malah ia terkekeh geli saat terkurung bersama Nada di dalam balon pelindung yang cukup besar itu.


Mendengar kekehan bocah itu, Nada pun ikut tertawa." Kau hampir membuat semua orang jantungan tapi kamu masih bisa tertawa," ucap Nada gemas pada sang bocah.


Semua orang sudah berkumpul di lantai bawah sambil menunggu balon pelindung itu terbuka. Nada menggunakan jam tangannya yang bisa mengeluarkan cutter untuk merobek balon pelindung itu agar mereka bisa keluar dari balon pelindung yang cukup tebal permukaannya itu agar saat jatuh tubuh tidak akan terluka maupun memar akibat terkena benturan.


Kedua orangtuanya sang bocah menangis haru saat melihat putra mereka dalam pelukan Nada sambil cekikikan seakan baru selesai bermain hal yang seru.


"Alhamdulillah. Terimakasih Ade sudah menyelamatkan putra kami," ucap sang ibu masih berurai air mata.


Nada menyerahkan bocah itu pada ibunya namun bocah yang bernama Hanin ini masih mau tetap bersama Nada. Ia malah memeluk erat tubuh Nada.


"Sayang. Ayo ke ibumu! Tante mau pulang," rayu Nada membuat bocah itu menatap wajah cantik Nada dan mengecup pipi Nada dengan lembut. Nada tersentak dan juga bahagia mendapatkan kecupan dari bocah tampan itu.


"Terimakasih kakak cantik," ucap bocah itu lalu beralih ke tubuh ibunya.


Nada merapikan balon pelindung itu yang muda kempes. Semua orang menanyakan di mana Nada membeli balon ajaib itu.


"Nona. Dari mana kamu mendapatkan benda ajaib itu. Apakah ada tempat yang menjual balon pelindung itu?" tanya salah satu pengunjung Mall itu.


"Maaf...!" ucap Nada menerobos kerumunan yang melihat aksinya tadi tanpa ingin menjawab pertanyaan orang itu.


Nada begitu geram melihat semua orang mengarahkan ponselnya merekam dirinya. Ia segera mengambil ponselnya dan meretas CCTV Mall dan juga ponsel milik para pengunjung mall itu untuk menghapus semua video dan foto-foto yang berisi semua file milik mereka. Alhasil, semua dokumen milik mereka terhapus semuanya dan saat ini mereka tidak memiliki lagi dokumentasi tentang aksi gilanya Nada siang itu.


Hanya satu orang pria yang ponselnya tidak bisa Nada retas. Pria misterius itulah yang meminta anak buahnya menculik Nada karena ia yakin Nada memiliki kejeniusan selain memiliki ilmu bela diri dan sudah sering melakukan latihan ekstrem dalam misi penyelamatan manusia. Sang pria misterius itu ikut menyaksikan aksi nekat Nada saat menyelamatkan bocah itu dari lift kaca yang sedang ia naiki.


"Tangkap gadis itu..! aku menginginkan dirinya. Dia memiliki segalanya yang tidak pernah kutemukan pada gadis lain," ucap sang pria misterius itu pada asisten pribadinya.


"Baik bos!" ucap sang asisten pribadi dari pria misterius itu.


Saat Nada keluar dari Mall, dirinya sudah diincar hingga terjadi penculikan sesaat. Pria tampan itu sengaja mencium bibir Nada karena dia melihat Nada tidak memiliki seseorang di hatinya gadis itu terbukti Nada mengunjungi mall itu sendirian tanpa ada pendamping. Dan dia ingin mendapatkan Nada untuk dijadikan istrinya.


Flash back off


...----------------...


Di rumah sakit, kelurga Amran bertemu dengan kedua orangtuanya Daffa yang sedang bersiap-siap untuk berangkat ke bandara. Tuan Darwis mempersiapkan dirinya dan istrinya Cyra untuk kembali ke Amerika.


Melihat kedatangan keluarga besan, tuan Darwish menyambutnya dengan ramah." Papa. Kenalkan ini mertuanya Daffa. Daddy, mommy, ini papa kandungnya Daffa dan itu mama kandungnya Daffa," ucap Daffa memperkenalkan kedua belah pihak.


Darwish menyalami tangan Amran dan Nabilla hanya mengatupkan kedua tangannya.


"Maaf tuan Darwish. Kami baru bisa menjenguk ibunya Daffa. Dan kami sudah banyak mendengar kisah cinta kalian. Tidak usah segan apa lagi minder dengan keluargaku karena semua manusia memiliki aib dalam hidupnya.


Hanya saja Allah tidak tampakkan aib hambaNya kecuali hambaNya yang selalu mengumbar aib orang lain maka, Allah akan mengumbar aib orang itu ke publik," ucap Amran bijak.


"Terimakasih atas pengertiannya tuan!" ucap tuan Darwish haru.


"Nyonya. Perkenalkan aku Nabilla, ibu mertuanya putramu. Aku senang bisa berkenalan denganmu. Tapi sayang sekali, pertemuan kita rasanya sangat hambar tanpa ada sambutan darimu.


Apakah kamu tergolong wanita yang angkuh dan tidak menghargai tamu?" sarkas Nabilla dengan kata-kata pedas membuat nyonya Cyra menatap wajah Nabilla tajam.


"Mengapa balik menatapku? bukankah sejak tadi kamu hanya asyik dengan duniamu sendiri seakan kau sendiri hidup di dunia ini dengan penuh penderitaan sehingga kau menolak takdirmu.


Ibu macam apa kau ini sekian lama membuang putramu dari baru lahir setelah besar mendapati dirimu hanya seorang perempuan depresi yang tetap tak berguna untuk suamimu apalagi untuk putramu. Memalukan...!" maki Nabilla makin membuat reaksi tubuh nyonya Cyra bergetar hingga mengeluarkan keringat dingin sekujur tubuhnya.


Mendengar hinaan demi hinaan yang meluncur deras dari mulut Nabilla untuk dirinya, nyonya Cyra akhirnya terpancing juga dan akhirnya bisa keluar dari dunianya yang hampa. Ia mengepalkan kedua tangannya dengan wajah memerah menatap tajam wajah Nabilla.


"Apakah kamu lebih merasa nyaman hidup bersama bajingan Murrad dari pada keluargamu sendiri? kau sangat menjijikkan. Aku tidak sudi punya besan sepertimu yang tidak tahu diri," maki Nabilla lebih mengintimidasi nyonya Cyra yang tidak sanggup lagi menerima hinaan dari Nabilla.


Plakkk...


Pipi Nabila terdorong ke samping. Nabilla menarik sudut bibirnya puas setelah membangkitkan emosi jiwa nyonya Cyra.


"Jangan pernah menghina diriku, wanita bodoh!" maki Cyra pada Nabilla.


"Cih ...! kau memang pantas dihina karena tidak tahu malu," timpal Nabilla yang sudah berhasil memberi terapi mendadak pada Cyra.


Baik Daffa, Darwish dan yang lainnya menegang di tempat mereka. Mereka tidak percaya Nabilla dengan mudahnya merangsang emosi Cyra yang terlihat kembali sadar sepenuhnya setelah beberapa minggu mengalami depresi.


Semenit kemudian, nyonya Cyra merasakan kepalanya sangat nyeri. Ia terus menerus mendesis diikuti wajahnya yang seketika memucat.


Bunga sigap menekan tombol nurse call. Dokter segera masuk ke kamar nyonya Cyra dan semuanya keluar dari kamar inap itu Kecuali Nabilla dan Amran yang menemani Darwish. Dokter memeriksa keadaan nyonya Cyra. Bunga terlihat gugup menghadapi keadaan ini.


Walaupun ia tahu ibunya paling ahli dalam bidang apapun salah satunya menyembuhkan ibu mertuanya yang saat ini sedang depresi.


"Bagaimana keadaan istri saya dokter?" tanya Darwish panik.


"Tenang saja tuan. Sepertinya istri anda akan segera sembuh. Alhamdulillah dia sudah keluar dari masa gelapnya karena cahaya matanya kembali normal," ucap dokter Alzena.


"Alhamdulillah. Terimakasih ya Allah," ucap Nabilla dan Amran kompak saat mendengar perkataan dokter.


Tuan Darwish memeluk Amran penuh rasa syukur. Nyonya Cyra mengerjapkan matanya dan melihat sekitarnya seakan baru bangun dari mimpinya. Ia menatap wajah suaminya dan berganti pada besannya.


"Siapa mereka Darwish?" tanya Cyra.


"Ini kedua mertuanya putra kita, Daffa," ucap Darwis haru.


"Apakah putraku ada di sini?" tanya Cyra.


"Iya sayang. Dia datang bersama istrinya dan juga saudara iparnya," ucap Darwish.


"Aku ingin melihatnya!" pinta nyonya Cyra.


Nabilla keluar memanggil semuanya untuk masuk kembali ke dalam ruang inap itu.


Daffa mendekati ibunya yang tidak lepas menatapnya." Daffa...!" lirih Nyonya Cyra serak membuat Daffa memeluk tubuh kurus ibunya.


"Alhamdulillah ya Allah. Terimakasih sudah menyembuhkan ibuku," gumam Daffa sambil terisak." Mama..!" panggil Daffa lembut.


"Sayang...! panggil aku sekali lagi dengan sebutan itu!" pinta nyonya Cyra penuh harap pada putranya, Daffa.


"Mama....mama ..mama!" ulang Daffa untuk menyenangkan hati ibu kandungnya itu yang senang mendapatkan julukan panggilan kesayangannya mama.


vote dan like nya cinta please!